Dua pelatih legendaris dunia sepak bola di Premier League. Senasib seperjuangan melanjutkan perjalanan mereka di lingkup manajerial guna memperbaiki CV setelah dihancurkan Setan Merah.
Jose Mourinho datang ke Old Trafford di musim panas 2016, setelah sebelumnya beredar rumor bahwa antara petinggi United dan Mourinho sudah menjalin kontak dibelakang Louis Van Gaal sejak musim dingin. Mourinho datang ke Manchester usai dirinya dipecat dari kursi kepelatihan di Chelsea.
Harapan besar saat itu menyelimuti publik Old Trafford, berharap jika nama besar seorang Jose Mourinho mampu mengembalikan mental juara tim yang telah lama lenyap, meskipun sebenarnya mereka baru saja juara FA Cup bersama Van Gaal. Tapi progres LVG yang jalan ditempat tangan di pinggang tanpa ada kemajuan signifikan membuat kesabaran manajemen habis, hingga mereka mengambil langkah penuh resiko dengan merekrut Mourinho.
Bukan hal asing lagi bagi penikmat sepak bola, mereka sudah amat paham bagaimana track record The Special One. Seorang Mourinho nyaris mustahil mau memanfaatkan pemain jebolan akademi yang masih mentah dan baru merintis, sementara background MU sendiri adalah sebuah klub yang selalu mempertahankan tradisi lama sejak berpuluh-puluh tahun silam untuk selalu menyertakan pemain akademi dalam skuad utama. Ini pula yang menjadi spekulasi dan tanda tanya banyak pihak, akankah Mourinho sukses bersama Manchester United?
Musim pertama menukangi Setan Merah, perjalanan Mourinho tak begitu mulus. Didera badai cedera saat kompetisi sedang padat-padatnya, Mou harus memutar otak untuk bisa memenangkan trofi dengan segelintir pemain yang tersisa dan masih sehat wal afiat. Trofi pertama hadir setelah mengandaskan perlawanan Leicester City di Community Shield. Jatuh bangun dengan inkonsistensi skuadnya yang masih perlu adaptasi, dan tekanan media dari berbagai sudut nyatanya tidak menyurutkan perjuangan Mourinho.
Sempat mengampaskan diri di paruh musim pertama, pertengahan bulan Februari 2017 Mourinho berhasil membawa trofi kedua ke museum Old Trafford. Carabao Cup atau saat itu bernama EFL Cup menjadi gelar ganda yang dicapai Mourinho pada musim pertamanya melatih MU. Siapa yang turut serta menyumbang gol kemenangan laga itu? Jelas, Jesse Lingard.
Meski sudah membawa MU meraih dua trofi bahkan sebelum musim berakhir, tekanan masih banyak dilontarkan media pada kubu United dan Mourinho. Sadar sudah terlalu mustahil untuk mengejar zona Liga Champions di papan klasemen, Mourinho merelakan perburuan tiket UCL jalur liga domestik. Dirinya membawa pasukan untuk berjuang habis-habisan di Europa League guna mendapatkan tiket UCL tanpa play off (waktu itu masih berlaku play off sebelum resmi bermain di UCL, dimana itu hal wajib bagi penghuni klasemen 4).
Belum sempat mencapai final, lagi-lagi Mourinho harus kalang kabut karena banyak pemain intinya yang harus rehat karena cedera. Namun ending manis masih menjadi pemilik pria berkebangsaan Portugal tersebut, kombinasi antara pemain akademi yang dipaksa masuk skuad inti, entah karena keinginan tulus dari hati terdalam Mourinho atau terpaksa karena tuntutan aturan klub dan keadaan, yang pasti keputusan Jose Mourinho dengan memanfaatkan pemain akademi cukup berguna bagi dia saat itu dan bagi United saat ini. Gelar Europa sekaligus menjadi triple trofi bagi MU berhasil Mourinho dapatkan setelah mengalahkan Ajax Amsterdam dengan pemain baru rekrutannya, yaitu Mkhitaryan dan Paul Pogba. Trofi terakhir yang diraih United sampai tulisan picisan ini diterbitkan.
🔴 Jose Mourinho at Manchester United
🏟 144 Games
✅ 84 Wins
🤝 32 Draws
❌ 28 Defeats
📈 58.3 Win %🏆 2017 Europa League
🏆 2017 Carabao Cup
🏆 2016 Community Shield👋 End of an era. pic.twitter.com/T62ds6e0tt
— SirAlexWay (@SirAlexWay) December 18, 2018
Musim perdana yang indah bagi Mourinho, seharusnya itu cukup untuk memperbaiki track record dan CV dia yang sempat tercoreng akibat didepak dari Stamford Bridge. Begitupun di musim kedua, berkat hadirnya beberapa pemain yang menutup lubang kekurangan di dalam tim, United berhasil menjadi pesaing juara dengan finish di klasemen kedua dan melaju sampai final FA Cup. Meskipun puasa gelar pada musim tersebut, namun itu adalah suatu prestasi yang kata Mourinho adalah pencapaian tertinggi dirinya semenjak terjun di dunia kepelatihan.
Musim ketiga mulai terpercik api konflik. Awalnya masih bisa menerima dengan pendekatan dan cara main Mourinho yang lebih sering parkir bus, berkebalikan dengan filosofi United yang menyerang sampai habis. Lama kelamaan pendukung mulai jenuh dengan gaya main yang tidak cantik itu, ditambah hasil yang angin-anginan.
First year: Buy £400m bus
Second year: Park the bus
Third year: Crash the busJose Mourinho’s time at Manchester United. pic.twitter.com/WGoG7vAn09
— Not Match of the Day (@NOT_MOTD) October 1, 2018
Bukan salah Mourinho sepenuhnya memang, saat ingin merekrut seorang Mourinho, manajemen United seharusnya sadar sesadar-sadarnya jika mereka harus rela menggelontorkan banyak uang untuk memenuhi pemain yang dia butuhkan, tapi United tidak melakukan itu di musim ketiga mereka bersama Mourinho, padahal sebelumnya sudah saling sepakat memperpanjang kontrak. Hasilnya? Belum ada semusim penuh berjalan, Mourinho harus rela menjadi korban pecatan dari kejamnya dunia kepelatihan. Dirinya menjalankan laga terakhir sebagai manager United usai dikalahkan Liverpool dengan skor 3-1.
Makin tercoreng sudah perjalanan Mourinho, niat awal datang ke United dengan harapan bisa memperbaiki CV, malah sebaliknya, memperpanjang daftar konflik dan kutukan tahun ketiganya. Meskipun begitu tak dipungkiri jika United dibawah asuhan Mourinho cukup bisa dikatakan lumayan berhasil, mereka meraih tiga trofi dalam kurun waktu semusim, hal yang sampai saat ini belum bisa dilakukan Ole, Louis Van Gaal, dan David Moyes.
Setelah cukup lama rehat dari dunia sepak bola, Mourinho kembali ke Premier League, menandatangani kontrak bersama klub London tetangga mantannya, Tottenham Hotspur.
Sejauh ini belum ada trofi satupun yang dia persembahkan kepada The Lilywhite. Kegagalan Mourinho yang terbaru adalah saat dirinya bersama anak asuh di Tottenham gagal melaju ke perempat final Europa League. Padahal kompetisi kasta kedua tersebut bisa menjadi jalan pintas bagi Tottenham untuk kembali berlaga di Liga Champions musim depan. Mengingat jika dirinya bisa membawa Tottenham juara UEL, bukan hanya sekedar bermain di UCL, tapi juga raihan trofi perdana bagi The Lilywhite sejak lebih dari sedekade silam.
Namun seperti biasa, Mourinho adalah tipikal orang yang tidak mau terlalu lama larut dalam kesedihan macam tokoh protagonis di sinetron TV Indonesia. Dirinya membuktikan bisa bangkit dengan mengandaskan perlawanan Aston Villa di Premier League. Skor akhir yang menunjukkan angka 2-0 untuk kemenangan Tottenham, berhasil membawa mereka ke dalam pertarungan tiket UCL jalur klasemen. Saat ini mereka terlihat masih memiliki peluang untuk finish di posisi empat besar pada akhir musim nanti.
Senasib dan seperjuangan dengan Mourinho, David Moyes juga sedang kembali memperbaiki karirnya di dunia manajerial bersama klub London, West Ham United. Sudah begitu banyak jalan terjal yang dilalui The Choosen One sebelum bisa diperhitungkan kembali seperti sekarang ini.
Rekam jejak karir Moyes sebagai manager sepak bola memang tidaklah semengkilat Mourinho yang bergelimang trofi. Pusat perhatian yang dia terima pun tidak seaktif Mourinho, tapi ada alasan tersendiri mengapa karir Moyes ini menarik untuk saya bahas disini. Tidak ada asap tanpa ada api kan? Moyes diminta untuk menjadi suksesor seorang Sir Alex Ferguson tentu ada alasan kongkretnya. Betul sekali teman-teman, berkat keberhasilannya bersama Everton, SAF langsung meminta dirinya untuk menggantikan posisi dia sebagai manager MU setelah memutuskan pensiun.
Tapi disini Moyes melakukan blunder dengan mendepak staff kepelatihan SAF di Old Trafford dan menggantinya dengan staff dia sendiri kala di Everton. Tujuannya memang baik, mungkin dia ingin membangun fondasi secara mandiri di MU tanpa ada bayang-bayang kesusksesan SAF. Tapi perlu diketahui lagi, United bukanlah Everton dan terlalu riskan untuk coba-coba hal beresiko seperti itu. Terbukti, belum ada satu musim menukangi MU, Moyes akhirnya dipecat, menyisakan durasi kontrak yang cukup panjang. Padahal dia cukup jeli dalam memantau pemain incarannya saat itu.
Mulai tercoreng sudah perjalanan karirnya karena dipecat dan gagal membawa MU bersaing kembali menjuarai liga. Langkah baru akhirnya dia tempuh dengan hijrah ke Spanyol melatih Real Sociedad. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak, Moyes kembali dipecat menjadi pelatih Sociedad enam bulan sebelum kontraknya habis, dari durasi awal kontrak yang sepakat mengabdi selama 18 bulan.
Kegagalannya di Spanyol membawa dirinya pulang ke Inggris dan bergabung bersama Sunderland. Lagi-lagi keberuntungan belum bisa berpihak pada pria berkebangsaan Skotlandia itu. Sunderland dibawah asuhannya mengalami degradasi pada akhir musim. Dengan sadar diri yang penuh akhirnya Moyes memilih mundur dari jabatannya sebagai manager.
Dari situlah kisah cintanya bersama West Ham dimulai. Setelah enam bulan menganggur, Moyes direkrut West Ham untuk menandatangani kontrak jangka pendek selama enam bulan atau setengah musim. Dari periode pertama bersama West Ham pula yang menjadi titik awal bangkitnya karir Moyes. The Hammers yang saat itu terancam degradasi bersama Slaven Bilic, perlahan bangkit kembali saat Moyes yang bertugas melatih klub asal London tersebut. Moyes berjasa membawa West Ham tetap bermain di Premier League sampai sekarang.
📝 David Moyes 6-year contract at Man Utd:
🔴 Appointed Man Utd manager
❌ Sacked🔵 Appointed Real Sociedad manager
❌ Sacked🔴 Appointed Sunderland manager
❌ Sacked⚒ Appointed West Ham manager
❌ Sacked😂….and still has a year left. pic.twitter.com/TdoQlcTILW
— SPORF (@Sporf) May 16, 2018
Pertolongan Moyes tak kunjung mendapatkan timbal balik berupa perpanjangan kontrak, hingga akhirnya dia kembali berstatus tanpa klub setelah West Ham resmi mendapatkan tanda tangan Manuel Pellegrini yang lebih mempunyai nama dan rekor yang cukup baik. Nama besar Pallegrini nyatanya tak berdampak baik juga bagi West Ham, The Hammers kembali mengalami penurunan dan harus bertarung di zona degradasi.
Keputusan yang tepat bagi pemilik West Ham untuk memulangkan kembali David Moyes ke London Stadium. Disana Moyes lagi-lagi menjadi pahlawan bagi West Ham dengan mengeluarkan mereka dari zona degradasi untuk kedua kalinya. Puncak karir Moyes setelah kesuksesan dia bersama Everton ya bisa dibilang seperti sekarang ini, membawa West Ham bersaing bukan lagi di zona degradasi, melainkan zona Liga Champions.
Paruh kedua musim ini semakin paten bagi Moyes karena bisa memanfaatkan potensi Jesse Lingard yang dipinjam West Ham dari MU. Bersama Moyes, Lingard menjelma menjadi pemain andalan bagi tim. Bersama Lingard di West Ham pula dirinya berhasil mengalahkan Mourinho untuk pertamakalinya dalam sejarah. Sebelumnya dari 15 kali pertemuan antara dirinya dengan Mourinho, Moyes samasekali belum merasakan kemenangan.
Bukan tidak mungkin pada gelaran Liga Champions musim depan akan ada kejutan baru, yaitu seorang David Moyes yang berhasil mengantarkan West Ham bermain di kompetisi tertinggi di Eropa. Mengingat kemungkinan dirinya bersaing memperebutkan tiket empat besar masih terbuka lebar. Dan jika pencapaian itu benar terjadi, bukan hanya West Ham yang diuntungkan, tapi juga bisa memperbaiki CV dari Moyes sendiri. Good luck Moyes dan Mourinho.


