Menghitung Detik Kemunduran FC Barcelona di Kancah Eropa

  • Whatsapp
Menghitung Detik Kemunduran FC Barcelona di Kancah Eropa
Menghitung Detik Kemunduran FC Barcelona di Kancah Eropa

FC Barcelona dipaksa untuk menghadapi realita yang sejatinya tidak diinginkan. Kemunduran, adalah kata yang mungkin cocok menggambarkan bagaimana situasi mereka saat ini. Ketika semua bicara tentang kemenangan Young Boys atas Manchester United, dan betapa hebatnya Club Brugge yang berhasil menahan imbang Paris Saint Germain, kemenangan FC Bayern atas FC Barcelona dianggap biasa saja.

Pertandingan itu seolah hanya menyajikan kabar yang semua sudah tahu jawabannya. Memang benar bila Bayern adalah salah satu tim tangguh saat ini. Namun kita semua juga tahu bila lawan yang dihadapi adalah FC Barcelona. Klub dengan lima gelar Eropa yang dilatih oleh pria Belanda dengan kepercayaan diri tinggi.

Pertandingan Melawan Bayern Menggambarkan Wajah Barcelona

Akan tetapi apa? Semua tampak melazimkan kekalahan yang diterima Barcelona. Malah, tidak sedikit yang berkelakar bila Bayern seharusnya bisa menjebol gawang Ter Stegen dengan jumlah yang lebih banyak.

Hal itu seolah menunjukkan tentang betapa kekuatan FC Barcelona sudah tidak lagi berbahaya di mata dunia. Mereka tak difavoritkan untuk menjadi juara. Jangankan itu, keluar sebagai pemenang grup saja mungkin bakal menjadi suatu hal yang sudah cukup membanggakan.

Di laga melawan raksasa Bundesliga, sebanyak tiga gol bersarang di jaring kiper asal Jerman. Lebih mirisnya lagi, Manuel Neuer banyak disebut telah makan gaji buta, karena dari total lima tendangan yang dilancarkan penggawa Barcelona tidak ada satu pun yang mengarah ke gawangnya.

Melihat permainan Barcelona di laga itu, para penggemar yang merasa sangat kecewa kemudian nekat menunjukkan spanduk yang bertuliskan “Koeman Out”, sebelum akhirnya pihak klub menurunkannya.

Bicara tentang Koeman, pelatih tersebut pernah mengatakan bila dalam genggamannya, Barcelona bakal memiliki masa depan cerah.

Malah, dia juga percaya diri dengan mengatakan bila Barca akan menjadi kandidat kuat peraih gelar Liga Champions Eropa musim ini. Hal itu dikatakan setelah dia melihat perjalanan Chelsea yang berhasil meraih gelar juara pada musim lalu. Sebuah optimisme yang sejatinya bagus. Namun sayangnya, banyak yang justru meragukan kualitas Koeman dalam mengikuti langkah Tuchel.

Di laga melawan Bayern yang membuat mereka mulai diremehkan, Koeman tampak dibayangi dengan memori kelam 8-2 yang sempat didapat Barcelona. Dia mengaplikasikan skema yang disiapkan dengan sangat hati-hati. Koeman ingin mengandalkan serangan balik dengan fokus bertahan untuk mengalahkan Die Roten. Namun sayangnya penerapan taktik ini menjadi tidak maksimal karena Barcelona tidak memiliki pemain-pemain dengan kecepatan tinggi.

Hal ini membuat Memphis Depay dan Luuk De Jong kesulitan untuk menembus pertahanan Bayern.

Selain itu, lini tengah Barca juga tidak memiliki kreativitas. Jantung permainan el Barca kalah oleh dominasi Thomas Muller, Joshua Kimmich, dan Leon Goretzka. Frenkie de Jong terlihat beberapa kali melakukan salah passing, hingga Busquet yang dianggap tidak mampu bermain baik sebagai gelandang bertahan.

Dalam hal ini, chemistry antara pemain tengah dengan pemain depan juga menjadi sorotan. Saat mereka punya kesempatan untuk melakukan counter attack dan mendapatkan peluang untuk mencetak, tempo yang berjalan tidak jelas justru menghancurkan semuanya.

Bek FC Bayern seperti Davies, Upamecano, Sule, dan Pavard berhasil meredam segala serangan dan malah sukses membuat keadaan berbalik dengan cepat.

Penerapan strategi yang kurang maksimal kemudian menjadikan kesalahan Eric Garcia yang gagal menahan bola secara sempurna, sebagai awal dari petaka el Barca.

Satu hal perlu disorot lainnya adalah, Ronald Koeman juga tidak memiliki pembeda di bangku cadangan untuk mengubah arah laga. Ini terlihat dari langkah mereka yang malah memasukkan nama pemain seperti Yusuf Demir, Oscar Mingueza dan Gavi.

Langkah tersebut juga sekaligus menunjukkan kalau Barca tidak memiliki kedalaman skuad yang bagus, dimana hal itu berpotensi menjadi masalah serius dalam jangka waktu yang panjang.

Kegagalan Dalam Kurun Waktu Enam Tahun Terakhir

Apa yang menjadi keterpurukan Barcelona saat ini sejatinya sudah dirasakan sejak terakhir kali mereka menjuarai Liga Champions Eropa. Pada 2015 silam, bersama trio MSN Barcelona tampil begitu digdaya. Namun selepas itu, mereka tak lagi mampu naik ke panggung juara. Malah, perjalanan Blaugrana dalam beberapa tahun berikutnya lebih terlihat seperti sebuah gerbang yang akan membawa tim menuju lembah kehancuran.

Kita semua tentu masih mengingat tentang betapa hebatnya kalimat yang diucapkan Peter Drury dalam menggambarkan gol Kostas Manolas ke gawang FC Barcelona. Pada tahun 2018 lalu, Barcelona kalah secara mengejutkan dari AS Roma hingga harus merelakan satu tempat di babak semifinal kepada Serigala Roma.

Tak cukup sampai disitu, semusim berselang, mereka juga dikejutkan dengan performa Liverpool di kandang dengan ditandai oleh aksi ikonik Trent Alexander Arnold dari sudut lapangan.

Dua kekalahan secara mengejutkan, dalam kurun waktu dua tahun beruntun membuat Barcelona mulai dianggap sebagai serpihan tak bernilai. Apalagi, setelah mereka menelan kekalahan memalukan 8-2 dari FC Bayern di babak perempat final Liga Champions tahun 2020.

Sungguh, ini bukan perkara biasa. Barcelona terus mengalami kejatuhan disaat mereka ingin kembali ke puncak kejayaan.

Masalah yang dihadapi secara jelas juga tak sampai disitu saja. Pembelian pemain yang selama ini sempat timbulkan kabar menggelegar, banyak yang berakhir dengan sebuah penyesalan. Ousmane Dembele, Philippe Coutinho, Malcom, sampai Antoine Griezmann, tidak ada satupun yang menabur emas di tengah keringnya prestasi tim asal Catalan.

Investasi besar-besaran yang dikeluarkan Barcelona dengan membeli pemain bintang benar-benar hilang tak berbekas.

Yang lebih menyakitkan, Barcelona saat ini juga mulai jarang kirimkan bakat muda yang bersumber dari akademi mereka. Tidak ada lagi FC Barcelona yang pernah berjaya dengan sejumlah pemain akademi seperti Messi, Xavi, Iniesta, Busquets, Valdes hingga Pedro Rodriguez dalam satu tim yang sama. Pada pertandingan melawan FC Bayern beberapa waktu lalu saja, di posisi starter, tercatat hanya ada dua pemain dibawah usia 30 tahun yang datang dari akademi mereka.

Akhirnya, situasi klub yang kian temui tanda penyesalan memilih untuk memutus kerja sama dengan Josep Maria Bartomeu dan dewan direksi. Dengan warisan yang ditinggalkan, Barcelona dipaksa untuk menghadapi kekhawatiran yang lebih mendalam.

Joan Laporta yang kemudian terpilih sebagai presiden selanjutnya, saat ini sedang berusaha untuk membersihkan kekacauan yang ditinggalkan Bartomeu. Namun kita semua tahu bila pekerjaan itu tidaklah mudah. Barcelona yang kini hadapi masalah keuangan serius bahkan harus kehilangan Lionel Messi sebagai sosok legenda paling diandalkan.

Lalu, mereka juga sempat tersandung masalah dengan kabar yang mengatakan bila klub menjadi bagian penting dari rencana pembentukan Liga Super Eropa.

Yang menjadi sorotan penggemar lainnya adalah, Joan Laporta menunjuk Koeman sebagai juru latih Barcelona. Sejak awal kedatangannya, sudah banyak yang meragukan kemahiran pria Belanda.

Namun nasi telah menjadi bubur. Barcelona tidak punya pilihan. Mereka harus bertahan dengan pelatih yang disebut kurang kompeten untuk bersaing, ditambah dengan komposisi skuad saat ini yang banyak ditinggal pemain andalan.

Dengan situasi dan kondisi yang terbilang tidak meyakinkan, sulit rasanya untuk menaruh nama Barcelona sebagai kandidat terkuat juara. Bahkan, bila masalah tidak segera diselesaikan, kita berpotensi bakal menjumpai Barcelona sebagai tim yang tidak lebih dari sekadar penggembira di tahun-tahun berikutnya.

Kira-kira, mampukah Barcelona bertahan? Atau, malah dunia akan segera mendengar runtuhnya bangunan mewah, yang dulunya telah dibangun dengan kinerja banyak legenda?

Sumber referensi: goal, sportskeeda, marca

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *