Mengapa Banyak Pemain Top Eropa yang Memutuskan Masuk Islam?

spot_img

Pada akhir tahun 2024, publik sepakbola digemparkan dengan kesaksian mantan kiper Al-Nassr, Waleed Abdullah yang mengatakan bahwa Cristiano Ronaldo berkeinginan untuk masuk islam. Ah yang bener nih? Hoax kali. Jika soal agama, kiper yang meninggalkan Al Nassr untuk pindah ke Al Diraiyah FC pada musim panas 2024 ini tidak asal bicara.

Dilansir Morocco World News, kiper yang kini berusia 38 tahun itu mengatakan bahwa Ronaldo membicarakan hal tersebut secara langsung kepadanya. Semenjak bermain di Liga Arab Saudi, Ronaldo semakin tertarik dengan agama Islam. Cristiano Ronaldo juga menunjukan beberapa gestur yang menunjukan dirinya berminat pindah agama.

Waleed bahkan kagum dengan sikap Ronaldo yang selalu meminta para pemain Al-Nassr untuk senantiasa berdoa sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan, Waleed mengatakan bahwa Ronaldo selalu meminta pelatih untuk menghentikan sesi latihan ketika Adzan berkumandang di sekitar kamp latihan. 

Jika benar Ronaldo masuk Islam, ini akan jadi transfer paling mencengangkan sepanjang sejarah sepakbola. Ketertarikan Ronaldo kepada Islam tentu bukan suatu hal yang aneh, karena penyebaran Islam melalui sepakbola juga kian masif. Banyak pemain-pemain yang akhirnya memilih untuk masuk Islam. 

Jumlahnya pun kian bertambah setiap tahun. Namun, apa yang mendasari para pesepakbola sehingga bisa yakin untuk memeluk agama Islam? 

Islam di Di Sepakbola Eropa

Maraknya pesepakbola top yang memutuskan untuk jadi mualaf tak terlepas dari semakin luas dan cepatnya penyebaran Islam di negara-negara Eropa. Media yang digunakan pun sudah sangat beragam. Bukan hanya melalui perdagangan dan dakwah saja, melainkan merambah pada sektor bisnis dan dunia olahraga. Tak terkecuali sepakbola.

Dari sepakbola, Islam berkembang hingga pelosok dunia. Dakwah tak melulu dari mimbar satu ke mimbar yang lain. Bisa juga dari lapangan satu ke lapangan lain. Seperti yang dilakukan oleh beberapa pemain muslim di Eropa. Tak dapat dipungkiri, berkat jasa mereka, Islam diterima dan berkembang di kawasan dimana mereka bermain.

Contohnya saja keberadaan Mo Salah di Liverpool. Kedatangan Salah tak hanya menjadi berkah buat The Kops, melainkan juga bagi persepakbolaan Inggris. Tak hanya trofi, pesepakbola asal Mesir itu juga menghadirkan kedamaian di Liga Inggris. Salah tak malu menunjukan bahwa dirinya adalah muslim yang taat. Ia bahkan tak ragu untuk melakukan selebrasi sujud syukur di hadapan puluhan ribu penonton yang mungkin tak tahu itu maksudnya apa. 

Aksi berdoa dan sujud syukur yang kerap dilakukan Salah tak berujung hujatan, malah justru yel-yel penyemangat yang didapat. Pengaruh Salah di Anfield itu membuat dirinya mudah untuk dicintai fans. Mungkin bisa dibilang namanya jadi lagu wajib yang harus dinyanyikan setelah “You’ll Never Walk Alone”. 

Selain Mo Salah, kehadiran investor-investor dari Timur Tengah juga jadi kunci peredaran Islam di sepakbola Inggris. Misalnya, kehadiran Sheikh Mansour di Manchester City dan pemerintah Arab Saudi yang mengakuisisi Newcastle United. Mereka sedikit banyak mempengaruhi beberapa kebijakan klub dan kompetisi agar lebih menghargai umat muslim sekaligus mengikis islamofobia.

Dulu, umat muslim yang terlibat dalam roda kehidupan Liga Inggris, bahkan cukup kesulitan untuk menunaikan ibadah sholat. Namun, kini di hampir setiap stadion, sudah disediakan mushola atau ruangan khusus untuk kawan-kawan muslim agar bisa beribadah. Sentimen terhadap umat muslim jadi kian menyusut.

Jika di luar Inggris, mungkin bisa diwakilkan oleh Zainuddin Yazid atau yang lebih dikenal dengan Zinedine Zidane. Setelah Zidane membawa Timnas Prancis juara pada piala dunia 1998, kebencian warga Prancis terhadap Islam mengalami penurunan. Zidane membawa nilai-nilai positif dari Islam saat membantu Prancis juara dunia. Kontribusi mereka dalam sepakbola pada akhirnya menginspirasi banyak orang.

Kehidupan Glamor

Sisi lain para pesepakbola yang erat kaitannya dengan kemewahan dan kemudahan akses juga jadi salah satu faktor yang justru mendekatkan mereka pada Islam. Menjadi atlet dengan bayaran yang sangat tinggi membuat para pesepakbola sulit untuk menghindar dari godaan barang-barang mewah atau kehidupan yang terkesan mubazir lainnya.

Dengan gaji ratusan miliar per tahun, para pesepakbola tentu sanggup membeli apa saja yang terjual di pasaran. Dari rumah mewah, mobil sport, pesawat pribadi, atau bahkan sebuah pulau dengan fasilitas lengkap seperti yang dilakukan oleh Neymar baru-baru ini. Namun, hal ini jika terus-terusan dilakukan akan menjadi kebiasaan buruk.

Sebagian pesepakbola merasa bahwa kemewahan tak ada habisnya. Jika hari ini membeli supercar edisi terbaru, maka beberapa bulan mendatang, mobil dengan seri dan teknologi yang lebih mutakhir akan kembali dapat dibeli. Begitu terus sampai entah kapan. Situasi ini pun dirasakan oleh Paul Pogba. Kala itu, muncul banyak pertanyaan yang sulit terjawab dibenaknya.

Sebelum akhirnya memutuskan jadi mualaf pada tahun 2013, Paul Pogba yang sudah menjadi pemain top di Juventus mengalami konflik batin. Menerima bayaran tinggi di usia yang terbilang masih muda, dirinya seringkali kalap. Penampilannya di luar lapangan pun tak pernah lepas dari barang bling-bling. Namun, di suatu titik, ia bertanya mengapa harus begini. Apa sebenarnya yang ia cari?

Pogba pun akhirnya pulang ke Prancis untuk menemui ibunya yang memang seorang muslimah yang taat. Dan dari situ Pogba menemukan jawaban. “Islam mengajarkan kesetaraan dan kesederhanaan melalui jamaah. Saya pikir (Islam) telah memberikan sebuah identitas kepada saya. Terutama saat anda mempertanyakan kehidupan tentang segalanya,” kata Pogba.

Lingkungan Sekitar

Lingkungan sekitar juga jadi pendorong para pesepakbola untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Tentu kalian pernah mendengar paham bahwa baik buruknya seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Jika satu circle-nya isinya para pemabuk dan penjudi, maka orang itu kemungkinan dapat terjerumus dalam lembah kegelapan.

Namun, sebaliknya. Jika pribadi tersebut berada di lingkungan yang berisikan orang-orang pintar, suasana damai, harmonis, dan rajin beribadah, maka orang tersebut lama-kelamaan akan mulai mengikuti ritme yang sudah tercipta. Hal yang sama juga terjadi dalam bentuk yang lebih kompleks di lingkungan para pesepakbola.

Sama halnya Cristiano Ronaldo yang mulai mengamalkan nilai-nilai Islam saat pindah ke Arab Saudi, Robert Bauer pun demikian. Pemain asal Jerman itu memutuskan untuk log in usai hijrah ke klub Arab Saudi, Al-Tai pada tahun 2023 kemarin. Eks Werder Bremen itu memutuskan untuk terlibat dalam proyek Al-Tai usai kontraknya tidak diperpanjang oleh klub Liga Belgia, Sint-Truiden.

Bauer sendiri dibesarkan oleh keluarga kristen asal Kazakhstan. Lalu, ia lahir dan dibesarkan di Jerman dengan ajaran umat kristiani yang cukup kental. Pertama kali Bauer mengenal Islam justru dari istrinya yang ia temui di Dubai. Namun, saat itu mengenal Islam hanyalah formalitas agar keluarga istrinya merestui hubungan keduanya. 

Nah, ketika bermain di Al-Tai, Bauer baru merasakan apa makna sebenarnya dari Islam. Di Arab Saudi, Bauer membaur dengan masyarakat sekitar. Dirinya kagum dengan bagaimana cara mereka menghargai orang lain. Dirinya juga semakin sering melihat orang-orang beribadah dan menunaikan puasa. Bauer pun semakin mantap untuk mengucapkan syahadatnya di Arab Saudi.

Terinspirasi dari Rekan Satu Tim

Lingkungan sekitar yang dimaksud juga bisa dari rekan satu tim. Ya, rekan satu tim bisa jadi penghasut dalam arti positif. Ketika pemain yang awalnya non muslim, jadi lebih mengenal Islam dari rekannya yang menunaikan ibadah dan mengamalkan nilai-nilai Islam di kesehariannya. 

Pemain tersebut akhirnya mempelajari agama Islam dari rekan satu timnya itu. Mulai dari belajar puasa, mengenal kewajiban-kewajiban umat Islam, dan masih banyak lagi. Tercatat, ada beberapa pemain yang memutuskan mualaf jalur ini.

Salah satunya adalah bintang Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen. Meski dibesarkan di Belanda, negara yang tidak begitu kental dengan budaya Islam, Ragnar tetap bisa menemukan hidayah melalui temannya. Kisahnya berawal pada saat Ragnar menimba ilmu di akademi NEC Nijmegen. 

Ragnar memiliki seorang teman yang beragama Islam. Ia beberapa kali mengajak Ragnar untuk berkunjung ke masjid tempatnya beribadah. Awalnya, Ragnar hanya iseng-iseng saja. Tapi, lama-kelamaan rasa ingin tahu terhadap agama Islam pun muncul. Baginya, Islam begitu menenangkan. Islam membantunya dalam menjalani kehidupan. 

Dari Pernikahan

Alasan cinta dan pernikahan barangkali jadi yang paling awam terjadi. Pesepakbola non muslim yang jatuh cinta pada wanita muslimah mau tak mau harus mengikuti agama dari sang wanita. Menurut beberapa testimoni, mereka yang akhirnya memeluk agama Islam karena menikahi wanita muslim, ketenangan hidup pun langsung didapatkan.

Franck Ribery barangkali jadi salah satu pemain yang menggunakan jalur ini untuk mengenal Islam lebih dalam. Soal ketenaran Ribery, tak perlu diceritakan lagi lah ya. Ia jadi salah satu pemain terbaik Prancis di eranya. Ia mendulang banyak kesuksesan kala membela Bayern Munchen. 

Eks pemain Fiorentina itu memeluk agama Islam pada tahun 2002. Tepatnya, setelah menikahi perempuan idamannya yang berasal dari Aljazair, Wahiba. Pemain yang identik dengan bekas luka di wajahnya itu merasa lebih kuat, baik secara mental maupun fisik setelah memeluk agama Islam.

“Agama tidak mengubah jati diri dan persepsi saya terhadap dunia. Saya beribadah lima kali sehari, saya lakukan itu agar terbebas dan saya merasa lebih baik setelah itu,” kata Franck Ribery. Selain Ribery, ada Clarence Seedorf yang juga menikahi seorang muslimah bernama Sophia pada tahun 2022 kemarin.

Seedorf mengaku bahwa keputusannya ini tak hanya didasari oleh cintanya kepada Sophia. Melainkan ada banyak faktor yang mendorongnya. Salah satu yang paling vital adalah rasa penasaran atas agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad tersebut. Seedorf mengungkapkan kekagumannya terhadap Islam membuatnya ingin mempelajari lebih lanjut tentang ajarannya.

Hidayah

Beberapa alasan di atas selalu memiliki perantara untuk menyadarkan para pemain betapa agungnya Islam. Namun, yang dialami Eric Abidal sedikit berbeda. Masih banyak orang yang salah kaprah soal proses hijrah Abidal. Selama ini kebanyakan orang hanya mengetahui Abidal berpindah agama menjadi Islam karena faktor sang istri. Padahal enggak.

Abidal tidak memungkiri bahwa istrinya, Hayet yang merupakan muslim dari Aljazair membantunya untuk mengenal Islam lebih dekat. Namun, Abidal menerangkan bahwa hidayah dari Allah SWT lah yang memegang peran penting. Dia menggambarkan proses hijrahnya ini sebagai hadiah yang tiba-tiba muncul dan mengetuk hatinya.

Keislaman dalam diri Abidal semakin kental saat dirinya mendapat cobaan sakit dari Allah SWT. Ya, saat masih membela Barcelona, Abidal didiagnosis kanker hati pada tahun 2011. Berkat kehadiran istri dan keluarga, Abidal dituntun untuk terus mendekatkan diri kepada sang pencipta. 

Dengan doa dan kuasa Allah, Abidal akhirnya bisa melewati sakit kanker dengan proses transplantasi hati. Ia bersyukur mengalami cobaan tersebut setelah log in. Jika belum, mungkin ia tak akan sekuat itu untuk melewati rasa sakit. Kesempatan kedua di hidup membuat Abidal semakin sadar bahwa kasih sayang Allah teramat besar kepada umatnya.

Eropa dan Sejarah Islam

Nama-nama di atas jadi contoh kecil dari banyaknya pemain yang menemukan hidayahnya. Namun, jika kalian masih ingat tentang ilmu sejarah Islam, Eropa pada zaman dahulu memang pernah jadi pusat peradaban Islam lho.

Perkembangan Islam di Eropa bermula dari penaklukan Semenanjung Andalusia, yang sekarang disebut Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad tahun 711 Masehi. Dan Islam pun tumbuh pesat di zaman itu. Pada beberapa abad berikutnya, Andalusia kemudian berubah menjadi provinsi yang dibagi-bagi ke dalam sejumlah bagian. 

Salah satunya adalah Emirat Granada. Wilayah ini menjadi satu-satunya pemerintahan muslim di sana. Hingga akhirnya runtuh akibat jajahan Kerajaan Castile. Semoga, dengan semakin maraknya pesepakbola yang log in, ini jadi pertanda baik untuk seluruh umat muslim di dunia.

Sumber: Morocco World News, The Arab Weekly, Ummah Sport, Kompasiana

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru