Jika bicara sepak bola, Inggris selalu punya keistimewaan tersendiri. Negara Ratu Elizabeth itu selalu mendapat minimal satu ruang khusus di hati para penikmat sepak bola. Ya walaupun Tim Nasionalnya selalu mengecewakan pada beberapa tahun belakangan.
Akan tetapi, kompetisi liga di Inggris mulai dari Premier League, Championship, League One, League Two, dan seterusnya punya daya tarik yang luar biasa. Bukan hanya itu, sepak bola di Inggris, terutama liganya memiliki keunikan yang tidak dipunyai liga-liga di Eropa, atau bahkan benua lainnya.
Kamu tentu tahu bukan, kalau setiap negara memiliki paling sedikit satu klub sepak bola yang mengambil nama ibu kotanya? Sebut saja Italia yang punya AS Roma. Jerman dengan Hertha Berlin; Real Madrid di Spanyol; sampai raksasa Prancis, Paris Saint-Germain dan saudaranya, Paris FC yang berada di kasta kedua.
Mau contoh dari luar liga top Eropa? Tentu saja masih ada AEK Athens di Yunani; Ankara Demirspor di Turki; GNK Dinamo Zagreb di Kroasia; Kuala Lumpur FA di Malaysia; Bangkok United di Thailand; sampai Persija Jakarta.
Sementara, di Kota London, Inggris tidak ada satu pun yang memakai nama “London” sebagai nama klub. Yang ada justru FC London, klub sepak bola yang berbasis di Ontario, Kanada. Sedangkan di Inggris yang ada justru nama klub seperti Chelsea, Crystal Palace, dan klub-klub semenjana seperti Tottenham Hotspur dan Brentford.
Nah, itu dia yang membuat Liga Inggris unik. Saat semua liga-liga Eropa bahkan di dunia selalui memiliki klub dengan nama ibu kota mereka, Inggris tidak. Well, mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa di Inggris tidak ada satu pun klub sepak bola yang memakai nama “London”?
Luasnya Wilayah
Tak seperti Paris yang memiliki luas 105,4 km persegi, atau Berlin yang luasnya 891,8 km persegi, London memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu 1,572 km persegi. Luas itu menjadikan London sebagai ibu kota yang paling luas di antara empat ibu kota penghasil lima liga top Eropa lainnya.
Dari wilayahnya yang cukup luas itu, London atau London Raya terbagi menjadi 33 distrik. Lalu dari 33 distrik itu ada banyak sekali area-area. Nah, dari area-area itulah yang melahirkan beberapa klub-klub hebat yang berasal dari London.
Misalnya, Millwall dari kawasan Bermondsey; Arsenal di kawasan Holloway bagian dari distrik Islington; Fulham di kawasan Fulham; sampai Tottenham Hotspur di kawasan Haringey, London Utara.
Football Clubs In London
A club for approx every 280,000 people pic.twitter.com/TFhhT25NfG— Jon Johnson 🇨🇦 🇬🇧 🇲🇦 (@jonjohnson) January 21, 2021
Bisa Terjadi Ketidakadilan
Selain wilayahnya yang kemudian berpengaruh pula pada jumlah klub di Kota London yang banyak, memang seperti sudah menjadi semacam konsensus bahwa tak boleh ada satu pun klub yang memiliki nama “London”.
Artinya, tidak ada satu pun klub yang boleh menjadi satu-satunya wakil London dengan memberi embel-embel “London” pada nama klub mereka. Karena jika itu dilakukan, akan timbul ketidakadilan antara satu klub dengan klub London lainnya.
Apalagi di kasta tertinggi Liga Inggris, Premier League tak hanya satu klub asal London yang bermain di sana. Hal itu membuat pendukung dan warga lokal merasa tidak adil kalau sampai ada satu di antara Arsenal, Chelsea, Spurs, West Ham, atau yang lainnya menggunakan nama London.
Stamford Bridge. Chelsea FC. #Chelsea #London #stamfordbridge #football #PremierLeague #Blues pic.twitter.com/rsWhrPfEyy
— Sir Robert Cantú (@robertcantug) February 10, 2019
Karena sebetulnya, klub-klub di London ini lebih mewakili daerahnya masing-masing. Ambil contoh, Queens Park Rangers yang mewakili White City; Chelsea dan Fulham yang mewakili London Barat; serta Tottenham dan Arsenal yang mewakili London Utara.
Coba saja misalnya, Chelsea mengubah namanya menjadi London FC seperti di game Pro Evolution Soccer. Tentu saja itu bakal susah sekali dicerna oleh penduduk yang tinggal di London Utara. Bagaimana mungkin warga London Utara bisa menganggap Chelsea yang memakai nama London FC itu mewakili London?
Jelas aneh. Sebab, London itu artinya mewakili seluruh warga Kota London, bukan hanya London Barat saja atau London Utara saja.
Menyangkut Sejarah Klub Masing-masing
Setiap klub di London yang konon jumlahnya ratusan itu, memiliki sejarah penamaannya masing-masing. Apalagi sekitar 100-an tahun lalu, pendiri klub-klub di London telah lebih dulu melibatkan diri pada hal-hal selain sepak bola. Misalnya, Arsenal yang semula didirikan para pembuat amunisi atau senjata.
Nama Arsenal sendiri memang berasal dari gudang amunisi “Royal Arsenal” yang berbasis di Woolwich sejak abad ke-17. Tak banyak yang tahu kalau Arsenal di awal berdirinya menggunakan nama Dial Square tahun 1886. Tapi supaya tidak terasingkan dengan tempatnya lahir, namanya berubah menjadi Royal Arsenal, sampai akhirnya disebut Arsenal saja.
Sementara rival Arsenal, Tottenham Hotspur agak unik lagi. Klub itu awalnya didirikan dengan nama Hotspur FC tahun 1882. Konon penamaan Hotspur berasal dari Sir Harry Hotspur, julukan Sir Henry Percy (1364-1403). Pria ini adalah sosok ksatria yang berani yang pernah diabadikan oleh William Shakespeare dalam Henry IV.
The Northumbrian accent of English has a distinctive throaty ‘r’ sound known as a BURR or WHARLE. The true origins of the sound are unknown—but folklore claims it developed from people copying a speech defect of Sir Henry Percy, a son of the Earl of Northumberland, in the 1300s. pic.twitter.com/dS2hfncazT
— Haggard Hawks 🦅 (@HaggardHawks) December 22, 2020
Nah, keluarga Percy ini kabarnya punya tanah di area Tottenham, jadilah namanya pun berubah menjadi Tottenham Hotspur. Kalau Chelsea berbeda lagi. Nama Chelsea berasal dari era Anglo-Saxon yang merupakan penyerapan dari kata “Chelceth” atau “Chelcith“.
Nama itu diambil dari sebuah tempat pertama kali batu kapur mendarat di dekat Sungai Thames. Sementara, klub yang banyak berisi pemain berkulit hitam, Crystal Palace justru muncul dari sebuah pameran besar di Hyde Park tahun 1851.
Klub itu dinamai berdasarkan struktur kaca besar yang menjadi tempat pameran tersebut. Oh iya, pameran ini juga kemudian pindah ke Sydenham.
Seorang dramawan, Douglas Jerrold menjuluki bangunan itu sebagai “istana yang sangat kristal”. Jadilah, namanya pun menjadi Crystal Palace yang berdiri tahun 1905. Kalau saja Jerrold tidak memberi julukan itu, mungkin saja namanya menjadi “Great Exhibition Centre Wanderers” atau semacamnya.
I never realised just how huge the Crystal Palace was!
The Crystal Palace, built to house the Great Exhibition in London’s Hyde Park from 1 May until 15 October 1851. It was designed by Joseph Paxton in just 10 days, and incorporated 10 million feet of glass.#socialhistory pic.twitter.com/PBLADk9lsb— Historygirl (@janeyellene) January 23, 2021
Jadi, jika ada klub yang menamai dirinya London, selain menimbulkan ketidakadilan, juga bisa mencederai sejarah dari masing-masing klub itu sendiri. Apalagi penduduk London di masing-masing distrik sampai area tertentu lebih cenderung individualistik.
Maka dari itu, dari awal pembentukan klub-klub London lebih mengutamakan mengumpulkan pemuda satu wilayah atau distrik saja. Karena sikap individualis itu pula, penggabungan seluruh klub-klub di London menjadi London FC atau London City FC sangatlah tidak mungkin.
https://youtu.be/RPpllyBAg10
Sumber referensi: londonist.com, quora.com, wikipedia.org


