Mengambil Pelajaran dari Karier Tragis Sebastian Deisler

spot_img

Di era sekarang, tak banyak yang mengenal sosok Sebastian Deisler. Maklum, ia sudah pensiun sejak 16 Januari 2007. Akan tetapi, di masa lalu, ia pernah menyandang label sebagai juru selamat dan bintang masa depan timnas Jerman.

Namun, talenta paling berbakat milik Jerman itu gagal memenuhi ekspektasi. Sebastian Deisler memutuskan gantung sepatu di usia yang masih sangat muda. Harapan masa depan timnas Jerman itu pensiun dini di usia 27 tahun.

Perjalanan Karier Sebastian Deisler

Sebastian Deisler bisa dibilang sebagai sesosok permata. Produk akademi Borussia Mönchengladbach itu mendapat debut Bundesliga pertamanya saat Gladbach bersua Eintracht Frankfurt pada 8 September 1998.

Debut tersebut tak hanya dirayakan Deisler dan timnya saja, melainkan juga seantero Jerman. Pasalnya, Deisler muncul bak oase di tengah keringnya prestasi timnas Jerman pasca kegagalan di Piala Dunia 1998.

Kala itu, regenerasi yang lambat membuat timnas senior Jerman kekurangan talenta. Deisler yang lahir pada 5 Januari 1980 adalah yang terbaik di generasinya. Ia juga baru saja mengantar Jerman U-18 menjadi runner-up Piala Eropa 1998. Setahun sebelumnya, ia juga terpilih sebagai pemain terbaik kedua Piala Dunia U-17, tepat di belakang Ronaldinho.

Oleh karena itulah, sejak kemunculannya di Bundesliga, Sebastian Deisler seperti sudah menjadi harapan bagi banyak orang. Pujian datang silih berganti sejak Deisler mencatat debutnya.

Pelatih Gladbach saat itu, Friedel Rausch bahkan meyakini bahwa suatu hari nanti Deisler akan sanggup bersanding dengan legenda timnas Jerman, seperti Fritz Walter, Uwe Seeler, dan Franz Beckenbauer. Beckenbauer sendiri menggambarkan Deisler sebagai “yang terbaik secara fisik dan teknis di Jerman”. Sementara pelatih timnas Jerman saat itu, Rudi Völler mengklaim bahwa Deisler akan “berpengaruh bagi Jerman selama 10 tahun”.

Pujian tersebut tak sepenuhnya salah. Meski ia langsung menderita cedera ACL beberapa waktu pasca mencatat debut pertamanya, tetapi Deisler tetap mampu tampil cemerlang untuk Borussia Mönchengladbach yang terancam degradasi.

Oleh karena itulah, ketika Gladbach terdegradasi di akhir musim 1999, tak kurang dari 26 tim berebut untuk mendapat tanda tangan Deisler. Hertha Berlin kemudian jadi kesebelasan yang beruntung setelah berhasil memenangkan tanda tangan remaja yang paling banyak dicari saat itu.

Bersama Hertha Berlin, kualitas Sebastian Deisler makin terasah. Deisler jadi pusat perhatian saat membantu Hertha Berlin melaju hingga babak kedua fase grup Liga Champions musim 1999/2000. Deisler yang kala itu dengan cepat jadi sosok sentral di lini tengah Hertha Berlin juga berhasil memenangi DFB-Ligapokal di musim 2001.

Akan tetapi, perjalanan karier Deisler bersama Hertha Berlin sebenarnya tak semanis kelihatannya. Bersama klub berjuluk “Die Alte Dame” itulah masalah cedera kambuhan mulai menyerang kaki-kakinya dan membuat karier Deisler terhambat.

Cedera ACL Deisler kambuh. Ia juga sempat menjalani operasi paha pada Maret 2000. Berikutnya, pada bulan Oktober 2001, terjadi dislokasi di tendon patela dan robek membran sinovial di lutut kanannya yang membuatnya absen hingga Maret 2002. Kemudian, pada Mei 2002, terjadi kerusakan tulang rawang pada lutut kanannya hingga membuatnya absen hingga akhir musim.

Cedera tersebut terjadi tak lama setelah transfernya ke Bayern Munchen terungkap ke publik. Deisler yang tak berdaya dengan kruknya dihujani kritikan, cemoohan, bahkan sampai menerima ancaman pembunuhan. Sejak saat itu, ia jadi public enemy para pendukung Hertha Berlin.

Saat momen tersebut, Deisler mengaku bahwa tak ada satupun pihak manajemen klub yang membela dirinya. Padahal, orang yang memintanya untuk tetap diam adalah Dieter Hoeneß, general manager Hertha Berlin saat itu. Setelah dirinya pensiun, Deisler mengungkap bahwa di akhir masanya di Berlin, ia begitu kecewa dan merasa tak bahagia serta sempat meragukan karier sepak bolanya.

“Saya harus jujur mengatakan bahwa Hertha sebagai klub sama tidak siapnya dengan saya. Mereka senang melemparkan saya ke singa. Saya menjadi sangat tidak bahagia ketika saya mencoba membuat orang lain bahagia. Saya merasa seperti badut yang sedih,” kata Deisler dikutip dari Goal.

Pindah ke Bayern Munchen adalah Sebuah Bencana Bagi Sebastian Deisler

Setelah 3 tahun membela Hertha Berlin, Sebastian Deisler kemudian pindah ke Bayern Munchen pada musim panas 2002. Meski masih cedera dan harus berjalan dengan bantuan kruk kaki, hal tersebut tak mengurangi minat raksasa Bavaria itu untuk merekrut Deisler.

Wajar, sebab talenta dan potensi Deisler memang luar biasa. Biasa beroperasi sebagai gelandang serang, pemain yang dijuluki “Das Supertalent” dan “Basti Fantasti” itu punya kecepatan dan kemampuan dribbling yang apik. Deisler juga punya akurasi tembakan dan umpan yang akurat serta ahli dalam mengambil set piece.

Sekilas, keputusan Deisler untuk pindah ke Bayern Munchen seperti menjadi peningkatan karier baginya. Setelah menghabiskan 259 hari untuk menyembuhkan cederanya, Deisler langsung jadi andalan pelatih Ottmar Hitzfeld. Ia mencetak tiga gol dalam 11 pertandingan pertamanya. Dalam sebuah pertandingan melawan Dortmund pada November 2003, Deisler juga sanggup mencatat 2 asis.

Namun, sepuluh hari kemudian, publik dibuat terkejut dengan kabar Sebastian Deisler yang diperiksa di rumah sakit karena depresi. Uli Hoeness, general manager Bayern saat itu jadi pihak yang paling mendukung Deisler dan memberi dirinya waktu hingga 10 pekan lamanya untuk beristirahat.

“Saya tidak pernah punya waktu untuk berkembang, tidak pernah punya waktu untuk tumbuh dan menjadi dewasa. Untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada Uli Hoeness. Dia percaya pada saya sampai akhir, tetapi itu adalah periode yang sangat sulit,” ujar Deisler dikutip dari Goal.

Meski mengejutkan, penyebab Deisler mengalami depresi sangat bisa dimaklumi. Datang sebagai seorang introvert, Deisler langsung diplot sebagai penerus Steffan Effenberg, seorang playmaker sekaligus pemimpin sejati Die Roten.

Dengan usia yang masih sangat muda, tekanan dan sorotan yang ia terima di Bayern Munchen sudah sangat tinggi. Beban mental itulah yang membuat depresinya kembali kambuh pada Oktober 2004.

Deisler kemudian mampu kembali ke skuad Bayern Munchen di musim 2004/2005. Kala itu, Bayern baru berganti pelatih ke Felix Magath. Deisler yang tadinya bermain di tengah harus rela dimainkan sebagai sayap kanan. Menolak menyerah, ia bertarung sebagai spesialis umpan crossing dan bola mati.

Sisi baiknya, Deisler mampu bertahan tanpa cedera dalam jangka waktu yang lama dan membantu Bayern Munchen memenangi berbagai kompetisi domestik. Namun, pada Maret 2006, membran sinovial di lutut kanannya kembali robek dan membuatnya harus kembali naik ke meja operasi.

242 hari dihabiskan Deisler untuk menyembuhkan lutut kanannya yang sudah babak belur. Deisler kemudian kembali merumput di bulan November 2006. Akan tetapi, keadaan tak lagi sama. Deisler yang sudah lelah secara fisik dan mental, sudah tak lagi percaya dengan kaki-kakinya.

Maka, pada 16 Januari 2007, Sebastian Deisler mengumumkan pensiun di usia 27 tahun. Keputusan tersebut ia buat setelah menemui general manager Bayern Munchen, Uli Hoeneß.

“Tuan Hoeneß, itu tidak mungkin lagi. Saya tidak tahan lagi. Saya ingin berhenti bermain sepak bola,” kata Deisler kepada Uli Hoeneß, dikutip dari Welt.

Sebuah Pelajaran dari Karier Tragis Sebastian Deisler

Keputusannya untuk pensiun memang disesalkan banyak pihak. Namun, jika menilik rekam jejakny, Deisler sudah menerima begitu banyak penderitaan akibat dibebani ekspektasi yang terlampau berat.

“Saya selalu menekan hal-hal dan berpikir ‘klub membutuhkan saya untuk tampil.’ Itu tidak bisa terus seperti ini. Saya berusia 19, 20, ketika Jerman percaya saya bisa menyelamatkan sepak bola mereka. Saya sendiri,” kata Deisler dikutip dari thesefootballtimes.

Di level internasional, Deisler yang digadang-gadang jadi juru selamat timnas Jerman hanya sanggup mengemas 36 caps dan mencetak 3 gol. Karena rangakian cedera yang ia alami, Deisler sampai melewatkan Piala Dunia 2002, Euro 2004, dan Piala Dunia 2006 yang notabene digelar di rumahnya sendiri.

Sementara itu, Deisler tercatat hanya mampu mengemas 135 penampilan di sepanjang kariernya di Bundesliga, di mana 62 di antaranya ia buat bersama Bayern. Minimnya caps Deisler di Bundesliga tak lepas dari banyaknya cedera yang ia derita. Sekitar 20 cedera dan 5 kali operasi lutut kanan pernah Deisler derita di sepanjang kariernya.

Setelah menyatakan mundur, Deisler memilih menjauh dari perhatian publik. Ia kembali pada tahun 2009 setelah menerbitkan biografi yang berjudul, “Sebastian Deisler – Zurück ins Leben”. Pada satu bagian, Deisler menuliskan impiannya sebagai seorang pesepak bola.

“Ya Tuhan, aku punya mimpi utopis. Saya ingin menjadi pusat permainan bagi Bayern untuk memperkenalkan semangat baru, lebih banyak kegembiraan dalam permainan, lebih banyak permainan tim dan lebih sedikit ego,” kata Deisler, dikutip dari miasanrot.

Ironis, impian seorang pemuda berbakat seperti Sebastian Deisler harus hancur karena rentetan cedera dan tekanan bertubi-tubi yang membuatnya menderita depresi. Kini, Deisler sudah berusia 42 tahun. Hidupnya sangat jauh dari sorotan media dan memilih hidup terpencil di Kota Freiburg.

Kisah tragis Sebastian Deisler ini bisa kita jadikan pelajaran. Bahwasanya, seorang pemain bola juga manusia biasa yang butuh ruang untuk maju dan berkembang. Menuntut prestasi tanpa memperhatikan kesehatan fisik dan mental seorang pemain bisa membunuh karier dan kehidupan seseorang.

Semoga, tak ada lagi pemain yang bernasib seperti Sebastian Deisler.
***
Referensi: Goal, These Football Times, Miasanrot, Welt, Transfermarkt, Kicker, Get Football News Germany.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru