Musim Paling Sial Liverpool di Liga Inggris

spot_img

Layaknya air laut, performa sebuah klub sepakbola pasti mengalami pasang surut. Cukup sulit menemukan tim yang performanya konsisten di setiap laga. Butuh sebuah kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan peningkatan performa yang stabil untuk tetap menjadi yang terbaik di hari-hari esok.

Agaknya, fenomena itu adalah sebuah hal yang wajar. Tapi, bagaimana jika sudah berusaha semaksimal mungkin, tampil apik di setiap laga, dan mencetak banyak gol, tapi tetap tak meraih trofi liga di akhir musim? Menyakitkan bukan? Apalagi penyebabnya hanya karena kesalahan kecil dari salah satu pemain. Momen ini pernah dirasakan Liverpool pada musim 2013/14.

Di era tersebut, Steven Gerrard cs tampil optimal. Mereka melibas hampir semua lawan yang dihadapi. Namun, Dewi Fortuna tampaknya punya sentimen tersendiri dengan The Reds. Semua upaya yang dilakukan tak membuahkan hasil. Itu jadi salah satu musim paling menyakitkan bagi kopites. Lantas, bagaimana kisah Liverpool melewati masa-masa sulit itu?

Berusaha Bangkit

Sebelum membicarakan tentang musim 2013/14, kita akan sedikit mundur ke belakang untuk membahas musim 2012/13. Musim tersebut adalah musim perdana bagi Brendan Rodgers. Dirinya diutus untuk menggantikan Kenny Dalglish yang melegenda bersama Liverpool.

Namun, fans tampaknya harus lebih bersabar. Musim perdana Liverpool di tangan Brendan Rodgers tak berjalan baik. Dalam lima pertandingan pembuka musim 2012/13, Liverpool sama sekali tak meraih kemenangan. Skuad asuhan Brendan Rodgers hanya meraih dua hasil imbang kala menghadapi Sunderland dan Manchester City.

Rentetan hasil buruk itu bahkan membuat Liverpool terdampar di zona degradasi. Beruntungnya, mereka meraih kemenangan melawan Norwich City di pekan keenam. Namun, kemenangan itu tak semata-mata membuat performa Liverpool membaik. Mereka tetap tak konsisten dan terus menuai hasil buruk.

Di akhir musim, meski berisikan pemain-pemain macam Luis Suarez dan Raheem Sterling, Rodgers hanya mampu membawa The Reds finis di urutan ketujuh klasemen Liga Inggris 2012/13. Sebetulnya ini bukan hasil yang begitu mengejutkan, mengingat Rodgers hanyalah pelatih medioker. Sebelum menangani The Reds, dirinya cuma jadi pelatih di tim-tim gurem macam Reading dan Swansea. 

Melihat hasil minor yang didapat, manajemen memberi tekanan pada sang pelatih. Jika karirnya di Liverpool ingin berumur panjang, maka Rodgers harus bisa memperbaiki performa tim di musim depan. 

Memulai Musim 2013/14 dengan Meyakinkan

Tantangan pun diterima, tapi dengan satu syarat. Brendan Rodgers meminta pihak klub untuk melakukan perombakan di bursa transfer berikutnya. Peremajaan lini bertahan pun jadi fokus Liverpool kala itu. Pada musim panas tahun 2013, nama-nama seperti Mamadou Sakho, Simon Mignolet, hingga Kolo Toure akhirnya mendarat di Anfield.

Sedangkan untuk lini serang, Liverpool tak begitu getol untuk mendatangkan pemain bintang. Tercatat hanya ada Iago Aspas yang ditebus dari Celta Vigo untuk menjadi pelapis Luis Suarez. Dengan skuad yang sudah terbentuk sesuai dengan harapan sang pelatih, Liverpool terlihat lebih siap untuk memulai musim baru.

Sangat terasa bahwa aura Liverpool berbeda musim itu. Lain dengan musim sebelumnya, musim 2013/14 Liverpool langsung tancap gas. Steven Gerrard dan kolega tak terkalahkan di tiga pertandingan perdana. Itu membuat peringkat klub di klasemen sementara Liga Inggris terdongkrak.

Bukan cuma tak terkalahkan, pertahanan Liverpool juga mengalami peningkatan yang drastis. Dalam jumlah laga yang sama di musim lalu, Liverpool sudah kebobolan tujuh gol. Sementara musim 2013/14, mereka belum kebobolan sama sekali dari tiga laga yang sudah dilakoni. Para fans yang awalnya tak antusias dengan adanya Rodgers kembali menaruh kepercayaan padanya. 

Sering Menang Besar

Skuad racikan Brendan Rodgers memang tidak selalu meraih kemenangan, tapi sekalinya menang, margin golnya cukup tinggi. Kemenangan besar perdana yang diraih Liverpool terjadi saat menjamu Fulham pada pekan ke-11. 

Kala itu, Brendan Rodgers mencoba eksperimen dengan memainkan skema 4-4-2. Formasi ini di luar kebiasaan, mengingat saat itu Liverpool dikenal dengan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1. Namun, eksperimen ini ternyata membuahkan hasil positif. 

Dengan menurunkan duo Suarez-Sturridge, The Reds menang 4-0. Rodgers paham betul keduanya merupakan penyerang dengan pergerakan cepat dan mematikan. Maka dari itu, ketimbang mencadangkan salah satu, dipakai dua-duanya aja sekalian. Anyway, Suarez jadi bintang lapangan setelah mencetak dua gol di laga ini.

Tiga pekan berikutnya, Liverpool kembali menang telak. Kali ini Norwich City yang menjadi korban dari keganasan lini depan Liverpool. Tak tanggung-tanggung, Martin Skrtel cs mencetak lima gol dalam kemenangan 5-1. Dan lagi-lagi El Pistolero yang jadi momok bagi tim lawan. Suarez memborong empat gol sekaligus di laga tersebut. 

Gol-gol yang diciptakan pun bukan gol biasa, melainkan gol spektakuler. Salah satunya bahkan diciptakan melalui sepakan jarak jauh dari tengah lapangan. Laga ini bahkan masih kerap dibahas oleh media-media Inggris hingga sekarang. Karena performa Suarez di laga tersebut memang benar-benar gila. 

Pasca pertandingan ini, kepercayaan tim kian meningkat. Liverpool terus meraih kemenangan-kemenangan dengan skor mencolok. 4-1 lawan West Ham dan 5-0 di markas Tottenham. Dari sekian banyaknya kemenangan besar, barangkali kemenangan atas Spurs jadi yang teristimewa. Karena hasil itu memastikan The Reds menjadi juara paruh musim di akhir Desember 2013. 

Paruh Kedua

Menjadi juara paruh musim telah membangun optimistis di seantero kota Liverpool. Masyarakat lokal yakin bahwa musim 2013/14 akan menjadi musim yang happy ending bagi Liverpool. Sayangnya, Liverpool lalai di awal putaran kedua. Mereka membuka paruh kedua dengan mengalami dua kekalahan beruntun dari Manchester City dan Chelsea.

Dua hasil minor itu membuat Liverpool turun ke peringkat kelima klasemen sementara. Setelah kekalahan itu, Liverpool kembali ke performa awal. Lima laga selanjutnya tak ada satu pun yang berakhir dengan kekalahan. Namun, hasil itu belum cukup untuk memperbaiki posisi Liverpool. Mereka masih saja tertahan di posisi lima.

Bahkan kemenangan 5-1 atas Arsenal di Anfield tak mempengaruhi posisi klasemen. Liverpool mulai merangkak naik kala berhasil menumbangkan mantan tim asuhan Brendan Rodgers, Swansea City dengan skor 4-3. Dari sinilah, tiga poin mulai deras mengalir ke rekening poin Liverpool.

Brendan Rodgers membawa anak asuhnya memenangi delapan pertandingan berikutnya. Klub sekaliber Manchester United dan Manchester City pun tak kuasa untuk menahan laju dari Liverpool. Alhasil, di pekan ke-34, Liverpool kembali merebut puncak klasemen. Dengan selisih lima poin dari Chelsea, puasa gelar selama 24 tahun Liverpool tampaknya akan segera berakhir.

Pidato Gerrard

Tapi fans The Reds lupa bahwa ekspektasi adalah sumber sakit hati terbesar. Munculnya perasaan kecewa dan menyesal ya karena mereka menaruh harapan terlalu tinggi pada sesuatu yang hasilnya belum mutlak. Seperti apa yang terjadi di penghujung musim 2013/14 ini.

Saat Liverpool kembali merebut tahta, Liga Inggris masih menyisakan tiga pertandingan lagi. Sementara itu, selisih poinnya dengan Manchester City hanya lima. Jadi apa pun masih bisa terjadi. Tapi, di situ ada Steven Gerrard selaku kapten tim. Dirinya memberikan pidato penyemangat agar seluruh rekan-rekannya percaya bahwa kesuksesan tinggal selangkah lagi.

Selepas mengalahkan City, sambil dikerumuni oleh pemain lain sang kapten pun mengatakan “This does not fucking slip now! Listen! This does not fucking slip.” Atau dalam bahasa Indonesia berarti “Hey! [Gelar Premier League] ini tak akan lepas dari genggaman sekarang! Dengar! Ini tak akan terlepas,” Pemilihan kata “slip” cukup menarik di sini. Karena slip juga berarti “terpeleset”.

Sontak, pidato itu membuat hati para pendukung Liverpool bergetar. Laga selanjutnya melawan Norwich pun bukan hambatan bagi The Reds. Mereka menang dengan skor 3-2 Tapi di pekan ke-36, Liverpool akan menjamu Chelsea. Ini bukan pertandingan biasa, karena Liverpool bisa memastikan gelar juara jika mereka berhasil menang. Tapi, tak ada yang menyangka bahwa Gerrard mengingkari janjinya sendiri. 

Dikadalin Jose Mourinho

Kala itu, Chelsea dijadwalkan bermain di Anfield hanya tiga hari sebelum leg kedua semifinal Liga Champions melawan Atlético Madrid. Skuad asuhan Jose Mourinho ingin fokus ke kompetisi Eropa. Maka dari itu beberapa media merumorkan bahwa skuad utama bakal disimpan oleh Mourinho.

Prediksi pun benar. pelatih asal Portugal itu tidak memainkan jagoan-jagoannya seperti Eden Hazard, John Terry, Willian, Ramires, David Luiz, Gary Cahill, dan Fernando Torres, sang mantan pemain Liverpool. Mou justru menurunkan Mark Schwarzer, Demba Ba, André Schürrle, dan Mohamed Salah yang kala itu belum lihai memainkan bola seperti sekarang.

Dengan performa Liverpool yang sedang aduhai, menang dalam 11 pertandingan terakhir. Melawan tim cadangan Chelsea dihadapan publik sendiri seharusnya bukan perkara sulit. Apalagi, Liverpool dalam tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Atau mungkin terlalu tinggi malah. 

Jose Mourinho dengan 1001 akal bulusnya memainkan tempo permainan dengan lambat. Mou tahu, bahwa Liverpool ingin buru-buru menyelesaikan pertandingan ini dan mengunci gelar Liga Inggris. Mantan pelatih Inter Milan itu pun memberikan instruksi khusus kepada beberapa pemain untuk mengulur-ulur waktu. Tujuannya jelas, untuk memancing emosi pemain-pemain Liverpool.

Bahkan, di menit ketiga para pemain Liverpool sudah melayangkan komplain ke wasit, Martin Atkinson. Semenit berikutnya, Luis Suárez pun bertanya-tanya kepada Azpilicueta mengapa mereka membuang-buang waktu. Semua pemain, pelatih, dan penonton pun terpancing energi negatif yang dirancang Mourinho.

Padahal kalau dipikir-pikir, Liverpool bisa saja santai dan mengikuti cara main Chelsea. Imbang pun sebenarnya tak masalah. Itu sudah cukup bagi mereka untuk memperlebar pintu juara. Liverpool tidak perlu menang, tapi maunya menang.

Duh! Gerrard

Sepanjang babak pertama, para pemain Liverpool gagal memainkan sepakbola apik seperti di laga-laga sebelumnya. Energi yang terpancar dari para pemain tampaknya negatif. Seperti sebuah pertanda buruk. Namun, momen kunci baru terjadi pada tambahan waktu di babak pertama.

Di saat para pemain Chelsea menunggu peluit jeda babak pertama dibunyikan, Liverpool menguasai bola. Umpan dari kaki ke kaki pun dimainkan. Mereka berusaha mengakhiri babak pertama dengan keunggulan. Tapi, karena pemain Chelsea menjaga ketat Luis Suarez dan Raheem Sterling, Liverpool memainkan bola di areanya sendiri.

Saat itu Mamadou Sakho, Steven Gerrard, dan Martin Škrtel berdiri satu garis sejajar. Demba Ba dan John Obi Mikel menjadi dua pemain Chelsea yang berusaha mengganggu. Ketika Sakho mengumpan ke Gerrard, sebetulnya tak ada tekanan yang berarti dari Ba. 

Namun, Gerrard yang lebih berkonsentrasi kepada Ba ketimbang bola pun meleng. Akhirnya mantan pemain Timnas Inggris itu kehilangan kontrol bola. Ia terpeleset dan bola liar pun disambar oleh Ba. Gerrard berusaha mengerahkan semua tenaganya untuk mengejar bola. Tapi sayang, Demba Ba terlalu cepat. Skor 1-0 untuk keunggulan Chelsea pun menutup babak pertama.

Babak kedua, Gerrard berusaha menebus kesalahan. Dirinya pun mengubah posisinya sedikit lebih ke depan. Ia berusaha terlibat serangan sesering mungkin. Bahkan, Gerrard terus melepaskan tembakan dari berbagai sudut lapangan. Tapi sayang seribu sayang, usahanya sia-sia. Terlalu asyik menyerang membuat pertahanan Liverpool lengah dan Chelsea menggandakan keunggulan di akhir babak kedua.

Dikudeta City

Di hari yang sama dengan terpelesetnya Gerrard di Anfield, Manchester City menang dengan skor 2-0 di kandang Crystal Palace. Kemenangan ini membuat City menyalip Liverpool di peringkat pertama klasemen sementara dengan raihan poin sama, yakni 80 poin. Masing-masing tim masih memiliki dua laga tersisa. Bedanya, City unggul agresivitas gol.

Lawan City berikutnya adalah Aston Villa dan West Ham. Sementara Liverpool harus menghadapi Crystal Palace dan Newcastle. Tugas Liverpool adalah satu. Menang dengan gol sebanyak mungkin. Karena mereka harus mengejar selisih sembilan gol milik Manchester City.

Sialnya, Dewi Fortuna seperti punya masalah pribadi dengan Liverpool. Saat laga melawan Crystal Palace, Liverpool unggul tiga gol lebih dulu. Setelah gol ketiga, Suárez mengambil bola dengan buru-buru dari gawang Palace. Itu dilakukan demi mengejar enam gol lagi. Namun hal yang terjadi berikutnya di luar dugaan. Di sepuluh menit terakhir, Palace mampu menyamakan kedudukan. Alih-alih dapat tiga poin, Liverpool justru imbang.

Suarez pun tak kuasa menahan air mata. Ia menutupi wajahnya dengan jersey tandang yang dikenakan oleh Liverpool karena tahu, di belahan dunia lain City justru menang 4-0 atas Aston Villa. Selain Gerrard, dirinyalah pemain yang paling terpukul dalam momen ini. Bagaimana tidak? 31 gol yang dicetaknya tak menghasilkan gelar di akhir musim.

Dari kejadian-kejadian ini, kita tentu tersadar untuk tidak terlalu sombong. Liverpool sebetulnya tak perlu mengalahkan Chelsea untuk juara, tapi mereka berusaha keras melakukannya. Liverpool sebetulnya tak perlu menang 10-0 saat melawan Palace, tapi mereka berusaha keras melakukannya. Tapi apa yang didapat oleh Liverpool saat itu? Tidak ada. Hanya kisah terpelesetnya Gerrard saja yang tersisa dari musim itu.

Sumber: Goal, Premier League, BR, Punditfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru