Menggali Seberapa “Gila” Ultras Legia Warszawa

spot_img

Sepak bola Polandia jauh dari kata yang terbaik bila dibandingkan dengan negara lain di Eropa. Namun, apabila menyangkut tentang gairah sepak bola di atas tribun, mungkin Polandia bisa dibilang yang paling menggilai sepak bola. Khususnya di Ibukota mereka, Warsawa.

Mengingat momen luar biasa pada tahun 2017, ketika aksi dari ultras Legia Warszawa membentangkan banner raksasa di belakang jaring gawang. Membentang spanduk raksasa bertuliskan “And The 35.000 € Fine Goes To…” atau yang berarti “Denda 35.000 euro akan berlaku untuk…”

Lalu beberapa menit kemudian dengan diiringi flare merah yang menyala, muncul spanduk raksasa bergambar seekor babi dengan lambang UEFA yang sedang memegang mangkuk berisi logo Legia Warsawa.

Aksi berani ini dilakukan oleh ultras Legia Warszawa untuk merespon tindakan UEFA yang telah mendenda mereka sebesar 35 ribu euro atau setara dengan Rp 556 juta. Lantaran mereka memasang koreo banner raksasa kontroversial beberapa bulan sebelumnya.  

Itu hanya sebagian kecil dari kegilaan para ultras Legia Warszawa. Sebenarnya seberapa fanatik suporter dari klub raksasa Polandia ini?

Ultras Legia Warszawa

Budaya sepak bola di Polandia berada di taraf yang cukup berbeda dengan budaya sepak bola di negara lain. Tak bisa dipungkiri bahwa sejarah bangsa Polandia adalah bekas jajahan Nazi dan Uni Soviet. Meski hal itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, namun luka itu masih membekas di bagian terdalam diri mereka hingga sekarang.

Loyalitas dan suatu kebanggaan tersendiri saat ultras Legia Warsawa mendukung tim kesayangan mereka di setiap laga tak diragukan lagi. Sebagian dari mereka terbagi lagi dalam kelompok yang lebih kecil. Contohnya klan Teddy Boys 95, klan paling brutal yang dimiliki Legia.

Dikenal karena kekerasan di luar stadion dan politik sayap kanannya, Teddy Boys 95 milik Legia Warsawa adalah salah satu kelompok hooligan paling terkenal di kalangan ultras Eropa Timur. 

Kisah sangar Teddy Boys 95 dimulai pada pertengahan tahun delapan puluhan. Para suporter Legia tidak hanya menghadiri pertandingan bersama-sama, tetapi mereka juga melakukan perjalanan untuk menghadiri pertandingan tandang sebagai satu kesatuan.

Teddy Boys menggantikan dominasi kelompok fanatik sebelumnya yang bernama Gitowcow yang telah memangkas sub kultur suporter-suporter muda seperti hippie, pop-up dan punk. Oleh karena itu Teddy Boys lebih dihormati karena menyatukan segala kalangan masyarakat.

Teddy Boys telah membangun gairah sepak bola baik di dalam maupun luar stadion. Sudah berdiri puluhan tahun dan telah melewati berbagai generasi, maka tak heran apabila hooliganisme menjadi hal yang lumrah selama pertandingan yang melibatkan ultras Legia Warsawa.

Bertarung dengan kelompok suporter lain sudah menjadi budaya turun-temurun di kalangan ultras Legia. Tak heran apabila beberapa kelompok secara teratur kerap bertemu untuk melakukan pertempuran tangan kosong. Mereka mengenalnya dengan istilah “Ustawka”. 

Hooligan-hooligan ini bukanlah kegiatan yang aneh di Polandia. Hal semacam ini merupakan hal biasa di beberapa negara Eropa Timur. Namun beberapa meyakini bahwa perkelahian antar ultras di Polandia dianggap yang paling brutal.

Konflik Dengan Klub

Kegilaan ultras Legia tak hanya kepada sepak bola atau suporter lawan saja. Untuk waktu yang lama, mereka juga memerangi klub yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan tak pro ultras. Dalam konflik ini mereka mengancam akan mengobrak-abrik klub beserta isinya.

Pada tahun 2002, Legia Warsawa memiliki beban hutang yang tak sedikit. Keadaan ini membuat klub berada di ambang kehancuran. Ultras Legia pun mengancam akan mengamuk apabila permasalahan ini tak segera diselesaikan.

Paceklik ini membuat CEO klub saat itu, Leszek Miklas pun dipecat dari pekerjaannya dan perusahaan media yang cukup terkenal di Warsawa mengambil alih klub dan memulihkan keuangan Legia dua tahun kemudian. 

Kegembiraan itu tak bertahan lama. Kenaikan harga tiket membuat ultras Legia marah. Mereka pun melakukan demo masal di luar stadion. Kemarahan ultras Legia pun memuncak saat Legia Warsawa kalah dari Lech Poznań di final Piala Polandia pada tahun 2004.

Ultras Legia yang habis kesabaran lantaran diejek ultras Lech Poznan, akhirnya turun dan menyerbu anggota Lech Poznan serta mencuri medali kemenangan milik Lech Poznan.

Ultras Legia pun mendapat kecaman dari pemilik klub. Petinggi klub merasa image klub tidak cocok dengan gaya mendukung ultras Legia. Hal itu semakin memperkeruh hubungan klub dengan ultras Legia. Terlebih kembalinya Leszek Miklas menjadi CEO klub membuat ultras Legia semakin terasingkan.

Kembalinya Ultras Legia Warszawa ke Tribun

Setelah hampir setahun ultras Legia tak boleh hadir di pertandingan kandang maupun tandang. Para suporter baru kembali ke tribun pada akhir tahun 2005 setelah mencapai kesepakatan dengan klub.

Setelah perundingan panjang itu, petinggi klub memutuskan untuk memilih ultras Legia agar tetap berada di tribun dan memecat kembali Leszek Miklas. Larangan pun dibatalkan dan Ultras Legia dapat menempati tribun di belakang gawang. 

Ultras legia seperti terlahir kembali dengan selalu menyuguhkan koreografi yang menakjubkan. Tribun selalu dipenuhi koreo yang mewakili masa-masa sulit suporter Legia Warsawa.

Against UEFA

Kembalinya ultras Legia ke tribun tak selamanya baik-baik saja. Mereka malah menyindir UEFA dengan koreografi, kala mereka didiskualifikasi dari Liga Champions, meski telah menang dengan agregat 6-1 melawan Celtic pada tahun 2014.

Legia didepak dari Liga Champions setelah diduga telah memainkan pemain yang tak memenuhi syarat pada pertandingan melawan Celtic.

Ultras Legia pun merespon di tribun. Mereka mengecam UEFA dengan membentangkan banner raksasa bertuliskan “6-1. Because football doesn’t matter. Money does.” atau yang berarti “ 6-1, sepak bola tidak penting yang penting adalah uang”

Setelah tulisan itu terbentang muncul gambar babi raksasa yang sama namun kali ini si babi yang berlatarkan logo UEFA itu memegang tulisan “6 lebih kecil dari 1”.

Koreografi Nazi

Ultras Legia selain fanatik dan militan, mereka juga dikenal sebagai ultras yang kreatif dalam mendukung tim. Momen yang juga tak terlupakan adalah saat mereka memasang spanduk raksasa bergambar tentara Nazi memegang pistol dan diarahkan ke kepala seorang anak kecil pada tahun 2017. 

Di bawah gambar tersebut bertuliskan “Selama pemberontakan Warsawa, tentara Jerman membunuh 160.000 orang termasuk di antaranya anak-anak”. Selain itu, ultras Legia juga membawa kertas mozaik yang disusun rapi sehingga membentuk bendera Polandia dengan angka 1944.

Angka itu merujuk kepada tahun peristiwa pemberontakan Warsawa terjadi. Artinya, pada saat itu para pendukung Legia Warsawa sedang menandai peringatan ke-73 tahun pemberontakan Warsawa. 

Namun, selain mendapat banyak pujian, akibat koreo kontroversial itu Legia Warsawa diganjar dengan denda sebesar 35 juta euro atau setara Rp556 juta.

https://youtu.be/K9Bs5b2t3iI

Sumber: Thefootballtimes, Hooliganfc, Hooligan tv, Panditfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru