Mari berjalan-jalan menyusuri kolam kenangan dua klub besar Italia, Inter Milan dan AC Milan. Rivalitas dua klub kebanggaan kota mode itu tidak hanya melulu soal gelar. Dalam hal transfer pemain, kedua klub yang berbagi stadion itu juga tak mau saling kalah. Sampai-sampai timbul stigma dari kedua tim tersebut.
“Inter identik dengan Argentina, sedangkan Milan identik dengan Brazil”. Lho kok bisa seperti itu? Ya, sebuah kesimpulan yang berakar pada catatan sejarah dua klub tersebut. Mereka seolah menghidupkan aroma “identik” itu sebagai bahan persaingan.
Marco Materazzi y Rui Costa en un Derby Della Madonnina (AC Milan vs Inter Milan, año 2005). pic.twitter.com/wK9uPM5Aww
— Fútbol Mundial. (@1FutbolMundial0) December 9, 2014
Daftar Isi
Inter Menentang
Kalau mau menjawab kenapa stigma itu terjadi harus dirunut dulu dari akar sejarahnya. Tepatnya sejak awal pendiriannya. Inter baru berdiri tahun 1908, artinya ia lebih muda dari saudaranya AC Milan yang sudah berdiri sejak 1899.
Today in #Brand History: In 1908, Italian football club Inter Milan was founded as Football Club Internazionale, following the schism with the Milan Cricket and Football Club (now A.C. Milan). The name signified the desire to attract international players #futbol #intermilan pic.twitter.com/k7u0NHDnt9
— Rich Honiball (@rhoniball) March 9, 2020
Dalam pendiriannya, tujuan Inter adalah menentang semangat “Pro Pemain Italia” AC Milan. Maklum, Milan awalnya identik dengan para pemain asal Italia saja. Selain itu sebelumnya juga hanya ada satu klub saja yang kuat di Kota Milan yakni AC Milan.
Kelahiran Inter itu mampu mengusik AC Milan. Inter dengan semangat “Pro Pemain Asing” kemudian mulai membangun kekuatan menyaingi AC Milan. Inter membeli pemain luar Italia yang terbukti jago. Dan kebetulan banyak datang dari Argentina, diantaranya yakni Attilio Demara, Franco Ponzinibio, Alfredo De Vincenzi, maupun Felice Demaria.
#Efemérides 19/03/1909
— DeChalaca (@DeChalaca) March 19, 2019
En Buenos Aires, nació Attilio Demaría, exdelantero subcampeón del mundo con @Argentina en 1930 y campeón con @Vivo_Azzurro en 1934, y gran figura de @Inter. También jugó en Gimnasia (La Plata), Independiente, Novara, Legnano y Cosenza. Falleció en 1990. pic.twitter.com/jJrS725DAw
Dari kebijakan itu, Inter terbukti mampu menyaingi AC Milan dengan beberapa kali memenangkan Liga Italia seperti di tahun 1937 dan 1939. FYI aja, sejak Inter lahir hingga tahun 30-an, Milan tak pernah juara Liga Italia dan selalu kalah saing dengan saudara mudanya itu.
Milan Berkhianat
Milan tentu tak mau kalah saing begitu saja, alhasil muncullah kebijakan baru dari Milan. Milan tak mau lagi hidup dalam stagnasi menggunakan pemain lokal Italia saja. Milan pun mengkhianati kebijakan yang sudah mengakar di klub. Namun Milan tak mau menjiplak begitu saja apa yang dilakukan Inter.
Mereka lebih memilih membeli pemain dari negara pesaing Argentina, yakni Brazil. Pemain yang menjadi rekrutannya antara lain Vicente Arnoni dan Eliso Gabardo. Meski begitu, Milan belumlah sejago Inter. Buktinya gelar juara Liga Italia belum mereka dapat.
Vicente Arnoni con la maglia del Milan pic.twitter.com/rNELZ1oKnB
— allafacciadelcalcio (@facciacalcio) October 14, 2021
Milan kembali iri dengan Inter karena pada tahun 60-an, Inter mampu mendominasi Liga Italia dengan aroma Tango-nya. Inter mendominasi dengan menjadi juara Liga Italia tiga kali selama tahun 60-an dengan pelatih dari Argentina bernama Helenio Herrera.
Milan mau tak mau kembali menambah aroma sambanya. Tak tanggung-tanggung paket trio lini serang Brazil: Dino Sani, Jose Germano, dan Emanuele Del Vecchio, semuanya diangkut. Hasilnya Milan setidaknya mampu membendung hegemoni Inter dengan meraih dua kali gelar juara Liga Italia pada tahun 1960-an.
Milan Legend: Dino Sani The Underrated Midfielder https://t.co/OXPE7Cytyb #forzamilan pic.twitter.com/K7ntptqi4s
— 🟥⬛️MilanLegends.com🟥⬛️ (@TheMilanLegends) July 22, 2020
Era Keemasan Liga Italia
Saling saing keduanya dalam hal perekrutan pemain pun semakin menjadi-jadi di era 90-an akhir dan 2000-an awal. Di mana era itu adalah era keemasan Liga Italia. Inter merekrut lagi bintang-bintang Argentina macam Javier Zanetti maupun Diego Simeone.
Javier Zanetti signs for Inter Milan, 1995. pic.twitter.com/CNyfIDdKkc
— 90s Football (@90sfootball) May 25, 2015
Sedangkan Milan mendatangkan lagi pemain Brasil macam Leonardo. Dengan pemain ikonik macam Zanetti dan Leonardo itulah, keran pemain Argentina maupun Brazil mengalir deras di kedua klub tersebut.
Setelah Zanetti, pemain macam Andres Guly, Nelson Vivas, Matias Almeyda, Kily Gonzalez, Julio Cruz, sekaligus pelatihnya Hector Cuper, menjadikan Inter kembali menguat aroma Argentinanya. Bahkan ketika dipegang Roberto Mancini, pemain Argentinanya justru bertambah seperti Veron, Burdisso maupun Cambiasso.
Nah, bagaimana kalau di Milan? Leonardo mampu menjadi magnet para pemain Brazil seperti Serginho, Dida, Roque Junior, maupun Rivaldo, untuk datang ke Milan.
The 35 Brazilians in the Milan history: Elisio Gabardo (1935), Vicente Arnoni (1936), José Altafini (1958), Dino Sani (1961), José Germano (1962), Emanuele Del Vecchio (1962), Amarildo (1963), Giovane Élber (1990), André Cruz (1997), Leonardo Araújo (1997), Serginho (1999). 1/3 pic.twitter.com/KWQHeV7V3o
— Meytar Zeevi (@RossoneriBlog) October 10, 2018
Kesuksesan Milan
Suatu ketika pertarungan aroma Samba dan Tango itu dipertemukan di satu momen sakral yakni semifinal Liga Champions 2002/03. Kedua tim sebenarnya sama kuat, bahkan mereka tak bisa saling mengalahkan di dua leg.
In 2003, AC Milan beat Inter on away goals in the Champions League semi-finals, even though both games were played in the same stadium. pic.twitter.com/jCAfeUtQ2e
— Old Days Football (@OldDaysFootball) March 9, 2018
Namun apa daya, satu tim harus lolos. Dan itu adalah AC Milan. Dengan agregat gol tandang Andriy Shevchenko, Rossoneri melaju ke final dan akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Juve lewat adu penalti.
Bersama Carlo Ancelotti, hadir juga bintang Brazil lainnya macam Cafu dan Kaka. Dua pemain yang menjadi andalan selain Dida maupun Serginho. Hasilnya, di era itulah Milan berjaya. Final Istanbul dan gelar juara Liga Champions di Athena, menjadikan Milan kala itu sebagai salah satu raja Eropa.
PICTURE: #Kaka (AC Milan) celebrates with the 2007 Champions League trophy! pic.twitter.com/EdcpEvEN
— DRL Eijk (@DRL_Eijk) July 25, 2012
Sudah kepalang percaya dan menganggap Milan adalah rumah sendiri, para bintang Brazil pun berdatangan seperti Ronaldo Nazário, Pato, Robinho maupun Ronaldinho.
In the last 15 years, many Brazilians have played for AC Milan:
— Lil Promzy (@lilpromzy27) October 11, 2018
Dida, Cafu, Kaká, Ronaldo, Thiago Silva, Serginho, Ricardo Oliveira, Alexandre Pato, Emerson, Ronaldinho, Robinho and more.
After years of absence, could Brazilian magic be back to the San Siro with Lucas Paquetá? pic.twitter.com/Byd2TnCas3
Akan tetapi, ada yang fenomena unik dari nasib beberapa pemain bintang tersebut. Fakta mengungkap bahwa para pemain itu menjadikan Milan sebagai tempat “transit” sebelum mereka kembali ke negaranya.
Mau contoh? ada Leonardo yang setelah itu kembali membela Sao Paulo dan Flamengo. Ronaldinho juga sama, ia pulang ke Brasil membela Flamengo. Ada juga Ronaldo Nazario, ia pulang kampung membela Corinthians. Lalu Dida, ia kembali ke Brazil membela Portuguesa. Robinho dan Pato juga sama-sama pulang ke Brazil setelah di Milan, namun mereka belum pensiun disana. Kecuali Cafu dan Serginho yang pensiun dan pulang ke Brazil setelah dari Milan.
Kesuksesan Inter
Lalu bagaimana dengan Inter? Apakah aroma Tango-nya selama ini hanya termenung dalam kegagalan? Jawabannya tidak. Setelah gagal mendominasi di era 2000-an awal, Inter mampu berubah menjadi tim yang superior bersama para pemain Argentina tepatnya di musim 2009/10.
Bersama Jose Mourinho, mereka bahkan memecahkan rekor treble winner kala itu. Yang lebih suksesnya lagi, ia bisa meraih pencapaian itu dengan para pemain Argentinanya. seperti Zanetti, Samuel, Cambiasso, dan Diego Milito.
Stadio Bentegodi: #Cambiasso, #Milito, #Samuel, #Zanetti say goodbye to the #Inter fans. Thanks for everything! #FCIM pic.twitter.com/n73cJrjtsN
— Inter (@Inter) May 18, 2014
Milan dan Inter Masa Kini
Akan tetapi setelah era 2010-an ke atas, duo Milan itu sudah mulai luntur dengan para pemain dari Argentina maupun Brazil. Meskipun masih ada beberapa, namanya sudah tak terlalu mencolok untuk membawa prestasi bagi timnya.
Inter hidup dengan para pemain yang datang dan pergi macam Zarate, Ricky Alvarez, Banega, Palacio maupun Icardi. Hingga musim ini, Inter hanya menyisakan Lautaro Martinez dan Joaquin Correa.
Milan juga sama, selama bertahun tahun pemain Brazil yang datang dan pergi tak mampu membawa kesuksesan. Ada nama Alex, Rodrigo Ely, Luiz Adriano, Gabriel, Leo Duarte maupun Lucas Paqueta. Hingga musim ini, Milan juga hanya menyisakan Junior Messias.
Artinya, kedua klub ini kini sudah berbeda. Namun tak menutup kemungkinan juga jika dirunut dari akar sejarahnya hingga kesuksesan klub, mungkin saja suatu saat nanti pasti akan ada masanya lagi mereka akan kembali bernostalgia beraroma Tango dan Samba.
Sumber Referensi : sempremilan, transfermarkt, soccerfootball, sportnews, transfermarkt


