Copa America dan Timnas Uruguay Sebagai Raja Sesungguhnya

  • Whatsapp
Copa America dan Timnas Uruguay Sebagai Raja Sesungguhnya
Copa America dan Timnas Uruguay Sebagai Raja Sesungguhnya

Copa America masih terus mencoba untuk tunjukkan sinarnya, ketika mata dunia tertuju kepada turnamen Piala Eropa. Ya, gelaran Copa America memang dianggap tidak sepopuler turnamen Piala Eropa. Apalagi bila dua turnamen tersebut memiliki jadwal yang sama seperti sekarang ini. Perhatian lebih mengarah kepada negara-negara benua biru, ketimbang kumpulan tim hebat yang berada di wilayah selatan Amerika.

Namun meski kalah pamor dari Piala Eropa, gelaran Copa America tetap pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Bacaan Lainnya

Sejarah Copa America

Copa America, seperti diketahui, merupakan turnamen yang mempertemukan antar negara-negara di Amerika Selatan. Turnamen ini berada dibawah naungan Conmebol, atau konfederasi sepakbola Amerika Selatan. Copa America merupakan turnamen yang lebih tua dari Piala Dunia, dimana itu terbentuk pada tahun 1916.

Sampai tahun 1975, turnamen ini memiliki nama Kejuaraan Sepak Bola Amerika Selatan atau Campeonato Sudamericano de Fútbol.

Edisi pertama yang digelar pada tahun 1916 memunculkan Argentina sebagai tuan rumah. Ditunjuknya Argentina sebagai tuan rumah adalah karena negara tersebut sedang merayakan hari kemerdekaan ke 100 tahunnya.

Ketika itu baru ada empat tim yang ikut berpartisipasi, diantaranya Chili, Uruguay, Brasil, dan Argentina itu sendiri. Dalam sistem round robin, Uruguay akhirnya keluar sebagai juara, dimana mereka mengemas dua kemenangan dan satu hasil imbang.

Setelah dianggap sukses, turnamen ini kembali diselenggarakan pada tahun berikutnya, dimana nama Uruguay masih menjadi yang terbaik. Setidaknya dalam lima edisi pertama, timnas Uruguay berhasil memetik tiga gelar juara.

Uruguay kemudian berhasil meraih sebanyak 11 gelar saat turnamen ini masih bernama Campeonato Sudamericano. Kemudian, tepat pada tahun 1975, nama turnamen berubah menjadi Copa America, dimana pada edisi anyar ini terdapat sejumlah sistem dan aturan yang tak jarang mengikuti FIFA.

Turnamen akbar antar negara-negara Amerika Selatan ini juga memiliki interval waktu berbeda. Misalnya saja pada tahun 1959, Copa America sempat diadakan sebanyak dua kali dalam setahun. Kemudian sejak tahun 1975 sampai dengan 2001, turnamen ini diadakan dua tahun sekali, untuk kemudian berubah menjadi tiga tahun sekali dalam rentang waktu 2001 sampai 2007.

Sejak tahun 2007 sampai 2019 sendiri, turnamen ini diselenggarakan dalam rentang empat tahun sekali dengan satu edisi khusus pada tahun 2016 ketika turnamen tersebut masuk ke usia 100 tahunnya.

Dalam perjalanannya, Copa America juga mulai menempatkan tim undangan sejak 1993, dimana ketika itu Meksiko menjadi tim pertama yang mendapat kehormatan untuk ikut tampil disana. Sudah ada banyak negara di luar Amerika Selatan yang ikut berpartisipasi dalam turnamen ini. Akan tetapi, belum ada satu pun dari negara tersebut yang berhasil meraih gelar juara.

Sejak format turnamen ini menjadi Copa America, Uruguay yang mulanya telah mengumpulkan sebanyak 11 gelar, sukses menambah empat gelar lainnya, sehingga mereka kini tercatat sebagai negara dengan koleksi gelar Copa America terbanyak .

Uruguay Sebagai Raja

Ya, selain berhasil meraih sebanyak dua gelar Piala Dunia, Uruguay juga tercatat sebagai negara dengan koleksi gelar Copa America terbanyak. Ketika orang-orang bicara tentang Brasil dan Argentina, maka Uruguay lebih pantas disebut sebagai raja. Sejauh ini, timnas Argentina membuntuti di tempat kedua dengan koleksi 14 gelar, sementara Brasil berada setingkat di bawahnya dengan koleksi sembilan gelar.

Dalam sejarah pergelaran ajang tertinggi di Amerika Selatan ini, Uruguay berhasil menjadi raja pada edisi 1916, 1917, 1920, 1923, 1924, 1926, 1935, 1942, 1956, 1959, dan 1967 di format pertama turnamen ini. Kemudian, sejak tahun 1975, empat gelar Uruguay di dapat pada edisi 1983, 1987, 1995, dan 2011.

Salah satu momen tak terlupakan dari raihan gelar juara Uruguay terjadi pada edisi tahun 1987. Ketika itu, Uruguay harus berhadapan dengan Chili di partai final. Pertandingan memang hanya berakhir tipis 1-0 untuk kemenangan Uruguay. Pahlawan Uruguay ketika itu adalah Bengoechea yang berhasil mencetak gol pada menit ke 56.

Namun dalam laga tersebut, pertandingan berjalan sangat keras. Bahkan itu bisa disebut sebagai laga final paling brutal dalam sejarah Copa America. Pasalnya, wasit harus mengeluarkan sebanyak empat kartu merah dengan rincian dua untuk Uruguay dan dua untuk Chili, sebelum peluit panjang dibunyikan untuk memberi gelar Copa America ke 13 bagi Uruguay.

Lalu yang tak boleh terlupa, dalam raihan gelar juara yang terakhir didapat, Uruguay sukses memberi kejutan dengan berhasil mengandaskan perlawanan timnas Paraguay. Mereka menang dengan skor telak 3-0. Pada pertandingan yang digelar di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti, Buenos Aires, Argentina, itu, timnas Uruguay digdaya dengan lesatan satu gol Luis Suarez dan dua gol yang dicetak Diego Forlan.

Sekali lagi, gelar ini terasa spesial karena sejatinya, Uruguay menjadi tim yang tidak difavoritkan untuk meraih gelar juara. Kekuatan mereka dianggap tidak mampu menyaingi dua raksasa Amerika Selatan, yakni timnas Brasil dan timnas Argentina yang memang punya komposisi skuad menakutkan.

Di luar dugaan, Uruguay berhasil menyingkirkan Argentina di babak perempat final melalui babak adu penalti, sebelum akhirnya mereka mampu mengakhiri puasa gelar selama 16 tahun usai mengalahkan Paraguay di partai final.

Meraba Kekuatan Uruguay di Copa America 2021

Menyandang predikat sebagai negara peraih gelar Copa America terbanyak, nama Uruguay tentu tidak bisa diremehkan di ajang Copa America kali ini. Tim tersebut masih dihuni oleh banyak sekali pemain-pemain ternama, yang sampai saat ini bahkan masih layak disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Di posisi penjaga gawang, Fernando Muslera masih setia berada di bawah mistar. Kemudian, Diego Godin, Martin Caceres, Jose Gimenez, Sebastian Coates, sampai Ronald Araujo juga akan siap menepis segala serangan yang dilakukan oleh lawan.

Di lini tengah, ada Matias Vecino, Rodrigo Bentancur, Lucas Torreira, sampai Federico Valverde yang telah disiapkan.

Lalu ketika bicara tentang lini serang Uruguay, siapa yang tidak terkesan dengan nama Luis Suarez, yang baru saja membawa Atletico Madrid menjuarai kompetisi La Liga. Kemudian juga masih ada nama Edinson Cavani, yang kita tahu masih menjadi andalan Manchester United di lini depan, meski sejatinya sang pemain sudah memasuki usia senja.

Di posisi pelatih sendiri, Uruguay masih percaya pada sosok Oscar Tabarez. Pelatih yang telah menjalani periode keduanya sejak tahun 2006 itu telah banyak memberi hal-hal luar biasa bagi Uruguay. Ya, sebelum kembali pada tahun 2006, Tabarez lebih dulu melatih Uruguay pada periode 1988 sampai 1990.

Sosok Tabarez dalam tubuh Uruguay sangatlah lekat. Dia mampu memberi gelar juara Copa America pada tahun 2011, plus mengantar negara tersebut melaju ke putaran final 2010, 2014, hingga 2018. Bahkan, mantan pelatih Boca Juniors itu juga sempat membawa Uruguay duduk di posisi keempat pada gelaran Piala Dunia 2010.

Setelah terakhir kali membawa Uruguay meraih gelar juara adalah pada 10 tahun lalu, Tabarez tentu berambisi untuk kembali menaruh satu trofi di lemari piala La Celeste.

Bergabung dengan Paraguay, Argentina, Chili, dan Bolivia, di babak grup, Uruguay setidaknya masih memiliki peluang untuk duduk di daftar dua teratas. Meski lawan yang harus dihadapi sama sekali tidak boleh diremehkan, sejarah dan skuad terbaik yang disiapkan tentu tidak akan membuat Uruguay terlalu sulit untuk melaju ke babak selanjutnya.

Sumber referensi: kompasiana, kompas, tirto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *