Metode Brutal Gian Piero Ventrone, Pelatih Kebugaran Spurs yang Meninggal di Usia 62 Tahun

spot_img

Ada pemandangan tak biasa yang terlihat di laga Brighton & Hove Albion vs Tottenham Hotspur pada Sabtu, 8 Oktober kemarin. Sebelum sepak mula, kedua tim melakukan “a minute appaluse” untuk mengenang mendiang Gian Piero Ventrone, pelatih kebugaran Tottenham Hotspur yang baru saja meninggal dunia di usia 62 tahun pada 6 Oktober 2022.

“Kami sangat sedih untuk mengumumkan bahwa Gian Piero Ventrone telah meninggal dunia. Gian Piero dengan cepat menjadi sosok yang sangat populer di kalangan pemain dan staf. Dia akan sangat dirindukan oleh semua orang di klub dan pikiran kami bersama keluarga dan teman-temannya pada saat yang sangat menyedihkan ini,” kata Tottenham dikutip dari The Guardian.

Dalam situasi duka tersebut, Spurs mampu mengandaskan tuan rumah Brighton lewat gol tunggal Harry Kane di menit ke-22. Dalam konferensi pers, Kane secara emosional mendedikasikan gol tersebut untuk mendiang Ventrone.

Para penggawa Spurs memang terlihat begitu emosional, baik saat melakukan “a minute appaluse” maupun saat konferensi pers. Bahkan, pada kedua momen tersebut, pelatih Spurs Antonio Conte tertangkap kamera menitihkan air mata.

Lalu, siapa sebenarnya Gian Piero Ventrone?

Gian Piero Ventrone, “The Marine”, dan Metode Melatihnya yang Brutal

Gian Piero Ventrone adalah pelatih kebugaran Tottenham Hotspur. Ventrone bergabung dengan Spurs November tahun lalu sebagai bagian dari tim kepelatihan Antonio Conte.

Jika kalian ingat momen pemain Spurs kolaps di atas lapangan usai menjalani sesi latihan pramusim di Seoul, Korea bulan Juli lalu, itu adalah ulah dari Gian Piero Ventrone. Ventrone sendiri memang terkenal brutal dalam memberi porsi latihan fisik.

Antonio Conte sendiri sudah lama mengenal sepak terjang Gian Piero Ventrone. Sebelum dibawa Conte ke Spurs, keduanya sudah pernah bekerja sama saat Conte melatih Bari dan Siena. Namun, pertemuan pertama keduanya terjadi saat Conte masih jadi pemain Juventus.

Gian Piero Ventrone memang memulai karier sebagai pelatih kebugaran di Juventus. Ia menjadi anggota staf kepelatihan Marcelo Lippi selama dua periode, yakni dari tahun 1994-1999 dan 2001-2004.

Oleh Lippi, Ventrone diberi kebebasan. Kedisiplinan tinggi yang ditanamkan Ventrone lewat menu latihan yang berat kala itu sukses mengubah mentalitas Juve yang sebelumnya tengah lama puasa gelar.

Di 2 periode tersebut, Juve yang dihuni banyak pemain bintang seperti Fabrizio Ravanelli, Alessandro Del Piero, Gianluca Vialli, hingga Didier Deschamps panen trofi dengan meraih 13 piala, termasuk di antaranya 5 scudetto dan 1 trofi Liga Champions 1996.

Kesuksesan yang diraih Si Nyonya Tua kala itu tak lepas dari menu latihan fisik brutal yang digenjot Gian Piero Ventrone. Semua pemain bintang Juve kala itu jadi korban sadisnya menu latihan fisik Ventrone, tak terkecuali Antonio Conte.

“Dia membantai kita! Dia memiliki ketangguhan seorang prajurit dan tidak pernah mengendurkan siapa pun, apakah Anda seorang pemain terkenal atau tidak. Salah satu insentif favoritnya adalah ‘lonceng malu’. Dia menempatkan lonceng emas besar di sudut lapangan dan siapa pun yang berhenti sebelum menyelesaikan set harus membunyikannya. Saya tidak terlalu sering mendengarnya di Juve pada tahun-tahun itu,” kata Conte dikutip dari The Athletic.

Kisah serupa juga dibagikan Zinedine Zidane yang pernah berseragam Juventus dari musim 1996 hingga 2001. Mengutip dari Talksport, Zidane bercerita kalau dirinya kerap muntah karena sangat lelah usai menjalani latihan bersama Ventrone.

Lain lagi dengan Gianluca Vialli. Dalam buku ‘Zonal Marking’ karangan Michael Cox, terungkap kalau sesi latihan Ventrone begitu sulit hingga Vialli pernah begitu kesal pada Ventrone dan mengunci sang pelatih di lemari dan memanggil polisi.

Gian Piero Ventrone memang punya metode latihan yang terkesan brutal yang kemudian membuatnya mendapat julukan “The Marine”. Namun, julukan tersebut sejatinya juga mengacu pada background Ventrone yang pernah menjalani pelatihan militer di Amerika Serikat dan bertugas di batalyon San Marco Angkatan Laut Italia.

Selain brutal, metode latihan yang dibawa Gian Piero Ventrone sejatinya juga tak biasa dan revolusioner pada zamannya. Selain berinovasi dengan “lonceng malu”, Ventrone juga membuat para pemain Juventus saat itu berlatih dengan mendengarkan musik Queen dan Nirvana. Ventrone yang mengejar kesempurnaan dalam setiap latihan juga membawa 43 komputer untuk melakukan analisis data saat bergabung dengan Si Nyonya Tua.

Gian Piero Ventrone juga memiliki 3 moto yang terkenal saat dirinya masih bertugas di Turin. Tiga moto tersebut adalah “Work today to run tomorrow”, “die but finish” dan “victory belongs to the strong”. Pendekatan dan gaya melatih Ventrone dapat disimpulkan dari ketiga moto tersebut.

Jika dihitung, sudah banyak korban berjatuhan akibat dari metode latihan brutal yang diterapkan Gian Piero Ventrone. Namun, apa yang Ventrone terapkan menghasilkan pemain dengan tingkat kebugaran terbaik yang kemudian sukses meraup prestasi. Hal tersebut terekam jelas dari karier Ventrone.

Setelah menuai sukses dengan Juventus, Ventrone mengikuti jejak Marcelo Lippi dan menjadi staf pelatih timnas Italia yang memenangkan Piala Dunia 2006. Setelah itu, ia menjadi staf pelatih fisik bagi Antonio Conte saat menukangi Bari dan Siena.

Sempat bertransformasi menjadi asisten pelatih Ajaccio dari musim 2012 hingga 2014, Gian Piero Ventrone kemudian kembali ke Italia dan menjadi pelatih fisik Catania. Setelah itu, Ventrone hijrah ke Jiangsu Suning dan kemudian bergabung dengan staf kepelatihan Fabio Cannavaro yang menjuarai Liga Super Tiongkok bersama Guangzhou Evergrande sebelum akhirnya bereuni kembali dengan Antonio Conte sebagai pelatih kebugaran Tottenham Hotspur pada November 2021.

Tottenham Hotspur Begitu Kehilangan Gian Piero Ventrone

Di Spurs, pekerjaan Ventrone dipuji setinggi langit. Ia dinilai sukses mengembalikan atau bahkan meningkatkan tingkat kebugaran para pemain Spurs di level terbaik mereka.

Salah satu momen ikonik Gian Piero Ventrone di Spurs terjadi saat tur pramusim di Seoul, Korea Juli kemarin. Di sana, Ventrone menggelar sebuah sesi latihan brutal yang membuat banyak pemain Spurs kolaps bahkan muntah-muntah.

Para pemain Spurs diminta melakukan shuttle run dengan berlari menjelajahi panjang lapangan. Kabarnya, latihan tersebut dilakukan di tengah cuaca 30 derajat dan berlangsung secara intens selama 2 jam.

Hasilnya, beberapa penggawa Spurs terlihat kolaps di atas lapangan. Harry Kane bahkan dikabarkan sampai muntah-muntah. Sementara Son Heung-min sampai harus dibantu staff pelatih Spurs hanya untuk berdiri.

Meski ritme dan beban kerja Ventrone telah melumpuhkan banyak pemain bintang dan memiliki reputasi sebagai “The Marine” yang terkenal akan metode latihannya yang brutal, tetapi Gian Piero Ventrone mampu membangun hubungan erat dengan semua pemain yang pernah ia latih. Di Tottenham Hotspur saja, Ventrone dalam waktu singkat sukses jadi sosok yang begitu dicintai dan dihormati para penggawa Spurs.

“Jujur saja, dia seorang pembunuh. Tapi saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Gian Piero. Bahasa Inggrisnya tidak sempurna dan terkadang dia datang dengan ponselnya untuk menerjemahkan bahasa Inggris dari bahasa Italia. Bukan hanya dari segi sepak bola, tapi dari segi kehidupan, dia memberi saya banyak nasihat dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Itu sangat membantu dan saya selalu memeluknya, bahkan di saat-saat sulit,” kata Son Heung-min dikutip dari The Athletic.

Dari pernyataan Spurs dan para pemainnya, mereka jelas begitu kehilangan sosok Gian Piero Ventrone. Apalagi Antonio Conte. Bagi Conte, Ventrone adalah rekan terbaiknya bahkan juga tergolong guru baginya. Tangisan Conte saat mengenang mendiang Ventrone menjelaskan semuanya.

Meski tak selalu bekerja sama dengan Ventrone, tetapi ajaran Ventrone semasa melatih Conte di Juventus terus membekas di benaknya. Maka jangan heran jika Conte juga terkenal dengan latihan keras yang mendorong anak asuhnya hingga batas maksimalnya.

Kepergian Gian Piero Ventrone yang meninggal di usia 62 tahun setelah berjuang melawan leukemia tak hanya jadi kehilangan besar bagi Antonio Conte, tetapi juga seluruh penggawa Spurs. Terbukti dari kehadiran Conte dan stafnya di pemakaman Ventrone di kota Naples.

Kini, sebagai bentuk penghormatan abadi kepada Gian Piero Ventrone, Tottenham Hotspur menanam pohon Evergreen Oak Italia di dekat lapangan latihan tim utama. Selamat jalan, Gian Piero.
***
Referensi: Tottenham Hotspurs, Corriere, The Guardian, The Athletic, Talksport, Standard, Football Italia.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru