Kisah Kebodohan Tottenham Memecat Mourinho Padahal Nyaris Juara

spot_img

Ketika AS Roma merengkuh trofi Liga Konferensi Eropa bersama Jose Mourinho, boleh jadi fans Tottenham Hotspur ikut menangis tersedu-sedu. Menangis bukan karena terharu, melainkan menyesal karena dulu memecat pelatih asal Portugal itu sewaktu nyaris menjuarai Piala Carabao.

Walaupun sebagian fans Tottenham Hotspur pasti akan menampik hal itu. Tapi kenyataannya memang demikian. Kenyataan bahwa Mourinho berhasil membawa Tottenham Hotspur ke final dan selangkah lagi meraih trofi yang telah lama diidam-idamkan, eh malah dipecat.

Nahasnya, sampai hari ini, Tottenham Hotspur toh belum bisa meraih sebiji pun gelar. Sementara Mourinho yang melatih AS Roma, sudah mempersembahkan trofi Liga Konferensi Eropa. Spurs tetap Spursy, sedangkan Mourinho benar-benar The Special One. Tapi kenapa waktu itu The Lilywhites memecat Mourinho, ya?

Kedatangan Mourinho ke Tottenham Hotspur

Jose Mourinho datang ke Tottenham Hotspur dengan ambisi yang luar biasa. Ketika itu, Tottenham sedang mengalami penurunan performa. Setelah Mauricio Pochettino membawa The Lilywhites ke final Liga Champions Eropa dan kalah dari Liverpool, penampilan tim merosot.

Pochettino dianggap sudah tidak lagi cocok menangani Tottenham. Pelatih yang juga pernah menjadi mantan pemain PSG itu dinilai tidak lagi bisa memenuhi hasrat besar Tottenham Hotspur. Singkatnya, manajemen Tottenham tidak lagi percaya pada Pochettino.

Ia pun dipecat. Jose Mourinho pun masuk pada 20 November 2019. Waktu itu, Mourinho berstatus sebagai pelatih elit. Pelatih yang punya jam terbang yang tinggi. Terlebih ia belum lama didepak Manchester United. Kendati ia membawa Setan Merah meraih trofi terakhir sekaligus treble kecil-kecilan.

Awal yang Baik

Jose Mourinho sebenarnya target lama dari bos Tottenham Hotspur, Daniel Levy. Ia ingin Mourinho bisa mengubah The Lilywhites menjadi pasukan yang siap tempur. Mengubah Tottenham Hotspur menjadi tim pemenang.

Melatih Spurs, dalam hal ini Mourinho juga sebetulnya mempertaruhkan reputasinya. Karena sebelum itu, ia menjalani masa yang sulit di Manchester United selepas meraih trofi. Mourinho dibebani tugas untuk membangun skuat Tottenham menjadi lebih baik.

Pada musim pertamanya, Mourinho tidak diberikan target yang muluk-muluk. Meski begitu, ia setidaknya bisa mengerek posisi Tottenham Hotspur hingga finis di posisi keenam di Liga Inggris pada akhir musim. Nah baru pada musim keduanya, yaitu pada 2020/21, Mourinho memiliki kendali penuh dari awal musim.

Kesempatan keduanya itu, Mourinho mendatangkan amunisi bagi Spurs. Sergio Reguilon merapat dan Gareth Bale juga datang lagi dengan status pinjaman. Berkat tangan dinginnya, Mourinho berhasil membuat Tottenham Hotspur berada di puncak klasemen dari pekan kesembilan hingga pekan ke-12.

Son Heung-min dan Harry Kane menjadi kombinasi maut yang sulit terbendung di tangan Jose Mourinho. Sayang sekali kegemilangan ini tidak bertahan lama. Tottenham Hotspur pada akhirnya kembali ke setelan pabrik.

Paruh Musim yang Buruk

Petaka mulai muncul pada Bulan Desember musim itu. Tottenham menelan pil pahit kekalahan di tangan Liverpool dan Leicester City. Kekalahan itu bikin Tottenham terpelanting dari zona papan atas. Pada pekan ke-19, Tottenham Hotspur sudah terlempar di peringkat lima klasemen.

Alih-alih berbenah, Spurs kian memburuk. Setelah itu mereka lebih sering menelan kekalahan daripada meraih kemenangan. The Lilywhites harus kalah di lima pertandingan dari enam laga beruntun. Anak asuh Jose Mourinho kalah dari West Ham, Manchester City, Chelsea, Liverpool, bahkan Brighton.

Satu-satunya kemenangan pada saat itu adalah ketika menghadapi West Bromwich Albion. Itu menjadi penampilan buruk Spurs di tangan Mourinho berikutnya. Sebab di musim pertama, Mourinho juga sudah gagal membawa Tottenham Hotspur melaju jauh di Liga Champions musim 2019/20. The Lilywhites dikalahkan RB Leipzig di babak 16 besar dengan skor mencolok 4-0 dalam dua leg.

Pada musim kedua, Mourinho punya kesempatan untuk membawa kembali Tottenham Hotspur ke Liga Champions. Tentu saja melalui jalur juara di Liga Eropa musim 2020/21.

Akan tetapi itu pun kandas juga. Tottenham Hotspur takluk di babak 16 besar oleh Dinamo Zagreb. Mereka gagal mempertahankan keunggulan 2-0 di leg pertama dan harus menyerah 0-3 di kandang Dinamo Zagreb.

Keterpurukan Spurs di tangan Mourinho juga berlanjut di Piala FA. Tottenham harus tersingkir setelah kalah 5-4 atas Everton. Untungnya, keterpurukan Tottenham Hotspur tidak berlanjut di Carabao Cup. Mourinho berhasil membawa The Lilywhites ke final Carabao dan menantang Manchester City.

Mourinho Didesak untuk Pergi

Meski membawa The Lilywhites ke final Carabao, Mourinho dinilai buruk dalam memimpin klub selama dua musim. Pendukung The Lilywhites memberontak dan mendesak agar manajemen segera mengambil sikap untuk Mourinho. Bos Tottenham, Daniel Levy juga tengah menghadapi desakan dari publik Tottenham Hotspur Arena.

Penurunan performa Tottenham di tangan Mourinho berbarengan dengan Tottenham yang menyatakan ikut dalam proyek Liga Super Eropa. Jadi lengkap sudah kemarahan fans kepada klub yang dipimpin Daniel Levy.

Jose Mourinho mendapat kritik dari banyak pihak. Ia dikritik soal taktiknya yang dianggap bermain sepakbola negatif. Tidak ambisius dalam memenangkan pertandingan. Mourinho selalu gagal membuat Tottenham mempertahankan keunggulan. Taktiknya terlalu hati-hati dan itu justru membuat The Lilywhites gampang kalah.

Petinggi klub tidak puas dengan kinerja Mourinho. Pelatih yang meraih treble bersejarah bersama Inter itu kehilangan kepercayaan dari para penggemar. Ia juga kehilangan dukungan dari beberapa pemain Tottenham. Cederanya Harry Kane dan Son Heung-min juga menjadi pukulan telak bagi klub.

Mourinho pun akhirnya dipecat setelah hanya bisa meraih hasil imbang dengan Everton di Goodison Park pada lanjutan Liga Inggris. Kabar pemecatan ini mengejutkan, tapi tertutup dengan rencana Liga Super Eropa.

Kebodohan Tottenham Hotspur

Pemecatan Mourinho oleh Tottenham Hotspur adalah tindakan yang lebih dekat kepada kebodohan. Sebab ketika itu walaupun Mourinho membawa Tottenham tampil buruk, toh ia masih bisa mengantarkan klub itu ke final Piala Carabao. Dan Mourinho punya catatan positif di final.

Pada waktu itu, Jose Mourinho berstatus sebagai pelatih elit yang tidak pernah kalah di final kompetisi apa pun. Jika ia berhasil membawa sebuah tim ke final, maka kemungkinannya cuma satu: menang.

Porto, Chelsea, Inter, Manchester United, sampai Real Madrid sudah merasakan hal itu. Bahkan baru-baru ini AS Roma merasakan magisnya Jose Mourinho di final. Namun sayang, Spurs memang terlalu Spursy. Mereka tampaknya sudah anti untuk meraih trofi.

Mourinho yang selangkah lagi bisa jadi mengantarkan satu-satunya trofi baru untuk Spurs sejak musim 2007/08 justru dipecat. Mourinho hanya 17 bulan melatih Tottenham Hotspur. The Lilywhites memecatnya persis enam hari jelang final Carabao menghadapi Manchester City. Final yang pada akhirnya membuat fans Spurs gigit jari.

https://youtu.be/ZuA6UhQPjqU

Sumber: Quora, SkySports, TalkSport, CartilageFreeCaptain, BBC, CNN Indonesia

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru