Mengenang Jens Martin Knudsen : Kiper Yang Selalu Pakai Kupluk di Setiap Pertandingan

  • Whatsapp
Mengenang Jens Martin Knudsen : Kiper Yang Selalu Pakai Kupluk di Setiap Pertandingan
Mengenang Jens Martin Knudsen : Kiper Yang Selalu Pakai Kupluk di Setiap Pertandingan

Selain karena kehebatannya di bawah mistar, kiper juga dikenal karena pernak-pernik yang dipakainya. Seperti Jorge Campos, penjaga gawang timnas Meksiko era 90-an yang selalu mengenakan jersey berwarna-warni di setiap pertandingannya. Lalu, ada pula Petr Cech yang memakai helm di kepalanya.

Namun, jauh sebelum Petr Cech yang melegenda dengan helm di kepalanya, telah ada penjaga gawang yang juga selalu mengenakan penutup kepala dalam setiap pertandingan yang dijalaninya. Dia adalah Jens Martin Knudsen. Namanya mungkin terdengar asing di telinga pecinta sepak bola. Maklum, dirinya hanyalah kiper tim nasional Kepulauan Faroe.

Mendengar timnas Kepulauan Faroe saja masih terdengar asing, apalagi dengan pemainnya. Namun, Knudsen punya ciri khas tersendiri yang membuatnya dikenal publik. Yakni, pelindung kepala yang selalu ia pakai setiap kali berlaga, bukan helm rugby seperti yang dipakai Petr Cech, namun topi berbandul.

Yang dipakai Knudsen itu lebih mirip tutup kepala orang-orang Sikh di India. Atau jika di Indonesia disebut dengan Kupluk. Ada juga yang menyebutnya mirip dengan perban yang digunakan untuk membungkus kepala orang yang terluka. 

Seperti perpaduan antara topi dengan helm. Berwarna putih dan memiliki jambul di atasnya. Media di Inggris menyebutnya sebagai “The Keeper with the Bobble Hat” (Kiper dengan topi jambul putih).

Knudsen memakai topi berbandul itu bukan tanpa alasan. Ia memakainya untuk melindungi kepalanya yang pernah alami gegar otak. Saat itu di usianya yang masih 14 tahun, dia pernah terjatuh ketika bermain sepakbola bersama rekan-rekannya. Kepalanya terbentur tanah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dan divonis gegar otak ringan. Sejak itulah, ia mengenakan pelindung kepala setiap kali bertanding.

Dengan ciri khasnya tersebut, Knudsen mudah dikenali dan menjadi seorang legenda. Torsten Frings dari timnas Jerman dan Thierry Henry pemain timnas Prancis, bahkan hanya mengetahui Knudsen ketika timnas negaranya bakal bertanding melawan Kepulauan Faroe.

Bagi kebanyakan pesepak bola top Eropa, ketika timnasnya menghadapi Kepulauan Faroe, maka yang pertama kali terlintas di benak mereka adalah sosok Jens Martin Knudsen.

Bahkan, pada tahun 2002, Torsten Frings yang saat itu memperkuat Jerman pada Kualifikasi Euro 2004 Group 5, pernah mengatakan, “Yang saya tahu tentang mereka (Kepulauan Faroe) adalah pelatih mereka yang orang Denmark dan penjaga gawang mereka yang memakai topi berbandul,”.

Lalu, dua tahun kemudian, Thierry Henry menyatakan hal yang tidak berbeda jauh dengan Frings sebelum Prancis menghadapi Kepulauan Faroe. “Kiper adalah satu-satunya yang saya tahu. Saya tidak mengenalnya. Saya hanya tahu topinya,”.

Pengakuan dua pesepak bola tersebut menjadi bukti betapa populernya Jens Martin Knudsen di Eropa pada saat itu. Meskipun negaranya tergolong sebagai tim antah berantah, yang bahkan selalu jadi bulan-bulanan di setiap babak kualifikasi Piala Eropa dan Piala Dunia.

Knudsen mengawali karir sepakbolanya sebagai pemain amatir untuk tim lokal NSI Runavik. Pada 1992, dia pindah ke Gl Gota untuk memenangkan medali Kejuaraan Nasional Kepulauan Faroe, 4 kali berturut-turut pada 1993-1996. Pada masa itu, kiper kelahiran 11 Juni 1967 itu adalah penjaga gawang terbaik Kepulauan Faroe. 65 penampilan untuk timnas Kepulauan Faroe menjadi bukti shahih kehebatan Knudsen. 

Debut Knudsen membela timnas terjadi pada Agustus 1988 saat melawan Islandia, di mana itu adalah pertandingan pertama Kepulauan Faroe setelah diakui FIFA. Dua tahun kemudian, atau pada 1990, Kepulauan Faroe membuat kejutan dengan berhasil mengalahkan Austria 1-0 di ajang kualifikasi Piala Eropa 1992. Knudsen menjadi bintang lapangan berkat aksi gemilangnya selama pertandingan.

“Setelah pertandingan melawan Austria, kami bisa saja menjadi orang bodoh terbesar di Eropa. Jika kami kalah 0-10, saya akan menjadi orang bodoh terbesar di dunia (karena tutup kepala putih yang oleh sebagian orang disebut konyol),” ujar Knudsen di situs resmi UEFA pada 2007.

Di level klub, Knudsen pindah ke klub Islandia, Leifur, usai memperkuat Gl Gota selama lima tahun. Ia hanya bertahan dua musim di Islandia, sebelum kemudian merumput bersama tim Skotlandia, Ayr United. Petualangannya di sejumlah klub kemudian diakhiri dengan bermain sebagai pemain-pelatih di klub NSI.

Berkat topi berbandul yang Knudsen pakai, ia seringkali mendapat tawaran untuk menjadi bintang iklan untuk sejumlah produk, baik di negara kelahirannya maupun di negara-negara tetangga. 

Knudsen ternyata bukan hanya seorang pesepakbola. Ia juga pesenam dan pemain olahraga bola tangan. Di olahraga senam, Knudsen punya medali emas dalam Kejuaraan Nasional Senam Kepulauan Faroe. Dia juga sempat mewakili Faroe di sejumlah kompetisi internasional. Untuk olahraga bola tangan, Knudsen bermain sebagai pemain lapangan dan tercatat bermain secara reguler di kompetisi bola tangan Kepulauan Faroe bersama Tjaldur.

Status Knudsen adalah pesepak bola semi profesional, jadi dia bebas memilih profesi lain untuk menambah pendapatannya. Knudsen diketahui juga berprofesi sebagai sopir truk forklift paruh waktu di pabrik pengolahan ikan di kota pelabuhan Runavik. Ketika sedang tidak ada aktivitas sepak bola, ia bekerja di sana. Ketika panggilan negara datang, dia meminta izin atasannya untuk berlatih dan bertanding dengan timnas.

Knudsen sendiri pensiun sebagai pesepakbola di usia 40 tahun, tepatnya pada tahun 2007. Meski dia belum pernah tampil di kompetisi sekelas Liga Champions atau Liga Europa, bahkan piala dunia, Knudsen tetaplah seorang legenda. Karena berkat dirinya, sepak bola Kepulauan Faroe setidaknya punya nama di belantika sepakbola Eropa dan dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *