Pernah nggak sih terlintas di pikiranmu ada klub yang dulunya merajai Premier League, sulit dikalahkan, dan ditakuti tim-tim besar kini terpuruk bahkan diambang kehancuran. Nah itulah yang dialami Manchester United.
Sudah lebih dari sedekade MU seperti kehilangan unsur magisnya. Berita buruk dari Manchester United ada saja setiap hari kayak rezim pemerintahan ini. Saking bapuknya, target Manchester United hanyalah agar tidak terdegradasi. Bayangkan, klub sekelas MU hanya memiliki target tidak terdegradasi? Kok nahas ya? Apa sebetulnya yang bikin performa Manchester United angin-anginan, yuk kita bahas bersama.
Namun, sebelum itu jangan lupa subscribe dan nyalakan lonceng notifikasinya agar tak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.
Kepergian Sir Alex Ferguson
Kembali pada tahun 2013. Tahun itu Manchester United baru saja memenangkan gelar Premier League ke-20. Namun jangan senang dulu, kesuksesan itu hanya kesenangan sesaat setelah diumumkan kabar pensiunnya Sir Alex Ferguson. Ia mengakhiri masa jabatannya setelah hampir 27 tahun memimpin menuju kejayaan.
Kepergian pria asal Skotlandia itu benar-benar mengarah pada fakta, bahwa klub besar seperti Manchester United memiliki nasib masa depan yang tidak pasti. Kepergian Sir Alex juga menandai era kegelapan bagi Manchester United.
Gagal di Era David Moyes
Fergie memang tak begitu saja meninggalkan Manchester United. Ia juga telah memilihkan penerus untuk melanjutkan legasinya di Theatre of Dreams. Dan sosok yang dipilihnya adalah David Moyes, rekan senegara yang sebelumnya cuma melatih tim sekelas Everton. Pilihan Fergie ini ternyata tak tepat.
Sebab penunjukan Moyes pada akhirnya justru menjadi titik awal kehancuran MU di Liga Inggris. Walaupun berhasil meraih Community Shield, tapi di liga, penampilan Manchester United. Buruknya penampilan Setan Merah membuat desakan untuk memecat Moyes mengemuka.
Ia pun sungguh-sungguh dipecat setelah Manchester United hanya bertengger di peringkat ketujuh, berjarak 13 poin dari Arsenal di peringkat keempat. Kegagalan mempertahankan gelar, plus tidak sanggup mengantarkan United ke Liga Champions menjadi aib bagi Moyes. Julukan The Chosen One pun akhirnya menjadi bahan ledekan. Usai tak dilatih Moyes, sementara United dilatih oleh mantan pemainnya sendiri, Ryan Giggs.
Pencapaian Mini Louis Van Gaal
Namun, pada musim 2014/15 kursi kepelatihan Manchester United kembali kosong. Kali ini justru pelatih top Belanda yang dipercaya menangani Setan Merah. Pelatih itu bernama Louis Van Gaal yang sebelumnya mengantarkan Timnas Belanda finish di urutan ketiga Piala Dunia 2014.
Selama dua musim menangani Setan Merah, Van Gaal membawa gelar Piala FA pada musim 2015/16. Tapi di Premier League, United tetap gagal. Louis Van Gaal hanya memimpin dalam 103 pertandingan di semua kompetisi bersama MU. Dengan catatan 54 kemenangan, 24 hasil imbang dan 25 kekalahan. Tak lama setelah itu, mantan pelatih Barcelona ini dipecat.
Hanya meraih Piala FA, tak sepadan dengan apa yang dikeluarkan MU untuk memenuhi hasrat Louis Van Gaal. Di era sang meneer, MU memboyong Angel Di Maria dari Real Madrid dengan banderol 75 juta euro.Tak cuma Di Maria yang jadi pembelian termahal, Memphis Depay, Matteo Darmian, Marcos Rojo, Daley Blind, Bastian Schweinsteiger, hingga Falcao menjadi beberapa yang dibeli waktu itu.
Treble Mini Jose Mourinho
Pemain-pemain tadilah yang jadi tanggungan pelatih berikutnya. Dan, kamu sudah tahu siapa pelatih berikutnya. Ya, Jose Mourinho. Pelatih yang juga keras kepala itu ditunjuk pada Juli 2016. Di era Mourinho inilah, Manchester United sangat boncos dalam pengeluaran, terutama untuk transfer.
Selama tiga musim di MU, Mourinho menguras uang klub ini hingga 6,59 triliun rupiah. Uang itu digunakan untuk membeli pemain-pemain berbanderol tinggi seperti Henrikh Mkhitaryan, Paul Pogba, Victor Lindelof, hingga Diogo Dalot. Dua nama yang disebut belakangan justru menjadi beban Manchester United musim ini, karena penampilan mereka yang sulit membuat orang tersenyum.
Dengan menghabiskan uang sebanyak itu, Mourinho memberikan treble mini buat United. Community Shield, Carabao Cup, dan Europa League setidaknya sukses dipersembahkan Mourinho untuk para Pengabdi Setan. Namun, MU era Mourinho masih gagal memberikan gelar Premier League. Dan itu, di mata penggemar, jelas sebuah noda yang cukup untuk membakar kemarahan pada Mourinho. Mourinho pun didepak pada musim ketiganya di United yakni tahun 2018.
Angin Segar Ole Gunnar
Setelah Mourinho, kursi pelatih bergeser ke Ole Gunnar Solskjaer. Para penggemar Setan Merah sudah tak asing lagi dengan nama Ole. Kedatangan Ole menjadi angin segar bagi para penggemar. Pembunuh Berwajah Bayi tersebut bisa dibilang salah satu legenda MU. Julukan itu ia dapat karena kemampuannya keluar dari bangku pengganti untuk mencetak gol di menit-menit akhir.
Namun penunjukkan Ole disertai keraguan. Betul bahwa ia sukses sebagai pemain, tapi di dunia kepelatihan, Solskjaer sama sekali belum pernah melatih klub elit Eropa, hanya pernah melatih Molde, Cardiff, dan Manchester United U-21.
Awal kedatangan pria asal Norwegia itu tampak biasa-biasa saja. Namun, di akhir masa jabatannya banyak konflik yang mulai memanas. Ole mengaku tak terkesan dengan beberapa sikap para pemain. Banyak pemain yang lebih mementingkan egonya sendiri. “Saya tak akan menyebutkan nama, tetapi saya kecewa ketika ada pemain yang menolak kesempatan menjadi kapten,” kata Solskjaer dikutip The Athletic.
Walaupun sukses memulangkan Cristiano Ronaldo, tapi Ole masih gagal membawa Manchester United juara di Liga Inggris. Ole hanya sempat membuat United menjadi salah satu pesaing ketat juara. Dan nyaris menjadi juara di Liga Eropa, sebelum takluk atas Villarreal di partai puncak.
Pelatih Interim Ralf Rangnick
Setelah pemecatan Ole pada 2021, United merekrut Ralf Rangnick untuk menjadi interim selama beberapa bulan sebelum akhirnya United mengontrak Ten Hag.
Ralf Rangnick seharusnya akan mengambil peran sebagai konsultan Manchester United setelah masa kepelatihannya berakhir pada bulan Mei. Tapi tanpa diduga, klub merilis pernyataan bahwa Rangnick akan dilepas sepenuhnya.
Seperti diketahui, Manchester United menunjuk Rangnick sebagai pelatih interim pada awal Desember 2021. Dia menggantikan Ole Gunnar Solskjaer dengan kontrak tujuh bulan. Penunjukkan Rangnick sebagai pelatih interim bertujuan agar manajemen klub mendapatkan seseorang yang bisa membangun Setan Merah.
Di era Rangnick, performa Ronaldo cenderung kurang baik ditandai dengan menurunnya jumlah golnya. Enam laga tanpa membobol gawang lawan adalah catatan buruk bagi peraih 5 Ballon D’or itu. Ronaldo baru mencetak tiga gol dari 10 laga yang dimainkan bersama Rangnick.
“Ronaldo seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol. Saya rasa di beberapa pertandingan terakhir kami membuat banyak sekali peluang,” ujar Rangnick yang dikutip Manchester Evening News.
Dari 29 pertandingan Premier League, MU era Rangnick cuma 11 kali menang dan menderita 9 kekalahan. Sementara itu Cristiano Ronaldo hanya mengemas 12 gol dalam 19 pertandingan MU di Premier League di bawah Rangnick.
Kedatangan Rangnick sebagai pelatih membawa masalah bagi Ronaldo. Ronaldo bilang bahwa membawa direktur olahraga Rangnick merupakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh siapapun. Ronaldo mempertanyakan tentang keberadaan dan posisi Rangnick di klub. Menurutnya, keberadaan Rangnick merupakan hal yang mengejutkan karena bagaimana bisa seseorang yang bukan pelatih dapat menjadi manajer di klub.
Setelah Erik ten Hag datang, situasi berubah lebih parah lagi. Pria berkewarganegaraan Belanda itu sepertinya tidak setuju dengan posisi dan keberadaan Rangnick. Bahkan mantan manajer Ajax itu tidak bertemu langsung dengan Rangnick, dan hanya berbicara dengannya lewat telepon. Rangnick merasa tidak mendapatkan dukungan, sedangkan pihak klub memilih melepasnya.
Ten Hag dan Kontroversinya Bersama Ronaldo
Di musim pertamanya, Ten Hag berhasil mengantarkan United ke babak final Piala FA. Sayangnya, di kejuaraan tersebut United kalah dari sang rival, Manchester City. Walau kalah di final Piala FA, Ten Hag masih bisa membawa MU meraih satu gelar, yakni Carabao Cup dengan mengalahkan Newcastle United di partai final.
Di musim itu pula, tiket ke Liga Champions berhasil dikasih Ten Hag ke United dengan finis di posisi ketiga di Premier League. Di Liga Champions, United kerap diselamatkan oleh Ronaldo di setiap pertandingan yang ia lakoni. Tapi Ronaldo juga pada akhirnya bersitegang dengan Erik ten Hag. Saat diwawancarai Piers Morgan, Ronaldo blak-blakkan bilang dikhianati oleh manajemen klub yang dipimpin Ten Hag.
Konfliknya dengan Ten Hag sebenarnya sudah memanas sejak Oktober 2022. Momen itu terjadi setelah Ronaldo menolak bermain dan ngacir ke ruang ganti sebelum laga melawan Tottenham Hotspur berakhir. Ten Hag kala itu langsung mencoret Ronaldo dari skuad utama selama kurang lebih satu pekan.
Usai wawancara dengan Piers Morgan, Manchester United pun memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Ronaldo. Hukuman itu membuat Ronaldo terpaksa berlatih dengan tim U21 dan tidak bermain pada laga kontra Chelsea. Sebelumnya, Ten Hag juga sempat murka ketika Ronaldo meninggalkan stadion lebih dulu sebelum laga uji coba pramusim melawan Rayo Vallecano berakhir.
Tak lama, Ronaldo akhirnya dilepas MU dengan status bebas transfer. Dengan perginya Ronaldo, MU justru dapat bermain lepas tanpa beban di setiap pertandingan. Tapi masalah tidak selesai di sana. Sebab ternyata Ten Hag adalah sosok yang mendatangkan masalah baru.
Keputusan dan gaya manajerialnya kerap dikritik. Selain itu, banyak pemain yang ternyata tak menyukai Ten Hag. Salah satu konflik yang timbul saat itu adalah persoalannya dengan Jadon Sancho. Ten Hag pernah mengabaikan Sancho, bahkan sang pemain dibuang. Hal ini lalu memanas setelah Sancho justru mengadu di media sosial terkait perlakuan Ten Hag padanya.
Ketika Manchester United berencana dijual, posisi Ten Hag terancam. Awalnya, dia mengira akan dipertahankan oleh pemilik baru. Namun, penampilan buruk di kompetisi liga, Ten Hag tak bisa terhindar dari pemecatan. Itu terjadi sekitar bulan Oktober 2024.
Kedatangan Ruben Amorim
Penampilan MU, terutama di Liga Inggris, sepeninggal Erik ten Hag sebenarnya memperlihatkan angin segar. Ruud van Nistelrooy yang ditunjuk sebagai manajer sementara berhasil membuat fans sedikit tersenyum. Tapi masa Ruudtje hanya sebentar. Pemilik baru menginginkan perombakan besar, termasuk di kursi kepelatihan. Dan jadilah, United membajak Ruben Amorim dari Sporting CP.
Setan Merah setuju membayar uang kompensasi senilai 12 juta poundsterling demi memaksa Amorim terbang dari Portugal ke Inggris. Amorim terkenal sosok pelatih yang cukup bagus. Sebelum dibajak MU, Sporting CP asuhannya bahkan belum terkalahkan. Ia juga sosok pelatih yang punya pakem formasi dan strategi. Tapi inilah justru melahirkan persoalan baru.
Alih-alih menjadi lebih baik, selama ditukangi Ruben Amorim, Manchester United justru mendekat ke zona degradasi. Selidik punya selidik, banyak pemain MU sekarang yang ternyata tak cocok dengan formasi tiga bek yang diterapkan Amorim. Menurut Ole Gunnar Solskjaer seperti dikutip The Athletic, MU era Amorim belum maksimal karena berisi skuad warisan pelatih sebelumnya. Menurut Ole, ini masalah klasik United. Mereka tak punya identitas karena selalu bergonta-ganti pelatih usai era Sir Alex Ferguson.
Efisiensi Anggaran Man United
Bagi para penggemar, masalah sebenarnya bukan di pemain atau pelatih. Pemilik, tiada lain adalah Keluarga Glazer adalah biang masalah MU sebenarnya. Bohir yang sudah menguasai MU sejak 2005 ini dianggap tak becus dalam mengelola klub dan hanya memanfaatkan United sebagai ladang penghasil dolar.
Oleh karena itu, ketika Sir Jim Ratcliffe membeli United dan akan menjadi orang di balik pengelolaan klubnya, penyambutan dari para fans begitu hangat. Tapi pergantian pengelola yang digadang-gadang akan memperbaiki kebobrokan MU, ternyata cuma semu. Ratcliffe justru membawa masalah baru.
Lihatlah bagaimana kebijakan efisiensinya justru berdampak besar. Selain sebagian besar pegawai MU dipaksa kehilangan pekerjaan, kondisi tim juga berdampak. Pengiritan membuat MU tak leluasa berdansa di lantai transfer. Parahnya lagi, MU yang terlanjur jor-joran di awal musim ketika masih ditangani Ten Hag, jadi tak memiliki anggaran di bursa transfer musim dingin.
Padahal bisa jadi, Ruben Amorim punya rencana untuk membeli sejumlah pemain di bursa transfer Januari kemarin. Akhirnya kan, lihat, hanya pemain seperti Patrick Dorgu yang bisa ditambahkan ke skuad Amorim. Saking banyaknya sumber masalah di United, sulit untuk menemukan satu yang paling berdampak yang membuat MU begini. Mungkin, satu-satunya cara agar MU kembali ke sedia kala adalah, ganti nama dan bancakan bubur merah putih.
Sumber: www.bola.net, transfermarkt.co.id, bbc.com, skysports-com, skysports.com, manutd.com, eurosport.com, espn-com, goal.com


