Ketika sebuah tim sedang terpuruk, pasti akan ada satu orang yang akan menjadi kambing hitam. Begitulah Liverpool. Belakangan ini The Reds tengah mengalami masa sulit. Dan seseorang yang paling gurih untuk dijadikan kambing hitam adalah pemain yang dibeli mahal, tapi justru tidak mampu berbuat banyak.
Orang itu siapa lagi kalau bukan Darwin Nunez. Liverpool membeli mahal Darwin Nunez dari Benfica. Tak main-main, harganya menyentuh 75 juta euro atau sekitar Rp1,1 triliun. Tapi lihat apa yang dilakukan Nunez. Alih-alih jadi senjata mematikan, Nunez justru masih kerepotan menemukan bentuk permainan terbaiknya.
Kendati patut diakui, Nunez memberikan first impression yang baik ketika pertama kali datang ke Anfield. Ia mencetak satu gol ketika Liverpool mengalahkan Manchester City di Community Shield. Gol itu sekaligus membenamkan City 3-1 dan membawa The Reds kampiun.
Sayangnya, sampai hari ini hanya itulah momen kebahagiaan bagi Liverpool. Bahkan mungkin saja, hanya di laga itu kita benar-benar semangat untuk menonton aksi Darwin Nunez. Karena setelahnya yang ada hanyalah kekecewaan demi kekecewaan yang diberikan pemain berpaspor Uruguay tersebut.
Daftar Isi
Catatan Buruk Darwin Nunez
Jika kita menarik waktu ke belakang. Ya, anggaplah beberapa bulan menjelang sepak mula Liga Inggris, kita meyakini bahwa Darwin Nunez adalah sosok striker yang dibutuhkan The Reds. Ia layak disandingkan dengan Erling Haaland yang merapat ke Manchester City.
Ironisnya, usai Community Shield justru Haaland yang meroket, sedangkan Darwin Nunez justru tertinggal kian jauh ke belakang. Dari 9 laga di Liga Primer Inggris, Erling Haaland sudah mencetak 15 gol. Sementara Nunez baru mengoleksi dua gol saja dari lima laga Liga Inggris yang ia lakoni.
Gol di semua kompetisi musim ini:
Erling Haaland: 20 gol
Darwin Nunez: 2 golHanya beda satu angka. 💫 pic.twitter.com/924GnAXBIg
— Extra Time Indonesia (@idextratime) October 8, 2022
Sebagai seorang striker, itu adalah catatan buruk. Apalagi ketika di Benfica, ia hanya butuh 28 kali main untuk mengemas 26 gol. Lebih parah lagi Liverpool selalu gagal menang jika Darwin Nunez bermain. Seperti halnya ketika laga kontra Arsenal. Liverpool bukan hanya gagal menang, tapi kalah.
Nunez bukan hanya mampet soal jumlah gol. Pemain Uruguay itu juga minim melakukan tembakan ke arah gawang. Dalam catatan Fbref, Nunez mengemas 19 tembakan di Liga Inggris musim ini. Dari jumlah itu hanya 6 yang mengarah ke gawang.
Artinya cuma 31,6% tembakan Nunez yang tepat sasaran. Kalau dirata-rata jumlahnya tak lebih dari 2 shoot on target per 90 menit. Ini sangat tidak relevan dengan harapan Liverpool terhadap Darwin yang seorang striker.
Darwin Nunez Bagus di Benfica
Statistik tadi berkebalikan ketika Darwin Nunez masih berseragam Benfica. Nunez tampil apik di Liga Portugal dan di Liga Champions. Setidaknya itu yang dilihat Jurgen Klopp. Pelatih asal Jerman itu melihat Nunez bukan hanya sekadar pemain depan.
Klopp memang jarang menggunakan pemain seperti Nunez. Tapi ketika melihat sang pemain yang bisa bermain di pelbagai posisi, itu menjadi daya tawar Nunez. Lebih-lebih The Reds membutuhkan pemain yang berbahaya di kotak penalti.
Pemain berambut gondrong itu memang berbahaya di kotak penalti. 25 gol dari 26 golnya di musim lalu bersama Benfica berasal dari sana. Nunez begitu leluasa ketika berada di dalam kotak penalti. Liverpool membutuhkan sosok striker seperti itu karena musim lalu, peluang terbanyak mereka berada di dalam kotak penalti.
🔴 Darwin Núñez inspires @SLBenfica on Matchday 2 🔥🔥🔥
Will they qualify for the knockouts?#UCL pic.twitter.com/JNYm43K5oJ
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) October 5, 2021
Darwin Nunez adalah striker dengan postur yang ideal. Dengan tinggi kurang lebih 187 sentimeter, ia menjadi entitas berbahaya bagi The Reds. Apalagi musim lalu Liverpool gemar melakukan umpan silang. Data yang dihimpun The Flanker menunjukkan, paling tidak ada 554 umpan silang yang dilepaskan, 93 di antaranya sampai ke kotak penalti dan menemui sasaran.
Posturnya yang ideal, Nunez semestinya bisa menyambut umpan-umpan cantik itu. Umpan-umpan yang biasanya dilepas Trent Alexander-Arnold maupun Andrew Robertson lumrahnya menjadi makanan empuk Darwin Nunez. Karena sekali lagi, ia bisa sangat berbahaya di dalam kotak penalti.
1️⃣9️⃣:0️⃣4️⃣ Que semana teve @Darwinn99!#DeTodosUm pic.twitter.com/z8subqcso8
— SL Benfica (@SLBenfica) October 27, 2020
Nunez Problematik
Sayang, harapan itu sepertinya terlanjur dibuang ke selokan. Alih-alih berbahaya di dalam kotak penalti, aksi Nunez justru lebih sering menjadi bahan tertawaan. Tidak hanya itu, Nunez malah tak jarang merugikan Liverpool.
Saat menghadapi Crystal Palace, Darwin Nunez melakukan tindakan yang tidak terpuji. Ia menanduk pemain The Eagles, Joachim Andersen. Buntutnya, Nunez terkena kartu merah dan itu sebuah kerugian bagi dirinya sendiri.
Bagi The Reds, kartu merah Nunez malah bukan masalah berarti. Dua laga tanpa Nunez Liverpool bisa meraih kemenangan saat menghadapi Bournemouth dan Newcastle United. Problem Nunez tidak sampai di situ saja. Ia juga kabarnya terkendala bahasa.
Nunez hanya bisa berbahasa Portugis dan Spanyol. Ia tidak lancar berbahasa Inggris. Sementara manajer Liverpool, Jurgen Klopp tidak sanggup berbahasa Spanyol, tapi bisa berbahasa Inggris. Nunez pun jarang berbicara langsung dengan Klopp.
Pep Lijnders writing about Darwin Núñez after the Benfica games:
“It became clear that we just played against one of the most powerful and exciting strikers in Europe. Keep an eye on this one.” [Intensity]
A few months later… pic.twitter.com/UXSUxFcTqd
— The Anfield Talk (@TheAnfieldTalk) August 4, 2022
Ia mengandalkan Pep Lijnders dan Vitor Matos sebagai penerjemah. Keduanya berada di sebelah Nunez ketika Klopp memberi instruksi ke tim. Kadang kala Nunez juga membutuhkan rekannya, seperti Thiago Alcantara untuk memahami apa yang mesti ia lakukan.
Kelemahan Nunez
Kendala bahasa sejatinya persoalan teknis. Itu tidak terlalu berpengaruh andaikan kualitas seorang pemain bisa menjawab. Karena dalam sepakbola, kemampuan dalam menjalankan perannya, itu yang dibutuhkan. Sementara, Darwin Nunez belum baik dalam menjalankan peran tersebut.
Selain gol, aksinya dalam menciptakan peluang berbahaya juga minim. Fbref menunjukkan, persentase dribel sukses Nunez hanya 50%. Ia juga tidak lihai dalam memberikan umpan matang. Sebab umpan sukses Nunez hanya 56,9%. Sekadar info saja, musim lalu tidak ada pemain depan Liverpool yang memiliki persentase umpan sukses di bawah 73%.
Sebelum bergabung ke Liverpool, Darwin Nunez memang sebetulnya kurang di beberapa aspek. Jika itu dibandingkan dengan Roberto Firmino, Diogo Jota, atau Sadio Mane. Ketiga pemain itu piawai mencari ruang, bisa bermain di ruang sempit, dan pergerakannya liat. Ketiga pemain itu juga pandai melakukan tekanan.
Darwin Nunez how about this for a no look pass 👀pic.twitter.com/T9lDarQqKH
— Gazza (っ◔◡◔)っ⚽ 🅷🅴🆁🅴 🆆🅴 🅶🅾 🅲🅰🆁🅳🆂 🃏 (@Herewegocards) July 21, 2022
Nah kalau Darwin Nunez pergerakannya kurang liat dan kaku. Meski kita mungkin sering melihat Nunez berlari menggiring bola selama berseragam Benfica. Namun catatan-catatan tadi menunjukkan sebaliknya.
Berbicara dengan Team Talk, mantan pemain Liverpool, Jamie Carragher berkomentar bahwa Darwin Nunez menjadi salah satu masalah besar di tubuh The Reds. Namun, ia juga mengakui kalau Nunez adalah striker yang punya rekor mencetak gol yang hebat melalui kecepatan dan kekuatannya.
Klopp Percaya Nunez
Jurgen Klopp, dalam beberapa laporan juga menyebut masih menaruh kepercayaan ke Nunez. Ia memahami bahwa Nunez sedang dalam masa-masa sulit. Tapi Klopp tetap meyakini bahwa Nunez akan segera bersinar di Liverpool.
📺 Jurgen Klopp on Darwin Nunez:
“He had a lot of good moments vs Rangers last week, in moments he was unplayable but obviously we had the big goalie saves.” 🔴 pic.twitter.com/fNJvbuUghD
— Anfield Watch (@AnfieldWatch) October 11, 2022
Bagaimanapun Nunez sedang mengupayakan hal itu. Jika ia kesulitan mencetak gol, tampaknya akan ada atribut lain yang coba ditingkatkan. Salah satunya kemampuan dalam menekan. Sebelum di Liverpool, kemampuan tekanan Nunez sangat buruk.
Angkanya cuma 23% tekanan sukses. Persentase itu menjadi paling sedikit, karena di Liverpool tidak ada pemain depan yang memiliki persentase tekanan sukses di bawah 30%. Tapi Nunez sudah memperbaiki hal itu.
Persentase tekanan suksesnya di Liverpool sudah menyentuh 37,5%. Itu baru soal tekanan, masih banyak aspek yang perlu Nunez perbaiki. Ketajamannya di kotak penalti, memanfaatkan ruang, pengambilan keputusan, dan progresi umpan juga harus meningkat. Itu jika Nunez tidak ingin dicap pembelian gagal.
Sumber: LiverpoolOffside, ESPN, SportsBrief, TeamTalk, BBC, MWI, The42, LiverpoolEcho, TheFlanker


