Mengapa Negara yang Juara Dunia Selalu Ditukangi Pelatih Lokal?

spot_img

Gelaran akbar sepak bola empat tahun sekali, Piala Dunia, selalu punya sisi-sisi yang unik untuk dibahas. Salah satunya tentang pelatih yang membawa sebuah negara juara Piala Dunia.

Sadarkah kamu kalau setiap negara yang keluar sebagai Champions Of The World di tiap edisi dipimpin oleh pelatih lokal? Ya, sejak Piala Dunia pertama di Uruguay 1930 sampai yang terakhir di Qatar 2022, selalu ada peran tangan dingin sosok pelatih lokal di balik kesuksesan negara pemenang.

Pertanyaannya, mengapa negara juara dunia selalu ditukangi oleh pelatih lokal? Apa saja faktor yang membuat para pelatih lokal yang mengomando negaranya sendiri di Piala Dunia bisa mencetak kejayaan yang gemilang? Berikut Starting Eleven ulas khusus buat kamu.

Namun sebelum tahu jawabannya, jangan lupa subscribe dan nyalakan lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven

Dari Suppici Sampai Scaloni 

Alberto Suppici mungkin tidak akan pernah menyangka kalau dirinya yang mempelopori tren kejayaan pelatih lokal di Piala Dunia. Pria asal Colonia del Sacramento itu ditunjuk sebagai juru taktik Timnas Uruguay yang menjadi tuan rumah edisi pertama Piala Dunia pada 1930. 

Meski baru menginjak usia 36 tahun saat menerima mandat memimpin skuad La Celeste, Suppici sebelumnya sudah mempunyai pengalaman 15 tahun di Komisi Nasional Pendidikan Jasmani, sehingga sangat ahli dalam menggodok persiapan pemain

Saat itu, lawan yang dihadapi di laga puncak adalah tetangga di Amerika Selatan, Argentina. Estadio Centenario, Montevideo jadi saksi bisu pertandingan yang berjalan atraktif. Tuan rumah sempat tertinggal 2-1 saat jeda turun minum.

Namun, entah apa yang disuntikkan oleh Suppici di ruang ganti kepada Jose Nasazzi dkk hingga akhirnya bisa comeback dan merebut kemenangan 4-2. Uruguay bersama Suppici pun dikenang sebagai pemenang pertama Piala Dunia. 

Jika Suppici jadi yang pertama, maka bos Timnas Argentina, Lionel Scaloni adalah pelatih lokal terakhir yang sejauh ini sukses mengamankan status juara dunia. Scaloni dipilih oleh Presiden AFA, Claudio Tapia sebagai suksesor Jorge Sampaoli pada 2018. Awalnya cuma jadi caretaker selama 4 bulan, eh malah keterusan jadi pelatih kepala permanen. 

Kalau pada Piala Dunia 2006 Scaloni berperan sebagai pemain di tengah gelanggang, maka di Qatar 2022, pria 46 tahun bertukar nasib menjadi pelatih yang meramu strategi dari tepi lapangan. Menghadapi Piala Dunia sebagai manajer, pundak Scaloni terasa berat karena diamanahkan harapan agar La Albiceleste bisa keluar sebagai yang terbaik.

Bukan tanpa alasan jutaan rakyat Argentina sedemikian bergantung pada Scaloni. Pasalnya, mantan pemain Atalanta itu berhasil mempersembahkan trofi Copa America 2021 usai membekuk seteru sehidup semati, Brasil. Jadi, sudah waktunya untuk menghapus luka lebam saat kalah di final 2014 atas Jerman.

Argentina yang tergabung di Grup C sesuai hasil drawing sempat terpeleset saat di luar dugaan tumbang di tangan Arab Saudi di Doha. Tamparan itu membuat Scaloni mawas diri dan merancang tim yang lebih padu di laga-laga selanjutnya. Lari Argentina pun tak terkejar hingga memastikan slot di final. Australia, Belanda, dan Kroasia dipaksa mengibarkan bendera putih di babak knock out. 

Argentina yang tinggal sejengkal dengan trofi emas, ditakdirkan bertemu dengan musuh yang kualitasnya setara. Serdadu Scaloni bentrok lawan Prancis yang juga dibesut sosok pelatih lokal, Didier Deschamps. Les Bleus sebagai juara bertahan saat itu, benar-benar membuat barisan belakang Argentina kelimpungan. Skor sama kuat 3-3 hingga berakhirnya extra time

Scaloni harus memberi hormat setinggi-tingginya pada Emiliano Martinez yang jadi unsung hero dengan menyetop tembakan Kingsley Coman dalam drama tos-tosan. Argentina layak segel Piala Dunia ketiga dan Scaloni mensejajarkan diri dengan legenda pelatih Cesar Luis Menotti dan Carlos Bilardo.

Lokal Menyerbu di Qatar 2022

Sepanjang pesta Piala Dunia Qatar 2022 lalu, mayoritas negara-negara peserta ditangani oleh orang lokal. Dari total 32 partisipan, 24 negara yakin untuk menggunakan jasa pelatih domestik. 

Praktis hanya ada 8 negara yang mempercayakan timnya dipimpin oleh pelatih impor. Kedelapan negara itu antara lain Belgia, Korea Selatan, Meksiko, Arab Saudi, Ekuador, Kosta Rika, Iran, dan tuan rumah Qatar.

Selain Scaloni dan Deschamps yang gelut di final, rapor pelatih lokal di Qatar 2022 terbilang bervariasi. Langkah 10 pelatih dalam negeri langsung mandek saat masih di fase grup, termasuk Robert Page (Wales), Kasper Hjulmand (Denmark), hingga Hansi Flick (Jerman). 

Memasuki 16 besar, 7 orang pelatih terpaksa mengubur mimpi untuk lolos lebih jauh. Sebut saja Gregg Berhalter (Amerika Serikat), Graham Arnold (Australia), Hajime Moriyasu (Jepang), dan Luis Enrique (Spanyol). 

Babak perempat final jadi batu sandungan yang menyakitkan bagi 3 juru taktik lokal. Mereka adalah Louis van Gaal (Belanda) yang takluk dari Argentina, Tite (Brazil) yang distop Kroasia, dan Gareth Southgate (Inggris) yang dijegal Prancis. 

Sampai juga pada tahap semifinal yang saling mempertemukan 4 negara dengan kekuatan pelatih lokal. Lusail Stadium jadi panggung pertunjukan antara Argentina versus Kroasia. Sementara sang Ayam Jantan adu jotos dengan Negeri Maghribi yang jadi dark horse di Al Bayt Stadium.  

Zlatko Dalic gagal mengantarkan Luka Modric dan kolega sebagai finalis dua kali beruntun usai gawang yang dikawal Dominik Livakovic jebol 3 kali atas Argentina. Begitupun Walid Retegui bersama Maroko yang diasapi oleh juara dunia edisi 2018 lewat gol yang disarangkan Theo Hernandez dan Randal Kolo Muani. 

Paham Betul Filosofi Tim 

Besarnya kepercayaan federasi kepada pelatih lokal untuk melatih pada Piala Dunia memiliki alasannya sendiri. Mengutip dari Kompas, paling tidak ada 4 faktor yang mendorong negara peserta Piala Dunia menunjuk pelatih dalam negeri daripada mendatangkan figur dari negeri orang.

Pertama, faktor kedekatan dengan filosofi permainan tim yang sudah mendarah daging. Setiap tim nasional pasti memiliki filosofi atau gaya main yang melekat betul dan jadi ciri khas mereka setiap kali tampil di kanvas lapangan hijau. 

The Three Lions merekrut Sir Alf Ramsey sebagai nakhoda pada Piala Dunia 1966 karena dialah sosok yang ikut mempopulerkan filosofi khas Inggris, kick and rush. Awal mula munculnya paham ini terjadi pada medio 1950-an hasil buah pemikiran Charles Reep, seorang yang dikenang sebagai Bapak Statistik Sepak Bola Modern. 

Menurut makna harfiah, kick and rush punya arti menendang dan terburu-buru. Jika diartikan lebih detail, maka kick and rush adalah model gaya bermain yang direct atau langsung dengan mengalirkan bola dari belakang ke pertahanan lawan dengan cepat.

Dalam perjalanannya, taktik ini melahirkan permainan keras yang kemudian menjadi wajah sepak bola Inggris. Inilah yang diperagakan oleh Alf Ramsey pada timnya dengan materi pemain kaliber Bobby Charlton, Bobby Moore, dan Geoff Hurst. Hasilnya, Inggris tenggelamkan Jerman Barat dan berhak atas penganugerahan trofi Jules Rimet.

Brasil punya cara mereka sendiri untuk menghipnotis penonton sepak bola dengan filosofi yang indah. Jogo Bonito namanya. Pelatih legendaris, Tele Santana, adalah salah satu tokoh kunci dalam menciptakan Jogo Bonito. Dalam bahasa Portugis, Jogo Bonito artinya “Permainan yang Indah” dan kenyataannya memang demikian.

Filosofi yang kental dengan image dewa sepak bola, Pele ini fokus ke estetika, gaya, dan menonjolkan kemampuan individual. Sepak bola Brasil selalu dinanti karena menghibur dan anti monoton. Lebih dari itu, Jogo Bonito adalah warisan emas bagi sepak bola negeri samba yang kemudian diteruskan oleh Luis Felipe Scolari saat mengomando Ronaldinho Gaucho cs di Piala Dunia 2002.

Publik dunia, khususnya Jepang dan Korea Selatan yang menjadi host kala itu dibuat melongo dengan cantiknya permainan pemain Brasil saat membersamai bola. Bak seorang penari samba yang meliuk-liuk dengan lincah. 

Puncaknya saat menghempaskan perjuangan Jerman di Yokohama Stadium. Brace dari Ronaldo Luis Nazario ke gawang Oliver Kahn membuat Selecao kembali ditahbiskan sebagai campeão mundial sejak terakhir kali pada 1994 di Amerika Serikat. 

Beda halnya dengan negeri Menara Pisa, Italia. Juara dunia 4 kali ini akrab dengan sebuah filosofi yang mereka sebut sebagai Catenaccio. Dalam istilah Italia, Catenaccio secara harfiah punya arti “pengunci” atau “gembok.” Ini merupakan strategi sepak bola yang dikenal dengan organisasi pertahanan yang sangat rapat dan fokus pada menghentikan serangan lawan. Nereo Rocco adalah pelatih yang mengorbitkan Catenaccio sebagai ciri khas Italia. 

Posisi yang mencirikan filosofi ini adalah libero. Libero adalah pemain yang bertanggung jawab untuk membantu pertahanan, memotong serangan lawan, dan mengatur permainan dari belakang. Kehadiran sosok libero merupakan elemen penting dari berjalannya filosofi ini. Italia pernah memiliki Libero berkelas pada diri Armando Picchi dan Franco Baresi. 

Marcello Lippi yang menerima tongkat estafet sebagai allenatore Gli Azzurri jelas tak melewatkan momentum untuk mempresentasikan Catenaccio pada Piala Dunia 2006. Gladiator macam Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Andrea Pirlo, hingga Francesco Totti tampil spartan sepanjang kompetisi dan membantu Lippi membawa pulang piala ke Roma. 

Strategi Yang Sesuai Filosofi

Selain sudah paham luar dalam dengan kultur yang berlaku, pelatih lokal otomatis juga sudah punya strategi yang sesuai dengan filosofi yang dijunjung. Seperti yang terjadi pada Vicente del Bosque saat menukangi Spanyol di Piala Dunia 2010. Negeri Matador saat itu sedang hangat dibicarakan karena tiki-taka yang mereka terapkan di permainan sepak bola. 

Puluhan juta penikmat sepak bola seketika terbius ketika tiki-taka milik Spanyol menyuguhkan permainan indah nan menawan melalui aksi umpan satu-dua sentuhan. Saat del Bosque menggantikan Luis Aragones yang berjaya mengamankan Euro 2008, ia tidak mengubah banyak hal, malah mempercantik gaya main Spanyol.

Del Bosque mempercayai pemain-pemain dari duo raksasa, Barcelona dan Real Madrid untuk mengisi tim intinya,  juga tidak mengganti sebagian besar winning team Aragones.  Formasi 4-4-2 yang terkadang bisa dimodifikasi menjadi 4-2-3-1 masih menjadi kunci del Bosque. Pemain-pemain andalan La Furia Roja saat itu semuanya sedang memasuki usia yang matang. 

Kiper Iker Casillas, bek Sergio Ramos, serta trio gelandang Xabi Alonso – Xavi Hernandez – Andres Iniesta sedang menikmati masa keemasan mereka di klub masing-masing. Belum lagi duet penyerang Fernando Torres dan David Villa yang sedang trengginas di depan gawang.

Dengan mengaplikasikan taktik tersebut, Spanyol nyaris tidak memiliki kelemahan yang berarti selama bertanding di Afrika Selatan. Belanda sekalipun yang berupaya menghidupkan lagi semangat total voetball menyerah dengan kejeniusan del Bosque di final yang digelar di Johannesburg. 

Bahasa Pengantar Yang Sama

Faktor ketiga adalah kesamaan bahasa pengantar. Dalam dunia sepak bola, apalagi tim nasional, faktor bahasa sangat krusial untuk menjadi jembatan komunikasi antara pelatih dengan anak asuhnya. Bayangkan kalau sebuah timnas dipimpin oleh pelatih asing, pasti dibutuhkan tenaga penerjemah guna mengalihbahasakan ucapan sang pelatih. Tentu buang-buang waktu apalagi jika lagi di masa yang genting. 

Oleh karena itu, banyak federasi yang merekrut pelatih lokal agar komunikasi selama pembangunan tim lebih lancar. Sosok pelatih lokal yang dikenal berapi-api dalam berbicara kepada pasukannya adalah Didier Deschamps. Saat Prancis diambang juara dunia pada 2018 di Rusia, eks gelandang bertahan Olympique Marseille ini kerap tertangkap kamera memompa motivasi skuadnya agar tetap fokus hingga piala sudah di tangan.

Ruang ganti jadi tempat yang digunakan Deschamps untuk mengobarkan semangat Kylian Mbappe dan kawan-kawan ketika laga puncak kontra Kroasia di Luzhniki Stadium. Dari sebelum laga digelar sampai jeda babak, pelatih 56 tahun terus menghajar para pemain di hadapannya dengan kata-kata pembangkit jati diri sembari menerangkan apa yang harus mereka lakukan di atas lapangan. Usaha itu tidak sia-sia karena Deschamps bisa mengantarkan Les Bleus pecundangi Kroasia di final.

Mampu Menjalin Komunikasi Dengan Pemain Kunci

Faktor terakhir adalah mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pemain kunci. Memang tidak semua tim nasional memiliki sosok pemain kunci yang begitu disegani oleh rekan sejawat dan juniornya. Seperti Cristiano Ronaldo di Portugal dan Lionel Messi di Argentina. Untungnya, Lionel Scaloni masih mempunyai La Pulga dalam daftar skuadnya saat merasakan Piala Dunia 2022. 

Messi sebagai salah satu figur senior di skuad juara Argentina jelas sudah dikenal oleh seluruh pemain yang dipanggil karena karismanya. Boleh dibilang, produk asli jebolan La Masia ini adalah leader yang paling bisa mengejawantahkan perintah pelatih saat di tengah medan laga.

Dengan watak Messi yang demikian, pelatih yang mendapat jobdesk memimpin Argentina harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan pemilik nomor punggung 10 itu. Kalau tidak, sang pelatih bisa kalah dihormati daripada sang mega bintang. Di Piala Dunia 2022, Scaloni berhasil menjadi komunikator handal yang bersahabat dengan Messi sehingga tidak terjadi keretakan di internal tim. Argentina pun bisa main solid dan merengkuh piala di akhir turnamen. 

football-tribe.com, bola.com, kompas.com, onefootball.com, bolasport.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru