Mengenal Akuisisi dan Merger yang Sering Dilakukan Klub Sepak bola

  • Whatsapp

Tahun 1964 pernah tercetus sebuah ide gila yang sempat membuat geger pencinta sepak bola. Ide gila tersebut adalah peleburan dua klub rival sekota, Manchester United dengan Manchester City. Dalam buku “Manchester-The City Years” yang dikutip Vice tertulis peleburan itu tujuannya untuk mengangkat moral para penggemar Manchester City.

Terlebih pada waktu itu, Manchester City bermain di kasta kedua. The Citizen sejak Perang Dunia II mengalami penurunan fans. Yang barangkali juga berdampak pada era sekarang. Kendati begitu, merger atau peleburan ini sebetulnya bukanlah hal asing di dunia sepak bola. Banyak klub yang bahkan terbukti sukses setelah merger.

Bacaan Lainnya

Di Liga Inggris ada Watford yang buah marger dari klub West Hertfordshire dan Watford St. Mary’s pada 1898. Lalu ada Newcastle United yang terlahir berkat merger Newcastle West End dan Newcastle East End pada 1892. Raksasa Serie A, AS Roma bahkan terlahir berkat merger tiga klub lokal: Roman FC, SS Alba-Audace, dan Fortitudo-Pro Roma SGS pada 1927. Kita juga tahu kalau Paris Saint-Germain adalah hasil merger Stade Saint-Germain dan Paris FC. Meski pada 1972 Paris FC kembali berdiri sendiri.

Peleburan klub sepak bola ini juga terjadi di kancah sepak bola Asia Tenggara, utamanya di Indonesia. Di Indonesia bahkan yang terjadi bukan sekadar merger, melainkan ada juga yang namanya akuisisi. Mengenai akuisisi kita bisa melihatnya pada Cilegon United yang diakuisisi oleh Raffi Ahmad dan namanya berubah menjadi RANS Cilegon FC. Lantas apa sih sebenarnya akuisisi dan merger itu? Apa fungsinya dua hal itu diterapkan di klub sepak bola?

Merger

Mari kita membahas mengenai merger atau peleburan terlebih dahulu. Merger di dunia sepak bola adalah sesuatu yang lumrah. Mengingat sepak bola sendiri merupakan sebuah industri.

Dengan merger klub bisa terhindar dari jurang kebangkrutan. Itulah mengapa ketika satu klub mengalami krisis finansial atau terbelit masalah ekonomi, misalnya karena pajak dan sebagainya, merger bisa jadi adalah jalan keluar. Maka dari itu, klub Italia yang hampir bangkrut, Vicenza merger dengan Bassano Virtus.

Merger ini juga bisa menjadi siasat bagi klub tertentu untuk meningkatkan posisinya. Klub bisa langsung pindah divisi ketika merger dengan klub lain. Misalnya Persikabo yang awalnya berada di Divisi 3 Liga Indonesia bisa naik ke Divisi 1 berkat merger dengan PS TIRA. Kini klub tersebut bernama Persikabo 1973, gabungan dari TIRA-Persikabo, PS TIRA, PS TNI, dan Persiram Raja Ampat.

Ketika di-merger atau dilebur, klub bisa saja pindah markas. Hal itu memang sering terjadi apalagi di Indonesia. Salah satunya kita bisa melihat bagaimana Bhayangkara FC yang semula bermarkas di Surabaya kini pindah ke Solo, namanya pun menjadi Bhayangkara Solo FC.

Berbeda dengan sepak bola di luar negeri, memang sepak bola Indonesia sarat akan drama. Merger klub pun tak bisa terlepas dari drama yang sedikit menjijikan. Bhayangkara FC adalah contohnya. Bhayangkara FC yang kemudian mengambil lisensi Persebaya Surabaya membuat Persebaya terbelah. Sehingga muncul Persebaya 1927 yang mana merupakan Persebaya yang asli.

Ketika merger dengan PS Polri, Bhayangkara mengubah namanya menjadi Surabaya United. Hingga akhirnya klub memutuskan pindah markas ke Solo. Namanya pun diubah lagi menjadi Bhayangkara Solo FC pada akhir tahun 2020. Kemudian bagaimana dengan akuisisi?

Akuisisi

Akuisisi terlihat lebih kompleks daripada merger. Sebab akuisisi berhubungan dengan saham di sebuah klub. Jadi, akuisisi bisa diartikan pengambilalihan klub dengan membeli sebagian saham suatu klub sepak bola. Umumnya dihitung berdasarkan persentase kepemilikan saham.

Saat Suning Group, pemilik Inter Milan mengalami krisis finansial, hal itu dimanfaatkan firma manajemen aset asal Amerika, Oaktree Capital untuk mengakuisisi Inter. Oaktree Capital kabarnya mengakuisisi sekitar 31 persen saham Inter senilai 275 juta euro atau sekitar Rp 4,6 triliun.

Nah, perusahaan atau pihak tertentu bisa saja menguasai suatu klub lewat jalur akuisisi. Namun syaratnya nilai akuisisi melebihi 50 persen. Satu dekade terakhir ini akuisisi begitu karib di telinga penggemar sepak bola Indonesia.

Masih teringat betul ketika seorang pesohor tanah air, Raffi Ahmad dan pengusaha otomotif Rudy Salim mengakuisi 50 persen lebih saham Cilegon United. Klub asal Cilegon itu pun melakukan re-branding dengan meresmikan nama baru, RANS Cilegon FC.

Meski berbeda baik akuisisi maupun merger sama-sama dilakukan dengan tujuan menghindari krisis finansial. Dua cara ini memang acap kali dilakukan oleh klub yang nyaris dikatakan bangkrut. Lagi pula, baik merger atau akuisisi keduanya tidak dilarang oleh FIFA.

Peraturan FIFA Pasal 4 ayat 4 menyebut lisensi sebuah klub boleh saja diperjualbelikan asalkan memenuhi syarat tertentu. Salah satu syaratnya klub yang akan dijual sedang mengalami kebangkrutan atau hampir dibubarkan. Merger, akuisisi, sampai perubahan nama dilarang FIFA apabila klub yang bersangkutan sudah memulai kompetisi resmi.

Sumber referensi: kumparan.com, kapten.id, panditfootball.com, gorilasport.com, libero.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *