“Semua orang tahu bahwa ia memiliki potensi yang sangat besar. Mungkin Manchester United akan memiliki bek kanan terbaik dalam 10 tahun mendatang apabila mampu meningkatkan kondisi dan kemampuannya. Karena seperti yang sudah saya katakan, ia masih berusia 19 tahun.” Begitulah first impression Jose Mourinho ketika mendatangkan bek kanan muda, Diogo Dalot ke Manchester United tahun 2018 lalu.
Dan kini, perkataan pelatih kawakan asal Portugal itu mulai menunjukan kebenarannya. Perlahan namun pasti, Diogo Dalot telah menunjukan kualitas yang terpendam dalam dirinya. Dalam beberapa bulan terakhir, Dalot telah berevolusi menjadi bek kanan andalan Manchester United. Terutama di bawah asuhan pelatih anyar, Erik Ten Hag.
Kita semua tahu betapa sulitnya perjuangan Dalot menjadi pemain utama United. Lantas bagaimana kisah transformasi bek kanan berusia 23 tahun tersebut?
Daftar Isi
Datang Dari FC Porto
Musim ini tepat musim kelima Diogo Dalot berseragam Setan Merah, sejak didatangkan Jose Mourinho dari FC Porto Juli 2018 silam. Ditebus dengan biaya 22 juta euro atau setara Rp320 miliar, bocah berusia 19 tahun pun mendarat di Inggris dengan embel-embel talenta asal Portugal yang menjanjikan.
HD #AVATAR
└📂 Diogo Dalot
└📂 #ManchesterUnited pic.twitter.com/RYcaisfcWQ— MUFC AVATAR (@MUFC_avatar) September 26, 2022
Di laga debutnya kontra Young Boys di ajang Liga Champions, Diogo Dalot berhasil memukau Jose Mourinho. Dalot tercatat membuat 33 operan dengan tingkat akurasi mencapai 84,8 persen, serta melepaskan empat umpan silang dan tiga sapuan.
Namun bak ratu semalam, di laga berikutnya performa bek kelahiran Braga, Portugal itu tak lagi sama dengan pertandingan debutnya. Ia gagal menampilkan permainan yang istimewa bersama United. Performanya bahkan cenderung menurun dan biasa-biasa saja. Ia justru berkutat dengan beberapa cedera.
Tak Mampu Bersaing di Skuad Utama
Setelah kondisi fisiknya mulai membaik, tapi tidak dengan performanya. Belum lagi Ole Gunnar Solskjaer yang menggantikan Mourinho malah mendatangkan Aaron Wan-Bissaka dari Crystal Palace. Kehadiran Wan-Bissaka membuat menit bermain Dalot kian menipis.
Like for Diogo Dalot❤
Retweet for Wan-bissaka🔁 pic.twitter.com/yMflZoNQwj— ‘✡‚ ✪ (@Orgn_damlee) September 24, 2022
Aaron Wan-Bissaka lebih diunggulkan karena dianggap mampu bertahan lebih baik daripada Dalot. Mengingat kemampuan duel satu lawan satu Wan-Bissaka jauh lebih baik. Meski Wan-Bissaka tidak becus dalam menyerang.
Sedangkan Dalot cukup piawai membantu serangan. Tapi ia kerap kewalahan ketika mendapat serangan balik dari lawan. Kondisi fisik yang lemah membuat Dalot kesulitan dalam menjaga solidnya lini belakang United. Ia kerap kalah duel darat maupun udara, bahkan beberapa kali justru merusak bentuk pertahanan yang sudah dibangun rapi.
Jadi, siapa pun pelatih MU pasti bingung. Mereka ingin menggabungkan kemampuan dari kedua pemain itu agar bisa menciptakan bek kanan yang oke, baik menyerang maupun bertahan. Namun, karena Wan-Bissaka lebih sering dipilih oleh Ole Gunnar Solskjaer, Dalot kemudian masuk dalam daftar pemain yang harus dilepas United ketika memasuki bursa transfer.
Dipinjamkan ke AC Milan
Dalot benar-benar tak terpakai di bawah Ole. Ia pun mengambil keputusan yang cukup berani dengan menerima tantangan di Italia bersama AC Milan. Pemain berusia 23 tahun itu bergabung dengan Rossoneri pada awal musim 2020/2021. United yang enggan melepasnya secara permanen hanya mengizinkan Dalot pergi dengan status pinjaman selama satu musim.
AC Milan ingin permanenkan Diogo Dalot setelah masa peminjamannya berakhir musim ini. AC Milan memang tak punya kesepakatan opsi pembelian dalam proposal peminjaman ke MU, Milan akan tawarkan £15jt ke Man United untuk Diogo Dalot [Goal] pic.twitter.com/eHUSqyO479
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) February 6, 2021
Keputusan yang diambil Dalot terlalu berani mengingat di Milan, ia justru harus bersaing dengan dua bek sayap AC Milan saat itu, yakni Davide Calabria dan Theo Hernandez. Jika menggusur Wan-Bissaka saja nggak bisa, gimana mau jadi pilihan utama di Milan?
Persetan dengan hal itu, Dalot tetap menabrak resiko yang ada. Baginya yang terpenting adalah mendapat kesempatan bermain dan itu berhasil ia raih bersama Milan. Beruntungnya, allenatore Milan saat itu, Stefano Pioli adil dalam memberi kesempatan. Beberapa kali Dalot tampil pada ajang kompetisi domestik dan ketika Dalot diberi kesempatan, ia tak pernah membuang kesempatan itu.
Bantuan Dari Ralf Rangnick
Bersama Milan, Dalot mendapatkan keinginannya. Ia diberi menit bermain yang cukup. Meski Milan masih memiliki bek kanan macam Calabria dan Andrea Conti, Dalot berhasil mencatatkan lebih dari 2000 menit bermain sepanjang musim 2020/21. Itu menit yang cukup bagi pemain yang paham betul rasanya tak terpakai di sebuah tim.
Ia bertahan kurang lebih 10 bulan bersama Milan untuk kemudian pulang ke Manchester United. Sayangnya, MU yang masih ditukangi Ole masih belum melirik pemuda 23 tahun itu. Dalot hanya memainkan 4 pertandingan di awal musim 2021/22. Yang mana hampir semuanya ia mulai dari bangku cadangan.
Harapan Dalot mulai muncul ketika Ralf Rangnick masuk menggantikan Ole pada akhir tahun 2021. Metode kepelatihan bapak gegenpressing yang mengutamakan kekuatan fisik dirasa sangat membantu Dalot untuk memperbaiki kekurangannya. Di bawah Rangnick, kekuatan, kecepatan, dan pengambilan keputusan Dalot mulai membaik.
Metode latihan yang diusung Rangnick menuntut para bek sayapnya untuk memiliki kemampuan dalam hal melepas umpan, crossing, mengontrol bola, melakukan pressing, dan penempatan posisi yang baik. Segala aspek ini dimiliki Dalot dan perlahan ia bisa meningkatkan kemampuan itu bersama Rangnick. Hasilnya, Dalot menjadi pilihan utama di era pelatih asal Jerman itu.
Matang Bersama Ten Hag
Dalot mengakhiri musim 2021/22 dengan 30 penampilan di semua kompetisi. Itu jadi yang terbanyak selama ia berseragam Manchester United. Meski tanpa kontribusi gol, performa Dalot telah menunjukan peningkatan yang signifikan. Ia mencatatkan 33 tekel sukses yang mana itu lebih baik dua kali lipat dari apa yang sudah ia lakukan di Milan.
Peningkatan performa itu membuat Jose Mourinho yang sedang menangani AS Roma berusaha mendatangkannya. Namun, sang pemain enggan meninggalkan United. Dalot ingin memperjuangkan posisinya di bawah pelatih anyar, Erik Ten Hag.
Kedatangan Ten Hag membawa banyak perubahan pada diri Dalot. Ia kini tidak takut untuk berduel dan melancarkan tekel-tekel yang mengundang resiko. Ten Hag membuat Dalot mempunyai kemampuan bertahan yang baik dan masih bisa jadi senjata untuk menyerang.
Salah satu peningkatan yang signifikan dari Dalot adalah kualitasnya dalam mendribel bola. Dari 6 laga di Liga Inggris musim ini, sang pemain sudah mencatatkan 71% dribbling sukses, meningkat 20% dari musim lalu. Ia bahkan mencatatkan 100% dribbling sukses di laga kontra Southampton.
Dalot juga merayakan setiap tekel yang ia layangkan seperti yang ditunjukan saat melawan Leicester City. Dalam laga tersebut, ia memenangkan seluruh duel udara. 75% umpan lambungnya menemui sasaran dan empat tekel berhasil ia menangkan. Catatan yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan saat United berhasil menggasak sang pemuncak klasemen, Arsenal.
Meski masih ada beberapa yang harus ditingkatkan lagi, tapi apabila mengacu pada performa sejauh ini, Dalot sudah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Datang sebagai ulat, kini Dalot telah berevolusi menjadi kupu-kupu yang indah.
Sumber Referensi: Manchester Evening News, Setan Merah, Man United Score, Manunitednews, Fotmob


