Mengapa Tak Banyak Pelatih dari Asia di Eropa?

spot_img

Tahun 1996 kisah Arsene Wenger menuju Arsenal dari klub asal Asia, Nagoya Grampus pernah jadi sorotan. Namun mirisnya, Wenger ketika itu malah mendapat nyinyiran dan disepelekan.

Kini, fenomena seperti itu muncul lagi. Pelatih yang pernah sukses bersama Yokohama F. Marinos, Ange Postecoglou datang melatih Tottenham Hotspur.

Hal ini tentu memunculkan harapan baru bagi Asia. Meski ia berasal dari Australia yang terhitung baru gabung Konfederasi Asia, namun tetap saja ia patut dibanggakan sekaligus dijadikan tauladan bagi pelatih-pelatih Asia lainnya.

Masalah Lisensi

Kemunculan pelatih asal Asia di liga top Eropa memang jarang. Dulu, kendalanya adalah lisensi UEFA Pro yang digunakan sebagai syarat untuk melatih klub Eropa. Tak ada pelatih Asia yang hebat sekalipun jadi pelatih klub Eropa, meski sudah punya lisensi AFC pro.

Namun sekarang, dengan disahkannya usulan perubahan peraturan UEFA tentang prosedur penyetaraan lisensi AFC pro dan UEFA pro pada tahun 2020, sekat itu sudah tak ada lagi. Jadi, semisal Indra Sjafri ingin melatih Manchester United, sudah memenuhi syarat secara administrasi.

Ange Postecoglou dulu hanya punya lisensi AFC pro ketika dilirik Celtic. Awalnya banyak yang meragukan bahwa Ange bisa melatih klub Skotlandia itu. Namun prestasi Ange sebelum hijrah ke The Hoops, menjadi pertimbangan manajemen klub untuk mengajukan rekognisi prosedur kompetensi kepada UEFA, agar Ange bisa melatih Celtic.

Sederhananya klub Skotlandia itu meminta persetujuan UEFA agar Ange bisa melatih berdasarkan kompetensi yang dimilikinya. Mengingat sebelum menukangi Celtic, pelatih kelahiran Yunani itu sudah bergelimang banyak trofi. Tidak hanya di level klub, bahkan juga di level internasional ketika mengantarkan Timnas Australia juara Piala Asia 2015.

Skeptisisme

Selain masalah lisensi, klub-klub Eropa masih memandang rendah pelatih Asia. Masih ingat ketika Arsene Wenger dulu dari Liga Jepang menuju Arsenal? Ia bahkan disepelekan oleh kapten Arsenal, Tony Adams. Meski berprestasi di Nagoya Grampus dan orang Prancis, menurut Adams, Wenger belum mengerti tentang sepakbola, dan diibaratkan hanya seperti guru sekolah.

Pelatih Manchester United saat itu, Sir Alex Ferguson bahkan pernah meremehkan Wenger. “Siapa itu Wenger?” Kata Fergie dengan nada menyindir. Ketika Ange Postecoglou datang ke Celtic pun, banyak dari penggemar yang meragukan bahkan menghujatnya.

Kepribadian Pelatih Asia

Namun pandangan skeptis orang Eropa terhadap pelatih Asia sekarang ini, tampaknya sudah mulai memudar. Ya, itu gara-gara Ange Postecoglou yang bisa membuktikan bahwa ia bisa sukses di Celtic dengan berbagai trofi, dan kini sedang menyelamatkan muka Tottenham Hotspur, salah satu klub Big Six Liga Inggris.

Kalau sudah begitu, artinya mulai bisa dong Postecoglou-Postecoglou baru berikutnya muncul? Namun kenyataanya belum ada lagi pelatih yang bisa mengikuti jejak suksesnya. Pelatih Asia yang kini sering disorot, seperti Hajime Moriyasu sempat digadang-gadang bisa jadi penerus Postecoglou untuk mengepakan sayapnya di liga top Eropa.

Tapi, kenapa belum bisa ya? Padahal secara prestasi di level klub, ia juga sudah bergelimang trofi bersama Sanfrecce Hiroshima sejak tahun 2012. Peneliti yang tinggal di Tokyo, Jepang, Sean Carroll menjawab persoalan itu. Dilansir Between The Lines, ia mengatakan bahwa kepribadian dan nilai komersial pelatih Asia, belum cukup untuk berada di level klub-klub Eropa.

Kepribadian itu meliputi bahasa, budaya, dan gaya hidup. Orang Asia asli, pasti berbeda jauh dengan orang Eropa. Sean Carroll sempat mewawancarai Moriyasu. Dan menurutnya, bahasa Inggrisnya terpatah-patah, dan ia terlihat masam kalau di depan kamera. Ide-ide dan pesan yang disampaikan juga dianggap kurang cocok apabila diterapkan di klub Eropa.

Mungkin pengecualian bagi Postecoglou. Yang dari segi bahasa, budaya, maupun gaya hidup, ada rasa-rasa Eropanya. Maklum, ia juga lahir di Yunani dan besar di Australia yang juga banyak terpengaruh budaya barat.

Komersial Pelatih Asia

Selain segi kepribadian, segi komersialitas juga diperlukan oleh klub Eropa. Terkadang menjadi seorang pelatih yang hebat di lapangan saja tak cukup. Pelatih juga harus dituntut pandai dalam hal lain, misal mengelola media, berbicara kepada fans, dan juga memberikan nilai lebih pada klub.

Hajime Moriyasu misalnya. Ia dipandang sebagai pelatih yang kurang dalam hal tersebut. Sebagai pelatih, ia dianggap pemalu, hanya penurut, dan rendah hati. Tak ada yang spesial dari dirinya yang bisa dijual.

Melihat kepribadian dan nilai komersial dari Moriyasu, nampaknya menjadi wajar jika klub-klub Eropa sampai sekarang belum tertarik untuk mengincarnya.

Membanjirnya Pelatih Asing Di Klub-Klub Asia

Sudah dipandang skeptis, diragukan secara kepribadian maupun nilai komersial, klub-klub di Asia di sisi lain malah menyuburkan para pelatih asing di liga mereka. Dengan melubernya keran pelatih asing di klub Asia, otomatis menjadi sempit peluang pelatih lokal Asia untuk unjuk gigi.

Tak usah jauh-jauh, di Liga Indonesia saja misalnya. Hampir seluruh tim di Liga 1 dilatih oleh pelatih asing. Hanya ada tiga pelatih lokal yang kini menukangi tim Indonesia. Mereka adalah Rahmad Darmawan (Barito Putera), Uston Nawawi (Persebaya), dan Aji Santoso (Persikabo). Selain mereka bahkan tidak pelatih dari negara Asia lain yang menukangi tim di Indonesia.

Hal tersebut ternyata tak hanya terjadi di Indonesia saja, klub-klub Jepang juga punya pandangan yang sama. Kini, banyak juga klub J League yang dilatih orang luar Asia, seperti Gamba Osaka, Urawa Reds, Kashima Antlers, maupun Sanfrecce Hiroshima.

Belum lagi di level timnas. Kita lihat di Piala Asia 2023, tim seperti Korea Selatan, Arab Saudi, maupun Qatar, menggunakan pelatih asing. Lalu kalau terus-terusan begini, siapa pelatih Asia yang akan meneruskan jejak Postecoglou?

Peluang

Sebelum Moriyasu, dulu Asia pernah punya harapan mengorbitkan Akira Nishino, pelatih yang bisa membawa Jepang ke 16 besar Piala Dunia 2018. Namun nyatanya, Akira hanya melatih Timnas Thailand, dan kini menganggur.

Menurut beberapa analisis, hal serupa juga akan dialami oleh Moriyasu. Namun di luar itu, sebenarnya ada peluang pelatih Asia yang suatu saat nanti bisa melatih klub liga Eropa. Sean Carroll pernah menyebut pelatih Kawasaki Frontale yang dulu pernah menukangi Reo Hatate maupun Kaoru Mitoma, yakni Tori Oniki salah satu yang berpeluang.

Oniki diproyeksikan bisa melatih klub Eropa suatu saat nanti. Gaya sepak bolanya unik seperti Postecoglou, menyerang dan atraktif. Tori bisa meniru Postecoglou yang sukses jual brand sistem gaya mainnya di Liga Inggris dengan “Angeball”.

Ada juga pemain yang sudah makan asam garam Bundesliga seperti Makoto Hasebe. Menurut Carrolll apabila melanjutkan karier menjad ipelatih, ia berpotensi melatih klub Eropa suatu saat nanti. Kedekatan dengan budaya Eropa dan keberaniannya menentukan sikap di depan kamera jadi faktor.

Ya, semoga saja hal itu akan terwujud. Artinya tak hanya Postecoglou seorang pelatih Asia yang berkiprah di Eropa. Namun tidak harus dari Jepang, lho. Negara-negara Asia lain, tak terkecuali Indonesia juga harus bisa mengorbitkan pelatih handal. Siapa tahu suatu hari nanti Indra Sjafri akan melatih Juventus?

Sumber Referensi : theathletic, punditfootball, soccerscenes

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru