Mengejek Timnas Pakai Naturalisasi, Negara ASEAN Ini Malah Meniru dan Jeblok

spot_img

Pemain naturalisasi sedang menjadi buah bibir di sepakbola Asia Tenggara. Terutama setelah Indonesia menggaet belasan pemain-pemain keturunan. Indonesia yang menuai hasil positif di Kualifikasi Piala Dunia 2026, berkat campur tangan pemain naturalisasi juga disorot oleh media sekelas ESPN.

Namun, kegemilangan para pemain keturunan tersebut tak serta-merta memuaskan semua pihak. Itu dibuktikan dengan adanya cibiran dari berbagai pihak, termasuk negara rival. Padahal, mereka juga mengandalkan pemain naturalisasi. Mungkin mereka iri karena proyek naturalisasi mereka tak kunjung membuahkan hasil. 

Sebelumnya, football lovers bisa subscribe dan nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan update video terbaru dari Starting Eleven Story.

Cibiran Pada Indonesia

Media Vietnam jadi yang paling getol menyentil proyek naturalisasi Timnas Indonesia. Dikutip dari Detiksport, mantan Wakil Presiden Sepakbola Vietnam, Duong Vu Lam juga ikut berkomentar. Menurutnya, proyek naturalisasi yang dicanangkan PSSI bisa melemahkan Timnas Indonesia. Ia menilai para pemain naturalisasi tak akan punya semangat yang sama besarnya dengan para pemain lokal dalam membela tanah airnya. 

Pernyataan ini terbukti hanya spekulasi yang mengada-ada. Kita bisa melihat bagaimana semangat dan dedikasi yang diberikan pemain-pemain naturalisasi sangat luar biasa. Mereka bahkan rela jatuh bangun hingga berdarah-darah demi Indonesia.

Tak cuma dari negara tetangga, dari dalam negeri pun banyak yang menyayangkan adanya proyek naturalisasi. Seperti pernyataan punggawa PSBS Biak, Muhammad Tahir yang menyebut kualitas pemain naturalisasi sebetulnya 11-12 dengan pemain lokal. Tahir bahkan berani menantang duel sebelas lawan sebelas dengan para pemain naturalisasi.

Perlu digaris bawahi, pemain yang dinaturalisasi adalah pemain yang memang memiliki darah Indonesia. Bukan seperti angkatan dulu yang asal gacor di liga domestik langsung dianugerahi kewarganegaraan. Naturalisasi itu hanyalah prosesnya saja. Pemain keturunan memang berhak membela Indonesia karena darah Indonesia mengalir dalam diri mereka.

Singapura

Di balik nyinyiran itu, negara tetangga seharusnya ngaca dulu. Karena mereka juga mengandalkan pemain-pemain naturalisasi. Udah ngandelin pemain naturalisasi, nggak berprestasi pula. Contohnya seperti yang dialami Timnas Singapura.

Sebelum membahas tentang naturalisasi yang gagal, kita tak bisa memungkiri kalau Singapura pernah berprestasi di sepakbola ASEAN. Tercatat, Negeri Singa menjuarai Piala AFF di tahun 1998, 2004, 2007, dan 2012. Nah, kejayaan tersebut tak bisa lepas dari peran pemain naturalisasi. 

Proyek naturalisasi Singapura dimulai sejak tahun 2002. Daniel Bennett, Agu Casmir, dan Mirko Grabovac adalah angkatan pertama yang  langsung menjuarai Piala AFF 2004, yang kala itu masih bernama Piala Tiger.

Di tahun-tahun berikutnya Singapura menambah pemain naturalisasi. Negara asalnya pun beragam, ada yang dari Serbia seperti Aleksandar Duric dan Fahrudin Mustafic. Lalu ada juga yang berasal dari China seperti Shi Jiayi dan Qiu Li. Namun, lama kelamaan proyek naturalisasi jadi sebuah kebutuhan yang dipaksakan.

Mereka tak melihat garis keturunan dan kualitasnya. Pemain yang gacor di liga lokal dengan mudah mendapat kewarganegaraan Singapura. Padahal kualitas Liga Singapura ya gitu-gitu aja. Mereka seharusnya tahu pemain yang jago di liga domestik belum tentu jago jika harus bersaing dengan pemain Indonesia, Vietnam, dan Thailand.

Contohnya saja Song Ui-young. Mentang-mentang meraih gelar dengan Home United dan Lion City Sailors, Song langsung dihadiahi kewarganegaraan Singapura. Padahal kualitasnya tak lebih baik dibanding pemain-pemain lokal.

Malaysia

Malaysia jadi negara yang sangat mengandalkan pemain naturalisasi. Bahkan di gelaran Piala Asia kemarin, Harimau Malaya jadi tim dengan pemain naturalisasi terbanyak, yakni 14 pemain. 

Malaysia menyadari bahwa naturalisasi adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas tim nasional. Pemain keturunan yang dimiliki Malaysia kebanyakan dari tanah Eropa seperti Inggris, Spanyol, dan Belgia. Namun, upaya yang dilakukan Malaysia sejak 2020 lalu belum membuahkan hasil. 

Menjadi tim yang paling banyak dihuni pemain naturalisasi tak membuat Malaysia tampil gemilang di Piala Asia 2023. Mengutip CNN Indonesia, Malaysia bahkan dicap sebagai tim Asia Tenggara terburuk di Piala Asia, setelah tak meraih satu kemenangan pun di babak penyisihan grup.

Tren negatif ini terus berlanjut di babak kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 kemarin. Dengan skuad yang tak jauh berbeda, Malaysia kalah dua kali atas Oman. Situasi tersebut membuat gondok netizen Malaysia. Pemain naturalisasi pilihan pelatih Kim Pan-gon pun jadi sasaran amuk. 

Beberapa fans Malaysia menyuarakan agar sang pelatih kembali mengandalkan pemain-pemain lokal saja. Para fans menilai pemain naturalisasi kebanyakan ngeluh dan tak bermain dengan passion tinggi layaknya pemain-pemain asli kelahiran Malaysia.

Vietnam

The Golden Stars memang jarang mengandalkan pemain naturalisasi. Meski begitu,Vietnam sebetulnya tak tutup mata soal praktek tersebut. Sama halnya dengan Malaysia, Federasi Sepak Bola Vietnam sadar bahwa naturalisasi bisa membantu tim untuk mencapai level yang lebih baik. Namun, ada hal yang membuat proses naturalisasi sulit terwujud.

Federasi terbentur dengan politik dan peraturan tentang kewarganegaraan yang ditetapkan oleh Vietnam. Banyak poin-poin dan alur ribet yang harus dipenuhi jika federasi ingin menaturalisasi pemain. Salah satunya, pemain tersebut harus mau berkarir di liga lokal Vietnam. Proses yang panjang dan berliku itu menghasilkan satu pemain, yakni Filip Nguyen.

Kehadiran pemain keturunan Republik Ceko itu pada awal tahun 2024 menjadi sebuah gebrakan tersendiri di persepakbolaan Vietnam. Filip dikabarkan bakal jadi pembuka gerbang bagi pemain-pemain keturunan yang lain. Namun, baru jadi pembuka jalan saja Filip sudah dianggap gagal oleh banyak pihak. 

Keberadaan pemain berusia 31 tahun itu sama sekali tak meningkatkan kualitas lini pertahanan Vietnam. Sejak debut pada awal Januari 2024, Vietnam belum meraih satu kemenangan. Terlihat semakin buruk karena dari enam laga bersama Filip Nguyen, Vietnam sudah kebobolan 14 gol. 

Filipina 

Tak menjadikan sepakbola sebagai olahraga nomor satu, membuat Filipina rajin mencari pemain-pemain keturunan untuk memperkuat tim nasional. Upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 2010 dan terus dilakukan hingga sekarang. Saking bergantungnya pada pemain naturalisasi, Filipina pernah hanya membawa empat pemain lokal di Piala AFF 2020. Gila nggak tuh?

Tapi, apakah mengandalkan pemain naturalisasi bisa memberikan prestasi bagi Filipina? Tidak juga. Saat diperkuat Younghusband bersaudara, sepakbola Filipina memang sempat mengejutkan pada medio 2010 hingga 2016. Dalam rentang waktu tersebut, negara kelahiran Manny Pacquiao selalu lolos ke semifinal Piala AFF.

Namun, kemajuan itu hanya bersifat sementara. Setelah era Younghusband berakhir, Filipina hanya jadi tim penggembira di Piala AFF. The Azkals juga tak lagi menemukan pemain-pemain keturunan yang berkualitas. 

Berbekal pemain-pemain keturunan seperti Mike Ott, Kenshiro Daniels, dan Simen Lyngbø, Filipina gagal lolos ke Piala Asia 2023 dan hanya jadi bulan-bulanan di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Itu karena federasi sepakbola Filipina tak memperhatikan kualitas para pemain naturalisasinya. Asal comot aja gitu.

Kebanyakan pemain naturalisasi Filipina hanya berkarir di liga domestik dan liga negara-negara Asia Tenggara saja. Bahkan, kebanyakan dari mereka mentok berkarir di Liga Indonesia. Tak banyak yang bermain di Eropa, paling cuma Neil Etheridge di Birmingham City, Paul Tabinas di NK Vukovar, dan Sebastian Beraque di Hobro IK.

Timor Leste

Menjadi negara bekas jajahan Portugal, Timor Leste sangat mengandalkan pemain keturunan Portugal untuk memperkuat tim nasional. Cukup banyak pemain dari Portugal yang dialih warga negara untuk bermain bagi timnas Timor Leste. 

Namun, kebijakan yang dilakukan Timor Leste terkesan ngasal dan ngawur. Bahkan, ada kejadian memalukan dalam proses pencarian pemain naturalisasi. Jika kalian masih ingat, Timor Leste pernah disanksi AFC lantaran memalsukan dokumen pemain naturalisasi pada tahun 2017.

Tak tanggung-tanggung, Timor Leste memalsukan data 12 pemain yang mayoritas berasal dari Portugal dan Brazil. Beberapa diantaranya: Ramon de Lima Saro, Paulo Helber Rosa Ribeiro dan mantan bek Sriwijaya FC, Diogo Santos Rangel. Selama 29 pertandingan, Timor Leste tercatat menggunakan pemain ilegal.

Insiden memalukan ini akhirnya mengubah cara pandang Timor Leste. Mereka trauma dan enggan menggunakan pemain naturalisasi lagi. Mereka ingin mencoba percaya pada talenta lokal. Toh, Timor Leste kesulitan membujuk pemain keturunan untuk membela tim nasional yang berada di peringkat 200 dunia.

Sumber: CNN Indonesia, Superball, Kompasiana, Detik

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru