Mengenal St. George’s Park, Markas Mewah Timnas Inggris di Euro 2020

  • Whatsapp

Prancis punya ‘Clairefontaine’, Spanyol punya ‘Ciudad del Futbol’, Italia punya ‘Coverciano’, dan Inggris punya ‘St. George’s Park’. Itulah 4 pusat latihan tim nasional terbesar dan termewah di dunia.

Usai membangun Clairefontaine, Prancis juara Piala Dunia 1988, Piala Eropa 2000, dan Piala Dunia 2018. Spanyol juara back-to-back Euro 2008 dan 2012 serta menjuarai Piala Dunia 2010 usai membuka Ciudad del Futbol. Sementara Coverciano yang sudah dibuka sejak 1958 jadi kunci sukses Italia menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa masing-masing 2 kali.

Bacaan Lainnya

Kesuksesan itulah yang hendak ditiru oleh FA Inggris dengan membangun St. George’s Park Football Centre. Sebuah pusat latihan, pengembangan, dan laboratorium tim nasional Inggris. Namun, banyak masalah dan polemik sebelum sarana sepak bola maha komplet itu dibangun, hingga sebuah tragedi menyakitkan terjadi di babak kualifikasi Euro 2008.

21 November 2007, Inggris berjumpa dengan Kroasia di pertandingan terakhir Grup E Kualifikasi Euro 2008. Itu adalah laga hidup dan mati bagi The Three Lions. Inggris wajib memetik poin untuk mendapat satu tiket tersisa untuk lolos ke Euro 2008.

Nahas, anak asuh Steve McCLaren langsung tertinggal 2 gol di babak pertama. Frank Lampard dan Peter Crouch berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua. Namun sayang, 1 poin mereka sirna setelah Mladen Petric mencetak gol kemenangan Kroasia di menit ke-77.

Gol Petric mengantar Kroasia sebagai juara grup E sekaligus membuat timnas Inggris malu di hadapan lebih dari 80 ribu pendukungnya yang memadati Stadion Wembley. Inggris dipastikan gagal lolos ke Euro 2008.

Direncanakan Sejak 2001, St. George’s Park Baru Dibuka Pada 2012

Kegagalan lolos ke Euro 2008 itulah yang memicu dibangkitkannya kembali rencana pembangun St. George’s Park yang telah disiapkan lahannya sejak Februari 2001. Proyek ambisius itu diinisisi oleh Howard Wilkinson, mantan pelatih Leeds United yang kala itu menjabat sebagai direktur teknis FA.

Namun, beberapa waktu kemudian, muncul keraguan untuk melanjutkan proyek megah itu. Penyebabnya adalah mundurnya Howard Wilkinson dan CEO Adam Crozier yang meninggalkan FA pada 2002.

Di periode yang sama, FA juga punya proyek renovasi Stadion Wembley. Hal itu membuat proyek pembangunan National Football Centre sempat mangkrak beberapa tahun sebelum kembali diputuskan lanjut pada awal 2008.

Adalah Sir Trevor Booking, direktur pengembangan Asosiasi Sepak Bola Inggris yang kala itu cukup vokal dan mendesak proyek pembangunan St. George’s Park untuk segera dilanjutkan kembali. Kelanjutan proyek Pusat Sepak Bola Nasional pertama milik Inggris itu disetujui tak lama setelah Fabio Capello ditunjuk sebagai pelatih anyar The Three Lions.

Setelah melalui proses panjang, St. George’s Park akhirnya secara resmi dibuka pada 9 Oktober 2012. Kompleks mewah seluas 150 hektar itu langsung diresmikan oleh presiden FA serta Duke and Duchess of Cambridge. Pusat latihan senilai 105 juta poundsterling itu di bangun di area hutan Needwood yang terletak di kota Burton, Staffordshire dan mampu menampung 24 tim Inggris dari level junior hingga senior, baik timnas pria maupun timnas wanita.

Lalu, apa saja fasilitas yang dimiliki St. George’s Park?

Dikutip dari website resminya, St. George’s Park punya sebuah lapangan indoor ukuran penuh, arena futsal dalam ruangan, 14 lapangan outdoor dengan rumput asli maupun sintesis, termasuk sebuah lapangan replika dari Stadion Wembley.

St. George’s Park memang menyediakan fasilitas kelas dunia untuk kebutuhan timnas Inggris, baik sebelum pertandingan dan pasca pertandingan internasional. Di sini juga terdapat restoran kelas dunia, gym dan area rehabilitasi yang dilengkapi ruang hidroterapi canggih, kolam renang, jacuzzi, fasilitas analisis video, serta fasilitas ilmu kedokteran dan olahraga.

St. George’s Park juga jadi pusat pengembangan dan kursus kepelatihan pelatih nasional FA. Selain itu, di kompleks St. George’s Park juga berdiri Hotel Hilton yang menyediakan 228 kamar tidur yang dapat dipesan secara individu, kelompok, maupun tim. Fasilitas akomodasi tersebut juga menyediakan ruangan konferensi dan perjamuan olahraga atau bisnis. Sangat lengkap bukan?

Uniknya, St. George’s Park juga dapat disewa untuk klub, baik klub lokal maupun dari luar Inggris. Mereka menyewa fasilitas mewah itu untuk keperluan pre-season. Galatasaray, AS Monaco, Steaua Bucharest, Minnesota United, dan FC Barcelona tercatat pernah meminjam St. George’s Park.

Prestasi Inggris Membaik Pasca Punya St. George’s Park

Seperti kata Howard Wilkinson saat pertama kali merencanakan proyek megah ini. Keberadaan Pusat Sepak Bola Nasional di Burton itu sangat penting bagi masa depan timnas Inggris.

“Dalam hal masa depan sepak bola jangka panjang di negara ini, keputusan tentang Burton lebih penting daripada keputusan tentang siapa yang harus mengelola timnas Inggris. Sangat penting bahwa kita memiliki Pusat Sepak Bola Nasional dan Pusat Sepak Bola Nasional mewujudkan filosofi yang dapat membawa kita maju.” kata Howard Wilkinson, dikutip dari BBC.

Benar saja, sejak punya St. George’s Park, prestasi The Three Lions di kancah internasional perlahan membaik. Apalagi sejak mereka ditangani Gareth Southgate yang sebelumnya menjabat sebagai kepala pengembangan elit FA dan manajer Tim Inggris U-21.

The Three Lions sukses menjadi semifinalis Piala Dunia 2018 dan juara 3 UEFA Nations League 2019. Prestasi tak hanya diraih tim senior saja. Sejak punya St. George’s Park, timnas junior juga sukses memetik prestasi, dan prestasi terbaik mereka tentu menjadi juara Piala Dunia U-17 pada 2017 silam.

Prestasi juga ditorehkan timnas wanita Inggris. Dalam 2 edisi terakhir Piala Dunia Wanita, mereka berhasil melaju hingga babak semifinal. Di edisi 2015, Inggris meraih juara 3 dan di edisi 2019, Inggris meraih tempat keempat. Sebelum ada St. George’s Park, prestasi mereka cuma mentok hingga perempat final.

St. George’s Park Jadi Markas Timnas Inggris di Euro 2020

Terbaru, St. George’s Park Football Centre dijadikan markas timnas Inggris selama gelaran Euro 2020. Digelarnya Piala Eropa tahun ini di 11 kota di 11 negara sangat menguntungkan Inggris. Sebab, mereka terhitung sebagai tuan tumah.

Hal itu tak lepas dari status Stadion Wembley. Stadion timnas Inggris itu jadi tuan rumah grup D dan beberapa laga fase gugur. Jika dihitung hingga final, Stadion Wembley jadi venue 8 pertandingan di Euro 2020.

Alhasil, The Three Lions yang bermarkas di Burton sangat diuntungkan dengan kondisi tersebut. Seperti yang kita tahu, Harry Kane dkk. berhasil melaju hingga babak final Euro 2020. Dari babak grup hingga babak final, mereka harus menjalani 7 pertandingan dan beruntungnya, Inggris dapat menjalani 6 pertandingan tersebut di kandang mereka sendiri.

Dari data yang himpun Marca, Inggris jadi tim yang menempuh jarak paling dekat dibanding semifinalis lain di Euro 2020. Anak asuh Gareth Southgate hanya harus menembuh jarak 2.880 km ketika mereka melakukan perjalanan pulang pergi dari Roma ke London untuk menjalani partai perempat final di Stadion Olimpico.

Bandingkan dengan lawannya di semifinal, yakni Denmark yang harus menempuh perjalanan sejauh 8.231 km. Begitu juga dengan Spanyol. Meski jadi tuan rumah di babak grup, Spanyol masih harus menempuh jarak hingga 5.705 km saat mencapai babak semifinal. Sementara Italia harus menempuh jarak hingga 3.296 km.

Alhasil, format Euro 2020 yang digelar di banyak negara ini dinilai tidak adil. Peserta yang terhitung sebagai tuan rumah lebih diuntungkan. Seperti Inggris, mereka tak perlu jauh-jauh melakoni pertandingan. Namun, meski sudah sangat diuntungkan, Inggris tetap gagal menjadi juara. Di partai final kemarin, mereka harus tunduk 3-2 lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga extra time.

Akan tetapi, melaju hingga partai final Piala Eropa tahun ini telah menjadi prestasi terbaik Inggris sejak menjuarai Piala Dunia 1966. Pasalnya, sejak saat itu, The Three Lions belum pernah lagi masuk partai final turnamen internasional. Jadi, final Euro 2020 adalah pengalaman pertama mereka mencicip partai final setelah 55 tahun lamanya.

Tentu, pencapaian itu tak lepas dari kerja keras para pelatih dan pemain. Namun, jangan lupakan pula keberadaan St. George’s Park yang sudah jadi markas mereka selama Euro 2020.

Menjadi runner-up Euro 2020 menjadi prestasi terbaik The Three Lions sejak meresmikan St. George’s Park. Bayangkan bila Inggris tak kolot dan membangun pusat sepak bola mewah itu lebih dini. Timnas Inggris mungkin akan lebih cepat memetik prestasi. Namun takada kata terlambat, sebab pembangunan St. George’s Park sejatinya ditarget untuk meraih prestasi di Piala Dunia 2022.

Di ruang lobby, terdapat jam dinding yang bertuliskan ‘‘Countdown to Qatar’’. Meski menurut beberapa pihak dianggap sebuah lelucon, tetapi keberadaan jam tersebut jadi bukti keseriusan Inggris untuk meraih trofi. Jadi mampukah St. George’s Park kembali memberi tuahnya untuk The Three Lions di Piala Dunia 2022 nanti?
***
Sumber Referensi: DailyMail, The FA, DFB, BBC 1, BBC 2, Tribunnews

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *