Baru Mulai Saja, RCTI Sudah Bikin Tayangan Euro di Televisi Tak Menarik

  • Whatsapp

Kurang sebulan Euro 2020 digelar, stasiun televisi yang tergabung dalam grup MNC Grup sudah kampanye besar-besaran. Ya memang, mereka layak berkampanye karena sukses memegang hak siar Piala Eropa 2020 yang diadakan tahun ini. Itu artinya, seluruh penikmat sepakbola bisa menyaksikan Piala Eropa tanpa harus keluar biaya buat kuota.

Sebagai seorang yang malas betul menonton bola via streaming, saya tentu menyambut baik hal itu. Kapan lagi bisa nonton bola tanpa memikirkan kuota yang membengkak dan langganan layanan streaming kayak Mola TV? Saya tinggal nyetel televisi dan duduk manis.

Namun, kenikmatan menonton bola seperti saat Piala Dunia 2014 pada kenyataannya tak seindah apa yang dibayangkan. Apalagi saat saya sadar dan teringat bahwa RCTI dan MNC TV sedang menayangkan sinetron yang punya rating membanggakan. RCTI dengan sinetron “Ikatan Cinta” dan MNC TV yang punya sinetron “Raden Kian Santang”.

Tentu sinetron-sinetron tersebut menghancurkan harapan untuk bisa nonton bola di jam prime time. Jangan harap lah ya, bisa digeruduk emak-emak nanti kalau sampai “Ikatan Cinta” enggak tayang. Padahal di jam prime time ada laga Big Match yang sayang untuk dilewatkan, seperti Inggris versus Kroasia kemarin.

Waktu jadwal Kroasia versus Inggris, saya sudah semangat sekali buat nonton. Ya gimana enggak semangat, wong di televisi yang bersangkutan muncul iklannya. Namun semangat itu kemudian sirna, setelah tahu kalau televisi yang katanya Official Broadcaster Euro 2020, tidak menayangkan laga Inggris versus Kroasia.


Kegusaran saya terhadap stasiun televisi pemegang hak siar Euro 2020 tak sampai di situ. Kemarin, saya pengin nonton duel menarik antara Austria versus Makedonia Utara. Duel tersebut kelihatan memang tak semenarik Inggris versus Kroasia. Sebab Austria jelas punya komposisi pemain lebih baik daripada Makedonia Utara.

Akan tetapi, karena Austria sering disebut kloningan Jerman, dan Makedonia sukses meremukkan Die Mannschaft di babak kualifikasi, laga ini jadi menarik. Setidaknya saya pengin melihat seberapa kuat Pandev CS jika menghadapi imitasinya Jerman. Tim aslinya saja bisa dikalahkan, masa imitasinya enggak?

Sayangnya, belum juga dimulai kick off, acara Europhoria di RCTI itu justru tak membuat saya bereuforia. RCTI yang menghadirkan penyanyi kaliber Delon Thamrin membuat sesi bincang-bincang yang semestinya menambah wawasan tentang kedua tim, justru jadi ajang curhat dan pamer tim yang dibela.

Bukannya membahas susunan pemain dan prakiraan strategi yang bakal dipakai pelatih kedua tim, sang moderator justru mengulik masa lalu Delon yang suka main bola. Oke, mungkin agar penonton yakin kalau Delon ini pantas mengomentari sepakbola. Tapi kalau standarnya cuma pernah main bola, kenapa tidak mencari komentator dari para pemain tarkam? Toh pemain tarkam ini budgetnya lebih murah ketimbang penyanyi.

Selain mengulik masa lalu Delon yang konon hobi main bola, si moderator justru menanyakan tim mana yang komentator dukung. Moderator acara tersebut justru seolah-olah mengadu domba dua komentator yang hadir di studio: Delon dan Bung Dony. Hal itu malah kelihatan norak.

Siapapun komentator yang dihadirkan, harusnya membahas kedua tim secara fair dan objektif. Setidaknya komentator mesti punya gagasan yang argumentatif, jangan hanya melihat materi pemain tim yang didukung terus meremehkan tim lawan. Ini yang terjadi, Delon, si artis cum komentator bola semalam jadi itu malah memberikan pernyataan-pernyataan yang ala kadarnya. Tidak melakukan analisis, bahkan nama-nama pemain tim yang didukungnya sendiri pun tidak hafal.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Willy Limy (@willylimy)

Meski ia tandem dengan Dony Munaf yang punya sepak terjang menjadi komentator di RCTI Sport, acara tersebut tetap saja tidak menarik. Apalagi porsi Bung Dony lebih sedikit ketimbang Delon yang penyanyi itu. Alhasil, penonton tak mendapatkan wawasan tentang kedua tim yang bakal berlaga.

Hal semacam itu juga terlihat di pertandingan hari sebelumnya. Kala Denmark menghadapi Finlandia. Meski menghadirkan komentator yang berpengalaman dalam dunia sepakbola, Hamka Hamzah, tetap saja tak banyak yang dibahas. Strategi, seperti formasi dan perkiraan jalannya pertandingan hanya dibahas normatif. Misal akan menyerang atau bertahan, gitu doang.

Padahal kalau saja yang dihadirkan adalah komentator bola RCTI tempo dulu, penonton akan mendapat analisis yang menarik dan tentu saja menambah wawasan mengenai sepakbola, terutama strateginya. Terlepas dari itu, sebetulnya kita tak bisa menyalahkan komentator yang, seperti anak madrasah ketika diuji hafalan surat pendek itu sepenuhnya. Tapi konsep acara Euro dari pihak televisi.

MNC Grup, atau dalam konteks ini adalah RCTI tentu menginginkan tayangan Euro bernilai ekonomis. Dibuatlah seperti acara entertainment, dari acara-acara tambahan yang enggak ada korelasinya dengan sepakbola seperti sulap, sampai dihadirkannya komentator dan host artis yang pemahaman bolanya masih remidi.

Euro 2020 baru saja dimulai, dan RCTI sudah bikin tayangan Euro tak semenarik edisi 2016. Jika sudah begitu, ya lebih baik nonton Euro di layanan streaming berbayar. Atau, bagi masyarakat akar rumput, mencari link streaming ilegal adalah jalan keluarnya. Eits… tahan dulu cacian kalian pada penikmat streaming bola ilegal, paling tidak sampai televisi serius menayangkan event akbar sekelas Piala Eropa, dan Mola TV fasilitasnya enggak bapuk lagi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *