MENGEJUTKAN! 5 Klub Ini Harus Terdegradasi dari Liga Inggris

spot_img

Berstatus sebagai salah satu liga terbaik di dunia, persaingan papan bawah kelasemen Liga Inggris nyatanya lebih asyik untuk diperdebatkan. Menariknya, dalam persaingan papan bawah ada nama Everton yang berada di luar zona degradasi dengan hanya berselisih gol dengan peringkat 18, Watford. 

Beban berat harus dipikul sang pelatih anyar Frank Lampard untuk membalikan nasib klub. Setelah menghabiskan lebih dari 500 juta euro atau setara dengan Rp7,8 triliun hanya untuk biaya transfer selama kepemilikan Farhad Moshiri. Kini mereka berjuang untuk terhindar dari jurang degradasi.

Jika Everton degradasi hal itu akan menambah daftar momen degradasi paling mengejutkan dalam sejarah Liga Inggris. Kini Starting Eleven akan merangkum daftar klub terbaik Liga Inggris, yang secara mengejutkan harus rela terdegradasi di akhir musim.

Middlesbrough Musim 1996/97

Middlesbrough mungkin tak pernah jadi unggulan di setiap musim Liga Inggris. Skuad Middlesbrough pun tak seglamor klub-klub Inggris lainnya. Namun, jika flashback ke pertengahan 90-an mungkin itu sedikit berbeda.

Sebuah klub yang sering dicap sebagai klub terbelakang dan ketinggalan zaman, seketika berubah setelah serangkaian pergerakan agresif di bursa transfer dengan mendatangkan nama-nama pesepakbola papan atas.

Bak Football Manager di dunia nyata, Boro mengejutkan publik Inggris dengan berhasil membujuk Juninho Paulista, bahkan Fabrizio Ravanelli yang kala itu baru mengantarkan Juventus menjuarai Liga Champions untuk mau bermain bersama tim kemarin sore di kasta tertinggi Liga Inggris.

Ravanelli bahkan langsung mencetak hattrick saat melakoni debutnya kontra Liverpool dan mengakhiri musim dengan catatan 31 gol di semua kompetisi. Sedangkan si jenius, Juninho berhasil menyabet gelar individu sebagai pemain terbaik liga dengan catatan 12 gol dan delapan assist dalam 35 penampilan. 

Di musim yang sama, Juninho cs juga berhasil mengantarkan Boro untuk menjadi penantang di kedua final Piala Domestik. Namun, pencapaian luar biasa itu tak cukup untuk menyelamatkan muka Boro di liga. 

Sialnya, mereka mendapat sanksi pengurangan poin karena menolak bertanding melawan Blackburn dengan alasan sebagian besar pemain sedang cedera dan sakit, yang akhirnya menyebabkan mereka harus rela terdegradasi di akhir musim 1996/97.

Blackburn Rovers Musim 1998/99

Blackburn Rovers di musim 1998/99 merupakan momen degradasi paling mengejutkan lainnya. Mereka mengakhiri puasa 81 tahun tanpa gelar dengan menjuarai Liga Inggris pada musim 1994/95. Mereka harus rela terdegradasi empat musim setelahnya.

Blackburn menjalani musim 1998/99 dengan bekal finis di peringkat 6 musim sebelumnya dan berhasil mengamankan satu tiket di Europa League. Namun, penampilan mereka di musim 1998/99 sangat jauh dari apa yang berhasil mereka lakukan musim sebelumnya.

Performa yang buruk di awal musim langsung memakan tumbal yaitu sang juru taktik, Roy Hodgson yang digantikan oleh mantan asisten manajer Manchester United, Brian Kidd pada bulan November. Namun, nyatanya perubahan itu tak membuat Blackburn semakin membaik.

Mereka malah menjual kapten mereka, Tim Sherwood pada pertengahan musim. Dengan skuad yang masih berisikan nama-nama seperti Chris Sutton, Stephane Henchoz, Damien Duff, dan Kevin Davies, seharusnya mereka masih bisa untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Sayangnya tidak.

Mereka pun harus rela kembali terdegradasi ke Divisi Championship. Sempat kembali di musim 2001/02, Blackburn Rovers hanya bertahan sepuluh musim dan kembali merasakan degradasi pada musim 2011/12 dan belum pernah terlihat lagi di Liga Inggris hingga sekarang.

West Ham Musim 2002/03

West Ham pada musim 2002/03 mungkin jadi tim paling sial. Di kalangan pencinta Liga Inggris, pasti pernah mendengar mitos yang mengatakan bahwa untuk mencapai batas aman agar klub tak terdegradasi adalah dengan mengumpulkan minimal 40 poin.

Mungkin West Ham telah memegang rekor sebagai tim dengan poin terbanyak yang harus mengalami degradasi. Pasalnya, meski telah mengumpulkan lebih dari 40 poin, West Ham tak bisa menghindar dari jurang degradasi pada musim 2002/03.

Memang performa The Hammers tak cukup mengesankan pada awal musim. Mereka hanya memenangkan tiga dari 24 pertandingan pertama mereka di musim tersebut, dan West Ham terdampar di posisi paling bawah klasemen dengan hanya 16 poin.

Pada paruh kedua musim 2002/03, seperti mendapat angin kedua, West Ham bangkit dengan kemajuan yang cukup signifikan. West Ham hanya kehilangan poin sekali dari 11 pertandingan terakhir mereka. 

Meski skuad West Ham kala itu sangat mewah dengan perpaduan nama-nama bintang Liga Inggris masa depan seperti Glen Johnson, Michael Carrick, Joe Cole, dan Jermain Defoe dengan para pemain senior seperti Paolo Di Canio, Freddie Kanoute dan David James. Mereka tak bisa menyelamatkan West Ham.  

Dengan hasil imbang di partai pamungkas melawan Bringmingham City membuat The Hammers harus rela terseret ke lembah degradasi dengan rekor perolehan 42 poin. Hasil yang sangat mengecewakan lantaran itu adalah degradasi pertama mereka selama sedekade terakhir. 

Leeds 2003/04

Setahun setelah momen degradasi yang mengejutkan milik West Ham, kini Leeds juga ingin mengulangi kisahnya di musim 2003/04. Buruknya sistem pengelolaan keuangan klub dirasa jadi sumber bencana degradasi ini.

Sejatinya Leeds menampilkan performa yang luar biasa di beberapa musim sebelumnya. Mereka sempat mencapai semifinal Europa League pada tahun 2000, sebelum akhirnya mereka menuliskan dongeng dengan mencapai semifinal di Liga Champions di musim berikutnya.

Bobroknya Leeds dalam mengurus keuangannya ini berimbas kepada hutang klub yang menggunung hingga menyentuh angka 100 juta euro atau sekitar Rp 1,5 triliun. Dalam upaya untuk menghentikan kehancuran klub, mereka pun akhirnya menjual beberapa pemain penting pada awal musim 2003/04.

Nama-nama seperti Rio Ferdinand, Robbie Keane, Robbie Fowler, Jonathan Woodgate dan Harry Kewell, terpaksa harus dikorbankan. Cuci gudang di awal musim ini memicu penurunan drastis performa Leeds di musim tersebut.

Mark Viduka, Alan Smith, David Batty, Ian Harte dan Paul Robinson adalah pemain yang masih bertahan dan merasakan momen degradasi tersebut, setelah hanya mengumpulkan 33 poin, serta kebobolan 79 gol.

Newcastle 2008/09

Yang terakhir ada kisah dari Newcastle. Akhir 2000an menjadi periode yang memilukan bagi Newcastle United. The Magpies berada di titik terendahnya selama 16 tahun terakhir dengan harus rela terdegradasi pada musim 2008/09.

Newcastle bahkan mengalami empat pergantian manajer yang berbeda selama musim yang kacau itu. Nama-nama seperti Kevin Keegan, Chris Hughton, Joe Kinnear hingga sang legenda hidup Alan Shearer bergantian turun tangan berupaya menyelamatkan musim 2008/09 milik The Magpies. Sayangnya mereka semua gagal.

Selepas Kevin Keegan hengkang dari kursi kepelatihan, manajer-manajer penerusnya gagal mengeluarkan potensi maksimal dari materi pemain yang sebenarnya cukup mentereng. Penerus Keegan gagal menggunakan pemain sekaliber Michael Owen, Damien Duff, Obafemi Martins hingga Nicky Butt dengan baik.

Setelah serangkaian drama yang terjadi, Newcastle pun terdegradasi pada hari terakhir musim 2008/09 setelah kekalahan dari Aston Villa. Gol bunuh diri Duff menjadi penutup yang pas untuk musim bencana di mana Alan Shearer gagal menyelamatkan klub masa mudanya itu.

Sumber: Football Faithfull, Planet Football, Daily Star, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru