Mengingat Masa Kelam yang Pernah Melanda Aston Villa

spot_img

Layaknya pesona yang terpancar dari model cantik yang sedang berjalan di atas catwalk, pesona salah satu klub sepakbola Inggris, yakni Aston Villa juga terus terpampang nyata sejak juru taktik asal Spanyol bernama Unai Emery dipercaya sebagai arsitek tim sejak November tahun 2022.

Semua penikmat sepakbola angkat jempol buat Unai Emery, menyusul lonjakan performa yang dialami Aston Villa. Tim yang sebelumnya lebih dikenal sebagai tim medioker disulap oleh Emery menjadi tim penantang gelar Liga Inggris. Mereka bahkan kembali ke pentas Eropa musim ini.

Well, menyandang status sebagai tim medioker selama bertahun-tahun, membuat Aston Villa tak banyak memiliki kenangan manis untuk diceritakan. Ketimbang kisah manis, mungkin kisah tragis dari klub asal Birmingham ini lebih menarik untuk diceritakan.

Masa paceklik itu terjadi pada musim 2015/16 di mana jadi salah satu titik terendah The Villa selama berkiprah di sepakbola Inggris. Di akhir musim, Aston Villa harus menerima nasib mengenaskan. Seperti apa nasib mengenaskan itu?

Musim 2015/16 yang Kacau

Musim 2015/16 jadi mimpi buruk bagi para fans fanatik Aston Villa. Klub kesayangan mereka dipaksa menelan kekalahan hampir setiap pekannya. Ya, kekalahan tiap pekan! Dari 38 pertandingan yang dimainkan, tim berjuluk The Villans tersebut hanya memenangkan tiga pertandingan saja.

Tidak heran jika hingga akhir musim, mereka hanya mampu mengumpulkan 17 poin saja. Itu jadi pukulan telak bagi pemain dan fans yang senantiasa mendukung di tribun. Tak pernah terbesit sekali pun di benak fans bahwa akan muncul momen seperti ini. Villa terpaut 22 poin dari Sunderland yang finis satu tingkat dari zona degradasi.

Kata “memalukan” mungkin paling tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi di musim 2015/16. Finis di urutan terakhir membuat Aston Villa harus rela turun kasta. Ini jadi degradasi pertama sejak Villa berkecimpung di divisi teratas pada tahun 1987. Villa terdegradasi dengan jumlah poin terburuk ketiga dalam sejarah Liga Inggris. 

Sebetulnya Aston Villa memulai musim dengan cukup baik. Skuad asuhan Tim Sherwood berhasil memenangkan pertandingan pembuka melawan Bournemouth. Musim 2015/16 seharusnya jadi musim penuh pertama Sherwood sebagai manajer Aston Villa setelah ditunjuk pada pertengahan musim 2014/15. 

Sayangnya, Sherwood hanya manis di awal. Belum genap tiga bulan, ia sudah dipecat pada Oktober 2015. Setelah kemenangan atas Bournemouth, Sherwood hanya memberikan satu kemenangan dari sembilan pertandingan. Terlebih, komentarnya soal perasaan muak terhadap kondisi tim jadi evaluasi manajemen kala itu.

Sempat ditangani Kevin MacDonald, Remi Garde pun akhirnya ditunjuk untuk melanjutkan asa Aston Villa di Liga Inggris. Kemenangan atas Norwich City pada awal Februari memberikan secercah harapan. Ya, di momen ini emosi para fans kembali dipermainkan. Ketika keyakinan terhadap Garde mulai muncul, seketika langsung dipatahkan saat Aston Villa kembali mengalami kekalahan demi kekalahan hingga akhir Maret. 

Pelatih ke-4 Dalam Satu Musim

Tak ada pilihan lain selain memecat Remi Garde. Waktu yang kian sempit membuat Villa kesulitan mencari pelatih baru. Akhirnya Eric Black, yang sebelumnya berstatus sebagai asisten pelatih terpaksa harus naik jabatan sebagai pelatih interim hingga akhir musim 2015/16. Eric jadi pelatih keempat di musim ini. Doi yang minim pengalaman pun tak bisa berbuat banyak. 

Dari tujuh laga yang dipimpinnya, Aston Villa hanya memperoleh satu poin dari hasil imbang melawan Newcastle United. Villa hancur musim itu. 19 pertandingan tanpa kemenangan Villa antara Agustus dan Januari adalah yang terpanjang dalam sejarah klub. Eric memang tak becus dalam menangani tim, tapi pernyataan Eric Black di penghujung musim telah memancing keingintahuan media. 

Eric mengatakan kalau melatih Aston Villa jadi momen yang luar biasa baginya “Saya tak akan melupakan masa singkat ini. Tak ada pekerjaan sesulit menangani Aston Villa saat ini, mengingat hal-hal negatif telah begitu lama menyelimuti klub,” ucap Eric kepada Sky Sport. 

Sontak pernyataan Eric tersebut meninggalkan sebuah teka-teki. Apa yang sebenarnya terjadi terhadap klub kebanggaan masyarakat Birmingham tersebut? Jika Eric tahu sesuatu, mengapa dirinya hanya diam?

Kembali ke Tahun 2006.

Usut punya usut, terdegradasinya Aston Villa pada musim 2015/16 ternyata merupakan muara dari rangkaian masalah yang muncul di internal klub. Mulai dari intrik-intrik kecil yang terus bergulir dan akhirnya membesar layaknya bongkahan bola salju. Tapi, tak akan ada muara jika tak ada hulu. Lantas dari mana sumber masalah Aston Villa berasal?

Bencana Aston Villa terjadi pada tahun 2016, tapi permasalahan sudah mulai muncul sejak sepuluh tahun sebelumnya. Kemunculan masalah berasal dari internal klub yang berkutat antara keputusan pemilik klub yang terbilang terburu-buru dan menimbulkan efek domino yang dahsyat. Pemilik klub yang salah mengambil keputusan itu adalah Randy Lerner. 

Flashback ke tahun 2006, Randy Lerner, seorang miliarder dari Amerika Serikat mengambil alih kepemilikan Aston Villa pada pertengahan Agustus. Seperti yang diwartakan The Guardian, kedatangannya dengan membawa uang sebesar 62 juta pound atau setara Rp1,2 triliun ke Villa Park telah mengakhiri 35 tahun kepemimpinan Doug Ellis, sosok yang dikenal sebagai presiden seumur hidup di Aston Villa.

Rendy Lerner mengemban misi membawa Aston Villa meraih kesuksesan secara berkelanjutan. Pria yang kala itu berusia 44 tahun itu juga menegaskan bahwa untuk menuju tujuan tersebut fans harus bersabar. Karena rencana yang disusun oleh Rendy dan timnya tak akan terwujud dalam semalam.

Randy Lerner Keblinger

Alih-alih bersabar dan mengadopsi pepatah Jawa alon-alon asal kelakon, Randy Lerner justru keblinger. Diluar perkiraan, akuisisi pengusaha asal Amerika Serikat itu langsung berdampak positif bagi performa Aston Villa yang kala itu dilatih oleh Martin O’Neill. Ya meskipun cuma memperbaiki posisi klasemen, itu jadi kemajuan yang disambut suka cita oleh fans.

Musim sebelumnya, yakni musim 2005/06 Aston Villa hanya duduk di urutan 16. Sementara di musim 2006/07, Villa mampu mengakhiri musim di peringkat sebelas. Peningkatan itu disinyalir berkat investasi yang digelontorkan oleh Randy. Di awal musim 2006/07, ia mengeluarkan dana sekitar 22 juta pound untuk mendatangkan beberapa pemain baru. 

Angkatan pertama dari proyek Randy Lerner yang mungkin paling diingat adalah Ashley Young dari Watford serta duo Stiliyan Petrov dan Shaun Maloney dari Celtic. Melihat peningkatan tersebut, Randy semakin pede ngeluarin duit senilai 50 juta pound untuk merekrut pemain-pemain dengan kualitas yang lebih mantap macam James Milner, Emile Heskey, dan Carlos Cuellar.

Semakin banyak uang yang diinvestasikan, peringkat Aston Villa kian membaik. The Villans bahkan sempat menembus zona Eropa di musim 2008/09. Kesuksesan ini membuat Randy Lerner buta. Ia hanya memikirkan peningkatan kualitas tanpa memperhatikan keseimbangan finansial tim.

Pada akhir tahun 2009, bau busuk dari buruknya pengelolaan keuangan klub mulai tercium. Aston Villa untuk pertama kalinya menelan kerugian sebesar 46 juta pound (Rp909 miliar). Itu angka yang fantastis mengingat musim sebelumnya Villa hanya menanggung kerugian di angka 7,3 juta pound atau setara Rp144 miliar.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, banyak pembengkakan dalam pengeluaran tim. Dalam satu musim, biaya operasional, transfer pemain dan lain-lain meningkat sampai 50%. Agar pemain betah dan merasa jadi keluarga, Aston Villa meningkatkan gaji mereka. Tapi sayangnya, Villa justru sembarangan mengatur gaji staf dan para pemain. Sampai pada akhirnya, mereka kewalahan untuk memenuhi gaji tersebut.

Hutang

Situasi ini pun menimbulkan kepanikan. Apa yang terjadi pada Aston Villa menunjukan adanya kesalahan dalam pengambilan kebijakan keuangan. Pembelian pemain yang jor-joran jadi salah satu faktor utama dari membengkaknya pengeluaran Villa. Dalam tiga musim pertama, Randy Lerner telah menginvestasikan 125 juta pound (Rp2,4 triliun) hanya untuk pemain baru.

Randy yang keblinger nggak sadar kalau keputusannya untuk jor-joran menimbulkan hutang yang menggunung. Di tahun 2010, hutang bersih Aston Villa mencapai angka lebih dari 100 juta pound. Saking tingginya tuh utang, di era itu hanya empat klub yang memiliki hutang lebih banyak dari Villa. Mereka adalah Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Portsmouth.

Situasi ini pun membuat Aston Villa merombak komposisi tim. Randy dengan terpaksa mendepak Martin O’Neill yang sudah berjuang bersama untuk meningkatkan level permainan Villa pada akhir 2010. 

O’Neill dihempaskan begitu saja. Ia jadi korban kesalahan Randy Lerner yang gegabah dalam menginvestasikan uang. Situasi ini pula yang membuat James Milner, pemain yang digadang-gadang bakal jadi saksi suksesnya proyek Randy bergabung dengan Manchester City.

Merambat ke Kondisi Tim

Setelah memecat Martin O’Neill, Randy Lerner tak mampu mencari pengganti yang cocok. Itu akhirnya mempengaruhi performa tim di liga. Setelah musim 2009/10, Aston Villa tercatat mengalami penurunan performa yang begitu tajam. Hal ini ditandai dengan menurunnya produktivitas gol dan lini pertahanan yang mudah dibobol.

Saking gampangnya kebobolan, dalam beberapa tahun mereka selalu mengakhiri musim dengan selisih gol minus. Di musim 2011/12, Aston Villa hanya mampu finis di urutan ke-16 dengan selisih gol minus 16. Musim 2012/13 makin buruk lagi. Mampu mencetak 47 gol, Villa justru kebobolan 67 gol. Statistik yang sangat apa.

Kesalahan pengambilan keputusan menciptakan efek domino yang dahsyat. Randy Lerner telah membuat Aston Villa menjalani hidup bak sebuah roller coaster. Sempat beberapa kali tampil di Eropa, di era 2010-an Villa malah kembali ke setelan pabrik sebagai klub medioker penghuni papan bawah. 

Muara dari menggelindingnya bola salju permasalahan Aston Villa terjadi pada musim 2015/16. Di mana musim tersebut klub yang berjuluk The Villans itu mengalami degradasi pertama dalam sejarah berdirinya klub. 

Mulai dari sisi individu sampai kolektif, semuanya tak berjalan sesuai rencana kala itu. Aston Villa hancur sehancur-hancurnya. Setidaknya butuh dua kali pergantian kepemilikan untuk melihat Aston Villa kembali gahar di papan atas Liga Inggris.

Sumber: The Guardian, BBC, BR, Sky Sport, Pandit

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru