Michael Laudrup, Guru Bagi Iniesta

  • Whatsapp

Cuma segelintir pemain yang mendapat kehormatan menjadi idola bagi beberapa gelandang terbaik dunia dalam sejarah. Jika Enzo Francescoli diidolakan Zinedine Zidane, ada Michael Laudrup dikagumi oleh Andres Iniesta.

Membandingkan antara Iniesta dengan Laudrup, kita dapat melihat beberapa kemiripan. Laudrup jelas telah mempengaruhi Iniesta.

Seperti Iniesta, Laudrup juga membela Barca. Dalam kurun 1989 hingga 1996, ia bisa dibilang sebagai pemain terbarik Eropa. Laudrup bukan hanya seorang gelandang serang yang bisa bermain di mana pun di sepertiga akhir lapangan. Ia juga seorang otak serangan yang dibesarkan oleh Johan Cruyff yang agung.

Sudah didapuk menjadi pemain terbaik Denmark dalam usia 18 tahun pada 1983, Laudrup hijrah ke Juventus saat itu juga. Hanya, regulasi pemain asing di Italia membuatnya harus dipinjamkan terlebih dahulu ke Lazio selama dua musim. Pada akhirnya, selama empat musim di Juventus, Laudrup berhasil menembus tiga digit penampilan dan mengoleksi satu scudetto.

Pada 1989, ia hengkang ke Barcelona yang dilatih Johan Cruyff. Laudrup lantas menjadi The Dream Team Barcelona yang dibangun Cruyff, yang memenangi empat La Liga beruntun, satu Copa del Rey, dua Piala Super Spanyol, satu Piala Super Eropa, dan satu Liga Champions.

Cruyff pernah memuji kualitas Laudrup, yang sekaligus menyiratkan ketidaksukaannya, “Laudrup adalah salah satu pemain yang sulit diajak bekerja sama. Ketika dia cuma memberi 80 atau 90%, ia masih saja menjadi yang terbaik. Aku ingin semua pemain memberikan 100% tapi Laudrup jarang melakukannya.”

Barangkali itulah yang membuat Cruyff dan Laudrup bertengkar pada 1994. Setelah diparkir di laga final Liga Champions 1994, Laudrup lantas menyatakan akan pergi dari Camp Nou. Mendengar hal ini, Pep Guardiola dilaporkan sangat marah hingga menangis dan memohon pada Laudrup agar berubah pikiran.

Sayangnya, Laudrup tetap pindah, dan yang lebih menyakitkan, ia menyeberang ke Real Madrid. Ia langsung mengantarkan Los Blancos menjadi juara La Liga, yang dalam prosesnya termasuk mengalahkan Barcelona dengan skor 5-0. Dengan demikian, ia dua musim beruntun mengalahkan Madrid dan Barca dengan skor 5-0, serta mampu menjadi juara La Liga dalam lima musim beruntun.

Namun, tak seperti Luis Figo yang dilempat kepala babi saat menyeberang ke Madrid, Laudrup adalah satu di antara sedikit pemain yang dicintai baik oleh suporter Madrid maupun Barcelona.

Pengakuan terakhir yang membuktikan kehebatan Laudrup barangkali berasal dari Alan Tate, eks bek Swansea. Laudrup tiba di klub Wales tersebut pada 2011 untuk menjadi pelatih menggantikan Brendan Rodgers. Dalam sebuah wawancara, Tate menyebut, dalam usia 48 tahun, Laudrup masih menjadi pemain terbaik Swansea di sesi latihan.

“Siapa pemain terbaik sepanjang sejarah? Laudrup,” begitu kata Iniesta. Don Andres kecil tumbuh dengan menyaksikan Laudrup memimpin lini serang Barcelona. Kepada Laudrup-lah Iniesta menonton dan mempelajari, lalu mempraktikkkan sebuah trik sederhana yang mematikan: La Croqueta.

Agaknya, langkah Iniesta bermain di Jepang juga dalam rangka mengikuti jejak idolanya. Apalagi, keduanya sama-sama bermain untuk Vissel Kobe.

Pos terkait