Pep Guardiola, yang manajer Manchester City itu mengatakan “Liga Inggris lebih sulit daripada Liga Champions”. Konteksnya hal itu ia katakan ketika timnya gagal melaju ke partai final Liga Champions.
Pernyataan Pep tersebut sangat layak untuk kita sindir beramai-ramai. Sebab bagaimana mungkin ia mengatakan Liga Inggris lebih sulit daripada Liga Champions, sedangkan ia lebih sering juara Liga Inggris alih-alih memetik satu pun trofi Liga Champions?
Kalaupun Liga Champions tidak lebih sulit dari Liga Inggris, mengapa Pep sampai detik ini tidak sanggup untuk meraih trofi? Bahkan dengan skuad mewah dan strategi yang jitu? Sayangnya, pernyataan Pep tersebut memang sedikit ada benarnya.
Jika kita mau berprasangka baik pada Pep Guardiola, mari kita anggap pernyataan Pep itu bukan mewakili dirinya atau bahkan Manchester City. Tapi ia mendaulat diri sebagai juru bicara Chelsea dan Liverpool. Kedua tim itu, sejak Pep mengambil kendali City, kesulitan menjadi juara Liga Inggris.
Namun, baik Chelsea maupun Liverpool sudah menjadi juara Liga Champions. Dalam satu dekade terakhir, The Blues bahkan sudah menjuarainya dua kali. Ini menandakan apa yang dikatakan Pep benar belaka. Bahwa Liga Champions memang tidaklah sulit, tentu saja bagi tim-tim tertentu, dan jelas bukan Manchester City.
Daftar Isi
Bayern, Real Madrid, Chelsea, Liverpool, dan Barcelona
Sejak 2011, tercatat hanya ada lima tim yang menjuarai Liga Champions. Mereka adalah Barcelona, Bayern Munchen, Chelsea, Liverpool, dan tentu saja sang raja Real Madrid. Sementara, tim-tim lainnya terjungkal di babak awal, atau mentok sampai final dan melihat trofinya saja.
Misalnya, Tottenham Hotspur yang mengejutkan melaju ke final bersama pelatih kawakan mereka, Mauricio Pochettino, toh kalah oleh Liverpool. Di tempat lain, Paris Saint-Germain yang begitu ngebet juara Eropa, sampai mendatangkan Neymar dengan nilai transfer yang nggak ngotak, tetap saja terjungkal di final.
One year ago today – on August 23, 2020 – at the end of a historic and strange season, FC Bayern München defeated PSG in the UEFA Champions League final and became Champions of Europe for the 6th time.
History made in Munich, written in Lisbon.
A dream come true. ❤️ pic.twitter.com/DqSmznZGQf
— Jilshie (@LegendaryLewy) August 22, 2021
Bayern Munchen jadi mimpi buruk Neymar CS. Juventus juga demikian. Si Nyonya Tua pernah punya satu kesempatan merebut trofi Liga Champions musim 2014-2015. Sayangnya, mereka mesti bertemu Barcelona yang tengah ranum bersama Luis Enrique. Kekalahan tak bisa tidak, harus mereka terima.
Duit
Tempaan tim-tim juara Liga Champions dalam dasawarsa terakhir, bukan dilandasi dari situasi keuangan yang kering kerontang. Kelima klub itu, bagaimanapun menjadi klub-klub yang punya keuangan yang mumpuni dan stabil. Lupakan soal Barcelona yang sekarang susah banget mau beli pemain saja.
Blaugrana pada musim di mana mereka juara Liga Champions tidak sedang diterpa masalah berarti. Sementara, tim lain seperti Chelsea yang beberapa tahun sebelum juara Liga Champions pertama kali, sudah diakuisisi konglomerat Rusia, Roman Abramovich.
Proyek yang jelas dari Abramovich dan niat serius membangun Chelsea menjadi klub hebat di Eropa, akhirnya bisa berbuah manis. Ketika The Blues merengkuh gelar Liga Champions untuk kali pertama tahun 2012. Sebuah gelar yang tidak akan pernah dilupakan seluruh fans.
May 19th 2012… Chelsea win their first Champions League.
We’re 2 days away from this being 10 years ago. TEN YEARS 😳💙 pic.twitter.com/suMqoRnBvW
— Harry (@HarryCFC170) May 17, 2022
Liverpool dengan kedatangan Fenway Sports Group (FSG) dari Amerika yang tidak hanya mementingkan uang, bisa menoreh prestasi. Sementara Real Madrid dengan sistem socios-nya, dan Bayern Munchen dengan sistem 50+1, bisa membuat kedua klub tampil konsisten. Terutama jarang menciptakan masalah serius, apalagi yang sampai merusak prestasi klub.
Kedalaman Skuad yang Tak Pernah Surut
Jika karena faktor uang saja, mungkin terdengar mengada-ada. Sebab PSG dan Manchester City keuangannya membludak. Sekalipun kita semua nggak tahu, kalau di dalamnya terdapat banyak main serong dan bisik-bisik.
Namun, toh keduanya belum kunjung meraih trofi. Paling tidak sampai edisi tahun 2022. Dengan begitu, memang ada faktor lain, yaitu salah satunya kedalaman skuad. Lima tim yang menguasai Liga Champions selama satu dekade tersebut memiliki kedalaman tim yang tak pernah surut.
Kita sebut contohnya, Real Madrid. Semua orang sepakat bahwa Real Madrid adalah satu-satunya klub yang meraih tiga trofi Liga Champions secara berturut-turut, sejak namanya Liga Champions Eropa. Prestasi yang tak kusam itu berasal dari kualitas pemain yang merata dari musim ke musim.
Los Merengues selalu punya amunisi untuk sekadar juara Liga Champions. Dari ketika musim 2013-14, ketika Real Madrid mengalahkan rekan setetangganya, Atletico Madrid di final Liga Champions. Waktu itu skuad Real Madrid begitu dalam dan mewah.
Di lini depan, trio Benzema, Bale, Cristiano jadi juru gedor Ancelotti. Sementara di lini tengah, kekuatan Modric, Di Maria, dan Sami Khedira sangat mobile. Begitu pula di lini belakang ketika Ramos dan Varane masih berada di sana.
The BBC with the Champions League trophy at Real Madrid’s Undecima Party.#Benzema #Bale #Cristiano pic.twitter.com/ZTHxKOTyBL
— 101 Great Goals (@101greatgoals) May 30, 2016
Sementara, ketika Real Madrid memulai hattrick Liga Championsnya musim 2015-16, kedalaman skuadnya juga masih tak dapat diragukan. Bahkan lebih bertenaga karena di lini tengah sudah ada Casemiro dan Toni Kroos. Chelsea dan Bayern Munchen juga memiliki kedalam skuad yang tak kalah bagus.
Chelsea pada saat pertama kali juara, diperkuat Didier Drogba, Frank Lampard, Jose Bosingwa, sampai Fernando Torres dan Ryan Bertrand. Sedangkan Bayern Munchen pada saat juara musim 2012-13, diperkuat nama kaliber Arjen Robben, Ribery, Dante, sampai Mandzukic.
Ketika Bayern Munchen menghancurkan PSG di final 2020, Die Roten juga masih memiliki skuad yang dalam. Di sana ada nama Philippe Coutinho, Gnabry, sampai Kingsley Coman yang akhirnya mencetak gol.
Pelatih yang Oke
Kedalaman skuad saja belum cukup untuk menjadi juara Liga Champions. Butuh pelatih yang tidak menyia-nyiakan kedalaman skuad yang ada. Itulah mengapa Manchester United dan Arsenal dalam sedekade terakhir tak bisa juara Liga Champions.
Lima tim yang menguasai Liga Champions dalam sedekade terakhir punya segalanya, termasuk pelatih yang oke. Real Madrid lagi, misalnya. Ah, tim ini memang sangat istimewa. Pelatihnya dari dulu bukan pelatih tua yang empot-empotan atau mantan pemain yang mengemis jadi pelatih.
Carlo Ancelotti yang membawa mereka ke dua kali juara bukan pelatih sembarangan. Zinedine Zidane, aktor di balik treble Liga Champions juga bukan bekas pemain yang numpang jadi pelatih saja. Tapi Zidane yang secara mengejutkan, dengan gaya permainan pragmatisnya, menggamit tiga Si Kuping Besar.
Klub lain, katakanlah Bayern Munchen misalnya. Juga dua kali meraih trofi berkat pelatih yang hebat. Jupp Heynckes bukan sekadar pelatih kempot, tapi perjalanannya yang pernah mengantarkan Real Madrid juara Liga Champions adalah CV yang menjanjikan.
🔴 Jupp Heynckes🏆🏆🏆🏆#UCL pic.twitter.com/DqDzPQDzM3
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) March 16, 2020
Begitu pula Hans-Dieter Flick. Ia yang pernah menjadi asisten Joachim Loew yang mengangkat trofi Piala Dunia 2014, adalah prestasi emas. Yang membuat Bayern Munchen tak memiliki alasan untuk menolaknya jadi pelatih. Sisanya, Liverpool, Chelsea, dan Barcelona juga dari musim ke musim mendapat pelatih yang manjur.
Apa yang dibangun Klopp di Liverpool misalnya. Kemudian Chelsea yang menunjuk Roberto Di Matteo, dan pada gelar keduanya, penunjukkan Thomas Tuchel adalah keputusan yang tepat. Sementara taktik Luis Enrique sangat nyetel dengan Barcelona.
Mentalitas
Terakhir adalah mentalitas. Kelima tim itu menunjukkan betapa mentalitas Liga Champions memang sangat diperlukan untuk meraih juara. Itulah alasannya, mengapa PSG dan Manchester City belum kunjung juara.
PSG dan City boleh punya pelatih yang punya CV bercahaya. Memiliki kualitas pemain yang sangat bagus, dan kedalaman skuadnya mewah. Namun, selama mereka tak memiliki kualitas layaknya juara Liga Champions. Selama tak memiliki mentalitasnya, maka sulit untuk juara.
🔝Champions League is in Real Madrid’s DNA! pic.twitter.com/QaPVNL49xS
— Madridista-Swedeninho (@MadridstaLoco) May 8, 2022
Saran buat PSG dan Manchester City, kalau menginginkan juara coba belajar dari Bayern Munchen atau Real Madrid. Etapi, bukankah Pep dulu pernah juara Liga Champions, ya? Tapi mengapa ketika gabung The Citizen, aura Liga Champions Pep malah memudar? Mungkin ini karena mental timnya, atau karena uang har… Ah, sudahlah.
https://youtu.be/hmHFPoWtU_o
Sumber referensi: BR, TheRealChamps, Goal, ManagingMadrid, SI, BarcaBlaugranes, ESPN, BavarianFootballWorks, Bola


