Perang Kroasia yang pecah antara tahun 1991 hingga 1995 tak hanya menelan ribuan korban jiwa. Perang antara pasukan Kroasia yang ingin merdeka dari Republik Federal Sosialis Yugoslavia itu juga membuat ribuan penduduknya mengungsi ke negara lain, termasuk keluarga Mato Mandzukic yang terpaksa memindahkan istri dan anaknya ke Jerman.
Mato adalah seorang pesepak bola. Sebelum pindah ke Jerman sang istri melahirkan putra pertama mereka pada 21 Mei 1986 saat dirinya membela klub asal kota Slavonski Brod, NK Marsonia. Anak pertama dari Mato itu kini kita kenal dengan nama Mario Mandzukic. Ya, Mario yang kita kenal sebagai salah satu striker tersubur timnas Kroasia itu adalah seorang mantan pengungsi.
Daftar Isi
Belajar Sepak Bola di Jerman, Mario Mandzukic Melejit Bersama Dinamo Zagreb
Setelah terpaksa hengkang dari tanah kelahirannya, Mario Mandzukic memulai perjalanan panjang dalam karier sepak bolanya di tanah Jerman. Pada tahun 1992 saat berusia 6 tahun, ia bergabung dengan klub lokal TSF Ditzingen.
Young Mario Mandzukic at TSF Ditzingen. pic.twitter.com/GKskwHzMSR
— The Antique Football (@AntiqueFootball) August 22, 2014
Namun, waktu mereka di Jerman sangatlah singkat. Pada tahun 1996, tak lama setelah Kroasia merdeka, Mario Mandzukic kembali ke tanah kelahirannya. Ia kemudian bergabung dengan NK Marsonia, klub yang dulu dibela sang ayah. Di sanalah talenta Mario Mandzukic sebagai striker berbahaya mulai terasah dan mulai dilirik para pemandu bakat.
Mario Mandzukic’s first team, NK Marsonia…looks familiar 😉 pic.twitter.com/ZxIcpUXpRd
— Ahmed (@azkhawaja1) June 22, 2015
Mario Mandzukic merasakan debut di tim senior NK Marsonia saat usianya baru 18 tahun. Ia kemudian membela tim tersebut di kompetisi Liga 2 Kroasia pada musim 2004/2005. Selama 23 pertandingan Mario berhasil mencetak 14 gol.
Sempat berlabuh ke NK Zagreb dan membela klub tersebut selama 2 musim, Mario Mandzukic kemudian direkrut klub elit Kroasia, Dinamo Zagreb pada musim panas 2007 dengan mahar 1,3 juta euro. Meski masih berusia sangat muda, ia langsung diproyeksikan untuk menggantikan posisi Eduardo da Silva yang kala itu baru saja hengkang ke Arsenal.
Mario Mandzukic ternyata mampu menjawab kepercayaan tersebut, bahkan bisa dibilang mampu melampauinya. Selama 3 musim membela klub berjuluk The Blues itu, ia mampu menyumbang 42 gol dan 29 asis dalam 81 penampilannya di Liga Kroasia. Total ia berhasil mempersembahkan 3 trofi Liga Kroasia secara beruntung dan memenangkan Piala Kroasia 2 kali. Di musim 2008/2009, ia juga berhasil keluar sebagai top skor liga dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Liga Kroasia.
Derby day. You know I stay loyal. #dinamozagreb #BBB @MarioMandzukic9 pic.twitter.com/gkPZKBZGFL
— ɐ͎ʞ͎ć͎ı͎ɹ͎ɐ͎ɯ͎ (@LeaMaric) March 4, 2020
Manis-Patih Karier Mandzukic di Liga Jerman
Karier Mandzukic kemudian berlanjut kembali ke tanah Jerman, negeri yang dulu memberinya tempat perlindungan sementara. Hal itu terjadi kala klub Bundesliga Jerman Vfl Wolfsburg meminangnya dengan mahar 7 juta euro pada musim panas 2010.
Di sinilah awal mula karier Mario Mandzukic di Liga Top Eropa. Layaknya anak baru, ia mesti rela menunggu kesempatan. Bahkan di awal kedatangannya ia lebih banyak dimainkan sebagai sayap kiri. Sebab di posisi sentral, pelatih Wolfsburg kala itu Steve McLaren hanya memakai 1 striker tunggal yakni Edin Dzeko.
In summer of 2010,he joined Wolfsburg for a price of around €7 mil. In the first half of the season he played as a left winger, but when Džeko left for City in January 2011, Mandžukić moved to a center forward role. In his second season he was the club’s top scorer with 12 goals pic.twitter.com/C0xAWIpZv8
— Faris Ibrahimpasic (@FarisIbrahimpa1) August 3, 2021
Peruntungan Mario Mandzukic di Wolfsburg mulai membaik pasca kepergian Dzeko ke Manchester City di bulan Januari 2011. Ditambah dengan kepergian Steve McLaren yang digantikan Felix Magath, ia kemudian dikembalikan ke posisi naturalnya sebagai seorang target-man. Mandzukic bertahan di Wolfsburg selama 2 musim, mempersembahkan 20 gol dalam 56 capsnya di Bundesliga.
Meski telah menjelma menjadi idola fans Wolfsburg, tawaran 13 juta euro dari raksasa Bavaria Bayern Munchen di musim panas 2012 sangat sulit ia abaikan. Ia kemudian menerima tawaran tersebut dan sah menjadi penggawa Bayern pada 27 Juni 2012.
Musim pertama Mandzukic bersama Die Roten berjalan cukup mulus. Ia begitu diandalkan oleh pelatih Jupp Heynckes yang memasangnya sebagai striker tunggal dalam formasi 4-2-3-1. Buktinya, striker jangkung bertinggi 190 cm itu langsung mempersembahkan 22 gol di musim pertamanya. Ia adalah bagian vital dalam kesuksesan Bayern meraih treble winners di musim tersebut.
Namun, masa-masa sulit kembali menghantam Mandzukic di musim 2013/2014. Periode itu adalah saat Bayern Munchen berganti pelatih ke Pep Guardiola yang mengubah gaya main dan sedikit merombak formasi. Meski sempat kesulitan di awal musim, Mandzukic tetap menunjukkan performa apiknya dan keluar sebagai top skor dengan sumbangan 26 gol. Sayangnya, di akhir musim ia benar-benar merasa tak betah. Ketidak cocokannya dengan Guardiola dan kedatangan Robert Lewandowski membuatnya memilih hengkang.
Mario Mandzukic was a Champions League winner with Bayern Munich in 2013. #UCL. pic.twitter.com/hswtLCkvt7
— Aadoo Ozzo (@Aadozo) September 3, 2021
Meski mengakhiri pengabdiannya dengan cara yang kurang manis, periodenya bersama Bayern Munchen bisa dibilang sebagai masa-masa paling sukses dalam kariernya. Selama 2 musim, Mandzukic 8 kali mengangkat trofi bersama Bayern dengan rincian 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFB-Pokal, 1 trofi Piala Super Jerman, 1 trofi Liga Champions, 1 trofi Piala Super Eropa, dan 1 trofi Piala Dunia Antarklub.
Bayern Munchen menjadi klub Jerman terakhir yang dibela Mandzukic. Sejak meninggalkan Bayern, ia tak pernah kembali ke tanah Jerman lagi. Sempat semusim membela Atletico Madrid dan memenangkan Piala Super Spanyol 2014, Mario Mandzukic kemudian meneruskan kariernya di Italia setelah dipinang Juventus di musim panas 2015 dengan mahar 19 juta euro.
Former #FCBayern and Wolfsburg striker Mario Mandzukic looks set to complete an 18 million euro deal to join Juventus pic.twitter.com/FEOGIih814
— DW Sports (@dw_sports) June 19, 2015
Mandzukic, Dicintai Fans Juventus, Dihormati Fans AC Milan
Di Juventus, Mario Mandzukic makin bertransformasi menjadi striker yang komplet. Meski tak sering dipasang sebagai striker tunggal, penyerang andalan timnas Kroasia masih mampu menunjukkan kapabilitasnya sebagai penyerang berbahaya.
Seperti yang kita tahu, keunggulan utama Mandzukic adalah postur tubuhnya yang tinggi dan kuat. Bertipe target-man, kemampuannya dalam duel udara, menerima dan menahan bola sangatlah hebat. Namun tak seperti tim lain yang pernah ia bela, di Juventus Mandzukic mesti bersaing dengan striker tangguh lainnya, seperti Paulo Dybala, Fernando Llorente, Gonzalo Higuain, Alvaro Morata hingga Cristiano Ronaldo.
Banyaknya stok penyerang di Juve membuat Mandzukic mesti mengalah. Ia kemudian digeser posisinya oleh Allegri sebagai seorang winger kiri. Meski begitu, perannya di atas lapangan tidak diubah. Ia tetap diplot sebagai seorang target man atau lebih tepatnya seorang wide target man.
Meski dipasang di posisi sayap, wide target man punya peran yang sama dengan target man. Mandzukic diharapkan dapat menjadi pemantul bagi rekan-rekannya. Di situlah kemampuannya dalam menguasai bola dan melindungi bola sangat berguna bagi Juventus.
Bukan tanpa alasan Allegri memasangnya sebagai wide target man. Selain mahir mencetak gol, Mandzukic juga punya catatan asis yang lumayan. Ia juga kerap muncul sebagai aktor sentral Juventus di momen krusial. Seperti gol saltonya dari jarak 14 meter ke gawang Real Madrid di final Liga Champions 2017. Meski gagal membawa Juve juara, gol tersebut dinobatkan sebagai gol terbaik oleh UEFA.
ON THIS DAY: In 2017, Mario Mandžukić scored an incredible overhead kick as Juventus lost 4-1 to Real Madrid in the Champions League final.
Oh look, it’s #WorldBicycleDay 🚲 pic.twitter.com/MKo8N1WJnZ
— Squawka Football (@Squawka) June 3, 2018
Selalu membayar tuntas kepercayaan pelatih dan tak pernah mengeluh dengan perannya di atas lapangan membuat sosok Mandzukic begitu dicintai fans Juventus. Apalagi, selama 4 musim masa pengabdiannya, ia sukses mempersembahkan 8 gelar domestik, termasuk 4 scudetto secara beruntun. Sayangnya, masa-masa indah itu tiba-tiba sirna kala Juve ditangani Maurizio Sarri.
Di musim 2019/2020, ia tak pernah sekalipun diturunkan oleh Sarri. Jangankan bermain, ia juga didepak dari daftar pemain Juventus di ajang Liga Champions. Padahal, pada bulan April sebelumnya, ia telah menandatangi perpanjangan kontrak hingga Juni 2021. Perlakuan tak adil makin kentara kala ia jadi satu-satunya pemain yang tak diundang dalam perayaan Natal yang diadakan klubnya.
Tersisih dari Si Nyonya Tua, Mandzukic kemudian secara mengejutkan menerima pinangan klub Liga Super Qatar, Al-Duhail. Namun setelah hanya mencatat 10 penampilan dan menyumbang 2 gol, ia mengakhiri kontraknya pada Juli 2020. Setelah itu, Mandzukic sempat menganggur cukup lama sebelum akhirnya direkrut AC Milan pada bulan Januari 2021.
Di Milan ia diharapkan sebagai backup Zlatan Ibrahimovic. Apesnya, Mandzukic hanya sempat tampil 11 kali tanpa mencetak satu pun gol bagi rossoneri. Kondisi fisik yang kurang fit dan beberapa kali absen karena cedera kambuhan membuat penampilannya di San Siro tak maksimal.
Selama dirinya absen, Mario Mandzukic enggan menerima gaji dari Milan. Oleh Milan, gaji tersebut kemudian disumbangkan ke badan amal. Tak ayal, sikapnya tersebut membuat dirinya mendapat penghormatan dari fans AC Milan.
Mario Mandzukic was injured and unavailable to play for AC Milan in March.
He asked not to receive his salary for the month—instead, it went direct to charity. pic.twitter.com/m4oc6HJsMy
— B/R Football (@brfootball) April 16, 2021
Pensiun! Mario Mandzukic Harusnya Lebih Banyak Mendapat Respect!
Tak lama setelah kontraknya tak diperpanjang, Mario Mandzukic memutuskan pensiun pada 3 September 2021 pada usia 35 tahun. Ia menyampaikan kabar tersebut dengan membagikan pesan emosional di Instagram yang berisi surat yang ditulis untuk dirinya yang lebih muda bersama dengan foto sepasang sepatu bola pertama yang ia kenakan sebagai seorang anak.
Itulah akhir dari perjalanan karier hebat Mario Mandzukic, seorang mantan anak pengungsi yang menjelma menjadi salah satu striker tajam di masanya. Sepanjang karier klubnya, Ia telah mencetak 228 gol dalam 582 penampilan. Meski begitu, kita jarang mendengar nama Mandzukic disebut sebagai salah satu striker paling berbahaya di Eropa. Singkatnya, ia kerap dipandang sebelah mata alias underrated. Namanya jarang dibicarakan dan disanjung meski rekor yang ia torehkan begitu banyak.
23 trophies. 261 goals in 671 games for club and country.
What a career for Mario Mandzukic 👏 pic.twitter.com/XkIb80yop4
— B/R Football (@brfootball) September 3, 2021
Padahal, di level internasional, ia adalah pencetak gol terbanyak kedua timnas Kroasia dengan catatan 33 gol dalam 89 caps. Ia adalah peraih penghargaan pemain terbaik Kroasia 2 kali dan jadi bagian penting dalam kesuksesan negaranya mencapai babak final Piala Dunia 2018.
Atas berbagai pencapaiannya, Mario Mandzukic layak untuk mendapat lebih banyak respect. Meski kerap mendapat perlakuan kurang adil selama hidupnya, striker yang dijuluki Super Mario itu selalu mampu bangkit dan membayarnya dengan pembuktian berkelas.
Selamat pensiun Super Mario!
***
Sumber Referensi: Bundesliga, Goal, Pandit Football. ESPN, Transfermarkt.


