Mengapa Manchester United Tak Layak Lagi Dijadikan Tim Favorit?

spot_img

Megan Fox, pemeran Gina dalam film The Expendables adalah penggemar setia Manchester United. Justin Timberlake, penyanyi Amerika Serikat yang berhasil menjual 32 juta album sepanjang kariernya juga mengidolakan Setan Merah. Bahkan Pandji Pragiwaksono, pelawak tunggal yang menulis berbagai buku termasuk Indiepreneur juga penggemar berat Manchester United.

Memang sedahsyat itu Manchester United. Namun, itu dulu. Sekarang atau bahkan beberapa tahun ke depan, MU bukan lagi tim yang layak diidolakan.

Kamu boleh menyukai lawakan Pandji di atas panggung, manggut-manggut mendengarkan lagu “Mirrors”, tapi tak perlulah ikutan ngefans MU seperti Pandji dan Justin Timberlake. Percayalah! Dengan tidak menjadi penggemar MU, dalam beberapa tahun ke depan jiwamu akan aman dan pikiranmu akan jauh lebih tenang. Ini serius!

Reputasi Manchester United

Betul bahwa di masa lampau, Manchester United memang tim yang hebat. Setan Merah membangun reputasinya sebagai salah satu tim terbaik di Eropa. Bahkan dunia. Coba dipikir saja, di era kejayaannya, Setan Merah tidak pernah absen merengkuh trofi.

Lha, ngana pikir sebelum Manchester City meraih treble, siapa tim Inggris pertama yang melakukannya? Manchester United! The Red Devil adalah tim Inggris pertama yang menyabet treble winner. Suatu pencapaian yang bahkan belum sanggup dilakukan Real Madrid, setidaknya hingga musim 2023/24.

MU juga salah satu tim dengan gelar domestik terbanyak. Ia berjajar dengan tim-tim seperti Bayern Munchen dan Juventus. Dengan prestasi-prestasinya itu tak sulit bagi MU mendapatkan banyak penggemar. Malahan Manchester United masih menempati urutan ketiga tim paling populer di dunia tahun 2023.

Mengutip Rapid Leaks, secara global jumlah fans Setan Merah menyentuh 330 juta jiwa. Di Liga Inggris, United paling banyak fansnya dengan 82 juta jiwa. Jumlah itu mengalahkan Chelsea (54 juta) dan Manchester City (47 juta). Masih belum yakin kalau United adalah tim paling populer?

Pada tahun 2023 lalu, mengutip laporan Goal, Manchester United merupakan tim kedua di dunia yang paling dicari di Google. Angkanya menyentuh 33,8 juta pencarian dalam sebulan. Setan Merah hanya kalah dari Real Madrid (44,5 juta per bulan).

Sementara Manchester City, tim yang diperkuat Erling Haaland, Pep Guardiola, Kevin de Bruyne, dan bahkan meraih treble winner, masih kalah dari Galatasaray di mesin pencari. Ya, Galatasaray! Tim dari Turki itu justru menempati posisi ketiga dengan rata-rata pencarian 32,4 juta per bulan, sedangkan City 29,3 juta per bulan tahun lalu.

Miskin Trofi

Jujur saja, Manchester United sudah nggak sehebat dulu. United memang menjadi tim Inggris dengan pencarian terbanyak di Google tahun lalu. Namun, sebetulnya MU tidak lagi masuk dalam jajaran 20 klub top dunia per 2020 lalu, menurut laporan Sport Joe.

Lambat laun popularitas mereka akan lenyap tak tersisa. Lah, gimana mau populer? Dapat trofi saja sulitnya setengah modyar.

Coba ingat-ingat, terakhir kali Manchester United dapat trofi Liga Champions itu tahun 2008, lho! Ya, 2008, itu lebih dari 14 tahun yang lalu. Apa? Juara Liga Inggris? MU boleh senang karena meraih 20 trofi Liga Inggris, melebihi Manchester City.

Namun, terakhir kali MU dapat trofi Liga Inggris itu tahun 2013. Ya, lebih dari satu dekade yang lalu! Trofi terakhir Manchester United? Yah… Sekelas Carabao Cup doang. Dan itu pun di final musuhnya Newcastle United. Coba saja kalau lawannya Liverpool. Setengah lusin gol mah sepele, ya nggak bang Salah?

Tidak Konsisten

Lagian, buat apa sih, menjadikan tim yang nggak konsisten seperti MU tim favorit? Di zaman yang serba cepat dan di dunia sepak bola modern seperti sekarang ini, menggemari tim sepak bola yang tak konsisten seperti MU hanya akan menambah pening kepala. Kasihan mentalmu tiap pekan harus menghadapi kenyataan yang rumit.

Setiap laganya Manchester United tak pernah bisa menjamin hasil positif. Malah lebih banyak menyebalkan. Lihat saja, lawan Fulham yang peringkatnya di bawah mereka saja kalah. Dan itu di Old Trafford pula! Di Liga Champions, melawan Copenhagen pun kalah.

Selama bermain di UCL musim ini, Manchester United bahkan hanya bisa memenangkan satu laga saja. Itu pun golnya satu doang. Dan itu pun di markasnya sendiri, lawannya FC Copenhagen pula. Itu dari keseluruhan. Dalam satu laga saja, Manchester United lebih sering tidak konsisten.

Kadang 10 menit pertama mainnya cakep, 10 menit berikutnya membosankan, 10 menit selanjutnya bikin pengen beol, jelang babak pertama usai sudah nggak bergairah lagi buat nonton dan terpaksa geser ke Sinema Pintu Taubat. Sebab nonton Manchester United bukan lagi hiburan melainkan siksaan.

Para Pemain Manchester United Tak Lagi Semangat

Para pemain Manchester United juga sekarang tak lagi punya gairah, semangat, dan tekad. Jangankan untuk menang, mencetak satu gol saja sulitnya setengah mampus. Di Manchester United, sekarang tak ada istilah “Fergie Time” lagi. Boro-boro membalikkan keadaan dengan mencetak gol di menit 90+, hingga wasit masuk lorong pun MU nggak bisa membobol gawang lawan.

Gejala semacam ini juga dibaca oleh kolumnis Daily Mail, Ian Ladyman. Tatkala dikalahkan Manchester City 1-3 beberapa waktu lalu, Ladyman singkatnya menulis, bahwa Manchester United kehilangan kepercayaan diri dan cenderung minder menghadapi skuadnya Pep Guardiola.

Padahal di laga tersebut MU unggul lebih dulu. Padahalnya lagi, Marcus Rashford merobek gawang Ederson bahkan saat laga belum genap 10 menit. Keringnya kepercayaaan diri itu bikin Manchester United gagal mempertahankan keunggulan atau menahan imbang Manchester City. Terlepas dari kekuatan City yang luar biasa.

Ladyman juga menulis bahwa MU tidak siap untuk mengembangkan permainannya ketika unggul lebih dulu. Mungkin United lebih siap justru kalau kebobolan lebih dulu dari Manchester City. Seperti yang pernah terjadi musim lalu barangkali?

Tidak Ada Sir Alex Ferguson

Salah satu faktor yang membuat Manchester United punya banyak penggemar adalah Sir Alex Ferguson. Ini bukan analisis Starting Eleven doang. Bleacher Report juga menulis demikian. Para penggemar MU sampai hari ini mungkin masih belum terpikirkan soal prospek tim pasca Fergie. Wajar saja kalau melupakan Fergie bagi fans MU jauh lebih sulit daripada melupakan mantan.

Lihat saja, di berbagai pemberitaan hingga tweet tentang Manchester United belakangan ini, masih ada saja yang mencatut Fergie. Atau ya, dikait-kaitkan dengan pelatih berpaspor Skotlandia itu. Warisan Fergie memang sulit disangkal. Selama di United, Fergie memenangkan 13 trofi Liga Inggris, dua gelar UCL, dan lima Piala FA.

Nah, karena Fergie sudah tak melatih MU, mau ngefans dari jalur mana lagi? Inilah saat yang paling tepat untuk berhenti menggemari Manchester United. Lho, Fergie bukannya masih di MU? Ya, tapi perannya adalah anggota dewan bukan manajer.

Nggak Ada Pemain Bintang dan Berkualitas

Hari gini juga nggak ada lagi pemain bintang di Manchester United. Bintang yang dimaksud tentu saja yang berkualitas. Bukan harganya bintang tapi kualitasnya lempung. Dulu MU sering memiliki pemain bintang yang tidak hanya mahal tapi jempolan.

Eric Cantona, Wayne Rooney, Park Ji-Sung, Ryan Giggs, David Beckham, Roy Keane, Nicky Butt, Cristiano Ronaldo, dan silakan menyebutnya sendiri karena sampai bibir dower nggak akan ada habisnya menyebut pemain bintang berkualitas yang pernah memperkuat United.

Sekarang? Adanya cuma pemain mahal, kualitasnya masih jauh panggang dari api. Antony misalnya. Ia pemain mahal, tapi tak ada satu pun darinya yang bisa dibanggakan. Siapa lagi? Bruno Fernandes? Ya, dia lumayan di lini tengah, tapi coba tanya temanmu, bagusan mana Bruno atau Paul Scholes.

Intinya, sekarang tak ada lagi pemain yang bisa diidolakan sebagai pintu gerbang untuk menggemari Manchester United. Tidak seperti dulu yang bahkan, dengan menyaksikan Edwin Van Der Sar di game Winning Eleven, orang bisa tiba-tiba jadi penggemar MU.

Manchester United Sedang Membangun Ulang 

Tidak seperti Manchester City, Arsenal, hingga Real Madrid yang proyeknya sudah berjalan dan pelan-pelan memanen hasilnya, Manchester United justru baru mau membangun ulang timnya. Sir Jim Ratcliffe, seorang pengusaha yang ngakunya penggemar berat MU baru saja mengakuisisi sebagian saham tim ini.

Doi membeli 27% persen saham MU dari si keparat keluarga Glazer. Ratcliffe pun dipasrahi sektor sepak bolanya. Jadi Glazer tak lagi mencampuri urusan sepak bola MU. Nah, karena dikelola manusia yang berbeda, MU pun disetel ulang.

CEO diganti ke Omar Berrada. Kabarnya MU juga akan mendatangkan pencari bakat baru, Dan Ashworth. Juga ada kemungkinan Ratcliffe akan mendepak Erik ten Hag. Dengan begitu, United butuh waktu yang boleh jadi lebih lama lagi untuk tiba di terminal kejayaan. Malahan bukan tidak mungkin harus menunggu cuma buat menyamai kejayaan masa lalu mereka. 

Nah, buat yang baru icip-icip dunia sepak bola. Ingin punya tim favorit. Borneo FC lebih layak digemari ketimbang Manchester United. Daripada nunggu trofi datang sampai berjenggot, ya kan?
Lagi pula sudah rahasia umum kalau fans Manchester United itu arogan dan kemlinthi. Memangnya kamu mau menjadi golongan umat yang semacam itu? Naudzubillah Min Dzalik.

Sumber: TheAthletic, TheAthletic, BR, SportsJoe, DailyMail, Stadium-Maps, RapidLeaks, Goal

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru