El Clasico di Copa del Rey! Mungkinkah Kenangan Indah Ancelotti Bawa Barcelona Keok?

spot_img

Tanah Matador kembali memanas. Barcelona dan Madrid kembali akan bersua di laga Jumat agung untuk memperebutkan mahkota dari sang raja. Rasanya baru sebentar, duel akbar El Clasico kembali tersaji.

Namun kini tajuknya berbeda, yakni semifinal Copa Del Rey. Ditambah ini bukan lagi hanya soal persaingan merebut juara, namun lebih kepada nostalgia dan aroma saling balas dendam.

Rekor Copa Del Rey Barcelona Vs Real Madrid

Tajuk Copa Del Rey memang berbeda bagi El Clasico. Secara gelar memang tak sepopuler La Liga maupun Liga Champions. Akan tetapi sebagai turnamen tertua di Spanyol, Piala Raja ini sangatlah bergengsi di kancah domestik sejak diadakan 1903 silam.

Mereka tak main-main jika bertemu, walaupun di kompetisi yang hanya dikatakan sebagai “Piala Ciki” ini. Jika dilihat dari segi gelar, Barca ternyata lebih unggul dengan 31 gelar, dan Madrid hanya 19 gelar. Selain itu, perlu diketahui juga sudah berapa kali sih Barca dan Madrid ini bertemu di ajang ini? Lalu siapa yang lebih unggul?

Kalau dirunut dari yang paling dekat dan monumental, dimulai dari final Copa Del Rey 2011. Ketika itu bertajuk pertarungan panas duo pelatih jenius Pep vs Mourinho. Final yang juga menimbulkan luka bagi Messi dan kawan-kawan, karena gol tunggal CR7 mampu membawa pulang trofi ke Santiago Bernabeu.

Di pertemuan berikutnya, dendam Pep terbalaskan atas Mourinho. Tepatnya di perempat final Copa Del Rey 2012. Dalam dua leg yang menegangkan, panas, dan keras, pasukan Pep mampu memulangkan Madrid dan akhirnya menjadi juara di musim itu.

Setelah Pep pergi, Mourinho mampu memanfaatkannya dengan mempecundangi Barca di semifinal Copa Del Rey 2013. Barca bersama Tito Vilanova tak mampu menanggung malu keperkasaan CR7 dan kawan-kawan, ketika mengobrak-abrik Camp Nou 1-3.

Kenangan Indah Ancelotti

Menyusul Pep, Mourinho pun akhirnya hengkang dari Madrid. Los Blancos lalu kedatangan Allenatore asal Italia, Carlo Ancelotti. Ancelotti tentu sebagai pelatih berkaliber juara, di musim pertamanya pasti dong menguber trofi.

Nah kebetulan di musim pertamanya, ia diuji meraih trofi itu dengan menghadapi musuh bebuyutan, Barcelona. Final Copa Del Rey 2014 menjadi saksi bersejarah bagi Ancelotti. Itulah final pertamanya saat menukangi Madrid.

Saat itulah kenangan Ancelotti bersemi di Kota Madrid hingga sekarang. Ia tak henti-hentinya membayangkan final pertamanya itu. Apalagi cerita itu berakhir dengan penuh suka cita.

Menghadapi Barcelona di era Tata Martino, Ancelotti ketika itu tanpa mega bintangnya CR7 yang masih dalam tahap pemulihan cederanya. Pertandingan yang sengit dan sama kuat di Mestalla itu akhirnya mampu dimenangkan oleh Carletto lewat perpanjangan waktu, setelah di waktu normal hasil 1-1 tersaji. Pemain termahal Madrid kala itu, Gareth Bale sukses mengelabui Marc Bartra dengan larinya yang kesetanan.

Momen ikonik yang satu ini masih sangat terngiang bagi kedua kubu hingga sekarang, terlebih Ancelotti. Karena berkat momen ikonik itu, gelar Copa Del Rey mampu direngkuhnya. Ancelotti pun tersenyum. Sejarah tercipta bahwa ia akhirnya persembahkan trofi pertamanya bagi Los Blancos sejak menginjakan kakinya di Bernabeu.

Pertemuan Terakhir Di Copa Del Rey

Lima tahun berselang mereka baru bisa bentrok lagi di Copa Del Rey. Tepatnya di semifinal tahun 2019. Luka kekalahan Barca di 2014, tentu masih ada. Kala itu kedua kubu dengan pelatih berbeda, yakni Santiago Solari di Madrid, dan “pelatih penjas” Ernesto Valverde di Barca.

Tak disangka hasilnya. Meskipun sering di-bully “pelatih penjas”, Valverde bersama Suarez dan Messi mampu meluluhlantakkan seisi Santiago Bernabeu 3-0. Madrid dibuat menanggung malu gugur di hadapan publiknya sendiri. Itu adalah El Clasico terakhir di Copa del Rey.

Barulah di musim ini mereka bersua kembali di semifinal Copa Del Rey. Jika dilihat dari segi pertemuan musim ini, mereka saling mengalahkan. Skornya pun sama 3-1, baik di La Liga maupun Piala Super Spanyol. Artinya, kini kedua tim dalam kondisi seimbang.

Barcelona Sedang Kena Mental

Lalu bagaimana kans kedua tim dengan melihat kondisi terakhir? Yang parah kondisinya adalah Barcelona. Mereka seperti kena mental setelah keok atas MU di Europa League.

Seakan belum bisa “move on” dari kekalahan menyedihkan itu, Barca kembali keok atas tim semenjana Almeria 1-0 di La Liga. Ini adalah alarm bagi Xavi. Betapa buruknya performa dan mental Barca jelang persiapan El Clasico nanti.

Xavi harus memutar otak bagaimana caranya bangkit dan kembali pada trek kemenangan. Belum pulih secara mental, apesnya mereka juga akan dipusingkan dengan kembali absennya beberapa pilar macam Ansu Fati, Dembele, maupun Pedri.

Madrid Tetaplah Madrid

Keadaan ketar-ketir Barca ini bisa jadi makanan empuk bagi Real Madrid. Meskipun penampilan mereka anjlok ketika imbang menghadapi Atletico, Los Merengues tetaplah solid dari segi permainan.

Madrid tetaplah Madrid. Dengan mental dan kualitas para pemainnya, mereka selalu bisa menuntaskan laga-laga krusial dengan paripurna. Lihatlah betapa mengerikannya mereka menggeprek Liverpool 2-5 di Liga Champions. Suatu hasil yang bisa jadi tanda bahaya bagi Barca. Kalau pertahanan mereka rapuh seperti Liverpool, bisa saja mereka dihukum.

Secara taktik, Ancelotti tetap percaya pada pola andalannya 4-3-3. Tak ada pemain yang diragukan absen. Senjata alternatif Madrid seperti wonderkid Alvaro Rodriguez bisa digunakan sebagai opsi jika deadlock. Madrid kali ini sangat diuntungkan dari segi persiapan dan mental. Apalagi laga ini akan digelar di Bernabeu terlebih dahulu.

Siapa Unggul, Ancelotti atau Xavi?

Namun dari itu semua, bukan berarti Barca tak bisa menang. Berkaca pada pertemuan terakhir saja, Xavi nyatanya masih bisa kok mengalahkan Ancelotti. Apalagi kalau ditarik lagi ke belakang, musim lalu ia pernah juga melibas Ancelotti 4-0 di Bernabeu.

Dengan 4-2-3-1, Xavi diharapkan masih bisa membendung Madrid. Dengan catatan, yang menggantikan Pedri maupun Dembele bisa lebih optimal. Ferran Torres maupun Raphinha diharapkan bisa kembali main bagus di sayap. Sedangkan Gavi diharapkan mampu menggantikan peran Pedri, namun jangan hanya “grusa-grusu” saja.

Jika berkaca pada pertemuan Xavi dan Ancelotti, celah yang bisa dimanfaatkan Xavi yakni berada di lini tengah. Meskipun ada Kroos dan Modric yang mem-backup, Tchouameni, Ceballos, maupun Camavinga terkadang masih sering keteteran kala melawan gempuran lini tengah Barca.

Terlepas dari dari segala taktik yang akan diadu, Ancelotti punya keunggulan dalam hal sentuhan emosi dibanding Xavi. Ya, emosi tentang ingatan masa lalu yang indah ketika meraih trofi pertamanya di ajang ini. Lantas, apakah hal itu jadi modal yang cukup untuk kembali membuat Barca tersungkur?

https://youtu.be/nglV789wTZ0

Sumber Referensi : sofascore, foxsports, bbc, theguardian, bleacherreport, bbc

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru