Mengapa Banyak Pemain Argentina dan Brasil Sukses di Duo Milan?

spot_img

Mari berjalan-jalan menyusuri kolam kenangan dua klub besar Italia, Inter Milan dan AC Milan. Rivalitas dua klub kebanggaan kota mode itu tidak hanya melulu soal gelar. Dalam hal transfer pemain, kedua klub yang berbagi stadion itu juga tak mau saling kalah. Sampai-sampai timbul stigma dari kedua tim tersebut.

“Inter identik dengan Argentina, sedangkan Milan identik dengan Brazil”. Lho kok bisa seperti itu? Ya, sebuah kesimpulan yang berakar pada catatan sejarah dua klub tersebut. Mereka seolah menghidupkan aroma “identik” itu sebagai bahan persaingan.

Inter Menentang

Kalau mau menjawab kenapa stigma itu terjadi harus dirunut dulu dari akar sejarahnya. Tepatnya sejak awal pendiriannya. Inter baru berdiri tahun 1908, artinya ia lebih muda dari saudaranya AC Milan yang sudah berdiri sejak 1899.

Dalam pendiriannya, tujuan Inter adalah menentang semangat “Pro Pemain Italia” AC Milan. Maklum, Milan awalnya identik dengan para pemain asal Italia saja. Selain itu sebelumnya juga hanya ada satu klub saja yang kuat di Kota Milan yakni AC Milan.

Kelahiran Inter itu mampu mengusik AC Milan. Inter dengan semangat “Pro Pemain Asing” kemudian mulai membangun kekuatan menyaingi AC Milan. Inter membeli pemain luar Italia yang terbukti jago. Dan kebetulan banyak datang dari Argentina, diantaranya yakni Attilio Demara, Franco Ponzinibio, Alfredo De Vincenzi, maupun Felice Demaria.

Dari kebijakan itu, Inter terbukti mampu menyaingi AC Milan dengan beberapa kali memenangkan Liga Italia seperti di tahun 1937 dan 1939. FYI aja, sejak Inter lahir hingga tahun 30-an, Milan tak pernah juara Liga Italia dan selalu kalah saing dengan saudara mudanya itu.

Milan Berkhianat

Milan tentu tak mau kalah saing begitu saja, alhasil muncullah kebijakan baru dari Milan. Milan tak mau lagi hidup dalam stagnasi menggunakan pemain lokal Italia saja. Milan pun mengkhianati kebijakan yang sudah mengakar di klub. Namun Milan tak mau menjiplak begitu saja apa yang dilakukan Inter.

Mereka lebih memilih membeli pemain dari negara pesaing Argentina, yakni Brazil. Pemain yang menjadi rekrutannya antara lain Vicente Arnoni dan Eliso Gabardo. Meski begitu, Milan belumlah sejago Inter. Buktinya gelar juara Liga Italia belum mereka dapat.

Milan kembali iri dengan Inter karena pada tahun 60-an, Inter mampu mendominasi Liga Italia dengan aroma Tango-nya. Inter mendominasi dengan menjadi juara Liga Italia tiga kali selama tahun 60-an dengan pelatih dari Argentina bernama Helenio Herrera.

Milan mau tak mau kembali menambah aroma sambanya. Tak tanggung-tanggung paket trio lini serang Brazil: Dino Sani, Jose Germano, dan Emanuele Del Vecchio, semuanya diangkut. Hasilnya Milan setidaknya mampu membendung hegemoni Inter dengan meraih dua kali gelar juara Liga Italia pada tahun 1960-an.

Era Keemasan Liga Italia

Saling saing keduanya dalam hal perekrutan pemain pun semakin menjadi-jadi di era 90-an akhir dan 2000-an awal. Di mana era itu adalah era keemasan Liga Italia. Inter merekrut lagi bintang-bintang Argentina macam Javier Zanetti maupun Diego Simeone.

Sedangkan Milan mendatangkan lagi pemain Brasil macam Leonardo. Dengan pemain ikonik macam Zanetti dan Leonardo itulah, keran pemain Argentina maupun Brazil mengalir deras di kedua klub tersebut.

Setelah Zanetti, pemain macam Andres Guly, Nelson Vivas, Matias Almeyda, Kily Gonzalez, Julio Cruz, sekaligus pelatihnya Hector Cuper, menjadikan Inter kembali menguat aroma Argentinanya. Bahkan ketika dipegang Roberto Mancini, pemain Argentinanya justru bertambah seperti Veron, Burdisso maupun Cambiasso.

Nah, bagaimana kalau di Milan? Leonardo mampu menjadi magnet para pemain Brazil seperti Serginho, Dida, Roque Junior, maupun Rivaldo, untuk datang ke Milan.

Kesuksesan Milan

Suatu ketika pertarungan aroma Samba dan Tango itu dipertemukan di satu momen sakral yakni semifinal Liga Champions 2002/03. Kedua tim sebenarnya sama kuat, bahkan mereka tak bisa saling mengalahkan di dua leg.

Namun apa daya, satu tim harus lolos. Dan itu adalah AC Milan. Dengan agregat gol tandang Andriy Shevchenko, Rossoneri melaju ke final dan akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Juve lewat adu penalti.

Bersama Carlo Ancelotti, hadir juga bintang Brazil lainnya macam Cafu dan Kaka. Dua pemain yang menjadi andalan selain Dida maupun Serginho. Hasilnya, di era itulah Milan berjaya. Final Istanbul dan gelar juara Liga Champions di Athena, menjadikan Milan kala itu sebagai salah satu raja Eropa.

Sudah kepalang percaya dan menganggap Milan adalah rumah sendiri, para bintang Brazil pun berdatangan seperti Ronaldo Nazário, Pato, Robinho maupun Ronaldinho.

Akan tetapi, ada yang fenomena unik dari nasib beberapa pemain bintang tersebut. Fakta mengungkap bahwa para pemain itu menjadikan Milan sebagai tempat “transit” sebelum mereka kembali ke negaranya.

Mau contoh? ada Leonardo yang setelah itu kembali membela Sao Paulo dan Flamengo. Ronaldinho juga sama, ia pulang ke Brasil membela Flamengo. Ada juga Ronaldo Nazario, ia pulang kampung membela Corinthians. Lalu Dida, ia kembali ke Brazil membela Portuguesa. Robinho dan Pato juga sama-sama pulang ke Brazil setelah di Milan, namun mereka belum pensiun disana. Kecuali Cafu dan Serginho yang pensiun dan pulang ke Brazil setelah dari Milan.

Kesuksesan Inter

Lalu bagaimana dengan Inter? Apakah aroma Tango-nya selama ini hanya termenung dalam kegagalan? Jawabannya tidak. Setelah gagal mendominasi di era 2000-an awal, Inter mampu berubah menjadi tim yang superior bersama para pemain Argentina tepatnya di musim 2009/10.

Bersama Jose Mourinho, mereka bahkan memecahkan rekor treble winner kala itu. Yang lebih suksesnya lagi, ia bisa meraih pencapaian itu dengan para pemain Argentinanya. seperti Zanetti, Samuel, Cambiasso, dan Diego Milito.

Milan dan Inter Masa Kini

Akan tetapi setelah era 2010-an ke atas, duo Milan itu sudah mulai luntur dengan para pemain dari Argentina maupun Brazil. Meskipun masih ada beberapa, namanya sudah tak terlalu mencolok untuk membawa prestasi bagi timnya.

Inter hidup dengan para pemain yang datang dan pergi macam Zarate, Ricky Alvarez, Banega, Palacio maupun Icardi. Hingga musim ini, Inter hanya menyisakan Lautaro Martinez dan Joaquin Correa.

Milan juga sama, selama bertahun tahun pemain Brazil yang datang dan pergi tak mampu membawa kesuksesan. Ada nama Alex, Rodrigo Ely, Luiz Adriano, Gabriel, Leo Duarte maupun Lucas Paqueta. Hingga musim ini, Milan juga hanya menyisakan Junior Messias.

Artinya, kedua klub ini kini sudah berbeda. Namun tak menutup kemungkinan juga jika dirunut dari akar sejarahnya hingga kesuksesan klub, mungkin saja suatu saat nanti pasti akan ada masanya lagi mereka akan kembali bernostalgia beraroma Tango dan Samba.

https://youtu.be/X19KDnBUDcw

Sumber Referensi : sempremilan, transfermarkt, soccerfootball, sportnews, transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru