Hal-hal yang Membuat Liga Jepang Jadi Paling Berkualitas di Asia

  • Whatsapp
Hal hal yang Membuat Liga Jepang Jadi Paling Berkualitas di Asia
Hal hal yang Membuat Liga Jepang Jadi Paling Berkualitas di Asia

Seperti di Indonesia, sepak bola di Jepang juga pernah mengalami kondisi mengenaskan. Jika Indonesia terpuruk karena drama federasi hingga disanksi FIFA, Jepang terpuruk karena kondisi krisis ekonomi. Sekitar tahun 1997, kemerosotan melanda Negera Matahari Terbit.

Krisis ekonomi yang menghajar tempat kelahiran Naruto tersebut pun berimplikasi pada sepak bolanya. Sepak bola Jepang juga mengalami kemuraman yang hakiki. Jumlah penonton di Liga Jepang atau J-League mengalami penurunan dari 20 ribu jadi 10 ribu penonton.

Bacaan Lainnya

Bukan hanya itu, para sponsor dan investor yang bersedia menanamkan modal ke tim-tim di J-League menarik investasi mereka. Para investor tentu tidak mau melacurkan diri dalam ketidakjelasan dan resiko kebangkrutan. Segan tidak segan, para petinggi J-League pun mesti sesegera mungkin mengambil tindakan.

Tentu kalian tak perlu membayangkan kalau petinggi J-League bakal seperti PT Liga Indonesia. Petinggi J-League tidak hanya memikirkan cara untuk keluar dari problem yang dihadapi. Tapi sekaligus merencanakan sepak bola, khususnya J-League ke depan. Dari situlah rencana 100 tahun sepak bola Jepang mengemuka.

Terbukti, belum genap 100 tahun sejak 1992, Liga Jepang makin mengesankan saja. Dari rahim J-League lahir pemain-pemain hebat lagi berbakat. Sebut saja seperti Shinji Kagawa, Okazaki, Takefusa Kubo, sampai Takumi Minamino. Nama-nama tersebut pernah atau bahkan kini sedang bermain di liga top Eropa.

J-League tak hanya menyumbang pemain ke liga top Eropa, namun sekaligus menampung pemain kelas Eropa dan dunia. Hal yang mungkin tak sempurna dilakukan Liga Indonesia. Sementara, legenda sepak bola Brazil, Zico tercatat pernah bermain untuk Kashima Antlers, salah satu klub di Liga Jepang.

Kita juga tak bisa melupakan nama-nama kaliber David Villa, Fernando Torres, Bojan Krkic, Thomas Vermaelen, sampai Andres Iniesta yang pernah atau sedang bermain di Liga Jepang. Maka, wajar kalau J-League menjadi liga paling kompetitif di Asia. Lalu, apa yang sebenarnya bikin Liga Jepang begitu mengesankan? Apa kira-kira rahasianya?

Hubungan yang Baik

Titik awal dari semuanya tentu saja hubungan baik yang terjalin. Tak seperti di liga yang suporternya sedikit-sedikit tawuran, Liga Jepang justru aman dan damai. Semuanya hidup rukun dan saling berhubungan baik.

Meskipun pada mulanya sepak bola bukan menjadi favorit warga Jepang, tapi berkat kehadiran J-League sepak bola bisa menyatukan warga Jepang. J-League turut membangun lingkungan sepak bola yang inklusif bagi semua orang. Sikap inklusif ini ditunjukkan oleh suporter sepak bolanya.

Mereka saling menghargai suporter klub lawan. Tidak ada caci-maki di antara para pendukung. Bahkan sebelum kick off, para suporter saling mengingatkan untuk tidak berlaku diskriminatif dan pelecehan dalam bentuk apa pun, termasuk tentu saja rasisme.

Hal itu membuat semua manusia dari bangsa mana pun berduyun-duyun datang ke stadion, menikmati suguhan pertandingan J-League. Laki-laki, perempuan, anak-anak, transgender, pekerja kantoran, buruh, tukang gali, artis, pejabat, pokoknya siapa saja boleh datang. Tidak perlu takut terkena lemparan botol.

Selektif

Tak sembarang klub bisa masuk ke J-League. Manajemen J-League memberlakukan persyaratan tertentu bagi klub yang ingin tampil ke kasta tertinggi Liga Jepang. Sebelum masuk ke J-League Divisi 3 saja, klub harus memenuhi beragam syarat.

Selain harus finis minimal di peringkat keempat Japan Football League (JFL) atau kompetisi di bawah J-League, klub harus memenuhi kriteria lain, seperti stadion, jumlah penonton, dan pendapatan. Klub-klub yang bakal bertanding di JFL berasal dari tingkat regional atau prefektur.

Klub-klub tersebut harus berbentuk organisasi yang jelas dulu, memiliki home base atau stadion kandang, dan pelatihan untuk pemain muda. Setelah itu baru bisa melewati fase-fase lainnya. Tapi perlu dicatat juga, bahwa JFL ini adalah kompetisi nonliga.

JFL merupakan kompetisi untuk klub-klub regional saling sikut agar masuk ke J-League Divisi 3. Secara umum, pesertanya berjumlah 12 tim. Sementara di J-League Divisi 3 atau J3 League pesertanya ada 19 klub. J2 League, atau kompetisi di atasnya ada 22 klub, dan di divisi utama atau J1 League pesertanya berjumlah 18 tim.

Pengembangan Usia Muda

Klub yang bermain di J-League apa pun tingkatannya wajib mengembangkan akademi mereka sendiri. Selain tim utama, klub juga harus memiliki tim versi U-15 dan U-18. Tak cukup sampai situ, agar akademi tak sia-sia, tim utama wajib memasukkan paling sedikit dua pemain lokal dan satu pemain di bawah usia 21 tahun.

Hebatnya hal itu tidak sekadar perintah dan kembang lambe pejabat di J-League. Klub yang mencapai kesuksesan untuk mengembangkan pemain muda akan diberi suntikan dana sebagai bonus. Langkah ini sesuai proyek 100 tahun Asosiasi Sepak bola Jepang (JFA), dan hasrat yang disampaikan Manajer Umum Departemen Internasional J-League, Takeyuki Oya di SportPro yang menargetkan Jepang juara Piala Dunia tahun 2050.

Geliat Pendanaan

Dalam wawancaranya bersama SportPro, Takeyuki Oya begitu serius mengatakan kalau J-League bakal bersaing dengan empat liga terbaik di dunia. Ia yakin pada tahun 2030, J-League bakal menyusup atau malah menyalip liga-liga top Eropa.

Demi memuluskan langkah itu, Ketua J-League, Mitsuru Murai dikutip dari WFS telah memastikan pada tahun 2019 tidak ada waralaba Jepang yang berutang ke mereka, plus tidak ada kerusuhan antar penggemar dan skandal pengaturan skor. Pada 2016 J-League juga sudah menandatangani kontrak senilai USD 2 miliar atau Rp 28,4 triliun dengan penyedia layanan streaming di Jepang, DAZN.

Kontrak tersebut berdurasi 10 tahun, sebagian uang dari kontrak itulah yang bakal jadi bonus bagi klub yang sukses mengembangkan bibit muda. Para pimpinan J-League tampak cakap mengelola keuangan liga. Mereka tak hanya fokus ke pengembangan, tapi juga mencegah klub yang bakal bangkrut.

Salah satu caranya adalah dengan menyumbangkan dana stabilitas. Dana ini diperoleh dari sebagian hadiah untuk klub-klub J-League dan diambil juga sebagian dari USD 1,5 miliar atau Rp 21,3 triliun yang biasanya diberikan ke para pemenang. Klub yang nyaris bangkrut akan diberi tali kasih sebanyak USD 10 juta atau Rp 142 miliar. Seperti Oita Trinita yang pada 2009 nyaris gulung tikar, tapi gagal setelah diberi dana pinjaman dari J-League sejumlah USD 6 juta Rp 85,2 miliar.

Itulah cara Liga Jepang jadi yang paling berkualitas se-Asia. J-League dikelola dengan sangat profesional. Sistem yang mereka pakai juga dahsyat dan telah mengakar kuat. Ah, seandainya Liga Indonesia juga seperti itu. Kita kan jadi tidak banyak menggerutu, bukan begitu football lovers?

Sumber referensi: worldfootballsummit.com, lastworldonsports.com, lostinfootballjapan.com, itsroundanditswhite.co.uk, thesefootballtimes.com, japantimes.co.jp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *