Musim ini Arsenal sungguh-sungguh menggila. The Gunners bahkan menjadi tim terproduktif di Liga Inggris untuk sementara musim ini. Spesialnya lagi, Meriam London mencetak banyak gol tanpa butuh striker mahal seperti Haaland di City maupun Darwin Nunez di Liverpool, hebat bukan? Lalu bagaimana resepnya Arsenal bisa seperti itu?
🟢 6-0 vs. West Ham United
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) March 4, 2024
🟢 5-0 vs. Burnley
🟢 6-0 vs. Sheffield United
Arsenal become the first team in English league history to win three consecutive away games by five goals or more.#AFC pic.twitter.com/INFj68zuvu
Daftar Isi
Kehilangan Aubameyang dan Lacazette
Sejak kehadiran Mikel Arteta di Emirates, ia perlahan menancapkan ide gaya bermainnya. Kita tau, Arteta ini sebelumnya adalah murid Pep Guardiola. Gaya bermainnya hampir mirip dengan sang guru. Dari gaya penguasaan bola, cara menyerang, maupun cara memanfaatkan ruang.
Arteta mengembangkan sistem gaya bermainnya itu secara berkelanjutan. Seperti apa yang pernah ia lakukan bersama Pep di City. Oh iya, selain sistem bermain soal kedisiplinan juga adalah kunci bagi Arteta membangun Arsenal. Ia tak mau pemainnya neko-neko dan berlagak sok lebih besar dari tim.
We should have kept Aubameyang, got rid of Arteta & hired an experienced manager who can manage world class talent & whose process we can actually trust. pic.twitter.com/d04H3oKcr8
— Piers Morgan (@piersmorgan) May 16, 2022
Masih ingat ketika Arteta punya striker buas seperti Aubameyang? Namun ketika kelakuan striker Gabon tersebut tak bisa ditolerir, Arteta tak segan mendepaknya. Belum selesai sampai disitu. Arteta kembali berani membuang mesin gol Arsenal lainnya yakni Alexandre Lacazette.
Lacazette on Arteta in Mundo Deportivo: “Arteta is the leader, the boss, even the boss of the club.
— Gilles 🇳🇬🏴 (@_Grimanditweets) March 26, 2022
Since he arrived, a lot of things have changed, including everyone’s mentality…
It’s all about him.”#afc pic.twitter.com/4YS9Gl9vOu
Lacazette mengakui sendiri bahwa ia keluar dari Arsenal karena ada beberapa masalah dengan budaya baru yang dibangun Arteta. Lalu setelah kehilangan dua bomber tersebut, bagaimana dengan kondisi stok penyerang Arsenal?
Martinelli, Odegaard dan Bukayo Saka
Arteta tak takut kehilangan mesin golnya. Ia masih yakin bahwa sistem bermainnya masih bisa berjalan tanpa Auba dan Lacazette. Alih-alih membeli striker top yang mahal sebagai gantinya, Arteta malah lebih suka memanfaatkan pemain muda akademi yang ada.
Pemain akademi seperti Bukayo Saka yang dulunya bermain di bek kiri, tak disangka disulap sebagai sayap kanan yang mematikan. Saka padahal awalnya ragu, apakah ia bisa jadi seorang sayap serang. Namun, setelah Arteta berkali-kali mengetuk keyakinannya, Saka pun terlihat makin nyaman dan berani. Bahkan di musim 2021/22 Saka sudah mampu jadi top skor Arsenal.
Sekalinya membeli pemain, Arteta lebih memilih tipe pemain yang tak terlalu mahal namun bisa masuk dalam sistemnya. Misal Martin Odegaard. Pemain Norwegia itu hanya dibeli dengan mahar 30 juta pounds. Pemain buangan Real Madrid itu perlahan mampu menjadi roh bagi lini tengah The Gunners hingga sekarang.
Arteta juga memanfaatkan pembelian pemain di zaman Unai Emery seperti Gabriel Martinelli. Arteta yakin potensi luar biasa dari pemuda Brasil tersebut cocok jika masuk dalam sistemnya. Martinelli sangat berterima kasih pada Arteta. Martinelli tak menyangka masih dibutuhkan meski bukan pembelian Arteta.
Dengan pemain-pemain tersebut, Arteta sukses membentuk trio lini serang baru yakni Martinelli, Odegaard, dan Saka. Trio maut tersebut telah menjadi mesin bagi Arsenal ketika menyerang.
Martinelli, Saka and Odegaard have combined 47 goals and assists. If they continue at this rate, they will become the sixth-most prolific attacking trio in Premier League history. [Daily Star] pic.twitter.com/NKxMFSqUHw
— AfcVIP⁴⁹ (@VipArsenal) March 10, 2023
Arteta Dipertanyakan
Sayangnya walaupun trio tersebut menghasilkan banyak gol, gelar prestisius tak kunjung mampir ke Emirates. Arteta lalu banyak dikritik soal mental juara anak asuhnya tersebut.
Dengan adanya kritik tersebut, harusnya Arteta sadar bahwa Arsenal butuh penyerang baru yang top dengan harga mahal.
Banyak rumor yang beredar ketika Arsenal dikaitkan dengan striker top dan haus gol seperti Dusan Vlahovic maupun Victor Osimhen. Namun alih-alih mereka, Arteta justru membeli pemain seperti Gabriel Jesus, Leandro Trossard, dan bahkan Kai Havertz.
Jesus di Manchester City bukanlah seorang striker buas yang dapat diandalkan sebagai mesin gol. Bahkan Pep sering menempatkannya di sisi sayap. Leandro Trossard juga bukan mesin gol. Ia hanyalah penyerang sayap yang terkadang menjadi false nine. Kai Havertz apalagi. Jangankan mencetak gol, Havertz malah sering dihina karena selalu lemas kalau di lapangan.
Who should start as striker today ❓
— THE RED ARMY (@nischal_15) March 4, 2024
A. Havertz
B. Jesus
C. Trossard
REPOST & QUOTE YOUR REPLIES 👇 pic.twitter.com/qbMCvGfVCA
Kebijakan Transfer Arteta
Oh, mungkin Arteta memilih pemain-pemain tersebut karena tak memiliki cukup uang untuk membeli striker mahal. Ya, ada yang bilang kalau pemilik Arsenal, Stan Kroenke itu pelitnya minta ampun. Namun itu salah besar. Kroenke telah keluar banyak duit selama ini untuk Arteta. Ibarat kata apa yang Arteta mau dikasih.
Tercatat Arsenal di era Arteta bahkan sudah habiskan uang Kroenke sebanyak 591 juta pounds atau setara Rp11,7 triliun. Uang sebanyak itu digunakan untuk mengangkut tidak kurang dari 20 pemain.
Akan tetapi, Arteta lah yang menentukan uang sebanyak itu akan dialokasikan ke mana. Arteta lebih memilih membeli banyak pemain mahal di posisi selain penyerang. Misal Ben White dan Declan Rice.
Apa boleh buat, itulah pilihan Arteta. Toh, Arteta yang lebih tahu soal kekurangan dan kelebihan skuadnya. Jadi, semisal nanti Arsenal seret gol gara-gara penyerangnya mandul, ya salahkan saja Arteta.
Gol yang Merata
Seperti musim lalu ketika Arsenal kehabisan bensin untuk meraih gelar Liga Inggris. Arteta dipertanyakan karena tak mendatangkan striker buas. Jesus dan Trossard tak seperti Haaland yang baru dibeli City. Haaland mampu membawa pengaruh besar bagi City bahkan langsung jadi top skor.
Di Arsenal, boro-boro jadi top skor. Berada di lima besar pencetak gol terbanyak Liga Inggris musim lalu saja tidak. Padahal secara jumlah gol, Arsenal di musim lalu adalah yang terbaik kedua di Liga Inggris.
Every Arsenal goal scorer in the Premier League this season:
— ²⁹ (@_beingblackie) March 5, 2024
Bukayo Saka (13)
Leandro Trossard (7)
Kai Havertz (7)
Gabriel Martinelli (6)
Eddie Nketiah (5)
Martin Ødegaard (6)
Gabriel Jesus (4)
Declan Rice (5)
Gabriel (4)
Ben white ( 2)
William Saliba (2)
Takehiro… pic.twitter.com/mrwSEcAeYH
Namun kok Arsenal tak memiliki pemain yang bercokol di daftar top skor sih? Ya, pencetak gol mereka ternyata merata. Trio maut Saka, Odegaard, dan Martinelli sama-sama mengoleksi total 15 gol di semua kompetisi musim lalu. Menariknya lagi, semua bek dan gelandang bertahan mereka juga mampu mencetak gol. Bahkan pemain cadangan sekelas Holding, Kiwior, maupun Reiss Nelson bisa cetak gol.
Kiwior is a happy man after scoring his first Arsenal goal pic.twitter.com/DJ9sbs060j
— Doc (@karthikadhaigal) May 28, 2023
Mungkin itulah yang dimau Arteta. Semua pemain harus bisa cetak gol, apa pun posisinya. Arteta sangat mengandalkan sistem dan kolektivitas tim, daripada kehebatan individu.
Bola Mati
Di musim ini pun kurang lebih sama. Kolektivitas tim yang dibangun Arteta masih berkorelasi dengan pencetak gol mereka yang merata. Hingga pekan ke-27 Liga Inggris musim ini Arsenal masih bertengger sebagai tim paling banyak mencetak gol dengan 68 gol.
Namun lagi-lagi, pemain yang mencetak gol merata. Bahkan seorang bek seperti Ben White, Gabriel, dan Saliba sudah bisa menciptakan total delapan gol. Uniknya, banyak gol dari mereka lahir dari skema bola mati.
Saliba 😍
— Arsene Wenger's Coat (@ArseneCoat_FC) February 12, 2024
Arsenals first goal against west ham pic.twitter.com/ksEcY9WY1g
Misal ketika Arsenal membantai West Ham 0-6. Tiga golnya berasal dari bola mati. Ya, Arsenal di bawah Arteta mulai terkenal ahlinya ahli kalau memanfaatkan gol dari bola mati. Hal itu terjadi sejak Arteta menunjuk pelatih khusus bola mati bernama Nicolas Jover tahun 2021 lalu.
Para pemain Arsenal sudah langsung merasakan sendiri dampaknya. Martinelli pernah memeluk secara khusus Jover ketika memberikan assist dari sepak pojok bagi gol Thomas Partey di laga melawan Leicester Maret 2022 silam.
Nicolas Jover, set piece specialist, congratulating Martinelli on his well taken corner for the goal. [Afc Bench Cam] pic.twitter.com/Joi8uFzg5B
— AfcVIP⁴⁹ (@VipArsenal) March 16, 2022
Menurut Statement Dave, sejak kedatangan mantan staf City tersebut, The Gunners telah mencetak total 49 gol melalui bola mati. Baik itu dari tendangan bebas, sepak pojok, penalti, maupun lemparan ke dalam.
Since Jover’s appointment at Arsenal, the Gunners have scored 49 goals from set pieces, free kicks and throw-ins. 11 more than Arsenal’s top scorer over that period (Saka 38)
— 𝔎𝔞𝔦 𝔅𝔞𝔟𝔞 ℭ𝔬𝔩𝔩𝔦𝔫𝔰 (@kaibabane) March 7, 2024
(Source: @StatmanDave) pic.twitter.com/qOMHUywVSi
Well, kehebatan Arsenal dalam mencetak gol memang unik. Selain produktif dan merata, mereka juga jago mencetak gol di situasi apa pun. Artinya, Arteta cerdas dalam hal ini. Ia terus melangkah dengan keyakinan lini serangnya di tengah kritik. Ya, bagi Arteta tak perlu striker top dan mahal, asalkan bisa efektif dan tak mengganggu tim. Maju terus Arteta!
Sumber Referensi : paininthearsenal, theanalyst, theathletic, paininthearsenal, goal.com, transfermarkt


