Liga 2 Indonesia Bakal Digelar, Tapi Kok Format Grup?

  • Whatsapp
Liga 2 bakal digelar, Tapi kok format grup
Liga 2 bakal digelar, Tapi kok format grup

Walaupun tertatih-tatih, toh pada akhirnya kompetisi sepak bola di Indonesia kembali digelar. Kita semua tahu, sebelumnya kompetisi sepak bola di dalam negeri dipaksa vakum untuk waktu yang cukup lama. Kendati bukan karena sanksi FIFA, namun penggemar sepak bola lokal tentu gusar karena kompetisi yang tak kunjung dimulai.

Well, hajat seluruh ultras klub-klub di Indonesia pun dipenuhi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB). Kompetisi sepak bola dalam negeri pun digelar. Setelah Liga 1 Indonesia atau Liga BRI yang bahkan kini sudah melakoni pekan ke-4, PT LIB kini menginisiasi untuk menggelar Liga 2 Indonesia.

Bacaan Lainnya

Namun sabar dulu. Itu baru rencana yang konon bakal digelar 26 September 2021. Tapi pihak PT Liga Indonesia Baru mesti berkomunikasi dulu dengan pemerintah, terutama dengan koordinator PPKM Jawa-Bali sekaligus Menko Kemaritiman dan Investasi kesayangan kita, Lord Luhut Binsar Pandjaitan dan koordinator PPKM luar Jawa-Bali, Airlangga Hartarto.

“Soal tanggal 26 September itu masih nunggu pemerintah. Tapi dari kita berharap bisa terlaksana tanggal itu,” kata Direktur PT Liga Indonesia Baru, Ahmad Hadian Lukita seperti dikutip Tempo.

Liga 2 Indonesia sendiri akan diikuti oleh 24 klub. 24 klub tersebut termasuk di antaranya PSG Pati, Rans Cilegon FC, Sriwijaya FC, Mitra Kukar, Kalteng Putra, dan lain-lain. Adapun untuk formatnya LIB menjelaskan bahwa akan ada perbedaan dengan tiga musim sebelumnya.

Musim ini, Liga 2 akan memakai format laiknya turnamen. Bahwa akan ada empat grup yang masing-masing grupnya bakal dipenuhi 6 klub. Di fase grup alias babak penyisihan akan menggunakan sistem double round robin. Artinya, setiap klub akan bermain 10 kali. Namun jangan dibayangkan akan home away. Sebab di satu grup hanya akan ada satu tuan rumah.

Dua klub teratas di masing-masing grup (juara grup dan runner-up) akan lolos ke babak 8 besar. Di fase 8 besar ini tak memakai format knock-out alias fase gugur, melainkan bakal dibagi menjadi dua grup. Tentu setiap grup diisi 4 klub. Juara dan runner-up masing-masing grup akan melaju ke semifinal. Mulai semifinal formatnya berubah menjadi fase gugur.

PT LIB telah membagi tuan rumah di setiap grup. Kabarnya penentuan tuan rumah ini menggunakan sistem lelang. Hasilnya, tuan rumah Grup A, Sriwijaya FC; tuan rumah Grup B, Martapura Dewa United; Grup C tuan rumahnya Persis Solo; dan Grup D yang menjadi tuan rumah adalah Kalteng Putra.

Sedangkan untuk venue-nya, Grup A bakal digelar di Stadion Jakabaring, Palembang. Grup B bakal dihelat di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta. Sementara, Stadion Manahan Solo akan menjadi venue Grup C. Grup D sendiri akan digelar di Stadion Tuah Pahoe, Palangkaraya. Namun soal tuan rumah ini hanya berlaku pada babak penyisihan. Sisanya, atau dari fase 8 besar, LIB belum merencanakan lagi. Itu akan menjadi tanggung jawab PT Liga Indonesia Baru.

Bagaimana? Apakah sudah merasa perlu minum obat pereda nyeri kepala membayangkan format Liga 2 Indonesia? Kalau iya, itu wajar sih. Apalagi format Liga 2 memang sungguh di luar ekspektasi, anti mainstream, dan bikin kita semua memegang kepala. Kok bisa liga tapi formatnya fase grup seperti turnamen? Liga profesional tapi mirip turnamen antar RT.

Jika dicermati, format Liga 2 Indonesia sebetulnya tak cukup ideal. Mengapa begitu?

Soal Kontrak Pemain

Yang paling utama adalah soal kontrak pemain. Pemain dikontrak oleh setiap klub di Liga 2 adalah untuk bermain dalam satu musim. Estimasi waktunya itu sekitar 6 bulan. Nah, dengan format semacam itu, setiap klub minimal bermain sebanyak 10 kali dan itu berlaku juga untuk pemain.

Tapi yang jadi soal tentu tak semua pemain diberi menit bermain. Maknanya, tak semua pemain punya jatah bermain 10 kali sama dengan minimal laga klubnya. Timbul pertanyaan, apakah mungkin nantinya pemain hanya akan dibayar per pertandingan yang dia lakoni?

Sebenarnya, klub bisa saja bermain lebih dari 10 pertandingan, asalkan mereka lolos ke babak 8 besar. Di babak 8 besar jika menggunakan sistem double round robin lagi, setiap klub akan bertanding sebanyak 6 kali lagi. Tapi kalau tidak ya masing-masing klub mendapat jatah 3 kali lagi bermain. Bakal ada 4 klub yang lolos ke semifinal dan itu berarti punya kesempatan bermain minimal dua kali lagi.

Itu jika format semifinal, perebutan tempat ketiga (playoff), dan final tak memakai sistem home away. Jika iya, masing-masing klub mendapat kesempatan memainkan 3 laga hingga Liga 2 selesai. Sementara, satu klub yang berada di posisi juru kunci di masing-masing grup di fase penyisihan bakal terdegradasi.

Berarti akan ada empat tim yang turun kasta ke Liga 3. Tapi itu masih belum memungkinkan juga. Terlebih pelaksanaan Liga 3 sendiri masih belum jelas, bagaimana mau menentukan siapa yang bakal promosi ke Liga 2?

Tuan Rumah Diuntungkan sekaligus Direpotkan

Lantaran pandemi, putaran pertama Liga 2 bakal dihelat terpusat di satu tempat saja. Karena per grup sudah ditentukan siapa tuan rumahnya, maka pasti tuan rumah bakal diuntungkan. Ketika bertanding, tuan rumah, misalnya Sriwijaya FC di Grup A akan mendapat dukungan penuh dari para pendukung Laskar Wong Kito.

Tuan rumah juga akan diuntungkan secara finansial sebab tak perlu mengeluarkan biaya transportasi ke lokasi pertandingan. PT LIB pun akan memberikan subsidi Rp 400 juta bagi tuan rumah untuk melaksanakan pertandingan. Namun dalam hal ini, tuan rumah juga mesti menyediakan akomodasi berupa hotel yang representatif, tempat berlatih, dan tentu saja venue pertandingan.

Maka dari itu, di sisi lain tuan rumah juga direpotkan. Mereka tidak hanya mengurus persiapan timnya di Liga 2, melainkan juga mesti mempersiapkan jamuan bagi klub-klub lain. Tim tuan rumah pun wajib tabah, ikhlas, dan melapangkan dada kalau nanti biaya pelaksanaannya justru bakal membengkak.

Rawan “Main Mata”

Koordinator Lembaga Pemerhati Sepak bola Tanah Air, Save Our Soccer (SOS), Ahmad Marhali seperti dikutip Harian Terbit mengatakan, format tuan rumah di Liga 2 tidak fair. Tak bisa ditampik bahwa tuan rumah pasti diuntungkan. Dengan melelang tuan rumah dan memberinya biaya pelaksanaan lebih dekat kepada tindakan gratifikasi.

Main mata sangat mungkin terjadi. Tuan rumah tentu akan memanfaatkan posisinya agar bisa lolos ke fase 8 besar. Dengan format semacam itu dan tuan rumah yang sudah ditunjuk plus dikasih dana, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru boleh jadi sedang menggali kuburannya sendiri.

Padahal akan lebih fair dan bermartabat jika formatnya seperti Liga 1 BRI. Meski dihelat secara bubble to bubble, tapi lebih fair karena tidak ada klub yang bermain di markasnya sendiri. Jika format sesuai rencana, LIB mesti siap apabila muncul masalah yang bisa menggoyang PSSI seperti di era La Nyalla Mattalitti, Djohar Arifin, Nurdin Halid, dan Edi Rahmayadi.

Namun begitu, kita perlu mensyukuri apa yang ada. Jika petinggi dunia sepak bola tanah air masih memilih jalan ruwet ketimbang yang wajar-wajar saja, ya kita cukup memakluminya. Apalagi mendapat izin menggelar kompetisi di tengah pandemi kan tak segampang menghadiri acara pernikahannya Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah.

Sumber referensi: goal.com, harianterbit.com, tempo.co, football5star.com, Box2BoxBola.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *