Mengenang Calcio Catania, Tim Legendaris yang Baru Saja Bangkrut

spot_img

Bagai sebuah penyakit yang tak kunjung sembuh, hanya dalam waktu 1 tahun, 2 klub Liga Italia dinyatakan bangkrut. Setelah Chievo Verona, kini nasib tragis itu menimpa Calcio Catania. Belum lama ini, klub berjuluk Gli Elefanti yang kini berkompetisi di Serie C itu dinyatakan pailit oleh pengadilan kota pada Rabu, 22 Desember 2021.

SIGI, sebuah konsorsium yang menjadi pemilik Catania dilaporkan punya utang sebesar 56 juta euro. Karena hal tersebut, klub asal Pulau Sisilia itu dilaporkan telah menunggak gaji para pemainnya. Menurut laporan para pemain yang dirilis pada 22 Oktober 2021, gaji mereka belum dibayar sang pemilik klub sejak bulan Juli 2021.

Bangkrutnya Calcio Catania tentu jadi kabar buruk bagi sepak bola Italia. Memang, dibanding Chievo Verona yang lebih dulu bangkrut, nama Catania mungkin lebih asing di telinga pecinta sepak bola tanah air. Namun jangan salah sangka, Calcio Catania adalah salah satu klub legendaris yang punya sejarah penting di Liga Italia.

Calcio Catania, Salah Satu Klub Legendaris di Italia

Tak bisa dipungkiri bahwa bangkrutnya Calcio Catania bakal meninggalkan banyak kenangan. Salah satunya adalah laga derbi mereka dengan Palermo yang dijuluki “Derby di Sicilia”. Dinamakan demikian karena kedua tim tersebut berasal dari Pulau Sisilia yang terletak di Selatan Italia.

Derby di Sicilia atau Sicilian Derby tergolong laga derbi underrated. Jarang terdengar, derbi tersebut nyatanya menjadi salah satu derbi lokal terpanas di sepak bola Italia. Sayangnya, baik Palermo maupun Catania jarang berada di divisi yang sama, sehingga laga derbi ini cenderung jarang digelar.

Di Serie A saja, Catania dan Palermo baru bertemu sebanyak 18 kali. Namun, saat Derby di Sicilia bisa digelar, pihak kepolisian setempat dijamin bakal siaga satu. Sebab, rivalitas pendukung kedua klub sangat mendarah daging hingga membuat derbi ini beberapa kali diwarnai oleh kericuhan.

Salah satu laga Derby di Sicilia yang paling berdarah terjadi pada 2 Februari 2007. Kala itu, seorang polisi bernama Filippo Raciti tewas dalam kerusuhan pasca derbi yang digelar di kandang Catania, Stadio Angelo Massimino. Akibat peristiwa tersebut, FIGC menangguhkan seluruh pertandingan sepak bola di Italia, baik di level profesional maupun amatir selama seminggu.

Catania sendiri kemudian mendapat hukuman berupa larangan menggelar pertandingan kandang di Stadio Angelo Massimino. Mereka mesti menggelar pertandingan kandangnya di tempat netral tanpa kehadiran penonton, sementara Stadio Angelo Massimino baru bisa menggelar laga kandang lagi di bulan September 2007.

Karena peristiwa berdarah itu pula, pemerintah Italia kemudian menerbitkan aturan baru yang bernama “Decreto Pisanu”, sebuah undang-undang baru yang mengatur seluruh klub sepak bola Italia untuk memenuhi standar keamanan dan keselamatan khusus di stadion mereka. Aturan itu pula yang melarang segala jenis petasan, bom asap, ataupun molotov masuk ke dalam stadion.

Selain melahirkan undang-undang baru, Calcio Catania juga pernah menjadi pusat kontroversi. Lewat sebuah kasus bernama “Caso Catania”, Gli Elefanti adalah tim yang menyebabkan kontestan Serie A Italia berjumlah menjadi 20 tim sejak musim 2004/2005.

Prestasi dan Memori Indah Calcio Catania di Serie A

Dua kasus tersebut menjadi bukti betapa legendarisnya Calcio Catania. Selain punya pengaruh besar terhadap Liga Italia saat ini, klub asal Pulau Sisilia itu juga punya keunikan dalam hal julukan dibanding klub Liga Italia lainnya.

Calcio Catania punya beberapa julukan. Yang pertama adalah “I Rossazzurri” yang artinya Si Merah Biru. Julukan tersebut diambil dari warna tim Catania yang bergaris merah dan biru. Kabarnya, warna merah adalah simbol dari api Gunung Etna, sementara biru adalah simbol dari birunya Laut Ionia. Julukan yang kedua adalah “Gli Etnei”. Julukan tersebut diambil dari nama Gunung Etna yang jadi ciri khas Kota Catania.

Namun, julukan paling unik dari klub tersebut adalah “Gli Elefanti” yang artinya gajah. Julukan tersebut merujuk pada julukan Kota Catania yang dijuluki “The City of the Elephant”. Di Piazza del Duomo terdapat patung gajah terkenal yang terbuat dari batu vulkanik. Konon kabarnya, patung tersebut diperkirakan telah dipahat pada zaman Romawi.

Memang, sebagai sebuah klub yang sudah berdiri sejak 27 Juni 1929, Gli Elefanti bukanlah klub yang begelimang prestasi. Trofi tertinggi yang pernah diraih Catania hanyalah trofi juara Serie B musim 1954, selebihnya mereka hanya menjadi kampiun di kasta bawah.

Meski bukan tim yang patut diperhitungkan di Liga Italia, tetapi Calcio Catania pernah mencetak beberapa legenda. Namun, jika membicakan Catania, kita mesti mengingat terlebih dahulu seorang Giuseppe Mascara. Membela Gli Elefanti dari tahun 2003 hingga 2011, Mascara adalah top skor sepanjang masa Catania. Selama membela klub asal Pulau Sisilia itu, ia total mencetak 60 gol dalam 238 penampilan.

Selain Mascara, tokoh lain yang cukup terkenal adalah Diego Simeone. Jauh sebelum meraih sukses di Atletico Madrid, Simeone pernah melatih Catania selama 6 bulan dari bulan Januari hingga Juni 2011. Selama periode singkat itu, ia berhasil membantu Catania lolos dari jeratan degradasi. Kala itu, beberapa nama yang dilatih Simeone antara lain, Matias Silvestre, Ezequiel Schelotto, Pablo Ledesma, Mariano Izco, hingga Takayuki Morimoto, dan Maxi Lopez.

Namun musim terbaik Calcio Catania di Serie A terjadi di musim 2012/2013. Kala itu, mereka dilatih oleh Rolando Maran. Ia berhasil membawa Gli Elefanti finish di peringkat 8 Serie A, setingkat di atas posisi Inter Milan. Dengan raihan 56 poin dalam 38 pertandingan, tim tersebut memenangkan pertandingan kandang terbanyak dalam sejarah klub dan mencetak rekor jumlah kemenangan terbanyak dalam satu musim di Serie A.

Di masa kepelatihan Rolando Maran, skuad Catania berisikan beberapa nama ikonik yang menjadi legenda klub, seperti Mariano Andujar, Nicola Legrottaglie, Giuseppe Bellusci, Francesco Lodi, Papu Gomez, hingga Gonzalo Bergessio.

Bangkrut! Calcio Catania Mesti Memulai Lagi dari Awal

Sayangnya, tak lama setelah masa indah itu, Calcio Catania terdegradasi dari Serie A. Di akhir musim 2013/2014, mereka hanya sanggup mengumpulkan 32 poin dan finish di urutan ke-18. Ironisnya lagi, mereka juga hanya sanggup bertahan semusim di Serie B setelah di musim 2014/2015, pemilik klub saat itu, Antonio Pulvirenti dan CEO Catania, Pablo Gustavo Cosentino terbukti terlibat dalam kasus pengaturan skor di 5 pertandingan Serie B.

Sejak saat itu hingga sekarang, Calcio Catania terus terjebak di Serie C, kompetisi kasta ketiga di piramida sepak bola Italia. Dengan dinyatakan pailit pada 22 Desember 2021, nasib Calcio Catania kini berada di ujung tanduk. Imbas dari gagalnya sang pemilik klub membayar gaji pemain tepat pada waktunya, Catania telah dihukum pengurangan 2 poin oleh Komite Disiplin.

Gli Elefanti mungkin masih bisa melanjutkan dan menyelesaikan Serie C musim ini. Namun, semua itu tergantung dari keputusan Pengadilan Kota Catania yang kini mengawasi segala gerak-gerik mereka. Yang pasti, mulai musim depan Calcio Catania mesti memulai lagi dari awal.

Meski bangkrut dan harus membangun ulang kekuatannya, tetapi banyak penggemar mereka dan pecinta sepak bola Italia yang masih menjunjung tinggi klub dan tentu saja mengingat Calcio Catania sebagai bagian penting dari sejarah Serie A.

***
Sumber Referensi: News.in-24, Football Italia, Football Italia, BoxtoBox, Blogsicilia.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru