Kalau boleh jujur kekalahan Paris Saint-Germain atas Bayern Munchen di babak 16 besar Liga Champions Eropa bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Namun, kekalahan itu, bagi PSG tetaplah nahas.
PSG adalah satu-satunya wakil Prancis yang lolos ke babak gugur. Akan tetapi, Les Parisiens tak bisa berbicara banyak. Baru juga di 16 besar, PSG harus menghadapi calon kuat juara seperti Bayern Munchen. Tamat itu PSG!
Dengan gugurnya Paris Saint-Germain, dipastikan musim ini yang menjadi juara Liga Champions bukanlah tim dari Prancis. Kekalahan ini sekaligus menambah daftar panjang klub Prancis yang gagal di Liga Champions. Sebab, sepanjang sejarahnya tim-tim dari Prancis sulit juara Liga Champions. Pertanyaannya, mengapa?
Daftar Isi
Marseille Satu-Satunya Juara dari Prancis
Harap dipahami terlebih dahulu. Klub-klub Prancis memang sulit menjadi juara Liga Champions. Tapi tidak lantas diartikan bahwa tidak ada klub Prancis yang pernah juara Liga Champions. Ada, kok, tapi bukan Paris Saint-Germain.
Justru klub seperti Olympique de Marseille satu-satunya tim Prancis yang pernah mengangkat Si Kuping Besar. Klub berjuluk Les Phoceens sukses menggondol trofi Liga Champions Eropa tahun 1993.
Pada Mei 1993, Marseille bisa meraih trofi Liga Champions dengan mengalahkan AC Milan di partai final. Selain menjadi kesebelasan pertama dari Prancis yang bisa meraih Si Kuping Besar, pada saat itu Marseille berstatus sebagai juara pertama Liga Champions saat kompetisi itu sudah bernama Liga Champions Eropa.
Olympique Marseille won the first Champions League Final on this day 1993 pic.twitter.com/n6DpEn6MVX
— Classic Football Shirts (@classicshirts) May 26, 2020
Gelar juara itu diselimuti kasus suap yang melibatkan Presiden Marseille saat itu, Bernard Tapie. Seminggu sebelum menghadapi Milan, Marseille sudah memastikan gelar Ligue 1 musim 1992/93 lewat kemenangan 1-0 atas Valenciennes.
Tapie terbukti melakukan suap kepada para pemain Valenciennes. Suap itu demi kepastian juara Ligue 1 dan kepastian tidak ada pemain Marseille yang cedera. Marseille pun dihukum ke divisi dua. The Phoceens harus turun kasta setelah juara Liga Champions.
Why people saying that the tifo from Marseille is ‘ironic’?
— Reyi (@Reinaldodcg9) May 5, 2022
Bernard Tapie was the president of Marseille when they won the #UCL in 1993, and he was involved in a match-fixing scandal vs Valenciennes.
This saw them relegated, but they maintained their European title.#UECL pic.twitter.com/MCCT5PeK5y
Namun, Marseille saat itu memang layak ke final. Sama seperti AC Milan, di babak pertama saja mengalahkan tim dari Irlandia Utara, Glentoran 8-0. Sedangkan Milan menghabisi tim Slovenia, Olimpija Ljubljana 7-0. Konsep UCL musim itu yang lolos akan masuk ke putaran kedua, jika lolos lagi masuk ke babak grup.
Di fase grup, Milan dan Marseille berada di puncak dan berhak ke final. Pertandingan final di Munchen sangat menarik. Marseille yang masih diperkuat Didier Deschamps, Marcel Desailly, sampai Fabian Barthez mengalahkan Milan dengan skor dramatis 1-0 berkat gol Basile Boli yang sebenarnya sebelum nyetak gol ingin diganti.
Padahal saat itu, Rossoneri tim kuat Eropa. Dengan Fabio Capello sebagai pelatih, dan nama-nama beken seperti Sebastiano Rossi, Paolo Maldini, Mauro Tassotti, Franco Baresi, Frank Rijkaard, Marco van Basten, sampai Alessandro Costacurta.
Tidak Pernah Ada All France Final
Setelah Marseille, tim-tim Prancis letoy semua. Bahkan klub yang pernah mendominasi Ligue 1 selama beberapa tahun, Lyon tak bisa ke final. Selain Marseille, sebetulnya ada tim Prancis lain yang pernah melangkah ke final. Adalah AS Monaco.
Yap, benar. Tim yang sebenarnya nggak Prancis-Prancis amat itu lolos ke final Liga Champions musim 2003/04. Sayangnya klub berjuluk Les Rouge et Blanc kandas di tangan klubnya Jose Mourinho, Porto. Tak tanggung-tanggung kalahnya 3-0.
Padahal AS Monaco kala itu terbilang tim kuat di Prancis. Mereka bermateri pemain ikonik, Fernando Morientes. Lagi pula AS Monaco ketika itu dilatih Didier Deschamps. Pelatih yang membawa Prancis juara Piala Dunia 1998 dan Marseille juara Liga Champions saat menjadi pemain.
Setelah AS Monaco, ada PSG, setelah itu tidak pernah ada lagi yang sampai ke final. Ironisnya lagi, dari kelima liga top Eropa, hanya Liga Prancis yang tidak pernah menciptakan All France Final di Liga Champions.
Silakan dicatat sendiri. Liga Inggris sering mengirim dua wakilnya di final, misalnya pada 2019 saat dua klub berlogo unggas, Liverpool dan Tottenham Hotspur bertemu. Serie A juga pernah mengirim AC Milan dan Juventus ke final 2003.
Bundesliga yang katanya Liga Bayern itu saja pernah mengirim dua tim terbaiknya, Bayern Munchen dan Dortmund di final 2013. Spanyol? Tentu saja pernah. Derbi Madrid tersaji di final Liga Champions 2014 dan 2016.
Sepak bola Prancis Terlambat Berkembang
Meskipun Prancis menunjukkan bahwa sepak bola populer di sana, tapi itu sebenarnya tidak begitu populer. Ligue 1 sendiri bahkan mulai ada tahun 1932, jauh lebih tertinggal dari liga di Spanyol, Italia, dan Inggris. Namun, dari kelima liga top Eropa, Bundesliga lah yang paling muda.
Liga di Jerman itu berdiri pada 1963. Namun, kebudayaan sepak bola di Jerman terbangun lebih awal daripada Prancis. Walaupun sepak bola amatir mereka baru dimulai tahun 1874. Sementara Prancis mulai sepak bola amatir tahun 1872.
Namun, sepak bola termasuk terlambat berkembang di Prancis. Mereka saja mengenal sepak bola dari para pelaut dari Inggris yang bermain di klub Le Havre. Olahraga lain seperti rugby jauh lebih cepat berkembang di Prancis daripada sepak bola.
Liga Prancis Tidak Populer
Jika melihat sejauh mana wakil Prancis di Liga Champions kita akan melihat bagaimana liganya, dalam hal ini Ligue 1. Diakui atau tidak, Ligue 1 tidaklah sepopuler empat liga top Eropa lainnya. Ligue 1 menjadi populer karena di sana ada Paris Saint-Germain.
Selebihnya, Ligue 1 kalah telak dengan liga-liga lainnya. Mantan Chief Operating Officer Olympique Marseille, Laurent Colette mengatakan, Liga Prancis tertinggal di belakang liga top lainnya, seperti Liga Inggris. Liga Prancis tidak punya hak siar yang kuat, meski sudah bekerja sama dengan perusahaan hak siar seperti CBC.
Kurang Investor dan Pendapatan Kecil
Lantaran tidak sepopuler liga-liga lainnya pendapatan Ligue 1 juga kecil. Dari lima liga top Eropa, Ligue 1 memiliki pendapatan terkecil sejak 2011/12 hingga 2020/21, dengan perkiraan sampai 2022/23. Pada musim ini mengutip Statista, diperkirakan pendapatan Liga Prancis hanya berkisar 1,8 miliar euro (Rp29,6 triliun).
Sementara Liga Italia 2,4 miliar euro (Rp39,4 triliun), Liga Spanyol 3,7 miliar euro (Rp60,8 triliun), Liga Jerman 3,6 miliar euro (Rp59,2 triliun), dan Liga Inggris paling banyak dengan 7,1 miliar euro (Rp116,7 triliun). Klub-klub di Prancis juga kekurangan investor. Praktis hanya PSG yang kedatangan investor besar.
Tim-tim Prancis juga mesti bergulat untuk mencapai keseimbangan finansial. Sebuah studi yang disampaikan Laurent Colette menyebut, dalam empat musim terakhir, 19 dari 20 klub Liga Prancis kehilangan uang tiap tahunnya terlepas dari transfer pemain. Jika kita memasukkan transfer pemain, 17 dari 20 klub Liga Prancis untung.
Statista – Revenue of the biggest (Big Five) European soccer leagues from 1996/97 to 2021/22 (in million euros) https://t.co/GFhVIs4LIi pic.twitter.com/kKCjC0zZZo
— Waseem Hamid (@waseemdhatoo) May 25, 2022
Tidak Banyak Klub dengan Talenta Hebat
Selain faktor finansial, keberadaan talenta hebat di sebuah liga menjadi faktor lain agar bisa bertarung merebut trofi Liga Champions. Sementara klub-klub di Liga Prancis tak banyak yang memiliki talenta hebat. Betul bahwa beberapa tim Prancis menghasilkan talenta luar biasa, seperti Rennes, Lille, dan Montpellier.
Namun, mereka sering kali menjual para pemain hebatnya. Penjualan itu terkadang tidak diimbangi dengan pembelian pemain dan munculnya pemain tokcer. Hanya PSG, klub yang tidak pernah kehabisan talenta hebat.
PSG win #LeClassique and show Marseille that their still the best team in Ligue 1 🔵🔴#OMPSG pic.twitter.com/U3YZmCaaVv
— Jon Boafo (@JonBoafo) February 26, 2023
Sebab itu pulalah, kini PSG menjadi penguasa Liga Prancis. Ia menjadi satu-satunya tim terkuat dan bisa diandalkan untuk meraih trofi Liga Champions. Sayangnya, karena minim bakat dan tim kuat, persaingan di Liga Prancis terasa hambar.
Iklim persaingan yang hambar itu sulit untuk menempa tim seperti PSG jadi petarung di Liga Champions. Hasilnya, tim Prancis pun sulit menjadi juara Liga Champions. Hal itu berkebalikan dengan tim nasionalnya. Di mana Timnas Prancis sudah dua kali meraih trofi Piala Dunia dan dua kali meraih EURO.
Sumber: AA, BR, Quora, Statista, 90Min, JakartaGlobe, FootballBusinessInside


