Mengenakan zirah perang berlogo tim nasional negeri tercinta tentu akan menyisakan ruang yang cukup emosional bagi siapa saja yang berkesempatan merasakannya, tak terkecuali bagi pemain profesional berlabel bintang di kompetisi liga benua biru, kiblatnya dari dunia sepak bola di dunia. Saat staff kepelatihan timnas menunjuk daftar siapa saja yang nantinya akan dipanggil memperkuat nama negara, tentu si pemain sendiri akan harap-harap cemas, berdo’a dengan serius berharap namanya masuk daftar panggilan menjalankan kewajiban untuk negeri.
Jeda internasional memiliki nama resmi berupa FIFA International MatchDay. Suatu agenda tahunan yang wajib diikuti oleh tim nasional di pertengahan jalannya musim, entah itu hanya untuk laga persahabatan atau bisa juga diadakan untuk mendapatkan peserta resmi yang berhak mengikuti event event seperti Piala Dunia dan UEFA Euro. Kompetisi jeda internasional ini dilaksanakan sesuai wilayah masing-masing, dimana terbagi menjadi beberapa bagian seperti UEFA di Eropa, Conmebol di Amerika Latin, Concacaf di Amerika Utara dan Tengah, CAF di Afrika, dan AFC di Asia.
Jadwal pertandingan jeda internasional sudah ditetapkan oleh FIFA dan harus dijalankan secara teratur di bulan-bulan tertentu sesuai agenda, durasi pelaksanaannya biasanya antara satu pekan sampai sepuluh hari. Dan saat jeda internasional tiba, liga-liga di federasi sepak bola yang bersangkutan akan diliburkan sementara.
Yang namanya ‘jeda’ atau ‘break’ kan harusnya merujuk pada kata istirahat, rehat sejenak dari segala aktivitas dan kesibukan di lingkup liga. Tapi itu hanyalah formalitas belaka, jeda internasional justru menjadi event yang kerap memakan korban. Jika di liga mereka hanya akan bertanding selama satu kali per pekan (dalam konteks waktu normal sebelum Corona), di jeda internasional ini pemain akan berlaga dua sampai tiga kali per pekan. Jauh lebih sibuk. Jeda internasional akan benar-benar menjadi waktu istirahat hanya untuk mereka para pemain yang tidak dipanggil timnasnya.
Di mata penggemar sepak bola sendiri, utamanya bagi penggemar jauh seperti kita-kita ini, yang notabene mendukung timnas Eropa hanya untuk senang-senang saja, jeda internasional menjadi hal mengganggu jalannya keseruan di liga, kecuali event seperti Wolrd Cup dan Euro, atau dalam laga titik penghabisan untuk lolos di kompetisi bergengsi, barulah jeda internasional terlihat lebih seru.
Karena padatnya jadwal di jeda internasional itu pula, tidak sedikit para pemain yang baru pulang dari kewajiban negaranya, malah mendapat masalah cedera. Nah saat itu pemain udah cedera, tentu akan membuat jengkel barisan suporter klubnya. Karena kasarannya gini loh, ‘ini pemain gue udah lu ambil dalam keadaan sehat, kenapa pas dipulangin malah jadi pengkor begini?’
Bukannya tidak nasionalis atau bagaimana nih, tapi coba lihat dari sudut pandang klub pemilik pemain itu juga. Mereka mendatangkan si pemain dengan harga kontrak yang terkadang tidak murah, membayar gaji si pemain tiap pekannya, merawat mereka seperti anak sendiri kala cedera. Saat mereka dipulangkan dari jeda internasional dalam keadaan tidak baik-baik saja, yang jelas rugi ya pihak klub. Mereka harus menanggung perawatan si pemain tersebut, dan kehilangan pilar mereka. Bisa jadi kan itu pemain adalah tumpuan utama di tim, dimana ketidakhadirannya akan sangat berpengaruh dalam jalannya strategi.
Contoh yang paling baru deh, Chelsea asuhan Thomas Tuchel baru saja mendapatkan kabar buruk di jeda internasional. Pasalnya pemain andalan mereka, yaitu N’Golo Kante dinyatakan cedera usai memperkuat timnasnya, Perancis. Dalam laga bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Eropa Grup D, Kante bermain penuh saat Perancis imbang melawan Ukraina. Setelah laga selesai, barulah pemeriksaan medis mendapatkan hasil jika Kante mengalami cedera hamstring di kaki kirinya. Akibat cedera itulah pelatih Les Bleus, yaitu Didier Deschamps memulangkan Kante ke Chelsea lebih dulu daripada pemain lainnya.
Dilansir dari Metro, pihak Timnas Perancis menerbitkan pernyataan resminya terkait cederanya pemain jawara Piala Dunia 2018 tersebut. Mereka bilang begini.
“N’Golo Kante nggak ikut main cuy di Kazakhstan dan Bosnia-Herzegovina. Itu karena Kante lagi cedera di paha kirinya pas kemaren main lawan Ukraina di Stade de France. Kita udah konsultasi kok sama Dokter Franck Le Gall, dan pelatih kita juga udah balikin Kante ke klubnya.”
Nahkan, kalo udah begini yang repot siapa? Ya jelas Chelsea lah. The Blues baru saja melewati trek positifnya bersama Thomas Tuchel, dimana mereka saat ini sedang mati-matian untuk aman di zona UCL dan akan kembali bertarung di babak perempat final UCL. Cederanya Kante tentu akan menghilangkan satu pilar Chelsea di lini tengah, karena seperti yang sudah kita ketahui, Kante bersama Mateo Kovacic atau terkadang duet bareng Jorginho juga, menjadi kunci konsistennya Chelsea di paruh musim kedua ini.
Tenang Hyung, santuy dulu. Karena nggak cuma saya disini yang misuh-misuh terkait adanya jeda internasional. Pep Guardiola juga ikutan menyoroti kompetisi tersebut musim ini. Dia juga lagi khawatir sama kondisi anak asuhnya, tapi dia lebih khawatir itu kalo semisal pemainnya pada kena Covid-19. Karena City kan lagi ada di trek yang mulus nih di liga, kan takut lah bro ketularan virus gara-gara itu pemainnya pada traveling ke mancanegara meskipun karena kewajiban membela timnasnya. Dilansir dari ESPN, Guardiola bilang begini sama media.
“Sekarang kan lagi jamannya jalan-jalan kemana-mana Hyung, dan para pemain juga harus main di jeda internasional. Gue sih khawatir aja angka penularan itu virus bakal naik lagi. Ya pasti lah gue sih pengennya nggak ada kejadian sampe ketularan, tapi kan kita harus tau kalo udah ada gelombang kedua sama ketiga naiknya penularan ini virus, jadi ya kalo traveling tetep beresiko kena sih menurut gue. Keknya PL sama liga lain harus mikir kesitu deh.”
Lain Chelsea, lain City, lain pula dengan Liverpool. Si Merah sedang menuai berkah dengan adanya jeda internasional ini, karena pemain bek sayap andalan mereka, yaitu Trent Alexander-Arnold tidak dipanggil oleh timnas Inggris untuk ikut serta di jeda internasional. Liverpool ini bareng Juergen Klopp emang vokal banget setuju kalo mereka nggak suka adanya jeda internasional, karena emang suka nyusahin mereka sendiri, ditambah posisi mereka yang sedang badai cedera. Makanya saat tau jika Arnold tidak dipanggil timnas, itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka karena sang pemain bisa memiliki waktu istirahat lebih. Nggak kebayang kan bro kalo semisal si Arnold main buat timnas, abis itu pulang malah cedera, apa nggak makin ambyar itu posisi klasemen Liverpool.
Pelatih timnas Inggris, yaitu Gary Southgate, mengaku jika dirinya tidak mencatat nama Arnold karena performa si pemain yang musim ini berjalan kurang baik. Ditambah The Three Lions sudah memiliki stok yang sama dengan posisi Arnold, ada Kierran Trippier dan Kyle Walker. Tentu absennya Arnold yang sedang underperform tidak berpengaruh bagi Inggris.
Keknya udah puas banget ya bahas kekampretan jeda internasional ini, tapi nggak adil ah kalo kita cuma ngomongin yang jeleknya aja. Kan di setiap keburukan biasanya tetap ada kebaikan, walaupun sedikit. Begitu pula dengan jeda internasional, meskipun kehadirannya sungguh ngeselin bukan main, tapi jeda internasional juga memberikan dampak positif.
Seperti yang sebelumnya dibahas, adanya jeda internasional sangat menguntungkan bagi para pemain yang tidak mendapatkan panggilan dari timnasnya, setidaknya mereka memiliki waktu lebih untuk memulihkan kebugaran dan jiwa mereka yang sebelumnya harus kerja lembur bagai kuda. Adanya jeda internasional juga bisa memberikan waktu jeda bagi klub yang sedang dalam performa kurang baik untuk bisa mengevaluasi permainan mereka, mengembalikan kepercayaan diri, dan menyusun ulang strategi supaya bisa bangkit saat kompetisi kembali bergulir.
Bagi timnas sendiri, adanya jeda internasional juga bisa dimanfaatkan mereka untuk mematenkan skuad dan membangun kemistri antar pemain sebelum mengikuti gelaran akbar seperti Piala Dunia, Euro, Copa America bahkan Piala AFF. Karena pemain yang membela timnas kan pasti datang dari klub yang berbeda-beda, bahkan tak jarang dari klub yang bermusuhan, jadi penting bagi pelatih timnas untuk menyatukan mereka saat berseragam timnas yang sama.
Bagi penggemar juga tak kalah menyenangkan kalau kita bisa melihat dari sisi positifnya. Adanya jeda internasional memungkinkan bagi tim besar untuk berlaga menghadapi timnas dari suatu negara yang tidak diunggulkan kultur sepakbolanya. Ya realistis aja sih slur, siapa coba yang nggak seneng kalo timnas kita berhadapan dengan Ronaldo atau Messi. Meskipun kebantai juga nggak masalah asal bisa berkesempatan nonton pemain bintang, bukan begitu kawan-kawan?


