Bukti Prancis Tidak Ramah Pesepakbola Muslim

spot_img

Orang Prancis yang memiliki latar belakang berbeda umumnya akan disatukan lewat sebutan “Les Blues” atau “The Blues”. Sebutan tersebut menjadi simbol persatuan warga Prancis.

Harusnya dengan simbol itu warga Prancis dari segala jenis ras, suku, budaya, bahkan agama bisa disatukan. Tak ada diskriminasi. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.

Agama tertentu malah mendapat perlakuan diskriminatif di Prancis. Salah satu yang kerap menjadi sasaran adalah orang Islam. Begitu kental perlakuan diskriminatif terhadap muslim di negara Prancis sampai-sampai merambah ke dunia sepak bola.

Tidak Ada Jeda Pertandingan untuk Berbuka Puasa

Baru-baru ini France Football Federation (FFF) atau Federasi Sepak Bola Prancis mengeluarkan kebijakan yang isinya, tidak akan membiarkan pemain muslim berbuka puasa di tengah pertandingan di Liga Prancis. Kebijakan ini mulai diterapkan pada 11 Maret 2024 lalu.

Kebetulan pada tanggal itu sebagian umat Islam di seluruh dunia sudah menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan. Kebijakan ini dilihat dari segi mana pun sangat diskriminatif. Sebab di negara-negara Eropa lainnya tidak ada larangan untuk berbuka puasa saat bertanding.

Inggris, misalnya. Premier League bahkan sudah mengatur waktu khusus bagi pesepakbola muslim yang hendak berbuka puasa di tengah laga. Pihak klub bisa mengajukan jeda pertandingan dan wasit yang bertugas akan memberi isyarat untuk istirahat sejenak, memberi kesempatan pemain muslim untuk berbuka puasa selama Ramadan.

Hal itu sudah diterapkan oleh Premier League sejak tahun lalu. Tidak hanya di Inggris, di Jerman wasit juga menghargai apabila ada pemain yang ingin berbuka puasa di tengah pertandingan.

Di Belanda, Spanyol, dan Italia juga tidak ada yang mempersoalkan apabila ada pemain yang berbuka puasa di tengah pertandingan. Mungkin baru akan dikasuskan kalau ada pesepakbola muslim mengajak keluarganya sahur di tengah lapangan.

Mengapa Ada Kebijakan Itu?

Pelarangan ini sebetulnya sudah terjadi sejak tahun lalu. Pertandingan di Ligue 1 tidak akan dijeda apabila masuk waktu berbuka puasa. Alhasil, pesepakbola muslim tidak bisa berbuka puasa di waktu yang tepat sesuai anjuran di dalam agama Islam. Pertanyaannya, mengapa Prancis melarang pemain muslim berbuka puasa di tengah laga? 

Menurut laporan Le Parisien sebagaimana dikutip Hespress, Federasi Sepak Bola Prancis mendasari keputusannya pada undang-undang dan kode etik. Menurut pandangan mereka, jika memberikan jeda untuk berbuka puasa bagi pesepakbola muslim akan bertentangan dengan prinsip netralitas dan sama saja dengan propaganda.

Kebijakan yang dicanangkan tahun 2024 itu sebenarnya sudah bocor tahun lalu. Bahwa sudah ada email dari Federasi Sepak Bola Prancis pada Komisi Wasit Prancis yang isinya melarang pemain muslim beristirahat untuk mengonsumsi makanan maupun minuman di tengah pertandingan lokal.

“Lapangan sepak bola, gimnasium, stadion bukanlah tempat ekspresi politik maupun agama, melainkan tempat netralitas di mana nilai-nilai olahraga harus dilakukan.” Demikian bunyi email tersebut.

Federasi Sepak Bola Prancis sampai menegaskan, jika ada yang tidak mematuhi larangan tersebut akan mendapat sanksi indisipliner atau bahkan pidana. Kebijakan ini mendatangkan gelombang kritik dari para aktivis, jurnalis, dan para pesepakbola itu sendiri. Sebab tindakan tersebut justru lebih dekat pada intoleransi dan xenofobia.

Melarang Pemainnya Berpuasa

Paul Pogba dan N’Golo Kante saat kebijakan ini juga diterapkan untuk Timnas Prancis yang melakoni kualifikasi EURO 2024 pernah menentangnya. Sementara, Marcus Thuram memuji kebijakan yang mengizinkan pesepakbola muslim berbuka di tengah laga yang dilakukan Inggris sebagai langkah maju.

Tak hanya melarang berbuka puasa di tengah pertandingan. Di Ramadan tahun lalu bahkan ada pula pemain di Liga Prancis yang seolah-olah dilarang untuk menjalankan ibadah puasa.

Adalah Jaouen Hadjam, pemain Nantes berpaspor Aljazair yang dilarang berpuasa oleh pelatihnya, Antoine Kombouare. Mengutip 90Min, pelatih yang pernah menukangi PSG itu menghormati para pemainnya yang berpuasa. Tetapi ia melarang pemainnya berpuasa ketika pertandingan.

Sebetulnya Hadjam mengikuti saran pelatihnya. Ia absen berpuasa ketika melakoni laga tandang. Namun, Hadjam memilih tetap berpuasa saat bermain kandang. Oleh karena itu ia pun dicoret dari skuad Nantes.

Pesepakbola Wanita Muslim Dilarang Pakai Jilbab

Aturan yang mendiskreditkan pesepakbola muslim di Prancis tidak hanya ada di sepak bola pria. Di sepak bola wanita juga terjadi. Federasi Sepak Bola Prancis pernah melarang wanita muslim yang mengenakan jilbab bermain di kompetisi lokal, apa pun bentuknya. Mereka tetap melarang simbol agama yang mencolok, meskipun FIFA sendiri sudah mencabut larangan jilbab sejak tahun 2014.

Hal ini pernah menjadi perdebatan pada tahun 2021. Pemicunya adalah kemunculan aturan anti-separatisme yang disahkan menjadi undang-undang. Nah, sebagian parlemen Prancis memanfaatkan undang-undang itu secara resmi untuk melarang pemakaian jilbab di semua kompetisi olahraga.

Aturan itu membuat karier pesepakbola wanita berjilbab seperti Karthoum Dembele meredup. Sayangnya, meski sempat digugat, pengadilan di Prancis memutuskan aturan ini tetap berlaku. Yang itu bisa berarti atlet perempuan berjilbab tidak akan bertanding di Olimpiade Paris 2024. Namun, aturan ini hanya berlaku untuk atlet dari Prancis itu sendiri.

Dihukum Karena Membela Palestina

Prancis sepertinya memang tidak ramah bagi pesepakbola muslim. Selain aturan yang diskriminatif, pesepakbola muslim yang bermain di Prancis dipaksa menjaga sikapnya. Salah-salah bisa kena hukuman seperti apa yang dialami eks pemain Nice, Youcef Atal.

Pemain berdarah Aljazair itu diskors oleh Nice pada Oktober 2023 lalu. Duduk perkaranya, ia membagikan postingan di media sosial tentang perang Israel-Hamas. Atal diduga menyebarkan ujaran kebencian dan anti-semitisme karena membagikan video penceramah Palestina, Mahmoud al-Hasanat yang meminta Tuhan “mengirimkan hari kelam ke orang-orang Yahudi”.

Mengutip Deutsche Welle, pihak Nice mengambil tindakan disipliner kepada Atal. Sementara itu, jaksa Prancis menduga kalau Atal “mengagungkan terorisme”. Waktu itu memang banyak orang mengecam genosida yang dilakukan Israel pada warga Palestina.

Para pelaku sepak bola, termasuk klub dan pemain juga turut mengecam kebengisan Israel. Namun, tak sedikit dari para pemain itu yang mendapat sanksi. Selain Atal di Prancis, ada Anwar El Ghazi yang diskors oleh FC Mainz setelah menyatakan dukungan pada Palestina.

Stigmatisasi dan Islamofobia di Prancis

Pesepakbola muslim di Prancis selain rentan terkena diskriminasi, juga rentan distigmatisasi buruk. Mantan pelatih PSG, Christophe Galtier pernah memberikan komentar bernada rasis terhadap pemain kulit hitam dan muslim di Prancis. Ia diduga kesal terhadap keberadaan pesepakbola muslim dan kulit hitam.

Namun, Galtier membantahnya. Kendati demikian hal itu tidak menutup kenyataan bahwa pemain muslim kerap mendapat stigma buruk. Itu tercermin dari peraturan, kebijakan, serta sikap dari orang non-muslim di Prancis. Mengapa ini bisa terjadi?

Prancis punya penyakit akut bernama islamofobia. Presiden Prancis, Emmanuel Macron diduga termasuk orang yang tidak suka terhadap Islam. Selain itu, islamofobia semacam ini juga berkaitan dengan nilai-nilai sekularisme yang dianut Prancis. Dan paham sekularisme bertentangan dengan ajaran Islam.

Ini menjadi ironis. Prancis sejatinya termasuk salah satu negara dengan populasi muslim terbanyak di Eropa. Mengutip Wisevoter, populasi muslim di Prancis menyentuh 5,7 juta jiwa. Itu bahkan yang terbanyak kedua di Eropa setelah Rusia (16 juta jiwa). Turki tidak dihitung karena termasuk negara Timur Tengah yang notabene mayoritas Islam.

Ketidakramahan Prancis terhadap pesepakbola muslim menjadi sangat ironis. Toh kalau bukan karena andil para pemain muslim, Timnas Prancis bisa saja gigit jari di Piala Dunia 2018.

Sumber: Almaydeen, Aljazeera, Hespress, DW, 90Min, Wisevoter, AlJazeera, Lemonde

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru