MU Bapuk, Ten Hag Kok Malah Nyalahin Pemainnya Sendiri?

spot_img

Di Kota London, dua orang pelatih berantem. Namun, di Kota London yang lain, seorang pelatih hanya bisa termenung. Menyaksikan timnya dilumat tim lain yang baru seumur jagung berada di Liga Inggris. Ya, benar sekali, pelatih yang termenung itu adalah Erik Ten Hag.

Allenatore Manchester United itu sedang merutuki nasibnya. Tentu sulit untuk menerka isi hati Ten Hag. Jika kepala Ten Hag itu dibuka, barangkali otaknya aus karena melihat betapa profesionalnya para pemain Manchester United.

Kekalahan atas Brentford, yang tidak hanya 1-0 tapi 4-0 itu, jelas pantas membuat kemarahan Erik ten Hag naik ke ubun-ubun. Apalagi karena kekalahan itu, ia jadi punya rekor buruk. Ten Hag menjadi pelatih Manchester United pertama sejak 100 tahun lebih yang kalah di dua laga awal Premier League.

Ten Hag Kritik Pemainnya Sendiri

Kekalahan sangat telak atas Brentford, tentu saja membuat Ten Hag tak kuasa menahan amarahnya. Beberapa laporan menyebut, Erik ten Hag tak segan-segan untuk mengkritik keras pemainnya sendiri, seperti yang dilaporkan Reuters.

Dalam laporan tersebut, manajer gundul itu meminta maaf kepada fans Manchester United terkait kekalahan atas Brentford. Tidak hanya itu, Ten Hag juga mengomentari performa anak asuhnya. Menurut Ten Hag, pemainnya itu sudah membuang rencana ke tempat sampah.

Siapa pun yang mempelajari Bahasa Indonesia, pasti paham kalimat Ten Hag itu sangat metaforis. Maknanya, para pemain bukan betul-betul membuang rencana permainan ke tempat sampah, melainkan mereka gagal mengaplikasikan taktik yang disusun Ten Hag.

“Kami kebobolan gol dari kesalahan individu. Anda tidak memiliki rencana taktis ketika membuangnya ke tempat sampah,” kata Ten Hag.

Menghukum Pemainnya

Kritik Ten Hag pada pemainnya tidak berhenti saat bertemu awak media saja. Rupa-rupanya, hal itu berlanjut di belakang layar. Manchester United yang baru akan menghadapi laga melawan Liverpool pada 22 Agustus 2022 mendatang, sejatinya mendapat jatah libur.

Namun, manajer yang lebih akrab dengan kompetisi Eredivisie itu membatalkan hari libur Manchester United. Kekalahan atas Brentford adalah penyebabnya. Setelah pertandingan, pada Hari Minggu yang semestinya libur, Ten Hag justru menyuruh pemainnya untuk ke Carrington, tempat latihan Manchester United.

Alih-alih beristirahat, Erik ten Hag justru memberikan porsi latihan ekstra untuk Manchester United. Seluruh pemain The Red Devil diminta Ten Hag berlari sejauh 13,8 kilometer. Ten Hag melakukan itu lantaran anak asuh Thomas Frank berlari 13,8 kilometer lebih banyak dari pemain Manchester United.

Dikutip Sportbible, pemain Brentford berlari total 109,4 kilometer saat pertandingan menghadapi Manchester United. Sementara itu, Fred dan kolega hanya menempuh 95,6 kilometer. Artinya, dalam pertandingan melawan Brentford, United kalah dalam urusan mengcover lapangan.

Kesalahan Taktikal Ten Hag

Kekalahan di dua laga awal, terutama ketika dipermak Brentford 4-0 di babak pertama, sebetulnya tidak hanya pemain yang disorot. Betul bahwa lebih banyak pemain MU tidak becus dalam mengaplikasikan taktik Ten Hag. Namun, ada kemungkinan lain bahwa taktik Ten Hag, meski baru dua laga, tidak tepat untuk Manchester United.

Dalam laporannya di Sport Illustrated, Jonathan Wilson sangat berani menyebut kekalahan MU atas Brentford memalukan, tapi tidak terlalu mengejutkan.

Selain itu, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kekalahan atas Brentford, memperlihatkan bahwa Setan Merah berjalan tanpa rencana. Klub dijalankan oleh sosok manajer dengan taktik yang salah tempat.

Pada pertandingan tersebut, Brentford sangat cakap menekan. Ten Hag juga sebetulnya ingin Manchester United ikut menekan. Tapi Ronaldo tidak bisa melakukan itu. Marcus Rashford juga tak kuasa melakukan tekanan. Hasilnya, Brentford lebih banyak melakukan tekanan di sepertiga lapangan United.

Ten Hag mengandalkan Lisandro Martinez. Tapi apa yang diharapkan pada dirinya yang sangat mudah dieksploitasi Ben Mee? Rekrutan baru lainnya, Christian Eriksen ditaruh Ten Hag sebagai false nine atau bergerak sebagai gelandang bertahan. Tapi hasilnya pun buruk.

Bukan Cuma Ketika Lawan Brentford

Sebelumnya, ketika menghadapi Brighton and Hove Albion, Ten Hag juga melakukan kesalahan taktikal. Laporan GQ Magazine, seorang spesialis taktis membeberkan temuannya. Bahwa upaya Ten Hag untuk membebani lini tengah Manchester United gagal total.

Betul bahwa taktik semacam itu berhasil di Eredivisie. Namun, untuk di Premier League, revolusi taktik mesti Ten Hag lakukan. Di Ajax, dulu Ten Hag punya Ryan Gravenberch. Tetapi di Manchester United, pilihannya cuma Fred dan Scott McTominay.

Scott McTominay tidak sama dengan Gravenberch yang cakap melakukan umpan-umpan progresif. Data Fbref menunjukkan, McTominay hanya melakukan 3,62 umpan progresif per 90 menit. Tingkat keberhasilannya pun hanya 42 persen.

Sementara, Gravenberch melakukan 4,23 umpan progresif per 90 menit. Akurasi keberhasilan umpan progresifnya pun mencapai 61 persen. Alih-alih melakukan progresi bola yang cair, lini tengah United justru semrawut.

Di satu sisi, pemain lainnya seperti Fred juga tidak bisa menutupi kelemahan lini tengah MU. Fred tidak bisa melakukan progresi serangan. Data FBref menunjukkan, keberhasilan melakukan progresi serangan Fred hanya 30 persen dalam 90 menit.

Full Back yang Naik Menguntungkan Lawan

Fakta lainnya, Ten Hag sering mengandalkan sisi full back untuk melakukan progresi serangan. Diogo Dalot sering melakukan peran itu, misalnya ketika United kalah dari Brighton. Naiknya Dalot membuat Graham Potter, pelatih The Seagulls bahagia.

Karena, itu berarti United meninggalkan lubang di sisi sayap. Hal itulah yang akhirnya dieksploitasi oleh pemain sayap Brighton. Hal itu bertambah parah karena bek-bek MU lainnya juga sering tidak tahu diri, terutama Harry Maguire.

Saat menghadapi Brighton, ia sering naik membantu menekan lawan untuk menciptakan man to man marking. Tetapi ketika Maguire melakukan itu, sisi full back naik, Luke Shaw terlambat menempel pemain lawan, dan bikin pertahanan MU jadi longgar. Inilah yang dimanfaatkan Brighton melalui kecepatan para pemainnya.

Permainan Ten Hag Terlalu Proaktif

Dalam dua pertandingan awal, pola permainan Ten Hag terlalu proaktif. Ia sepertinya ingin menerapkan taktik Ajax ke Manchester United, yaitu sepakbola yang proaktif. Maka, tak jarang United juga membangun serangan dari bawah.

De Gea, sang kiper menjadi pijakan pertama serangan United. Namun, di laga lawan Brentford, taktik semacam itu sangat buruk. Apalagi Thomas Frank menerapkan taktik sepakbola reaktif. Mereka melakukan tekanan persis ketika MU baru mau melakukan progresi serangan.

Sementara, David De Gea tidak nyaman dengan bola di kakinya. MU tidak bisa keluar dari tekanan. Mereka tidak sanggup mematahkan tekanan itu dengan umpan lambung dari kiper, sebagaimana yang dilakukan Manchester City maupun Liverpool. Dan boom! Blunder jadi jawaban dari pemain MU yang belum siap dengan sepakbola proaktif.

Ten Hag Lambat Merespons Kebuntuan

Berkaca pada dua laga awal, Ten Hag sepertinya belum khatam menyadari bahwa skuad Manchester United berbeda dengan Ajax. Ia juga belum cukup tangguh untuk beradaptasi di ketatnya kompetisi Premier League.

Di Liga Primer Inggris, revolusi taktik tidak hanya dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Namun, dalam satu pertandingan, jika terjadi kebuntuan, manajer harus bisa merespons agar timnya bangkit. Dan itulah yang belum dimiliki Erik ten Hag.

Katakanlah ketika menghadapi Brighton. Ten Hag lamban merespons perubahan taktik yang dilakukan Graham Potter. Hal itu membuat Iblis Merah makin mudah untuk dipermalukan. Dan MU bisa jadi kalah telak di kandang, tapi untungnya Brighton masih berbelas kasihan.

Sebagai pelatih, tidak masalah bagi Ten Hag jika ingin menyalahkan pemainnya. Tapi mbok ya, berkaca dulu pada diri sendiri. Apakah taktik yang ia terapkan itu, nyetel dan bisa dipahami oleh pemain Manchester United?

https://youtu.be/Kw7E1zPlk-8

Sumber: TheGuardian, ChannelNewAsia, Mirror, Stadiomastro, TheAthletic, BBC, Detik

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru