Tak terasa Euro 2024 sebentar lagi akan dimulai. Di turnamen inilah air mata dan kegembiraan tumpah ruah di satu lapangan. Dimana drama tim-tim dan pemain-pemain terbaik Eropa saling sikut untuk jadi juara.
Gol menakjubkan, aksi-aksi pemain hebat, dan kemenangan yang mengejutkan dan tentu saja, momen-momen gila akan tersaji di gelaran empat tahunan ini. Untuk menyambut Euro 2024, mari kita tengok kembali momen gila dalam 5 edisi Euro terakhir yang mungkin kalian lupa.
Daftar Isi
Football is Coming Rome
Salah satu hal ikonik dalam sejarah Euro adalah Inggris yang selalu tersingkir lewat babak adu penalti. Inggris telah kalah adu penalti di tahun 1996 lawan Jerman, Portugal di tahun 2004, dan Italia pada tahun 2012. Di Euro terakhir, Euro 2020 pun mereka kalah penalti lawan Italia di final.
Tapi khusus di Euro 2020 ini, kekalahan itu sangat mengecewakan. Sebab sepanjang turnamen fans Inggris koar-koar dengan slogan football’s coming home. Seolah sudah saatnya timnas Inggris kembali juara di kompetisi besar.
🏆 It’s coming Rome!!! #Euro2020 pic.twitter.com/tZBZtwWQOX
— Giorgio Chiellini (@chiellini) July 11, 2021
Dan meskipun dengan performa meyakinkan setelah memuncaki klasemen grup dan mengalahkan Jerman di babak 16 besar, harapan itu malah pupus. Yang lebih menyakitkan mereka kalah di stadion kebanggaan Wembley, oleh rival bebuyutan Italia.
Tapi itu bukan momen gilanya. Di tanggal 12 Juni 2021, Italia mengalahkan Inggris di Wembley untuk jadi juara Euro. Hanya sehari sebelumnya, Argentina mengalahkan Brasil di Stadion Maracana untuk jadi juara Copa America.
Invasi Viking di Eropa
Kenangan Euro 2016 paling diingat tentu saja soal Portugal yang mengalahkan tuan rumah Prancis di final. Laga tersebut seolah ditakdirkan jadi laga yang dramatis setelah Ronaldo harus ditandu keluar lapangan di tengah pertandingan. Tapi dengan kaki yang pincang, ia membakar semangat timnas Portugal dari pinggir lapangan dan ahkhirnya keluar sebagai juara..
Euro 2016 juga identik dengan kejatuhan dominasi lama setelah Spanyol, sang juara back-to-back malah kalah di 16 besar. Dan seiring kejatuhan sang raja, muncul underdog yang dicintai semua orang.
Tim itu adalah Islandia. Setelah 56 tahun, pasukan viking akhirnya lolos ke putaran final Euro. Dan kesempatan itu tidak mereka sia-siakan sama sekali. Berada di grup yang berisikan Hungaria, Austria, dan Portugal, Islandia lolos grup tanpa terkalahkan.
Islandia kemudian melaju sampai ke perempat final setelah berhasil mengalahkan Inggris di babak 16 besar. Manajer mereka yang saat itu juga berprofesi sebagai dokter gigi, Heimir Hallgrimsson mengatakan kalau itu adalah sejarah yang akan selalu dikenang masyarakat Islandia.
Since its almost matchday for #EURO2020, here is one of my favourite moment from Euro 2016. The iconic Iceland's viking clap after beating England in the last-16 stage. Goosebumps 💯 pic.twitter.com/el7oFvdCNe
— Ted (@anssyakir) June 11, 2021
“Para pemain telah jadi legenda di mata orang-orang Islandia. Mereka akan dikenang dengan cara yang sama seperti saat Inggris menjuarai Piala Dunia 1966”
Perjalanan heroik Islandia di Euro 2016 tidak akan pernah dilupakan. Para penggemar sepak bola tidak akan lupa bagaimana viking clap pernah menggema dan menginvasi Eropa.
Sihir Dingin Pirlo
Setelah menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, Euro 2012 adalah puncak dari era Spanyol. Mereka merangkum perjalanan generasi emasnya dengan tiga trofi besar yang direngkuh secara beruntun. Tapi jangan remehkan juga lawan mereka di final, Italia.
Italia tidak diharapkan untuk berbicara banyak di Euro tahun itu. Sebab tahun itu Italia tidak diisi banyak bakat muda dan malah tersandung kasus skandal judi menjelang turnamen. Perjalanan Piala Dunia 2010 Italia juga memalukan. Tapi mereka bisa menjawab keraguan itu dengan melaju sampai final.
Italia juga memproduksi banyak kenangan ikonik. Seperti selebrasi Balotelli yang jadi meme, atau kemenangan lawan generasi emas Jerman di babak semifinal. Tapi momen yang paling ikonik dan gila adalah saat laga lawan Inggris di perempat final.
Laga itu berjalan sengit sampai harus diputuskan lewat babak adu penalti. Montolivo gagal menjalankan tugasnya dan Rooney mengubah kedudukan jadi 2-1. Tapi Pirlo dengan ketenangannya melakukan Panenka yang sukses bikin seisi stadion terpana.
On this day at Euro 2012, Andrea Pirlo scored the perfect Panenka penalty. 😎pic.twitter.com/wsfSkFZ9TK
— Players' Tribune Football (@TPTFootball) June 24, 2021
“Saya memutuskan untuk melakukannya tepat sebelum saya menendang bola. Saya melihat kiper mereka terlalu berlagak dan melakukan gerakan aneh. Jadi saya memutuskan untuk mencungkil bola melewatinya” Ucap Pirlo
Panenka diciptakan saat Antonin Panenka membawa Cekoslovakia juara Euro 1976 lewat babak adu penalti lawan Jerman Barat. Dan panenka Pirlo membuat dua penendang Inggris selanjutnya kena mental. Italia pun menang dan melaju sampai final berkat sihir dingin dari Pirlo.
Lahirnya Tiki Taka
Euro edisi 2008 diisi banyak underdog. Turki misal, yang menampilkan kisah comeback terbaik di Grup A melawan Republik Ceko. Mereka pun bisa melangkah sampai semifinal. Atau Rusia yang juga bisa mencapai semifinal menggunakan tim termuda di turnamen.
Tapi momen paling menakjubkan adalah perjalanan Spanyol. Jika diingat-ingat, Spanyol juga bukan unggulan alias underdog saat itu. Mereka belum pernah jadi juara sejak Euro 1964. La Furia Roja bahkan hanya sampai 16 besar Piala Dunia 2006.
Tapi sepak bola Spanyol berevolusi dengan cepat setelah itu. Luis Aragones tidak mau lagi mengandalkan serangan balik seperti klub-klub di La Liga. Tapi ia mulai mengandalkan kekuatan umpan-umpan pendek para pemainnya. Lahirlah filosofi tiki taka.
The passing and finishing for these goals 🤤🤪
— UEFA EURO 2024 (@EURO2024) June 10, 2019
🇪🇸 #OTD at EURO 2008, David Villa scored a hat-trick against Russia ⚽⚽⚽#EURO2020 | @SeFutbol pic.twitter.com/7MLNEN6Xap
Dan momennya adalah di pertandingan pembuka grup D. Di situ Spanyol mengalahkan Rusia dengan skor 4-1. Itulah para pecinta bola mulai merasakan magis tiki taka untuk pertama kalinya. David Villa juga mencuri perhatian dengan mencetak hattrick dan jadi pencetak gol terbanyak di turnamen tersebut.
Pahlawan Tanpa Sarung Tangan
Jika di Euro 2008 menampilkan sejumlah underdogs, perjalanan underdog di Euro 2004 lebih hebat lagi. Mereka adalah Yunani yang bisa menentang semua kemungkinan dan jadi juara setelah mengalahkan tuan rumah Portugal di final.
Tapi tidak seperti tim underdog biasanya, Yunani tidak terlalu jadi favorit penggemar. Sebab permainan Yunani yang hanya bertahan sampai bisa ke final. Terlepas dari itu, perjalanan Yunani sangat pantas ditempatkan di daftar momen terbaik dalam sejarah Euro.
Tapi untuk momen tergila, itu lebih pantas disematkan kepada kiper Portugal, Ricardo di pertandingan melawan Inggris pada babak perempat final.
Itu adalah laga yang sengit. Inggris diisi oleh generasi emas mereka seperti David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Paul Scholes, Rooney, Owen, Terry dan lainnya. Di sisi lain Portugal juga diisi generasi emas seperti Luis Figo, Rui Costa, dan Cristiano Ronaldo yang masih berusia 19 tahun.
Gol dari Michael Owen dan Helder Postiga membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu. Kemudian gol dari Rui Costa dan Lampard memaksa laga masuk ke babak adu penalti.
Di situ pun berjalan sengit. Setelah 10 penendang dari masing-masing tim sama-sama mencetak gol, tibalah giliran Dario Vassel. Ricardo saat itu langsung berfikir kalau ia harus melakukan sesuatu yang berbeda.
England vs Portugal // 2004
— Classic Football Shirts (@classicshirts) June 24, 2021
Remember when Ricardo took his gloves off and saved a penalty then scored the next one to send Portugal through?
Madness.pic.twitter.com/OlaNVizANL
Ricardo pun melepas sarung tangannya. Dan ajaibnya, ia bisa menepis bola tersebut. Setelah itu Ricardo pun maju sebagai eksekutor dan memastikan Portugal lolos ke babak selanjutnya.
Itulah momen momen gila dalam lima Euro terakhir. Momen mana favorit kalian?


