Boros di Bursa Transfer 2022, Apa Tujuan Leeds United?

spot_img

Ada sebuah stigma negatif yang berkembang di sepak bola Inggris tentang seorang pelatih berkebangsaan Amerika Serikat. Itulah mengapa banyak yang meragukan bahkan menganggap lelucon ketika Leeds United menunjuk Jesse Marsch untuk menggantikan posisi Marcelo Bielsa.

Posisi Marsch saat itu juga sulit. Ia jadi suksesor Bielsa saat The Whites terjerembab di posisi ke-16 klasemen dan sangat rawan terdegradasi. Alhasil, mantan pelatih RB Leipzig cuma punya waktu 12 pertandingan untuk menyelamatkan muruah Leeds United di kompetisi Premier League.

Singkat cerita, Jesse Marsch berhasil mencegah Leeds turun lagi ke Champhionship. Jika dilihat berdasarkan posisi finish-nya, pekerjaan Marsch sebenarnya terbilang tidak spesial. Ia hanya mampu membawa Leeds United finish di posisi ke-17, satu tingkat di atas zona degradasi.

Namun, jika dilihat dari performanya, Jesse Marsch tak hanya sekadar mempertahankan The Whites di Premier League. Ia juga berhasil memperbaiki performa Leeds United. Dari 36 poin yang tersedia, Luke Ayling dan kolega berhasil mengumpulkan 15 poin.

Selain itu, performa lini belakang Leeds yang sebelumnya sangat rapuh berhasil diperbaiki. Dalam 12 pertandingan, gawang Illan Meslier hanya kebobolan 19 gol. Sebelumnya, saat dilatih Bielsa, gawang Leeds United kebobolan 20 gol hanya dalam 5 pertandingan terakhir.

Perbaikan performa itulah yang kemudian membuat Jesse Marsch berhasil memenangkan dukungan para penggemar Leeds United yang sebelumnya begitu cinta dengan Marcelo Bielsa. Menurut “The Sky Bet Fan Hope Survey”, 80 persen penggemar Leeds mengatakan bahwa mereka merasa Marsch adalah orang yang tepat untuk membawa Leeds United maju.

Selain itu, kepada The Athelic, ketua Leeds United, Andrea Radrizzani mengaku kalau Jesse Marsch memang sudah diincar lama sebagai suksesor Marcelo Bielsa. Meski datang disaat sulit, tetapi Marsch mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok pelatih hebat untuk Leeds United.

Lalu, apa yang sudah dilakukan Jesse Marsch dan Leeds United untuk menyambut musim baru 2022/2023?

Leeds United Boros di Bursa Transfer Musim Panas 2022

Yang dilakukan Leeds United di musim panas ini bisa dibilang sebagai sebuah pemborosan. Bagaimana tidak, hingga pertengahan bulan Agustus ini saja, Leeds tercatat sudah menggelontorkan dana hingga 105,64 juta euro untuk belanja pemain baru.

Bagi klub-klub besar Eropa, belanja pemain baru hingga lebih dari 100 juta euro mungkin adalah sebuah hal yang biasa. Namun, lain ceritanya bagi tim sekelas Leeds United yang baru promosi kembali ke Premier League 3 tahun silam.

Pengeluaran sebesar 105,64 juta euro jadi pengeluaran terbesar Leeds United di lantai bursa pemain setelah musim 2020/2021 yang jadi musim pertama mereka pasca promosi kembali ke Premier League. Masalahnya, jumlah tersebut kini jadi salah satu yang terbesar di Eropa.

Berdasarkan catatan Transfermarkt, Leeds United berada di urutan kedelapan sebagai kesebelesan dengan pengeluaran terbesar di bursa transfer musim panas 2022. Khusus di Premier League saja, The Whites hanya kalah dari Chelsea, Arsenal, West Ham United, dan Manchester City.

Pengeluaran sebesar 105,64 juta euro digunakan Leeds United untuk membeli 6 pemain baru. Mereka adalah Darko Gyabi, Marc Roca, Rasmus Kristensen, Tyler Adams, dan Brenden Aaronson. Selain keenam pemain tersebut, Leeds juga mendatangkan Joel Robles secara gratis.

Namun, ada hal yang menarik untuk dibahas dari para pemain anyar The Whites. Tiga dari empat pemain termahal mereka musim panas ini, yakni Brenden Aaronson, Tyler Adams, dan Rasmus Kristensen punya hubungan spesial dengan pelatih kepala Jesse Marsch.

Brenden Aaronson yang dibeli Leeds United seharga 28 juta pounds adalah seorang gelandang serang berkebangsaan Amerika, sama seperti Jesse Marsch. Gelandang serang berusia 21 tahun itu dibeli dari Red Bull Salzburg, mantan klub yang dilatih Jesse Marsch. Marsch pula yang dulu mengangkut Aaronson dari Philadelpia Union di musim 2020/2021.

Sama seperti Brenden Aaronson dan Jesse Marsch, Tyler Adams juga berasal dari Amerika Serikat. Gelandang bertahan berusia 23 tahun itu dibeli Leeds United seharga 20 juta pounds dari mantan klub Jesse Marsch, RB Leipzig. Adams adalah mantan anak asuh Jesse Marsch ketika menangani New York Red Bulls dan RB Leipzig.

Sementara itu, Rasmus Kristensen yang dibeli seharga 10 juta pounds lagi-lagi didatangkan Leeds United dari mantan klub Jesse Marsch, Red Bull Salzburg. Marsch pula yang dulu mendatangkan bek kanan berkebangsaan Denmark itu ke Red Bull Salzburg di musim 2019/2020.

Tiga transfer tersebut tentu jauh dari kata “kebetulan” belaka. Pengaruh Jesse Marsch terlihat jelas di sana. Sepertinya, Leeds berusaha keras untuk memenuhi tuntutan transfer dari sang pelatih kepala. Marsch terlihat tengah membangun dinastinya sendiri di Elland Road. Maklum, saat pertama kali datang ke Inggris, ia tak punya kesempatan untuk belanja pemain sesuai dengan keinginannya.

Skema Perekrutan Leeds United Menyisakan Kekhawatiran

Namun, belanja besar yang dilakukan Jesse Marsch menyisakan sebuah kekhawatiran. Pasalnya, Leeds United baru mampu merogoh koceknya hingga lebih dari 100 juta euro setelah mereka menjual 2 pemain terbaik mereka, yakni Raphinha dan Kalvin Phillips.

Raphinha yang musim lalu jadi top skor tim dengan torehan 11 gol dilepas ke Barcelona dengan banderol 58 juta euro. Sementara itu, Kalvin Phillips, penggawa timnas Inggris di Euro 2020 dijual ke Manchester City dengan banderol 48,75 juta euro.

Meski penjualan keduanya menghasilkan pemasukan nyaris senilai 107 juta euro, tetapi kehilangan dua pemain terbaik di dua posisi vital akan sangat riskan bagi Leeds United. Bisa dibilang kalau keputusan Leeds United dan Jesse Marsch di musim panas ini adalah sebuah perjudian besar.

Selain itu, ternyata model perekrutan dan penjualan semacam itu memang jadi tujuan Leeds United bersama sang ketua Andrea Radrizzani yang mengakuisisi saham mayoritas Leeds pada 2017 silam. Apa yang dilakukan Leeds itu mirip dengan Leicester City, yakni menjual pemain terbaik mereka dengan nilai tertinggi untuk meningkatkan skuad secara keseluruhan.

“Itu lebih merupakan pengorbanan untuk membeli pemain yang kami butuhkan untuk memperkuat skuad. Kami tidak dapat melakukan tiga tahun lagi menghabiskan 100 juta pounds tanpa pendapatan dari transfer. Klub akan runtuh. Ini adalah tahun pertama di Liga Premier kami menjual pemain,” kata Andrea Radrizzani kepada The Athletic.

Melalui penjualan Raphinha, Radrizzani juga ingin memperlihatkan kepada para pemain berbakat yang datang bahwa Leeds United bisa menjadi batu loncatan menuju klub besar Eropa. Ini bisa jadi daya tarik mereka di pasar transfer.

“Fakta bahwa Anda bisa datang ke sini, bermain selama dua atau tiga tahun dan pergi ke Madrid atau Barcelona atau Manchester City, itu adalah sesuatu yang bisa dibanggakan. Kita harus realistis. Kami tidak bisa berada di level itu,” kata Andrea Radrizzani kepada The Athletic.

Namun, sang ketua juga menjelaskan kalau strategi tersebut tidak akan selamanya dipertahankan. Dalam jangka menengah hingga panjang, Leeds mengaku tak akan mau menjual bakat terbaik mereka setiap saat dan akan mempertahankannya demi tujuan yang lebih tinggi.

Lalu, apa yang sebetulnya jadi tujuan jangka pendek Leeds United?

Prediksi Leeds United di Premier League Musim 2022/2023

Usut punya usut, target yang kini tengah dikejar Leeds United ternyata tidaklah muluk-muluk. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Andrea Radrizzani kepada The Athletic.

“Target yang saya tetapkan antara posisi 10 hingga 14. Jika kita beruntung, kita mendekati 10 atau lebih. Jika kami tidak beruntung, kami berada di urutan ke-15. Tapi saya pikir kita berada dalam kisaran itu. Saya tidak ingin memiliki risiko serangan jantung lagi,” kata Radrizzani kepada The Athletic.

Target tersebut terbilang realistis. Apalagi, mereka sudah berupaya keras untuk memenuhi beberapa permintaan transfer dari Jesse Marsch. Marsch sepertinya juga bisa mewujudkan target tersebut.

Dua pertandingan pembuka Premier League musim 2022/2023 jadi buktinya. Di dua pertandingan awal tersebut, Marsch sukses mengantar Leeds United memetik 4 angka.

Di pekan pertama, Luke Ayling dan kolega berhasil mengalahkan Wolverhampton Wanderers dengan skor 2-1. Sementara di pekan kedua, Leeds ditahan imbang 2-2 saat bertandang di markas Southampton.

Hasil tersebut untuk sementara menempatkan Leeds United di peringkat keenam. Tentu masih terlalu dini untuk memulai. Namun, saat ini, Leeds rasanya berada di jalur yang tepat bersama Jesse Marsch.
***
Referensi: Leeds-live, Transfermarkt, The Athletic, Transfermarkt, FotMob.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru