Di era sekarang, banyak orang membahas peran lini tengah superior macam Xavi-Iniesta-Busquets, maupun Kroos-Modric-Casemiro. Akan tetapi, pada era kejayaan sepak bola Italia di tahun 2000-an, terdapat trio legenda milik AC Milan yakni Pirlo, Gattuso, dan Seedorf.
Mereka berjaya pada masanya, tak khayal banyak prestasi yang mereka raih ketika bermain bersama. Trio yang menakutkan dengan berbagai revolusi peran yang identik. Menarik untuk beberapa kisah yang mengubahnya menjadi trio yang menakutkan kala itu.
Trio Pirlo, Gattuso, dan Seedorf datang ke AC Milan tidak secara berbarengan. Gennaro Gattuso adalah yang pertama kali datang ke Milan Pada musim 1999/2000 dari Salernitana. kemudian disusul Andrea Pirlo di musim 2001/02 dari Inter Milan dan Clarence Seedorf di musim 2002/2003 juga dari Inter Milan. Ketiganya baru bertemu dan merasakan bermain bersama di Milan sejak musim 2002/2003.
Gattuso-@Pirlo_official-Seedorf: three-man midfield perfection 🔝
Coach Carlo’s perfect mix: watch more, exclusively on our App 📲https://t.co/k2zluibzhxI diamanti preziosi nel centrocampo di Mister Ancelotti, in esclusiva sulla nostra App 📲@emirates #SempreMilan pic.twitter.com/3v9H3DTTez
— AC Milan (@acmilan) July 19, 2020
Racikan Peran Berbeda Ancelotti
Mereka dipertemukan oleh sosok Carlo Ancelotti. Pelatih Italia yang baru datang ke Milan pada November 2001 setelah menggantikan Fatih Terim yang dianggap gagal di awal musim 2001/02.
On this day in 2001, Carlo Ancelotti coached his first ever match in charge of AC Milan which ended in a 3-0 win over Perugia
Absolute icon 🔴⚫️ pic.twitter.com/SvhcxWvSZz
— Italian Football TV (@IFTVofficial) November 13, 2020
Kedatangan Ancelotti membawa perubahan besar di AC Milan, tidak terkecuali peran trio Pirlo-Gattuso-Seedorf. Ia langsung melakukan perubahan taktik secara revolusioner. Ancelotti membawa pakem formasi diamond 4-3-1-2 atau 4-1-2-1-2. Formasi yang mirip berlian tersebut sukses diterapkan Ancelotti pada musim 2002/03.
Ancelotti membutuhkan 1 trequartista dibawah 2 striker dan 3 gelandang sebagai kunci untuk mengendalikan permainan. Racikan lini tengah trio Pirlo, Gattuso, dan Seedorf dengan peran yang berbeda terbukti ampuh setelah diracik Ancelotti.
There is no better example of the strengths and weaknesses of the diamond formation than Ancelotti’s AC Milan, in the 2005 UCL final. They exemplified the strengths perfectly, but later capitulated. pic.twitter.com/2QeajbN7ni
— Jamie Scott (@JamiescottUV) October 13, 2020
Pirlo secara mengejutkan ditempatkan sebagai deep lying playmaker alias seorang playmaker yang posisinya di lapangan berada sangat dalam yakni di depan 4 bek Milan, mirip gelandang bertahan murni. Ia juga menjadikan Gattuso dan Seedorf di sisi tengah bagian kanan dan kiri untuk membantu dan membackup peran Pirlo di lapangan.
Peran trio tersebut berjalan tatkala peran ketiganya sangat khas dan berbeda. Seketika itu trio itu dikenal di Italia bak Pirlo sebagai penyihirnya, Gattuso sebagai prajuritnya dan Seedorf sebagai profesornya.
Gattuso sebagai aktor antagonisnya dengan tekel, permainan fisik, dan menghancurkan mental penyerang lawan, sedangkan Seedorf difungsikan Ancelotti untuk bergerak mobile dengan kualitas individu serta daya jelajahnya yang luas di daerah pertahanan lawan.
Kombinasi trio yang berhasil diramu Ancelotti itu mulai dicoba di pertandingan kualifikasi Liga Champions musim 2002/03. Di mana Milan bertandang ke klub, Slovan Liberec. Debut trio Pirlo-Gattuso-Seedorf dipakai di formasi berlian 4-1-2-1-2 di belakang Rui Costa, Inzaghi dan Tomasson.
Prestasi Trio AC Milan
Berbicara soal prestasi, pada musim pertama debut trio tersebut pada 2002/03 mereka langsung meraih gelar juara Coppa Italia bersama Ancelotti. Setelah mengalahkan AS Roma di final dengan agregat 6-3. Ini adalah gelar pertama mereka setelah dibentuk menjadi trio lini tengah Milan.
Kelahiran trio tersebut juga ditandai oleh kisah manis rengkuhan gelar Liga Champions musim 2002/03. AC Milan berhasil menang di final ketika bertemu Juventus dengan kemenangan adu tendangan penalti di Old Trafford. Ketika itu, meskipun salah satu dari trio tersebut yakni Seedorf gagal dalam membuat gol di babak adu penalti, Milan tetap keluar sebagai juara.
ON THIS DAY: In 2003, Andriy Shevchenko scored the winning penalty as AC Milan beat Juventus in the Champions League final at Old Trafford. pic.twitter.com/udfR56yizc
— Squawka (@Squawka) May 28, 2017
Kemudian mengawali musim berikutnya pada 2003/2004, mereka membawa pulang gelar UEFA Super Cup setelah mengalahkan FC Porto 1-0. Peran Gattuso ketika itu dalam merusak serangan lawan lewat tekel-tekelnya ke pemain Porto membuat AC Milan aman dari kebobolan. Dalam perjalanannya di Serie A musim 2003/2004, Trio itu akhirnya mampu mengantarkan AC Milan menjadi juara Serie A.
Pada musim berikutnya 2004/2005, trio ini di awal musim berhasil membawa pulang gelar Supercoppa Italia setelah mengalahkan juara Lazio 3-0. Penambahan gelar di musim itu bagi trio Pirlo Gattuso dan Seedorf tidak berhasil dilanjutkan.
Pasalnya mereka harus kalah dramatis di final Liga Champions melawan Liverpool lewat adu penalti. Ketika itu Pirlo gagal mengeksekusi penalti di babak adu penalti meskipun menciptakan assist bagi gol pertama Milan lewat Maldini. Sedangkan Gattuso tampil buruk dan melanggar Gerrard sehingga dihadiahi penalti yang berimbas Liverpool menyamakan kedudukan 3-3. Selain itu di liga domestik mereka juga gagal menjadi juara setelah hanya menjadi runner up di Serie a di bawah Juventus.
Sampai pada musim 2006/2007 ketika Ancelotti merubah formasi berliannya menjadi formasi mirip pohon cemara 4-3-2-1. Di mana peran trio itu sedikit bergeser. Seedorf didorong ke depan mendampingi Ricardo Kaka di belakang satu striker Inzaghi atau Gilardino. Sedangkan satu posisi tengah yang ditinggalkan Seedorf diisi oleh Massimo Ambrosini. Formasi itu dicoba Ancelotti selama musim itu dan terbukti berhasil.
Once upon a time at AC Milan…..
Remembering Ancelotti’s Christmas tree formationيوم ما في ميلان
تشكيلية شجرة عيد الميلاد لانشيلوتي#Ancelotti #christmas #ACMilan #WeAreACMilan #OmarMomani pic.twitter.com/rYiHY9FYXk— Omar Momani (@omomani) December 24, 2018
Keberhasilan yang berbuah gelar Liga Champions kedua bagi trio Pirlo-Gattuso-Seedorf dalam karirnya. Setelah menuntaskan dendamnya pada Liverpool di partai final dengan skor 2-1. Di mana peran Pirlo khususnya menjadi salah satu penyebab terjadinya gol pertama Milan lewat eksekusi tendangan bebasnya yang dimanfaatkan Inzaghi menjadi gol.
ON THIS DAY: In 2007, AC Milan beat Liverpool 2-1 in the Champions League final in Athens. pic.twitter.com/nmAPoKQmVg
— Squawka (@Squawka) May 23, 2016
Di musim berikutnya 2007/08, dua gelar lagi dipersembahkan trio Pirlo-Gattuso-Seedorf bersama AC Milan. Satu di ajang UEFA Super Cup dan satunya di FIFA Club World Cup.
Dan yang terakhir, semenjak ditinggal pergi Ancelotti, trio itu baru meraih gelar lagi pada masa kepemimpinan Max Allegri, yakni pada musim 2010/2011. Ketika itu meskipun seiring menuanya usia trio tersebut dan sering terkena rotasi dalam tim Allegri, mereka setidaknya hadir membawa mental juara pada tim yang berbuah juara Serie A kedua bagi trio itu di Milan. Itu adalah gelar terakhir mereka selama menjadi trio di Milan.
La Juventus termine sa saison de Serie A avec 83 points.
Faut remonter à 2011 (dernier titre non-Juve avant la série de 9 en cours de la Ville Dame) pour trouver un champion avec moins de points : AC Milan (82). pic.twitter.com/clJsOij90R— 𝗡𝗶𝗰𝗼𝗹𝗮𝘀 𝗩𝗶𝗹𝗮𝘀 𝘉𝘰𝘢𝘴 (@nicolas_vilas) August 1, 2020
Pirlo pun akhirnya pergi di musim 2011/2012 ke Juventus. Sedangkan Seedorf ke Botafogo dan Gattuso ke Sion di musim berikutnya. Era mereka berakhir, akan tetapi kisah manis era kejayaan mereka itu akan selalu dikenang oleh publik Milan maupun dunia sebagai salah satu trio lini tengah terbaik yang pernah ada di dunia.
🇳🇱 Clarence Seedorf
🇮🇹 Andrea Pirlo
🇮🇹 Gennaro GattusoYou can only keep two 🤔 pic.twitter.com/i4BhtIa1Tm
— GOAL (@goal) April 30, 2020
Sumber Referensi : thefootyblog, footiefantasy, copa90


