Mantan pesepakbola tim nasional Jerman, Bastian Schweinsteiger, beberapa waktu lalu mengumumkan pensiun dari lapangan hijau di usia 35 tahun. Klub terakhir yang dibela sang gelandang adalah kesebelasan MLS, Chicago Fire
Schweini mengumumkan keputusan untuk pensiun tersebut melalui akun media sosialnya. Dalam pernyataannya dia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh mantan rekannya dan istrinya yang merupakan mantan bintang tenis Ana Ivanovic.
Selama menjalani karir sebagai pesepak bola, Schweini termasuk salah satu gelandang tersukses. Deretan trofi dan penghargaan Individu telah menemaninya.
Schweini mengawalinya dengan bergabung di sekolah sepak bola FV Oberaudorf pada tahun 1990. Dua tahun kemudian ia menimba ilmu di TSV Rosenheim hingga tahun 1998.
Ketika masih muda Schweini bisa saja memilih olah raga ski sebagai kariernya. Pasalnya, ia cukup piawai dalam olah raga tersebut. Ia pernah dilatih oleh atlet ski Jerman ternama, Felix Neureuther.
Namun Schweini memilih sepak bola ketika datang tawaran dari Bayern Munchen di tahun 1998. Meski demikian, Schweini masih sering bermain ski di waktu luangnya.
Schweini bermain di tim junior Fc Bayern sejak usia 14 tahun. Selama empat tahun di tim junior, ia tampil cukup menonjol dan mampu mempersembahkan beberapa gelar.
Pada tahun 2002, ia berhasil masuk tim Bayern Munchen II. Baru beberapa bulan di dalam tim, ia sudah menarik perhatian pelatih tim utama Bayern saat itu, Ottmar Hitzfeld. Schweini lalu diturunkan sebagai pemain pengganti saat bertemu RC Lens di ajang Liga Champions pada November 2002.
Ternyata Schweini tampil bagus dan bahkan membuat satu assist. Sebulan kemudian, ia langsung mendapat kontrak sebagai pemain profesional di klub raksasa Jerman tersebut saat usianya masih 18 tahun. Di musim itu, fc Bayern berhasil meraih gelar juara Bundesliga serta Piala Jerman.
Ketika pertama kali bermain untuk tim Fc Bayern, posisinya kala itu adalah bek kiri atau full-back. Kemudian ia dipindahkan ke posisi gelandang kiri agar mampu menahan serangan dari pemain sayap lawan serta membantu serangan tim dari sisi kiri.
Selain itu, pada awal kariernya di klub yang bermarkas di Allianz Arena tersebut, Schweini juga dikenal sebagai pemuda yang bandel dan kerap melawan aturan. Satu kali, di usianya yang masih 18 tahun, seorang satpam di kompleks latihan Bayern Muenchen menangkap basah Schweini sedang berada di kolam berpusar bersama seorang gadis pukul 2 dini hari.
Schweini kemudian mengaku bahwa itu adalah sepupunya yang sedang ia ajak berkeliling di tempat latihan.
Di musim 2003/04, ia makin sering tampil untuk FC Bayern. Sebuah prestasi yang membanggakan, karena klub yang dijuluki FC Hollywood itu punya banyak pemain bintang. Kalau seorang pemain muda binaan klub bisa menembus tim inti, itu sudah merupakan pencapaian yang mengagumkan.
Kecemerlangan Schweini di klub tentu membuatnya dilirik masuk timnas. Pelatih Jerman saat itu, Rudi Voller, memasukkan Schweini dalam skuad Piala Eropa 2004. Jerman memang gagal lolos dari penyisihan grup. Tapi permainan para pemain muda mereka, termasuk Schweini, mendapat apresiasi tinggi dan dianggap punya masa depan cerah.
Di tahun-tahun berikutnya, Schweini semakin menunjukan kelasnya. Pamornya makin mengkilap saat tampil di Piala Dunia 2006 di negaranya. Ia pun menjadi incaran banyak klub. FC Bayern langsung memagari Schweini dengan memberi kontrak baru, yang akan berakhir pada pertengahan 2009.
Kehebatan Schweini semakin terlihat ketika di usia 22, ia sudah bermain 41 kali untuk Jerman. Di usia 24, ia sudah disebut-sebut sebagai pemain legendaris FC Bayern dan Jerman serta salah satu gelandang tengah terbaik yang pernah dimiliki kedua tim.
Uniknya, Schweini lebih sering bermain sebagai sayap kanan di Fc Bayern dan gelandang sayap kiri di timnas Jerman. Meski demikian, sejak hadirnya Arjen Robben dan Franck Ribery di FC Bayern pada 2009, posisi Schweini dipindahkan oleh pelatih tim saat itu, Louis van Gaal, ke gelandang tengah. Dan sejak saat itu, ia mulai tampil reguler sebagai pemain tengah.
Pada final liga champions tahun 2012, Schweini sempat alami penyesalan mendalam ketika tendangannya dalam adu penalti di tepis kiper Chelsea, Petr Cech. Kegagalan Schweini tersebut membuat Chelsea akhirnya keluar sebagai juara setelah Didier Drogba menjadi penentu kemenangan.
Pada musim 2012/13, Schweini tampil sangat baik dan melanjutkan tugasnya sebagai gelandang tengah bersama dengan pemain baru Javi Martínez. Dia digambarkan oleh sang pelatih, Jupp Heynckes sebagai gelandang terbaik di dunia. Di musim itu, Schweini juga membantu Fc Bayern keluar sebagai juara liga Champions. Ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman tahun 2013.
Puncak karir Schweini terjadi pada 2014, kala ia menjuarai piala dunia 2014 di Brasil bersama timnas Jerman. Setelah Philipp Lahm pensiun dari timnas,Schweini ditunjuk sebagai kapten tim nasional. Ia lalu memainkan pertandingan terakhirnya untuk Jerman melawan Finlandia pada 31 Agustus 2016, setelah itu ia pensiun dari sepak bola internasional.
Pada 23 Mei 2015, Schweini mencetak gol dalam penampilannya yang ke-500 untuk FC Bayern. Di mana ini menjadi pertandingan terakhirnya dengan klub. Dia menghabiskan 17 musim di FC Bayern, bermain di tepat 500 pertandingan di semua kompetisi dan mencetak 68 gol.
Pemain kelahiran 1 agustus 1984 ini kemudian hijrah ke Man United. Hanya satu musim dan bermain dalam 31 pertandingan, Schweini kemudian di lepas MU. Chicago Fire menjadi pelabuhan selanjutnya bagi Schweini. Selama tiga musim di sana, ia cukup berhasil dengan tampil sebagai pemain utama.
Sepanjang perjalanan karir bersama FC Bayern. Schweini memenangi 8 gelar Bundesliga, 7 DFB Pokal, satu Liga Champions dan sebuah piala dunia antar klub. Sementara bersama Setan Merah, ia meraih piala FA.
Bersama timnas, selain menjuarai Piala Dunia 2014, ia juga turut membantu tim panser finish di urutan ketiga pada piala dunia 2006 dan 2010 serta Runner up piala eropa 2008. Secara keseluruhan ia membuat 121 penampilan untuk Die Mannschaft, menjadikannya pemain dengan jumlah penampilan terbanyak keempat untuk negaranya dan mencetak 24 gol.
Pelatih Jerman Joachim Low menyebut Schweinsteiger “salah satu pemain Jerman terbaik yang pernah ada.”
“Bastian adalah seorang pemain besar, kepribadian yang besar. Selalu jujur, selalu tegas,” tambah Low. (Dikutip dari Foxsports)
Saat masih aktif bermain, Schweini kerap disejajarkan dengan Stefan Effenberg, pemain legendaris Bayern Munchen. Keduanya dianggap punya skill yang sama hebatnya, gaya permainan yang serupa dan mampu ditempatkan di berbagai posisi di tengah.
Punya karakter kuat, tidak kenal kata menyerah dan bertenaga kuda. Secara fisik, wajah mereka juga hampir sama. Bedanya, Effenberg terbilang temperamental, sedangkan Schweini lebih tenang dan tidak emosional.
Kini, walau bagaimanapun, Schweini merupakan remaja nakal yang akhirnya menjadi legenda sepak bola dunia.


