Mengenal Milan Lab Sebagai Kunci AC Milan Memaksimalkan Potensi Pemain

  • Whatsapp
Mengenal Milan Lab Sebagai Kunci AC Milan Memaksimalkan Potensi Pemain
Mengenal Milan Lab Sebagai Kunci AC Milan Memaksimalkan Potensi Pemain

Pada musim ini, AC Milan yang baru memulai kompetisi sudah disibukkan dengan permasalahan pelik. Adalah cedera, yang tampak merenggut kebahagiaan il Diavolo Rosso di tengah perjalanan mereka menuju puncak kejayaan. Belum juga memulai sepuluh pertandingan Serie A, dan belum juga mereka unjuk gigi di depan semua lawan di fase grup kompetisi Eropa, beberapa pemain sudah harus menepi karena memiliki persoalan yang sama.

Menurut data yang bersumber dari laman transfermarkt, Simon Kjaer baru-baru ini telah menambah panjang daftar cedera AC Milan. Kapten timnas Denmark tersebut menyusul beberapa pemain yang sudah lebih dulu masuk ke ruang perawatan. Diantaranya, Zlatan Ibrahimovic yang memiliki masalah pada pergelangannya meski baru saja mencetak gol di Serie A. Kemudian ada penyerang mereka lainnya Olivier Giroud yang diklaim harus menepi karena terjadi masalah pada pinggang nya.

Belum cukup sampai disitu, deretan gelandang yang dimiliki seperti Tiémoué Bakayoko yang baru didatangkan, Rade Krunic yang beberapa kali dipasang di tim utama, serta Junior Messias yang baru tiba di Milan juga sama-sama memiliki masalah cedera.

Belum lagi bek kanan andalan Davide Calabria yang harus menepi karena mengalami masalah otot.

Dengan permasalahan ini, banyak pihak yang mempertanyakan tentang kinerja tim medis Milan. Mengapa banyak pemain yang mudah terkena cedera hingga ada yang harus menjalani penyembuhan dalam waktu yang lama.

Padahal ketika menarik ke belakang, Milan pernah menjadi tim yang memiliki pusat kesehatan terbaik di Eropa. Ya, di era 2000 an, dengan nama Milan Lab yang berdiri gagah di area tim, klub yang mengoleksi tujuh gelar Liga Champions Eropa itu pernah berjaya bersama kumpulan pemain dunia berusia tua.

Maka tak jarang bila Milan sering mendapat julukan sebagai gerbang tua. Bahkan, seringkali muncul candaan yang menyebut Milan sebagai tim “panti jompo”, saking banyaknya pemain utama yang memiliki usia melebihi batas produktif.

Ternyata seperti yang sudah disinggung, itu semua terjadi berkat keberadaan Milan Lab, yang memang secara sengaja telah membuat rencana untuk memaksimalkan bakat pemain di level yang melebihi usia produktif nya.

Sejarah dan Kejayaan Milan Lab

Milan Lab sendiri tidak asal dibuat oleh klub. Mulanya, rencana pembuatan tempat ini terjadi karena dasar kasus Fernando Redondo. Pecinta sepakbola di era 90 an hingga 2000 an tentu masih ingat dengan bakat pemain yang begitu flamboyan bernama Fernando Redondo.

Ketika itu, Milan telah mengeluarkan dana sebesar 30 juta euro hanya untuk menggaet Redondo dari Real Madrid. Namun sayangnya, bintang asal Argentina yang ketika itu menjadi primadona gagal menciptakan pertunjukkan mewah di klub asal Italia. Sepanjang empat tahun membela Milan, Redondo hanya tampil sebanyak 16 kali di kompetisi Serie A.

Masalahnya tentu sudah bisa ditebak, yaitu cedera berkepanjangan sang pemain yang membuat langkah nya gagal tuai pujian di Milan.

Tidak mau masalah yang sama terulang, presiden Milan ketika itu, Silvio Berlusconi, resmi menginvestasikan dana sebesar 5 miliar lira untuk menggaet ahli kesehatan asal Belgia bernama Jean-Pierre Meersseman, guna mendirikan sebuah pusat penelitian canggih yang kemudian diberi nama Milan Lab.

Resmi beroperasi pada tahun 2002, tujuan dari dibangunnya Milan Lab adalah agar setiap pemain Milan tak rentan terhadap cedera. Selain itu, Milan Lab juga memiliki misi untuk memaksimalkan setiap potensi bintang yang dimiliki, agar mereka bisa bermain lebih lama dengan performa jempolan.

Namun perlu dicatat bahwa Milan Lab tidak mengkhususkan misi untuk memaksimalkan potensi pemain yang berusia tua saja. Berbagai jenjang usia, termasuk pemain muda pun ikut masuk ke dalam proyek ini.

Lantas mengapa justru banyak pemain tua yang lebih bersinar di Milan dalam waktu yang lama? Yang jelas, komposisi skuad Milan ketika itu memang banyak mengandalkan pemain berpengalaman.

Menurut Seedorf, para pemain berpengalaman di Milan ketika itu memiliki kemampuan seperti Mobil F1. Saat mobil tersebut tidak ada yang merawat secara khusus, mereka tetap akan berjalan cepat dan sering memenangi perlombaan, namun hanya dalam waktu yang sudah ditentukan. Akan tetapi ketika mobil mewah tersebut mendapat perlakuan khusus berupa perawatan mesin dan tindakan istimewa lainnya, maka mobil tersebut akan bisa digunakan lebih lama.

Disitulah Milan Lab bertindak.

Kumpulan ahli medis yang dipimpin oleh Jean-Pierre Meersseman berhasil memberi perawatan dan perlakuan khusus kepada seluruh pemain Milan yang memang mayoritas berpengalaman dan berlabel bintang. Maka dari itu, kita lebih sering menemui pemain Milan yang memiliki usia tua di tim utama.

Milan Lab memiliki prinsip untuk lebih baik mencegah daripada mengobati. Ketika mereka menghadapi kasus cedera pemain sekalipun, Milan Lab mengklaim bahwa mereka dapat memprediksi kemungkinan cedera seorang pemain dengan tingkat akurasi 70%. Jadi ketika pemain tertentu berpotensi mengalami cedera yang lebih parah, orang-orang hebat di balik layar tersebut sudah memiliki cara jitu untuk mencegah agar sang aktor lapangan hijau bisa terhindar dari cedera berkepanjangan.

Sejak dibangunnya Milan Lab, jumlah pemain cedera di klub raksasa Italia itu berkurang hingga 90%.

Kembali lagi, keberhasilan Milan Lab bukan cuma mengurangi intensitas pemain yang masuk ke ruang perawatan. Namun juga memaksimalkan potensi pemain berpengalaman untuk bisa melebihi level yang seharusnya.

Dalam kasus ini, bukti nyata dari keberhasilan Milan Lab adalah dengan terus berjaya nya Milan dengan nama-nama seperti Clarence Seedorf, Alessandro Costacurta, Alessandro Nesta, Massimo Ambrosini, hingga Paolo Maldini. Belum lagi nama populer lainnya seperti Marcos Cafu yang turut menguatkan anggapan tentang Milan yang berjaya bersama deretan pemain tua.

Dengan kumpulan nama populer tersebut, Milan yang berhasil menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa tahun 2007 memiliki rata-rata usia hingga 31 tahun 34 hari. Kapten mereka, Paolo Maldini, menjadi pemain tertua yang tampil di final Liga Champions dalam usia 38 tahun 331 hari.

Bahkan di tahun 2009, Milan berani merekrut pemain kaliber David Beckham yang telah menginjak usia 33 tahun. Di usia yang telah memasuki masa senja, Beckham masih bisa diandalkan oleh Carlo Ancelotti di skuad utama. Malah dia sempat mencetak gol indah ke gawang Genoa pada tahun 2009.

Menurut Jean-Pierre Meersseman dalam wawancaranya dengan Daily Mail, dia mengatakan,

“Usia tidaklah penting. Yang menjadi hal terpenting adalah setiap pemain selalu merasa siap secara fisik dan psikologis untuk tampil. Tidak ada masalah, mereka berada di usia 21 tahun atau 41 tahun,”

Tentang teknologi yang mereka gunakan, Milan Lab diklaim banyak memanfaatkan teknologi canggih. Namun alat-alat dengan teknologi canggih yang berada disana tetap dimanfaatkan dengan menggunakan ilmu dasar yang sudah banyak orang yang memahami, seperti Gait analysis atau teori yang menganalisis cara orang berjalan, kemampuan lompatan seseorang, chiropractic, dan beberapa teori-teori lainnya yang sudah sangat umum di dunia olahraga.

Satu hal yang cukup menarik lainnya, para ahli yang bekerja di Milan Lab ketika itu juga mengadopsi metode ilmiah yang telah dicoba oleh ahli medis Anatoly Zeletsov, yang pada tahun 80-an telah berhasil menemukan metode ketat untuk meningkatkan kinerja pemain Dynamo Kiev dan timnas Ukraina ketika sukses mendominasi Kejuaraan Soviet selama satu dekade.

Nasib Milan Saat Ini yang Tak Lebih Dari Sekadar Puing Sejarah

Sayangnya, kenangan tentang Milan Lab hanya tinggal puing-puing sejarah. Tepat di tahun 2010, Jean-Pierre Meersseman resmi meninggalkan Milan Lab. Dari situ, kualitas pusat penelitian kesehatan paling canggih milik Milan mulai luntur. Apalagi ketika pada 2009 Carlo Ancelotti memutuskan untuk bergabung dengan Chelsea, dimana dirinya turut serta membawa staf medis yang dulu menjadi andalannya di Milan Lab.

Menurut Jean-Pierre Meersseman, Milan Lab hanya tinggal nama. Tidak ada lagi teknologi canggih dan penanganan sehebat dulu. Di musim 2010/11, Milan memang berhasil memenangkan scudetto. Akan tetapi Milan disebut mengalami kerugian yang lebih besar hingga membuat mereka tak mampu lagi berinvestasi di Milan Lab.

Sejak saat itu pula, Milan mulai sering berurusan dengan masalah cedera. Kasus yang paling nyata adalah ketika mereka gagal memaksimalkan kembali potensi yang dimiliki Alexandre Pato. Kemudian, bintang muda seperti Stephan El Shaarawy juga kerap mengalami cedera kambuhan.

Semakin kesini, juga banyak pemain Milan yang mudah mengalami cedera. Andrea Conti, Mattia Caldara, hingga Giacomo Bonaventura, menjadi bukti dari kurang maksimalnya kinerja pusat medis Milan dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk musim ini sendiri, tak perlu lagi dijelaskan seberapa banyak pemain yang mengalami masalah cedera, hingga membuat coach Stefano Pioli pusing tujuh keliling.

Sumber referensi: nssmag, sport detik, sempremilan

Pos terkait