Naturalisasi Itu Bagus, Tapi Syarat dan Ketentuan Tetap Berlaku

spot_img

Proyek naturalisasi Timnas Indonesia di era STY, meski sukses, ternyata masih menuai pro dan kontra. Tak sedikit orang yang belum sadar bahwa keberadaan pemain naturalisasi sangat membantu. Di sisi lain tak bisa menampik, Timnas Indonesia juga pernah gagal dalam proyek naturalisasi. 

Namun, hari ini kita tidak bisa menutupi keberhasilan naturalisasi dengan kegagalan di masa lalu. Kendati memang ada hal-hal dasar juga yang mestinya turut menjadi perhatian. Bagaimanapun setiap kebijakan seperti dua sisi koin, tak terkecuali naturalisasi.

Sebelum kita membahas dua sisi proyek naturalisasi, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng agar tak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.

Sejarah Kelam Proyek Naturalisasi

Yang perlu kita ingat, proyek naturalisasi pemain bukanlah hal baru di persepakbolaan Indonesia. Bahkan sudah terlaksana sejak zaman Indonesia masih menggunakan nama Hindia Belanda. Adalah Arnold van der Vin pemain naturalisasi pertama yang pernah dilakukan Timnas Indonesia.

https://twitter.com/Bolanet/status/1004252800182902784

Setelah itu Indonesia memang jarang menaturalisasi pemain lagi. Proyek naturalisasi barangkali mulai eksis kembali pada tahun 2010. Kala itu Cristian Gonzales yang 100% berdarah Uruguay memilih Indonesia sebagai Tanah Air pada November 2010. 

Gonzales merupakan pemain naturalisasi pertama yang sukses mengantarkan Indonesia ke final Piala AFF. Bahkan El Loco menjadi pencetak gol terbanyak Timnas Indonesia dengan tiga golnya. Kesan positif ini membuat Indonesia berusaha melakukan hal serupa di tahun-tahun berikutnya. 

Alih-alih mendapat pemain berkualitas macam Gonzales, naturalisasi setelahnya justru meninggalkan trauma mendalam. Yang penting pemain asing, tanpa memperhatikan kualitasnya. Era kelam pun tak terhindarkan. Pemain-pemain naturalisasi yang nggak jelas pun mulai bermunculan. 

Sebut saja Raphael Maitimo, Tonnie Cusell, dan Jhonny van Beukering. Tak cuma itu, masih banyak pemain yang dinaturalisasi cuma gara-gara main apik di Liga Indonesia. Osas Saha, Otavio Dutra, Fabiano Beltrame, dan Bio Paulin jadi beberapa contohnya saat itu. Ironisnya, gerbong naturalisasi yang ini dicurigai hanya untuk mengakali kuota pemain asing di Liga 1, bukan untuk kemajuan tim nasional. 

Kembali Dimulai Era STY

Jadi tak heran apabila beberapa pihak sedikit sentimen ketika PSSI mulai menggarap proyek naturalisasi lagi di era Shin Tae-yong. Ditakutkan hasilnya akan sama dengan angkatan terdahulu. Tapi ketakutan itu mulai memudar ketika melihat proyek yang dicanangkan STY mulai membuahkan hasil.

Shin Tae-yong dan PSSI yang ingin meningkatkan kualitas tim nasional telah menaikkan standar pemain yang bisa memperkuat tim nasional. Jadi tak heran apabila pemain yang dipanggil ya itu-itu saja. Namun, pemain lokal saja dirasa tak cukup untuk menjalankan skema permainan sang pelatih.

https://twitter.com/gilabola_ina/status/1772989873856598123

Oleh karena itu, STY pun meminta PSSI untuk mencari pemain keturunan atau diaspora untuk dipanggil membela Timnas Indonesia. Namun, STY menerapkan standar yang tinggi bagi para pemain keturunan. Hanya pemain Grade A saja yang boleh dinaturalisasi. Itu semua agar tak mengulangi kesalahan yang sama.

Setelah pencarian di Eropa khususnya Belanda, akhirnya muncul beberapa nama yang bersedia untuk dinaturalisasi. Berkat proyek ini sekarang kita bisa melihat pemain-pemain sekaliber Sandy Walsh, Jordi Amat, Ragnar Oratmangoen, Jay Idzes hingga Thom Haye bermain dalam balutan seragam merah putih khas Skuad Garuda.

Sisi Positifnya

Membujuk pemain-pemain keturunan untuk membela tim nasional Indonesia seolah menjadi sebuah jalan pintas demi skuad yang berkualitas. Desakan Coach Shin untuk menggunakan pemain naturalisasi di setiap lini memang tidak lepas dari keinginannya untuk segera meraih prestasi. 

Meski belum meraih trofi, Piala Asia 2023 dan Kualifikasi Piala Dunia 2026 jadi bukti meningkatnya kualitas permainan Timnas Indonesia. Indonesia bahkan mendapat banyak sanjungan dari lawan-lawan mereka. Salah satunya datang dari pelatih Australia, Graham Arnold. 

https://www.youtube.com/watch?v=UIjps49q9iE&pp=ygUgaW5kb25lc2lhIHZzIGlyYXEgYXNpYW4gY3VwIDIwMjQ%3D

Menurutnya, meski pada akhirnya kalah 4-0, Indonesia sudah jauh lebih kuat karena mampu memberikan perlawanan yang ketat. Selain itu, pujian juga datang dari striker Timnas Jepang, Ayase Ueda yang salut dengan semangat dan permainan Timnas Indonesia. 

Meski peringkat Indonesia saat itu masih 146 dunia, Rafael Struick cs tak memainkan sepakbola negatif. Ayase bahkan menyebut Indonesia bisa menjadi lawan yang sulit bagi Jepang dalam dua atau tiga tahun mendatang. 

Selain itu, keberadaan pemain keturunan juga mampu meningkatkan persaingan dan standar di tim nasional. Pemain pribumi yang ingin menembus timnas harus berjuang lebih keras. Namun, haters gonna hate. Pasti ada saja celah untuk mengkritik pencapaian Timnas Indonesia di era STY.

Pro dan Kontra

Salah satu tokoh yang paling getol menyatakan bahwa keberadaan pemain keturunan sudah berlebihan adalah Tommy Welly, atau yang sering disapa dengan Bung Towel. Kekhawatiran Bung Towel mengarah kepada PSSI. Menurutnya, federasi terlalu fokus kepada prestasi Timnas Indonesia. 

Padahal PSSI seharusnya bertanggung jawab kepada sepakbola Indonesia secara menyeluruh. Termasuk mengembangkan potensi kompetisi di dalam negeri. Dirinya juga menyinggung Shin Tae-yong selaku pelatih agar mau mengeksplor kemampuan pemain-pemain Indonesia. Jangan cuma mengandalkan pemain naturalisasi. 

https://twitter.com/SiaranBolaLive/status/1775003796990775509

Towel tak sendirian, ada Akmal Marhali dan Muhammad Tahir yang menilai kalau pemain-pemain lokal layak mendapat kesempatan lebih di tim nasional. Tahir bahkan dengan lantang menyebut bahwa Beto Goncalves yang sudah berusia 43 tahun masih layak menjadi juru gedor tim nasional. Opininya agak ngawur memang, tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.

Ada Benarnya Juga

Sudut pandang lain dari kritikan ketiga tokoh sepakbola itu telah disampaikan oleh Kusnaeni atau Bung Kus. Kendati masa depan cerah Timnas Indonesia mulai tergambar bersama STY, ia memberi peringatan. Bung Kus membandingkan situasi sekarang dengan sepakbola Singapura dan Filipina yang pernah sukses dengan naturalisasi tapi nyungsep kemudian.

Penyebabnya antara lain adalah kesadaran federasi mereka yang kurang terhadap perkembangan kompetisi domestik. Nah, hal serupa juga jadi ancaman bagi sepakbola Indonesia. Karena kualitas Liga Indonesia masih gitu-gitu aja.

Jadi serba salah kan. STY minta pemain berkualitas, tapi Liga 1 gagal menyediakan materi pemain yang sesuai dengan standar sang pelatih. Giliran nyari di luar negeri, baru deh pada ngereog. Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, Bung Kus meminta semua pihak, terutama PSSI sadar akan bahaya yang mengintai jika hanya mengandalkan naturalisasi.

Memperbaiki kualitas liga dari akar rumputnya itu suatu hal yang wajib. Pengadaan kompetisi berjenjang dari usia muda juga harus segera dimaksimalkan. Bukan asal jalan. Apalagi event yang akan diikuti oleh tim nasional itu banyak. Pemain naturalisasi yang berkarir di klub Eropa pasti terbatas untuk membela tim nasional. 

Kebanyakan klub Eropa hanya akan melepas pemainnya hanya untuk kompetisi-kompetisi prestisius macam Piala Asia dan Piala Dunia. Kompetisi-kompetisi di luar kalender FIFA macam Piala AFF, Piala Asia U-23, Sea Games, dan sebagainya akan dikesampingkan oleh klub yang menaungi pemain-pemain naturalisasi. 

Contoh nyata sudah terjadi di Piala Asia Asia U-23. Nathan Tjoe-A-On dan Justin Hubner yang gagal membela skuad Garuda U-23 lantaran tak mendapat izin dari klub. Jika situasinya begini, STY mau nggak mau harus memanfaatkan pemain-pemain lokal. Untuk mengatasi ini, sebetulnya PSSI bisa mengadopsi sistem yang dipakai oleh Jepang.

Setelah naturalisasi Ruy Ramos dirasa sukses menghadirkan gelar juara Piala Asia pada tahun 1992, Jepang membuat J League setahun kemudian dengan kesadaran bahwa tim nasional harus berakar dari komunitas lokal. 

Jepang bahkan tidak ragu mengadakan kejuaraan antar SMA untuk melihat potensi-potensi pemain muda. Selain itu, Jepang juga memiliki blue print bernama Visi Seratus Tahun yang diterapkan kepada klub-klub lokal. Visi ini mencakup berbagai hal, mulai pengembangan usia muda, keuangan yang sehat, hingga infrastruktur.

Dengan adanya sistem yang terstruktur itu, tak heran jika Jepang tidak pernah absen dari Piala Dunia sejak 1998. Nah, untuk mencapai hal-hal semacam itu, Erick Thohir cs mesti kerja lebih keras lagi. Itu harus dilakukan jika Indonesia tak mau bernasib sama dengan Singapura dan Filipina.

Sumber: Panditfootball, Bola, CNN, Skor.id, Suara

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru