Mengenang Kejayaan Wolfsburg, Akankah Terulang Kembali?

  • Whatsapp
Mengenang Kejayaan Wolfsburg, Akankah Terulang Kembali
Mengenang Kejayaan Wolfsburg, Akankah Terulang Kembali

Sebelum Borussia Dortmund mengusik dominasi Bayern Munchen di Bundesliga Jerman, Wolfsburg telah lebih dulu melakukannya. Tim berjuluk Die Wolfe alias Serigala itu mendobrak dominasi Bayern dan mengejutkan sepak bola Jerman kala berhasil menjuarai Bundesliga musim 2008/2009.

Pecundangi Bayern Munchen 5-1, Wolfsburg Juara Bundesliga Musim 2008/2009

Musim tersebut jadi musim yang cukup gila untuk Wolfsburg. Di pertengahan musim, mereka masih tertahan di posisi 9 klasemen, tertinggal 9 poin dari pemuncak klasemen Hoffenheim. Di paruh pertama, Die Wolfe hanya mampu memetik 7 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 5 kali menelan kekalahan.

Akan tetapi, kondisi berbalik 180 derajat di paruh kedua. Hasil imbang 1-1 melawan FC Koln di awal tahun 2009 seperti sebuah titik balik bagi Wolfsburg yang kala itu diarsiteki Felix Magath, mantan pelatih Bayern Munchen. Die Wolfe tampil sangat luar biasa dan nyaris berhasil sapu bersih seluruh pertandingan yang tersisa dengan kemenangan.

Dari 17 pertandingan di paruh kedua, Wolfsburg hanya kalah 2 kali, imbang sekali, dan sisanya selalu memetik poin penuh. Salah satu kemenangan paling ikonik yang mereka raih terjadi di pekan ke-26 kala kedatangan sang pesaing utama, Bayern Munchen.

Bertanding di Volkswagen Arena, Wolfsburg berhasil mencukur habis Bayern dengan skor telak 5-1. Di pertandingan tersebut, striker mereka Grafite berhasil mencetak gol indah. Striker asal Brasil itu mengecoh beberapa pemain bertahan dan melewati kiper Michael Rensing sebelum melepas sepakan backheel yang meluncur mulus ke gawang Bayern.

Di akhir musim, Wolfsburg berhasil mengumpulkan 69 poin, unggul 2 poin atas Bayern Munchen dan sukses mengklaim gelar juara Bundesliga pertama mereka sepanjang sejarah. Gelar tersebut juga jadi gelar perdana Wolfsburg sejak berdiri pada 12 September 1945.

Di bawah asuhan Felix Magath, Die Wolfe memang tampil garang. Dengan formasi andalan 3-5-2, mereka tampil menyerang dan sukses mencetak 80 gol dalam semusim. Salah satu kunci sukses mereka adalah penampilan apik duo penyerangnya, Grafite dan Edin Dzeko. Keduanya bahkan memuncaki daftar pencetak gol terbanyak.

Grafite terpilih sebagai top skor setelah berhasil mencetak 28 gol. Sementara Edin Dzeko menjadi runner up berkat torehan 26 gol. Kerja sama apik Grafite dan Dzeko di lini depan Wolfsburg membuat keduanya dijuluki Batman dan Robin.

Keberhasilan keduanya membentuk duet maut juga tak lepas dari suplai bola yang diberikan oleh Zvjezdan Misimovic. Gelandang serang asal Bosnia itu mengemas 7 gol dan 20 asis. Torehan asisnya tersebut menjadikannya sebagai pengumpul asis terbanyak di Bundesliga. Jika ditotal, ketiganya menyumbang 61 gol dan 41 asis bagi Wolfsburg di Bundesliga musim tersebut.

Selain sangat subur, Wolfsburg di musim 2008/2009 juga sangat disiplin. Di lini tengah, mereka punya seorang deep-lying playmaker dalam diri Josue. Geladang asal Brasil itu juga jadi kapten Wolfsburg di musim tersebut. Di bawah mistar gawang, Wolfsburg punya Diego Benaglio. Selain itu, kunci tangguhnya pertahanan Die Wolfe adalah keberadaan trio bek tangguh dalam diri Ricardo Costa yang diapit duo bek asal Italia, Andrea Barzagli dan Cristian Zaccardo. Di musim tersebut, gawang Wolfsburg hanya bobol 41 kali.

Sensasi Wolfsburg Musim 2014/2015: Juara DFB-Pokal dan Runner-up Bundesliga

Setelah menjuarai Bundesliga untuk pertama kalinya di musim 2008/2009, prestasi Wolfsburg mengalami pasang surut. Gonta-ganti pelatih membuat posisi mereka kerap terlempar keluar 5 besar dan membuat mereka kehilangan jatah tiket kompetisi Eropa.

Wolfsburg kemudian kembali bertaji sejak ditukangi oleh Dieter Hecking pada musim 2013. Perlahan tapi pasti, Wolfsburg membentuk skuad yang mengerikan. Mengusung formasi menyerang 4-2-3-1, starting eleven Die Wolfe diperkuat oleh nama-nama beken seperti Ricardo Rodriguez, Naldo, Luiz Gustavo, Ivan Perisic, serta trio Andre Schurrle, Bas Dost, dan tentu saja Kevin De Bruyne.

Puncak performa mereka terjadi di musim 2014/2015. Wolfsburg berhasil menjadi runner-up Bundesliga dan menyabet gelar juara DFB-Pokal untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di partai final, mereka sukses menumbangkan Borussia Dortmund dengan skor 3-1. Gol-gol Wolfsburg dicetak oleh Luiz Gustavo, Kevin De Bruyne, dan Bas Dost.

Sebagai juara DFB-Pokal, Wolfsburg berhak berlaga di DFL Supercup. Di pertandingan Piala Super Jerman tersebut, mereka sudah ditunggu oleh juara bertahan Bundesliga, Bayern Munchen. Tertinggal lebih dulu oleh gol Arjen Robben, Wolfsburg berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-89 lewat gol Niklas Bendtner. Lord Bendtner pula yang memastikan kemenangan Wolfsburg di babak adu penalti yang berakhir dengan skor 5-4.

Periode tersebut juga menjadi panggung Kevin De Bruyne bersama Wolfsburg. Di musim 2014/2015, ia berhasil mencetak 10 gol dan 21 asis di Bundesliga Jerman. Jumlah asisnya tersebut juga menjadi rekor tersendiri. Total di musim tersebut De Bruyne berhasil mencetak 16 gol dan 28 asis di semua kompetisi. Performa apiknya itu kemudian berbuah penghargaan Germany Footballer of the Year 2015.

Sebelum pindah ke Manchester City di musim panas 2015, De Bruyne mencatat 73 penampilan untuk Wolfsburg dengan sumbangan 20 gol dan 37 asis. Selain De Bruyne, periode tersebut juga menjadi periode terbaik Bas Dost. Selama bermain bersama De Bruyne, striker asal Belanda itu begitu dimanjakan. Di musim 2014/2015, ia berhasil mencetak 20 gol di semua kompetisi.

Bagai dejavu, pasca periode kejayaan tersebut, prestasi Wolfsburg kembali mengalami pasang surut. Pelatih baru datang silih berganti di tiap tahunnya. Namun hasilnya tetap sama, Wolfsburg nirgelar. Bahkan di musim 2016/2017 dan 2017/2018, Die Wolfe sempat 2 kali terancam degradasi.

Harapan pendukung Wolfsburg untuk dapat kembali melihat tim kesayangannya berjaya ada sejak musim lalu. Di bawah asuhan Oliver Glasner, mereka sukses finish di tempat keempat dan lolos ke Liga Champions. Sayang, Glasner yang berhasil mengangkat prestasi tim mundur di akhir musim dan menyebrang ke Frankfurt.

Menerka Nasib Wolfsburg Bersama Van Bommel, Akankah Kembali Berjaya?

Keputusan berani kemudian dibuat oleh manajemen Wolfsburg di awal musim 2021/2022. Die Wolfe menunjuk Mark van Bommel sebagai pelatih anyar mereka. Penunjukan tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra. Pasalnya, Van Bommel yang kini berusia 44 tahun masih minim pengalaman.

Selain itu, yang menarik dari penunjukan tersebut adalah fakta bahwa Van Bommel adalah bagian dari skuad Bayern Munchen yang dulu dipermalukan oleh Grafite dkk dengan skor telak 5-1 di musim 2008/2009. Namun, siapa yang mengira, di bawah racikan taktik mantan kapten timnas Belanda itu Wolfsburg justru tampil mengejutkan.

Wolfsburg yang didiskualifikasi dari DFB-Pokal musim ini dan hanya menang sekali dari 7 pertandingan pramusim justru berhasil menyapu bersih 4 pertandingan pertama Bundesliga dengan kemenangan. Mereka sukses menumbangkan VfL Bochum, Hertha Berlin, RB Leipzig, dan Greuther Furth. Hasil tersebut membuat Wolfsburg untuk sementara memimpin klasemen Bundesliga dengan poin sempurna.

Di bawah asuhan Van Bommel, Die Wolfe bermain dengan formasi 4-2-3-1. Satu hal yang paling menarik dari permainan mereka musim ini adalah keberanian anak asuh Van Bommel memainkan pressing tinggi. Di satu sisi, hal tersebut membuat lini serang Wolfsburg terkesan tumpul, tetapi di lain sisi membuat pertahanan mereka sangat kokoh.

Wolfsburg baru mencetak 6 gol dan baru kebobolan 1 gol dari 4 pertandingan. Striker Wout Weghorst yang musim lalu jadi top skor tim kembali jadi ujung tombak utama. Sejauh ini ia sudah mengemas 2 gol di Bundesliga. Yang menarik, ada nama Lukas Nmecha yang juga sudah berhasil mengemas 2 gol. Padahal, striker 22 tahun itu baru didatangkan di musim panas ini dan lebih banyak bermain sebagai pemain pengganti.

Meski minim mencetak gol, lini serang Wolfsburg musim ini cukup menjanjikan. Selain Weghorst dan Nmecha, mereka masih punya Luca Waldschmidt dan Dodi Lukebakio yang juga baru datang di awal musim ini. Di lini belakang, Wolfsburg mengandalkan nama-nama seperti John Brooks, Sebastiaan Bornauw, Kevin Mbabu, dan Maxence Lacroix.

Sementara di lini tengah Die Wolfe punya Ridle Baku yang musim lalu terpilih dalam Bundesliga Team of the Season. Gelandang yang mampu bermain sebagai bek kanan itu didukung oleh nama-nama senior seperti Maximillian Arnold, Josuha Guilavogui, dan Renato Steffen.

Bila melihat skuad yang ada, Wolfsburg sejatinya punya kesempatan untuk bersaing di papan atas dan menyaingi tim-tim favorit juara seperti RB Leipzig, Borussia Dortmund, dan Bayern Munchen. Mungkin masih terlalu dini menilai Wolfsburg akan kembali berjaya di akhir musim nanti.

Apalagi, manajemen Die Wolfe juga hanya mengontrak Mark van Bommel dengan durasi 2 tahun. Artinya, ini adalah proyek jangka pendek dengan tantangan besar. Namun sejauh ini, Wolfsburg dan Van Bommel berhasil menjawab tantangan tersebut dan hasilnya telah melebihi ekspektasi.

Wolfsburg harus ingat bahwa kunci untuk kembali meraih kejayaan adalah konsistensi. Sudah banyak contoh tim Bundesliga selain Bayern Munchen yang garang di awal musim tetapi kehabisan bensin jelang akhir musim.

Menarik melihat kiprah Wolfsburg di musim ini. Mereka telah menjelma jadi tim yang menarik untuk ditonton. Namun, apakah Die Wolfe mampu meraih kejayaan mereka kembali dan mengakhiri puasa gelarnya di bawah asuhan Mark van Bommel?

***
Sumber Referensi: Squawka, Goal, Bundesliga, Antara News, Get Football News Germany.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *