Penggemar FC Barcelona tentu masih ingat tentang momen ketika Luis Suarez menitikan air mata usai pergi dari tempat latihan FC Barcelona. Sebuah perpisahan emosional, yang menempatkan Suarez sebagai pemain yang jadi korban ketidakjelian manajemen FC Barcelona.
Lionel Messi, yang jadi teman terbaik Suarez selama berkarir bersama, menyalahkan Barcelona yang terlihat tidak memberikan respek kepada Suarez. Messi yang kini tak lagi berada di kubu el Barca sangat menyesalkan keputusan Barca yang melepas pemain sekaliber Suarez, ketika tim tengah membutuhkan sosok penyerang untuk diandalkan.
Memang benar bila torehan gol Suarez pada musim terakhirnya di Barcelona menurun. Dia juga tercatat tidak pernah lagi mencetak gol untuk klub di laga tandang kompetisi Liga Champions Eropa sejak tahun 2015. Namun, pelepasan yang terkesan tidak sesuai dengan apa yang telah diberikan sang pemain selama ini benar-benar membuat Messi dan tentunya kebanyakan penggemar geram.
Lionel Messi and Neymar JR celebrating after Suarez scored in the 2015 Champions League Final.
What a picture 🤩🤩 pic.twitter.com/JguwTzYvr5
— Thomas (@6BDORS) October 2, 2021
Dalam hal ini, Koeman yang baru saja ditunjuk sebagai pelatih Barcelona pada September 2020 disebut sebagai biangnya. Tepat lima hari setelah peresmiannya sebagai pelatih Barca, Koeman langsung menghubungi Suarez dan mengatakan kalau sang pemain tidak masuk ke dalam rencananya untuk musim 2020/21.
Suarez sempat terkejut. Dia merasa masih bisa memberikan yang terbaik untuk el Barca. Perubahan yang terjadi juga diterimanya dengan baik. Namun bila pengusiran memang harus dilakukan, Suarez berharap ada cara yang lebih baik dalam menyampaikan itu semua. Toh dia telah memberikan banyak sekali kontribusi untuk Barcelona.
“Aku bisa menjadi top skor dengan mengalahkan Messi dan Ronaldo. Aku menjadi yang terbaik karena usahaku sendiri. Bukan karena pilihan orang banyak,”
“Aku juga sempat memikul tanggung jawab mencetak gol di laga el clasico ketika Messi tidak ada. Sebelumnya, aku pernah melakukan hal serupa di Liverpool ketika disana ada Steven Gerrard. Di Ajax, aku juga telah mengenakan ban kapten di usia 22 tahun,” ucap Suarez (via Marca)
Koeman yang menolak untuk bersikap lembut kemudian lebih memilih untuk tidak merespon serius pernyataan Suarez. Dia malah membiarkan sang pemain berlatih secara terpisah, sebagai upaya untuk memberikan situasi yang kian membuat tidak nyaman. Suarez ketika itu memang merasa kesal. Dia mengaku bila Koeman telah memperlakukannya seperti seorang pemain yang baru berusia 15 tahun.
Luis Suarez on Ronald Koeman:
🗣️ “Koeman treated me as if I was a 15-year-old boy, and Bartomeu showed the dressing room as if I was a ‘harmful figure’. The tension between him and Laporta hurts the players.”😳 #Barcelona pic.twitter.com/UGQxqKmrmN
— Football Alertt (@FootballAlertt) September 30, 2021
Puncaknya, Suarez benar-benar tidak bisa lagi menahan marah, ketika Koeman menyebutnya sebagai pemain tua yang sudah tidak lagi produktif. Berdasar pada pernyataan tersebut, Suarez pamit. Dia meninggalkan Barcelona meski dalam hatinya, klub tersebut masih begitu dicintainya.
Bangkit Bersama Atletico
Di tengah keterpurukan yang dialaminya, datang sebuah klub bernama Atletico Madrid. Meski bertindak sebagai rival, Suarez tidak mempedulikan itu semua. Dia tak mau berlama-lama berlumur dalam kesedihan. Dirinya merasa masih memiliki banyak tanggung jawab sebagai seorang pemain sepakbola.
Di momen tersebut, Los Rojiblancos bak ketiban durian runtuh melalui keputusan mengejutkan Barcelona yang berani melepas Suarez. Padahal bila ditarik ulang, catatan 198 gol dari 283 pertandingan yang dijalani bersama Barca tidaklah sembarangan. Apalagi, Suarez masih tergolong ke dalam salah satu penyerang paling mematikan sejagat.
Menurut Atletico, nyaris tidak masuk akal ketika Barca menyebut kemampuan Suarez sudah tidak berguna.
Tak mau kehilangan rezeki yang kadung hadir di depan mata, Atletico buru-buru mengeluarkan dana senilai 7 juta euro atau setara 115 miliar rupiah untuk mendaratkan Luis Suarez di Wanda Metropolitano. Diikat sampai dua tahun ke depan atau sampai 2022 mendatang, pelatih Diego Simeone mengaku masih tidak percaya ketika timnya kedatangan seorang pemain jempolan untuk diandalkan di lini depan.
“Dia datang dengan semua pertanyaan tentang kepergiannya dari Barcelona, dan datang dengan jiwa pemberontak seperti seorang anak laki-laki berusia 20 tahun. Dia sangat antusias dan ingin menunjukkan bahwa dia masih bergelora.” kata Simeone tentang Suarez.
Jadi Juara La Liga Sebagai Pembuktian Pada Barcelona
Apa yang diucapkan Simeone tentang Suarez memang bukan bualan belaka. Bahkan, Suarez sendiri mengakui bila kedatangannya ke Atletico adalah untuk membuktikan kalau dirinya masih sangat layak diandalkan dan tak seharusnya dibuang.
Selain itu, dipilihnya Atletico sebagai pelabuhan barunya juga karena orang-orang disana disebut langsung memberikan kepercayaan untuknya. Suarez merasa sangat bahagia ketika orang-orang disana menerimanya dengan sangat baik..
Di laga debutnya yang turun dari bangku cadangan, Suarez berhasil membuktikan diri bahwa ia masih layak disebut disebut penyerang jempolan dengan torehan dua gol dan 1 assist yang diciptakan.
Seterusnya, dia menjadi andalan dan selalu ciptakan momen mematikan, ketika penjaga gawang kesulitan mengantisipasi aksinya di atas lapangan. Lebih dari itu, Suarez juga sering bertindak sebagai pembuka ruang bagi pemain lain, ketika para lawan terus berfokus kepadanya.
Menurut situs Breaking The Lines, rahasia sukses Atletico Madrid pada musim lalu memang tak lepas dari peran Luis Suarez. Simeone yang memahami betul kemampuan yang dimiliki Suarez sengaja menjaga keseimbangan klub dan memberi ruang bagi eks penyerang Liverpool agar mudah beradaptasi dengan pola yang dimainkan.
INCREDIBLE 🤯
Atletico Madrid remain top of La Liga after a late winner from Luis Suarez. pic.twitter.com/Ig6v2qqd4B
— ESPN FC (@ESPNFC) May 16, 2021
Pelatih asal Argentina itu rela mengubah aspek tertentu dalam permainannya untuk beradaptasi dengan gaya main Suarez. Dalam hal ini, para pemain diminta Simeone untuk lebih sering melakukan penguasaan bola, utamanya di lini serang, guna membantu el Pistolero menyelesaikan setiap peluang yang didapat.
Hal ini dapat dibuktikan dengan perubahan formasi mereka yang kerap menggunakan 4-4-2 menjadi 3-4-3 atau 3-5-2. Dengan melakukan transisi tersebut, Atletico terlihat lebih mudah dalam menguasai bola di garis yang lebih tinggi, yang tujuannya tentu untuk mempermudah Suarez dalam mendapatkan bola dan mencetak gol.
Soal keseimbangan permainan yang sempat disinggung, Simeone tidak lupa meminta para pemain belakang untuk tetap menjaga pertahanan agar tetap solid. Atletico akan dengan cepat melakukan transisi ke pola 5-4-1 atau 5-3-2, ketika tim tengah diserang atau bahkan saat terjebak dalam situasi serangan balik.
Melalui permainan yang seimbang, Atletico yang pada musim lalu berhasil menciptakan setidaknya lebih dari 50% penguasaan bola tiap pertandingan dan kerap mampu mempertahankan keunggulan, berhasil menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di La Liga. Mereka tercatat hanya kebobolan sebanyak 25 gol dari 38 pertandingan yang dimainkan.
Soal gol yang diciptakan, sebanyak 67 bola berhasil masuk ke dalam gawang, dimana 21 diantaranya tercipta dari aksi Luis Suarez. Puncaknya, melalui kehebatan Luis Suarez dan permainan yang terstruktur, Atletico Madrid berhasil keluar sebagai juara La Liga.
Luis Suarez, dalam hal ini, tidak hanya menjadi pencetak gol terbanyak Atletico Madrid saja, namun dia juga kerap menjadi penentu kemenangan atau membawa Atletico terhindar dari kekalahan. Seperti dilansir Opta, Atletico tercatat sukses meraih 21 poin berkat 21 gol yang dicetak Suarez di kompetisi liga musim lalu. Praktis, jumlah poin tersebut nyaris seperempat dari koleksi poin Los Rojiblancos musim lalu (21/86 – 24,41%).
Dengan membawa Atletico Madrid meraih gelar juara pada musim lalu, Suarez hanya melewatkan musim tanpa gelar bersama Groningen. Selebihnya, dia tercatat sebagai pemain yang selalu memberikan gelar kepada tim yang dibelanya.
Sampaikan Pesan Melalui Selebrasi Gol yang Diciptakan?
Pada musim ini sendiri, Suarez semakin memantapkan diri sebagai pemain yang benar-benar membuat Barcelona menyesal. Dalam laga antara Atletico melawan mantan klub nya itu, Suarez berhasil mencetak satu dari dua gol yang diciptakan timnya saat ini.
Tepat setelah menjebol gawang FC Barcelona, Suarez langsung menunjukkan gestur permintaan maafnya. Namun tak lama setelah itu, dia tampak melakukan gerakan seperti orang yang sedang menelpon.
Sontak, banyak media yang berspekulasi bila selebrasi itu dilakukan sebagai bentuk sindiran kepada Ronald Koeman yang telah mengusirnya. Namun, Marca kemudian meluruskan bila Suarez sama sekali tidak pernah berniat untuk menyindir Koeman.
September 2020: Koeman calls Suarez to tell him he’s not in his plans at Barcelona. Atletico sign Suarez.
One year later… pic.twitter.com/2EgNyeKPFx
— B/R Football (@brfootball) October 2, 2021
Melalui laman tersebut, Suarez dikatakan hanya ingin memberitahu bahwa nomor teleponnya masih sama. Selain itu, sang pemain juga menegaskan bila dia sempat bercanda dengan anak-anaknya untuk melakukan selebrasi itu saat berhasil mencetak gol.
“Selebrasi itu untuk orang-orang yang tahu aku punya nomor yang sama. Aku ingin memberitahu kalau aku masih menggunakan nomor yang sama,”
“Itu bukan untuk Koeman, tidak sama sekali,”
“Kalau kalian ingin tahu…aku sudah bercanda dengan anak-anak ku kalau aku ingin melakukan itu.” ucap Suarez.
Terlepas menyindir atau tidak, setidaknya selama semusim lalu Suarez telah membungkam mulut Koeman soal anggapan tua & tak produktif.
Sumber referensi: Oh My Goal, The Athletic, Marca


