Mengenal Kepemilikan Socios pada Klub La Liga Spanyol

  • Whatsapp
Mengenal Kepemilikan Socios pada Klub La Liga Spanyol
Mengenal Kepemilikan Socios pada Klub La Liga Spanyol

Jika umumnya klub sepak bola menggunakan sistem kepemilikan Private Limited Company (PLC). Atau bisa juga disebut kepemilikan satu orang atau satu perusahaan. Namun, klub-klub di La Liga Spanyol tidak begitu. Meskipun pemerintah Spanyol sejak 1992 telah mewajibkan semua klub sepak bola memiliki sistem PLC, namun pada kenyataannya beberapa ada yang tidak begitu.

Klub-klub tersebut adalah FC Barcelona, Real Madrid CF, Athletic Club Bilbao, dan Osasuna. Keempat klub tersebut masih menggunakan sistem kepemilikan tradisional, yaitu socios. Nah, pertanyaannya, kenapa empat klub itu tidak memakai sistem PLC dan manut saja sama pemerintah Spanyol? Apakah mereka membangkang?

Tentu saja tidak saudara-saudara. Ada alasan khusus kenapa klub-klub tersebut masih menggunakan sistem socios di saat klub-klub lain di La Liga Spanyol sudah mulai menerapkan sistem kepemilikan perusahaan atau perorangan.

Apa itu Sistem Kepemilikan Socios?

Mari kita membahas apa itu sistem kepemilikan socios pada klub-klub La Liga Spanyol terlebih dahulu. Setidaknya, sistem ini pernah dipakai hampir semua klub di Liga Spanyol sebelum tahun 1992. Secara singkat, sistem socios berarti klub dimiliki organisasi nirlaba. Di mana anggotanya adalah para penggemar klub tersebut.

Jadi dananya dari setiap anggota. Setiap anggota yang berasal dari penggemar suatu klub akan membayar dalam nominal tertentu setiap tahunnya.  Beberapa informasi menyebut, para anggota socios di suatu klub diwajibkan membayar iuran 123 euro atau sekitar Rp 2 juta per tahun.

Kalau kita ambil contoh Real Madrid, hingga saat ini anggota socios Real Madrid mencapai 90 ribu lebih anggota. Dengan total anggota sebanyak itu, dana yang bisa dikumpulkan sebanyak 11 juta euro atau Rp 184 miliar lebih tiap tahunnya. Karena dimiliki orang banyak, keuntungan tidak lari ke satu orang atau perusahaan saja. Melainkan masuk ke keuangan klub.

Tak seperti sistem PLC, sistem socios tidak mengenal pembagian keuntungan. Sebab semua keuntungan langsung dialihkan ke klub untuk dikelola kembali. Sistem ini mirip dengan sistem demokrasi di pemerintahan. Para direksi dan presiden pun diangkat melalui pemilihan laiknya Pilkada di Indonesia.

Setiap penggemar yang menjadi anggota socios sebuah tim juga boleh mengajukan diri sebagai presiden. Para kandidat atau calon presiden sebuah klub juga harus melakukan kampanye untuk menarik simpati para anggota socios lainnya. Seperti yang dilakukan Josep Maria Bartomeu yang menjabat Presiden Barcelona dari 2015-2020.

Kala itu, alih-alih menghadiri debat yang diadakan media massa, Bartomeu lebih memilih menghindar. Ia hanya akan datang di debat resmi. Bartomeu justru memilih mendekati para socios daripada terlalu banyak berpendapat, karena dia tahu dari situ dia dapatkan suara.

Menjadi anggota socios di sebuah klub, selain membayar iuran, dari iuran itu ia bisa mendapat keuntungan, seperti akses mudah mendapatkan tiket dan hak memilih. Jika sudah menjadi anggota socios veteran dan memperoleh keistimewaan setelah membayar iuran selama 50 tahun, si socios bakal mendapatkan gratis tiket menonton pertandingan.

Anggota socios juga terikat peraturan-peraturan tertentu. Apabila mereka melanggarnya maka akan ada konsekuensinya. Jadi betul-betul seperti sistem demokrasi di pemerintahan kita.

Finansial Stabil

Salah satu keuntungan yang bisa didapat dari sistem socios ini adalah keuangan klub yang cenderung stabil. Mengapa begitu? Sebab tidak ada pembagian dividen kepada para pemegang saham. Uang akan langsung mengalir ke klub itu sendiri.

Disamping itu ada uang garansi atau istilahnya aval. Dana ini berasal dari calon kandidat presiden klub. Jadi, sebelum mencalonkan presiden, seorang anggota socios harus mendapat petisi pencalonan dari 2.500 anggota socios lainnya. Nah, dana aval juga harus disediakan calon kandidat presiden.

Beberapa sumber menyebutkan dana yang harus disediakan sekitar 76 juta euro atau Rp 1,2 triliun. Maka dari itu, adanya uang garansi ini membuat klub tak perlu khawatir meski pendapatannya sedang sakit. Dana itu digunakan untuk istilahnya menalangi dan supaya klub terhindari dari kerugian.

Rentan Elitisme

Meskipun sistem kepemilikan socios atau orang banyak, namun ketika sudah selesai pemilihan presiden semua kebijakan klub berada di tangan presiden. Maka tak jarang sistem ini memunculkan elitisme. Presiden dan para petinggi klub yang sudah dipilih acap kali memiliki kepentingan pribadi. Ya mirip-mirip lah sama demokrasi di Indonesia.

Sementara para anggota socios tidak bisa mengontrol atau bahkan memblokir ketika ada pengeluaran yang sia-sia. Paling banter mereka hanya bisa mengkritik kebijakan presiden klub. Kendati tentu saja kritik hanya seperti bunyi kentut di telinga presiden. Presiden hingga para petinggi klub acap kali tidak terbuka soal finansial. Hal ini membuat kecurigaan-kecurigaan seperti dugaan korupsi, nepotisme, sampai penggelapan dana bermunculan.

Politik Praktis

Sistem socios ini juga melahirkan politik praktis yang bikin najis. Setiap kandidat entah bagaimana akan membuat kandidat lain tak berdaya, seperti menjelek-jelekkan. Ini dilakukan konon demi mengobarkan ambisi pribadi calon presiden.

Demi memuluskan hasratnya menjadi Presiden Real Madrid, Florentino Perez pernah menjanjikan membawa Luis Figo. Mantan Presiden Real Madrid, Ramon Calderon juga pernah maju dengan dugaan melalui jalur ilegal, ia juga dianggap membajak Cristiano Ronaldo dari Manchester United dengan pra-perjanjian rahasia.

Presiden Barca sekarang, Juan Laporta juga pernah mengiming-imingi penggemar dengan merekrut David Beckham. Dan ia ikut menjelek-jelekkan Presiden Barca lain, Juan Gaspart yang dianggap tak becus mengurus keuangan. Presiden Osasuna, José Francisco Izco Ilundáin juga menang setelah menjanjikan Javier Aguirre sebagai pelatih tahun 2002.

Hal semacam itu cenderung mengarah ke politik praktis dan justru membuat citra klub semakin buruk. Hubungan baik dengan klub lain bisa jadi juga akan rusak. Presiden mungkin saja akan membuat keputusan-keputusan yang sembrono demi memuluskan hasratnya pribadi.

Pada akhirnya, sistem socios ini akan melahirkan rezim di suatu klub. Ironisnya, rezim klub akan menguasai segala aspek yang dimiliki klub tersebut, tak terkecuali media. Dengan menguasai media, rezim klub akan memunculkan desas-desus mengenai pemain yang ada, pemain yang diincar, atau pelatih, tentu yang menguntungkan rezim. Maka dari itu informasi soal klub rentan dimanipulasi.

Kenapa Empat Klub La Liga Masih Memakai Sistem Ini?

Seperti yang sudah dibahas di awal, bahwa ada empat klub La Liga Spanyol yang masih memakai sistem kepemilikan socius. Empat klub itu adalah Real Madrid, FC Barcelona, Athletic Club Bilbao, dan Osasuna. Undang-undang Olahraga Spanyol, Ley 10/1990 del Deporte melalui Pasal 19.1 mewajibkan setiap klub sepak bola berbentuk PLC milik swasta mulai Juni 1992, untuk klub Primera Division mulai musim 1992/1993.

Namun, keempat klub tersebut tidak termasuk. Sebab Barcelona, Real Madrid, Athletic Bilbao, dan Osasuna telah memenuhi ketentuan Liga de Futbol Professional (LFP). Yang mana klub-klub tersebut mampu membuktikan dalam neraca keuangan masing-masing, mereka selalu untung selama lima musim terakhir, dihitung dari musim 1985/86.

Akhirul kalam, boleh jadi hari ini kita sedang melihat bagaimana sistem socius begitu beresiko. Hari ini kita sudah disuguhkan FC Barcelona yang hampir berada di titik nadir. Hilangnya pemain bintang, rutinitas kekalahan, sampai isu pemecatan Ronald Koeman. Jika tak segera dibenahi, kita tinggal menunggu bagaimana FC Barcelona hancur berkeping-keping atau bertahan dengan kondisi seperti klub amatir.

Sumber referensi: bleacherreport.com, chiliz.com, firstsportz.com, detik.com, beritasatu.com

Pos terkait