Melihat serial terbaru Netflix yang berjudul “Sean eternos Campeones de América” langsung terpintas nama Lionel Messi. Film dokumenter tentang perjalanan Argentina merengkuh Copa America 2020 itu menggambarkan betapa La Pulga di sisa usia emasnya terlihat sangat berbeda. Baik dari segi kepemimpinan, kenyamanan, maupun performa.
Kini Messi pun dalam keadaan yang sangat berbeda jelang Piala Dunia dibanding beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya. Lantas apakah dari semua Piala Dunia yang sudah dilakoni Messi, tahun 2022 ini adalah kondisi yang paling ideal untuknya meraih gelar juara?
Lo siento pero te como, hermano. MAÑANA estrena Sean eternos: Campeones de América, el documental que cuenta en primera persona el camino de la Scaloneta para dar la vuelta en el Maracaná. Sí, hablan todos los que te imaginás que hablan. pic.twitter.com/S0AP7fh7T0
— CheNetflix (@CheNetflix) November 2, 2022
Daftar Isi
Kehati-hatian Jose Pekerman Terhadap Debut Messi
Flashback ke zaman ketika Messi debut di Piala Dunia pertamanya di tahun 2006. Masih berusia 19 tahun, Messi dipanggil timnas oleh pelatih Jose Pekerman. Pemanggilannya pun atas dasar performa Messi di klub.
Bersama Barca, Messi menyelesaikan musim 2005/06 dengan raihan 8 gol dan 5 assist dari 25 pertandingan. Messi ketika itu juga menjadi bagian skuad kejayaan Blaugrana meraih mahkota La Liga sekaligus Liga Champions.
Namun jelang Piala Dunia, Messi sempat diganggu cedera hamstring. Ia bahkan sempat melewatkan 12 pertandingan terakhirnya di level klub sebelum berangkat ke Jerman.
Di Jerman, Pekerman juga tampaknya hati-hati untuk menurunkan Messi dengan kondisinya tersebut. Debut Messi pun akhirnya terjadi ketika melawan Serbia sebagai pemain pengganti. 1 gol dan 1 assist ia ciptakan.
18 – Lionel Messi made his World Cup debut against Serbia in 2006, aged 18 years & 357 days – he remains the only teenager to both score and assist in the same World Cup match since 1966, doing so in just 13 minutes after coming off the bench. Glimpse. #OptaWCYears pic.twitter.com/nVjkYzYao6
— OptaJoe (@OptaJoe) May 13, 2020
Namun akhirnya ia tidak diturunkan ketika Argentina tersingkir oleh Jerman di perempat final. Sebagian publik Argentina yang kecewa ketidaklolosan Argentina itu, juga memprotes kenapa Pekerman tidak terlalu percaya memberikan menit bermain lebih bagi Lionel Messi.
“José (Pekerman) es un caballero. Nunca dijo que Messi estaba entre algodones para jugar contra Alemania. Casi no podía correr. Lo podría haber contado porque el país lo mataba, pero decidió no poner excusas”.
Leandro Cufré, parte del plantel en el Mundial 2006, a @EngancheSup pic.twitter.com/Qb1OBZ7EkB
— VarskySports (@VarskySports) March 17, 2020
Maradona Tak Seperti Yang Diharapkan
Kemudian berlanjut ke Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Ini adalah Piala Dunia kedua Messi. Kondisi jelang Piala Dunia pun terasa spesial bagi La Pulga. Menyelesaikan musim 2009/10 di Barca dengan capaian gelar La Liga plus 47 gol dan 12 assist. Raihan ciamik Messi ketika itu pun diganjar dengan gelar Ballon d’Or pertamanya di usia 22 tahun.
#OnThisDay in 2009, Leo Messi won his first Ballon d’Or 🏆 pic.twitter.com/8pPgffan7y
— B/R Football (@brfootball) December 1, 2016
Di timnas, ia pun akan mengarungi Piala Dunia bersama dengan sang legenda hidupnya Diego Armando Maradona. Lengkaplah sudah harapan tinggi publik akan bersinarnya Messi untuk membawa Argentina meraih juara.
Maradona e Messi na #FIFAWorldCup 2010.
Essa dupla fez o torcedor da 🇦🇷 sonhar. pic.twitter.com/3z1rxk32A3— Copa do Mundo FIFA 🏆 (@fifaworldcup_pt) November 19, 2022
Namun, kenyataan tak seperti yang diharapkan. Maradona meskipun bekas superstar, namun ketika menjadi pelatih sepertinya patut dipertanyakan. Dengan materi pemain yang sangat melimpah, ditambah kilau Messi, ia terbukti tak pandai meraciknya.
Hal itu sudah terlihat sejak kualifikasi. Argentina bahkan lolos ke Afrika Selatan ketika itu harus melewati partai terakhir melawan Uruguay.
Nomor punggung 10 yang diberikan pertama kalinya kepada Messi mungkin menjadi beban berat tersendiri. Alhasil bersama Maradona, La Pulga malah tidak bisa menciptakan satu gol pun. Langkah Argentina juga kembali terhenti di perempat final oleh Jerman.
Tanpa Gelar di Klub, Namun Nyaris Juara
Lanjut ke Piala Dunia 2014 Brazil. Sebelumnya, ada sedikit cerita yang mengganggu di perhelatan Copa America 2011. Ketika itu, Messi dan kawan-kawan gagal melaju setelah dihentikan Uruguay di perempat final. Ketika itu pula Messi sempat dikabarkan bertengkar dengan seniornya, Nicolas Burdisso di ruang ganti.
El día que Messi casi llega a las manos con Burdisso… y Burdisso “nunca más” volvió a la selección https://t.co/kFpgdRzuQM pic.twitter.com/fAJ9GpfTwH
— MARCA (@marca) July 15, 2018
Pemandangan tak mengenakan itu akhirnya teratasi ketika Alejandro Sabella ditunjuk menangani Messi dan kawan-kawan jelang Piala Dunia 2014. Sabella ini merupakan ahlinya dalam mengontrol ruang ganti.
Un día como hoy pero de 2011 Alejandro Sabella debutaba como entrenador de la Selección Argentina frente a Venezuela 🤩
¡Gracias por esos años maravillosos, Pachorra! ¡Te extrañamos! 🇦🇷❤️ pic.twitter.com/1eXUp1kY88
— TNT Sports Argentina (@TNTSportsAR) September 2, 2021
Jelang Piala Dunia, kondisi Messi ketika itu tak mampu membawa gelar apa pun di level klub. Bersama Barcelona di musim 2013/14, Messi hanya mencatatkan 41 gol dan 14 assist dari 41 pertandingan.
Ia ketika itu masih berada dalam transisi Barcelona di bawah kendali pelatih Tata Martino. Kehadiran Neymar ketika itu juga membuat kilau Messi sedikit terpecah. Messi pun sempat dua kali diganggu masalah cedera otot. Alhasil, ia pun berangkat ke Brazil tidak dalam kondisi puncaknya.
Namun dari semua kondisi buruk Messi jelang Piala Dunia tersebut, kenyataanya berbeda. Tiba-tiba performa Messi dan kawan-kawan secara teamwork mampu stabil di bawah Sabella di babak grup. Mereka bahkan mampu konsisten hingga melaju ke final.
“Nyaris” adalah kata yang tepat bagi Messi ketika itu. Messi harus mengubur mimpinya mengangkat trofi Piala Dunia di saat-saat terakhir. Tapi bagaimanapun, Messi tetap yang terbaik di edisi itu. Empat gol telah ia ciptakan. Sebuah pencapaian tersendiri bagi karir La Pulga di level timnas.
Lionel Messi World Cup 2014 ..
Heartbreaking 💔 pic.twitter.com/ALrtDPtKGp— 4K (@1scyyy) November 12, 2022
Kembali dari Pensiun dan Kacau Bersama Sampaoli
Beranjak ke edisi Piala Dunia 2018 Rusia. Messi masih menyelesaikan musimnya di Barcelona di bawah Valverde. Messi yang sudah semakin menua jelang Piala Dunia, masih bisa membukukan 45 gol dan 20 assist dari 54 pertandingan. Gelar La Liga dan Copa Del Rey pun mampu ia persembahkan. Artinya, ia menuju Rusia dalam keadaan yang masih stabil.
Namun ada cerita sebelumnya yang menjadi sorotan. Yakni ketika Messi dianggap plin-plan dalam keputusan pensiunnya. Diketahui ia sempat menyatakan pensiun setelah Copa America Centenario 2016.
Namun akhirnya, ia memutuskan kembali di tahun 2018. Piala Dunia 2018 adalah piala dunia keempatnya bersama La Albiceleste di usianya yang sudah menginjak kepala tiga.
Messi is back with the @Argentina national team for the first time since the 2018 World Cup 🇦🇷
His first game back is March 22nd 🆚 Venezuela and it’s on beIN SPORTS 📺 pic.twitter.com/dnS0MahMQP
— beIN SPORTS USA (@beINSPORTSUSA) March 7, 2019
Bersama pelatih baru Jorge Sampaoli, Argentina menatap harapan baru setelah “nyaris” di 2014. Namun kembali lagi, kenyataan tak sesuai harapan. Messi sebagai kapten tim sering dibuat gagal paham apa yang diarahkan oleh Sampaoli.
Bahkan kekacauan sempat terjadi ketika kalah 3-0 melawan Kroasia di babak grup. Ide-ide Sampaoli tidak tersampaikan dengan baik. Sebagian besar pemain merasa tidak nyaman dengan pendekatan permainan Sampaoli.
Argentina and manager Jorge Sampaoli have “mutually agreed” to terminate his contract in the wake of the team’s disappointing 2018 World Cup campaign.
More: https://t.co/4QuFxcd5Cm pic.twitter.com/jud5FsB18Y
— BBC Sport (@BBCSport) July 15, 2018
Namun friksi tersebut akhirnya diselesaikan secara cepat. Alhasil Argentina mampu bangkit dan lolos dari fase grup. Namun bertemu Prancis di 16 besar, langkah mereka akhirnya terhenti. Messi kembali gagal meraih mahkota impiannya untuk keempat kalinya.
Messi Lebih Nyaman dengan Generasi Baru
Kini Piala Dunia 2022 akan jadi Piala Dunia terakhir bagi Messi sekaligus Piala Dunia kelimanya. Musim ini Messi berada di PSG. Ia bersama PSG menemukan sentuhannya kembali di usianya yang sudah menginjak 35 tahun. Ia kini sementara sudah menyumbang 12 gol dan 14 dari 19 pertandingannya bersama PSG.
Di timnas, sejak era pelatih Scaloni, Messi merasa lebih nyaman. Generasi pemain tua Argentina pun sudah hampir terkikis. Mungkin hanya tersisa dirinya dan Di Maria. Scaloni juga membebaskan Messi menemukan kenyamanannya sendiri di timnas.
🗣️ Lionel Messi: “The best thing about Scaloni is his communication and how he manages the group. He’s a very good coach with a very special personality.” pic.twitter.com/705tdjsNmF
— Barça Worldwide (@BarcaWorldwide) November 15, 2022
Generasi ini adalah generasi yang bukan pesaing bagi dirinya. Generasi yang merupakan bagian dari fans dirinya. Artinya, Messi kini benar-benar didukung penuh para juniornya. La Pulga merasa sangat dihargai sebagai senior.
Tim ini sangat memahami apa yang ia butuhkan. Mereka semua juga mengambil peran apa pun yang diperlukan untuk membuat Messi bersinar. Kenyamanan inilah yang tak ditemukan Messi di edisi Piala Dunia sebelum-sebelumnya.
🇦🇷Lionel Messi’s transformation & looks since making his FIFA World Cup debut with Argentina in 2006.
⌛️#TeamArgentina + #Qatar2022 #Messi𓃵|#FIFAWorldCup pic.twitter.com/StMibdFKGw
— FIFA World Cup Stats (@alimo_philip) November 21, 2022
Sumber Referensi : theathletic, goal, sportingnews


