Berjalan-jalan ke Argentina. Negara sepakbola yang melahirkan banyak pemain dan pelatih top dunia. Jika ke Argentina, umumnya pecinta sepakbola di seluruh dunia ingin mampir mengunjungi Buenos Aires.
Pasalnya di kota tersebut terdapat dua klub terbaik Argentina yakni Boca Juniors dan River Plate. Namun, salah tujuan jika ingin melihat bakat-bakat muda potensial Argentina di Buenos Aires. Harusnya, datanglah ke Kota Rosario!
The house at 525 Estado de Israel street in La Bajada, Rosario, in Santa Fe province – an area of hard-working, humble people – is where Argentine football star Lionel Messi started, and it has become a pilgrimage site for many fans https://t.co/Ju3G4aUTYM pic.twitter.com/JpTjjdF8SS
— China Xinhua News (@XHNews) December 25, 2022
Daftar Isi
Kota Rosario
Rosario adalah kota pelabuhan kecil di Argentina. Kalau perjalannya dari ibu kota Buenos Aires dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan. Jumlah penduduk kota ini sedikit, kurang lebih di atas satu juta jiwa. Kalah jauh dibandingkan Buenos Aires yang berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa.
Namun Rosario bagaimanapun memiliki reputasi menghasilkan banyak sekali talenta hebat. Bukan hanya sepakbola, tokoh revolusi dunia yang terkenal, Ernesto “Che” Guevara juga dilahirkan di kota kecil ini.
Rosario sempat dijuluki persemaian bagi para talenta hebat dunia. Tak lupa kota kecil ini dalam kaitannya dengan sepakbola dikenal sebagai ‘La Cuna de Futbol” atau tempat lahirnya sepak bola.
Tak berlebihan menyebut Rosario dijuluki tempat lahirnya sepakbola. Pasalnya banyak talenta hebat yang mengukirkan prestasinya di sepakbola dunia berasal dari kota ini. Seperti halnya Lionel Messi, Angel Di Maria, hingga Marcelo Bielsa.
Rosario city 📛 pic.twitter.com/P7RKtVIubB
— Super Secretario ⭐️⭐️⭐️ (@SuperSecretario) December 21, 2023
Sepakbola Kota Rosario
Rosario seperti kota impian bagi pesepakbola. Tak masalah dikatakan sebagai kota miskin, terpencil, dan populasinya kecil. Namun kota itu tak akan pernah berhenti kehabisan talenta pesepakbola hebat tiap tahunnya. Menakjubkan bukan? Tak seperti Indonesia yang punya banyak penduduk namun masih saja sulit menemukan bakat pesepakbola terbaik.
Rosario bukan kota yang dekat dengan pusat kekuasaan negara. Mereka tak punya akses “bekingan pusat” seperti klub-klub yang ada di Buenos Aires. Hal inilah yang membuat ekonomi mereka tertinggal.
Lalu kenapa kok mereka bisa terus hasilkan pemain-pemain hebat? Ya, keberhasilan kota ini sebagai tempat berkembangbiaknya para pesepakbola hebat malah sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan dan kebutuhan.
Dua klub sepak bola terkenal di kota ini yakni Rosario Central dan Newell’s Old Boys, dalam sejarahnya tidak dapat menandingi daya beli tim-tim besar di Buenos Aires seperti Boca Juniors maupun River Plate.
Newell's Old Boys-Rosario Central.
— Fabrizio Biasin (@FBiasin) April 9, 2023
Mammamia…
(Via @AlbicelesteTalk)
pic.twitter.com/DV23gbFsXI
Rosario tidak memiliki kekuatan ekonomi seperti yang dimiliki Buenos Aires seperti River maupun Boca, yang bisa seenaknya saja mencomot talenta hebat dengan kekayaannya.
Maka dari itu, Newell’s Old Boys dan Rosario Central sering bergantung pada pengembangan pemain baru. Hasilnya, akademi muda mereka lebih kuat. Namun dasarnya kota miskin, talenta muda hebat yang baru tumbuh sering dibajak klub-klub besar.
Misal, Newell’s Old Boys telah kehilangan bakat hebat mereka yakni Lionel Messi ketika hijrah di usia 12 tahun ke Barcelona. Rosario juga sejak 2007 sudah rela kehilangan Angel Di Maria yang hijrah ke Benfica.
¿Te gustaría ver un Messi 🆚 Di María en un clásico entre Newell’s y Rosario Central? pic.twitter.com/SwhuC5Ezsl
— TNT Sports Argentina (@TNTSportsAR) April 9, 2023
Jiwa “Rosarian”
Namun para pemain yang lahir dari rahim Rosario tak pernah lupa akan budaya mereka. Di dalam raga para pemain asal Rosario, sudah tertanam jiwa dan semangat tersendiri yang sering disebut jiwa “Rosarian”. Jiwa tersebut sudah tertanam sejak kecil.
Salah satu alasan lain mengapa Rosario banyak menghasilkan begitu banyak pesepakbola hebat juga karena jiwa “Rosarian” tersebut. Para pemain mudanya memiliki keinginan yang menggebu untuk sukses.
Rasa lapar mereka untuk sukses sangat kuat karena mereka bukan anak dari keluarga kaya. Para pemain muda Rosario perlu menafkahi keluarga mereka yang sebagian besar hidup kekurangan.
Tidak seperti para pemain muda di Buenos Aires yang sudah bisa punya mobil sendiri. Mereka mendapat gaji besar dan hidup di keluarga yang berkecukupan. Beda dengan di Rosario. Boro-boro beli mobil, anak-anak di sini masih kesulitan untuk bertahan hidup bersama keluarganya.
Kalau kata orang Rosario yang pertama kali membawa Messi ke Barca yakni Ruben Horacio Gaggioli, wajar jika para pemuda Rosario ketika memasuki lapangan akan menyerahkan seluruh jiwa raganya mati-matian meraih sebuah kemenangan. Mereka ingin membuktikan jiwa “Rosarian” mereka bisa mengalahkan segala kemapanan.
Berawal Dari Jalanan
Dengan keadaan Rosario yang terbelakang, talenta hebat yang lahir tidak berasal dari pengembangan di akademi dengan fasilitas yang memadai. Boro-boro masuk akademi, buat hidup sehari-hari saja mereka masih kesusahan.
#Rosario El potrero de #VillaBanana, cuando la inclusión golea al olvido. Por @AleMaidana76 ➡️ https://t.co/8RhC5Af2Cb pic.twitter.com/BDtb9sgW1R
— Conclusión (@ConclusionRos) July 26, 2017
Justru, talenta hebat di Rosario terkenal lahir dari jalanan. Ada beberapa sudut jalanan yang terkenal di Rosario yakni Barrio dan Potrero. Barrio terkenal sebagai jalanan di mana Messi dilahirkan sebagai pesepakbola. La Pulga kecil sering bermain di jalanan yang terletak di selatan kota Rosario itu. Kini, bahkan tembok-tembok jalanan tersebut sudah dipenuhi mural Messi.
El mural en homenaje a Lionel Messi ubicado en Rosario. Lo pintaron a cinco cuadras de la casa en la que creció el seis veces ganador del Balón de Oro. "De otra galaxia y de mi barrio". ESPECTACULAR.
— Invictos (@InvictosSomos) July 2, 2021
📷 @MuniRosario pic.twitter.com/piqHr27EAq
Sedangkan Potrero adalah sebuah jalanan terpencil yang disulap menjadi lapangan kecil alakadarnya. Bahkan permukaan tanahnya saja tidak rata. Di situ banyak anak-anak Rosario bermain si kulit bundar pada sore hari. Pemain seperti Batistuta, Pochettino, hingga Jorge Valdano masa kecilnya sempat bermain bola di Potrero.
Tak jarang pemandu bakat dari klub-klub besar Argentina bolak-balik berkunjung ke jalanan Rosario. Jalanan Rosario adalah medan yang subur bagi pencarian talenta hebat Argentina. Pun hingga sekarang, jalanan Rosario masih jadi tempat favorit bagi para pemandu bakat di seluruh dunia.
Potrero y Messi. No sorprende que sean los mismos movimientos de hoy en día.
— 𝙅𝘿 (@JuannDis) March 23, 2021
pic.twitter.com/LYcYQcheHk
Lahirnya Para Pemikir
Menariknya, Rosario tak hanya hasilkan banyak pemain hebat. Namun pelatih ternama dunia juga banyak lahir dari kota terpencil ini. Misal, dulu terkenal ada mantan pemain Newell’s Old Boys bernama Cesar Luis Menotti. Setelah Menotti jadi pelatih Timnas Argentina tak disangka ia jadi pelatih pertama yang membawa La Albiceleste juara Piala Dunia 1978.
Happy Birthday to our first World Cup winning coach and current director of national football, Cesar Luis Menotti 🇦🇷🎉💐 pic.twitter.com/w7JAuRyNKx
— BD Albiceleste on 𝕏 🇧🇩💙🇦🇷 (@bd_albiceleste) October 22, 2021
Tak hanya Minotti, pelatih hebat seperti Marcelo Bielsa juga lahir dari kota ini. Bielsa adalah mantan pemain dan pelatih di klub Newell’s Old Boys. Setelah menjadi pelatih, Bielsa ini adalah guru bagi pelatih-pelatih top dunia. Pep Guardiola menganggap Bielsa adalah gurunya. Saking besarnya pengaruh Bielsa di dunia sepakbola, klubnya dulu Newell’s Old Boys sampai menamai markas mereka Estadio Marcelo Bielsa.
Fairy Play para Marcelo Bielsa, The Best para Messi, la Escuela: Newell's Old Boys. pic.twitter.com/oqLVHD6C0x
— Santiago Baraldi (@BaraldiSantiago) September 23, 2019
Ada juga sebenarnya pelatih lain yang bukan asli kelahiran Rosario namun tumbuh besar dengan budaya dan jiwa “Rosarian”. Seperti Jorge Valdano, Mauricio Pochettino, hingga Lionel Scaloni. Beberapa pelatih tersebut mengawali karier sebagai pesepakbola di klub Newell’s Old Boys.
Pochettino at Newell's Old Boys pic.twitter.com/0ALM1HWyaL
— Classic Football Shirts (@classicshirts) February 26, 2017
Pembuktian
Pembuktian beberapa pemain dan pelatih top yang tumbuh dari budaya Rosario dan jiwa “Rosarian” telah banyak terbukti. Termasuk di tahun 2022 ketika Argentina menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya. Kemenangan Tim Tango atas Prancis di Qatar tak luput dari andil jiwa “Rosarian” Messi, Di Maria, maupun Scaloni.
Tak hanya itu, pembuktian cinta para pesepakbola Rosario juga terlihat ketika laga perpisahan Maxi Rodriguez 2023 lalu di Estadio Marcelo Bielsa. Dari Batistuta, Messi hingga, Scaloni ikut memeriahkan laga reunian tersebut. Sambil bermain, mereka juga bercanda gurau di lapangan mengingat masa lalu yang indah di kota yang membesarkannya.
FT:Newell's Old Boys 5-7 Argentina
— Victoriosos (@victoriososomos) June 25, 2023
➔Ovación a los campeones del mundo
➔Hat-trick de Messi
➔Gol de Batistuta
➔Gol de Maxi Rodríguez con la Selección Argentina y con Newell's
➔Homenaje a Maradona
➔Jugaron sus hijas pic.twitter.com/DYWHKxKk0P
Ya, Rosario bukan hanya nama kota. tapi sudah menjadi rumah bagi sepakbola dunia. Di kota ini banyak kisah sepakbola berawal. Bagai sejoli yang cinta mati, Rosario dan sepakbola adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Home for Lionel, once the club of Maradona, Tata Martino's fort, Bielsa's turf, developed Scaloni, Batistuta, Walter Samuel, Pochettino, Banega, Valdano, Scoponi and Maxi Rodriguez. Newell's Old Boys celebrate their 120th anniversary today. Football lives here. 🔴⚫ pic.twitter.com/DtdRI7hZh8
— Toto (@totoscrib) November 3, 2023
Sumber Referensi : bleacherreport, tycsports, thelab, thesefootbaltimes, conclusion.com


