Chievo Verona Bangkrut! “The Flying Donkeys” Tak Lagi Bisa Terbang

  • Whatsapp
Chievo Verona Bangkrut The Flying Donkeys Tak Lagi Bisa Terbang
Chievo Verona Bangkrut The Flying Donkeys Tak Lagi Bisa Terbang

Derby della Scala adalah salah satu laga panas di sepak bola Italia. Derby tersebut mempertemukan 2 tim asal kota Verona, Chievo Verona dan Hellas Verona. Meski keduanya berbagi stadion Marc’Antonio Bentegodi, baik Chievo maupun Hellas adalah rival berat.

Hellas Verona terbentuk lebih dulu pada tahun 1903. Sementara Chievo Verona baru berdiri pada tahun 1929. Secara prestasi, sang saudara tua lebih mentereng dengan gelar scudetto musim 1984/1985. Sementara gelar tertinggi Chievo hanyalah juara Serie B musim 2007/2008.

Bacaan Lainnya

Derby della Scala, Awal Mula Julukan “The Flying Donkeys”

Derby della Scala baru terbentuk di pertengahan 90an saat Chievo berhasil promosi ke Serie B. Derby itu pula yang menciptakan julukan “The Flying Donkeys” bagi Chievo. Hal itu berawal dari ejekan pendukung Hellas yang berbunyi: “quando i mussi volara, il Ceo di Serie A”, yang artinya keledai akan terbang sebelum Chievo berada di Serie A.

Tak lama setelah itu, Chievo berhasil mendapat tiket promosi ke Serie A pada akhir musim 2000/2001. Sebagai balasan, penggemar Chievo justru mengadopsi ejekan tersebut dan memakainya sebagai julukan klub. Sejak saat itu, “I Mussi Volanti” atau “the Flying Donkeys” yang artinya keledai terbang resmi jadi julukan mereka.

Namun dibanding derby sekota lainnya di Italia, Derby della Scala memang masih kalah pamor. Maklum, sepanjang sejarahnya, kedua tim baru berjumpa 19 kali. 1 kali di ajang Coppa Italia, 8 kali di Serie B, dan 10 kali di Serie A. Rekor pertemuan keduanya juga berimbang. Chievo dan Hellas sama-sama mengoleksi 7 kemenangan, sementara 5 laga lainnya berakhir imbang.

Derby della Scala terakhir tersaji di musim 2017/2018. Kala itu, keduanya sama-sama saling mengalahkan di Serie A. Chievo memenangkan laga pertama dengan skor 3-2 kemudian Hellas membalas di paruh kedua dengan skor tipis 1-0. Sementara di ajang Coppa Italia, keduanya bertemu di babak keempat dan Hellas keluar sebagai pemenang setelah memenangi adu penalti usai laga berakhir 1-1 di waktu normal.

Sayangnya, rivalitas 2 tim asal kota Verona itu tak akan terulang lagi. Chievo memang telah terdegradasi dari Serie A sejak 2019 silam dan belum kembali lagi ke kasta teratas untuk menyusul rivalnya. Namun, bukan itu masalahnya. Pada 21 Agustus kemarin, legenda Chievo Verona, Sergio Pellisier mengumumkan telah gagal menemukan investor baru yang mampu menyelamatkan klubnya dari kebangkrutan.

Gagal Mendapat Investor Baru, Chievo Verona Bubar!

Ya, “The Flying Donkeys” bangkrut! Kisah tragis itu dimulai di musim kompetisi 2020/2021. Chievo yang berlaga di Serie B berhasil mengakhiri liga dengan finish di posisi kedelapan. Posisi yang membawa mereka masuk zona play-offs promosi.

Sayangnya, mereka tak dapat melanjutkan kiprahnya di musim ini. Pada bulan Juli kemarin, Chievo terlilit masalah pelik. Mereka terancam dikeluarkan dari Serie B musim 2021/2022. Hal itu terjadi setelah Chievo gagal membuktikan stabilitas keuangan mereka sebagai syarat mutlak untuk mengarungi musim baru.

Sempat mengajukan banding ke pengadilan tata usaha sebanyak 3 kali, Chievo dinyatakan kalah. Mereka bangkrut dan secara definitif dikeluarkan dari Serie B. Posisi mereka juga telah digantikan Cosenza. Dengan begitu, Chievo Verona harus rela terjun bebas ke Serie D alias harus memulai lagi dari divisi amatir.

Akan tetapi, masalah tak selesai sampai di situ. “The Flying Donkeys” harus lebih dulu menyelamatkan keuangan mereka yang terhantam keras oleh pandemi. Chievo punya utang pembayaran pajak yang belum dibayar. Tak disebutkan nominal pastinya, tetapi sepertinya sangat parah.

Chievo diberi waktu hingga 24 Agustus 2021 untuk menemukan investor baru yang mampu menyelamatkan keuangan mereka sebagai syarat untuk mengikuti Serie D musim ini. Dalam waktu kurang dari 2 bulan tersebut, sang legenda klub sekaligus mantan kapten Chievo, Sergio Pellisier turun tangan untuk memimpin pencarian investor baru.

Sebuah tugas yang amat berat. Sebab, dalam waktu singkat tersebut, Pellisier mesti mendapat investor yang mau mengakuisisi Chievo, membayar utang mereka, dan menghidupi klub dari 0. Sayang, usaha sang kapten berakhir tragis! Puncaknya, pada 21 Agustus kemarin, Sergio Pellisier angkat tangan.

Melalui instagramnya, ia menyampaikan salam perpisahan kepada mantan klubnya. Ya, ia gagal mencari investor baru untuk Chievo Verona. Dengan begitu, Chievo Verona bukan lagi bangkrut, tetapi bubar.

“Saya berusaha keras dan saya sangat berharap dapat memulai kembali dengan klub lain dan melanjutkan kisah fantastis ini, itu akan luar biasa. Tapi sayangnya saya tidak berhasil. Kami sudah mencoba. Saya hanya minta maaf karena saya memiliki waktu yang sangat sedikit dan periode yang sangat rumit untuk dapat menemukan sponsor. Selamat tinggal Chievo tersayang dan bagi saya Kamu akan selalu menjadi tim terpenting dalam hidup saya.” kata Pellisier di akun instagramnya.

Dengan hasil tersebut, maka takada lagi klub sepak bola bernama Chievo Verona di masa yang akan datang. Sebuah akhir tragis bagi “The Flying Donkeys”. Kehilangan tak hanya dirasakan pendukung Chievo di Italia, tetapi juga para pecinta sepak bola di tanah air.

Kenangan dan Ketenaran “The Flying Donkeys” di Indonesia

Maklum, di Indonesia, nama Chievo Verona jauh lebih tenar ketimbang Hellas Verona. Chievo pertama kali naik ke Serie A di musim 2001/2002. Kala itu, Serie A sedang berjaya dan jadi tontonan wajib para pecinta sepak bola di tanah air. Musim debut mereka di Serie A itulah yang jadi awal mula ketenaran “sang keledai terbang” di Indonesia.

Sebagai tim promosi, Chievo sukses mencuri perhatian. “The Flying Donkeys” langsung finish di posisi kelima dan mendapat tiket ke babak kualifikasi UEFA Cup. Saat itu, skuad Chievo asuhan Luigi Delneri diperkuat nama-nama legend seperti Massimo Marazzina, Bernardo Corradi, serta duet Christian Manfredini dan Luciano, dua sayap cepat yang kala itu sangat berbahaya.

Kesuksesan tersebut ternyata menular keluar lapangan. Selain nama Chievo jadi dikenal banyak orang, jersey “keledai terbang” di musim tersebut juga terbilang laku keras. Desain jersey Chievo selama ini bisa dibilang tak pernah gagal. Itu pula yang membuat jersey mereka jadi buruan para kolektor hingga sekarang.

Keberuntungan juga sempat menghinggapi Chievo saat terjadi skandal Calciopoli. Di musim 2005/2006, posisi mereka di papan klasemen naik ke peringkat 4 alias masuk zona kualifikasi Liga Champions setelah Juventus dihukum turun kasta ke Serie B. Sayang, langkah mereka kandas di tangan Levski Sofia di babak ketiga kualifikasi.

17 musim Chievo Verona merasakan atmosfer Serie A Italia. Selama periode tersebut, mereka memang lebih banyak berkutat di tengah dan papan bawah. Meski begitu, “The Flying Donkeys” bukanlah tim sembarangan sebab mereka adalah tim yang kaya akan sejarah.

Meski prestasi terbaiknya hanyalah juara Serie B pada 2008 silam, tetapi Chievo kerap jadi pelabuhan bagi para pemain hebat yang merintis karier. Sepanjang sejarahnya, beberapa nama legenda sepak bola dunia juga terlahir dari tim ini.

Sebut saja, Andrea Barzagli, Simone Perrotta, Stefano Fiore, Bernardo Corradi, Amauri Carvalho, hingga Francesco Acerbi pernah berseragam Chievo. Mantan striker timnas Jerman dan pahlawan Der Panzer di Euro 1996, Oliver Bierhoff bahkan menutup kariernya sebagai pesepakbola profesional di Chievo.

Namun nama-nama tadi takada yang lebih besar ketimbang Sergio Pellisier. 19 tahun kariernya ia habiskan bersama Chievo. Pellisier adalah pemegang rekor penampilan terbanyak dan pencetak gol terbanyak klub sepanjang masa. 517 penampilan dan 139 gol ia torehkan selama berseragam “I Mussi Volanti”.

Ia adalah idola sejati Chievo Verona. Bahkan nomor punggung yang ia pakai dipensiunkan sebagai bentuk penghormatan. Alasan itulah yang membuat Pellisier rela berkorban untuk menyelamatkan klubnya dari kematian. Sayang, usaha kerasnya itu tak berhasil.

Selamat Jalan Chievo Verona!

Itulah beberapa kenangan dan kisah indah yang pernah dibuat Chievo Verona. Sebelum ini, ada harapan besar untuk melihat kembali “The Flying Donkeys” berlaga di Serie A. Namun sayang, harapan itu telah pupus. Kini, sang keledai tak lagi bisa terbang.

Bangkrut dan bubarnya Chievo Verona adalah bukti betapa kejamnya pandemi Covid-19 menghamtam perekonomian. Sepak bola sebenarnya sederhana, tetapi menjadi urusan rumit ketika sudah berkaitan dengan finansial yang jadi nyawa bagi kehidupan klub dan setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Itulah yang kini dialami Chievo Verona. Mereka mungkin masih bisa diselamatkan, tetapi nama dan logo Chievo tak lagi boleh dipakai dan sebagai klub yang mungkin entah kapan akan terlahir kembali, mereka mesti memulai lagi dari 0. Artinya, Chievo Verona yang kita kenal telah sirna dan hanya tinggal kenangan.

Addio Chievo. Grazie Di Tutto Pieve!

***
Sumber Referensi: Goal, Technosports, 90min, Football-Italia, Late Tackle Magazine.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *