Menelusuri Para Taipan Indonesia yang Memilik Klub Sepakbola Dunia

  • Whatsapp
Menelusuri Para Taipan Indonesia yang Memiliki Klub Sepakbola Dunia
Menelusuri Para Taipan Indonesia yang Memiliki Klub Sepakbola Dunia

Dunia sepakbola tengah disibukkan dengan berita akuisisi Newcastle United oleh Pangeran Arab. Dana lebih dari 300 juta poundsterling digelontorkan untuk mengambil alih sebuah klub sepakbola yang berkompetisi di Liga Primer Inggris. Tren dibeli nya sebuah klub sepakbola oleh seorang milyuner memang sudah terjadi sejak lama.

Sekitar lebih dari sedekade lalu, kita sempat disuguhkan dengan kemewahan klub Manchester City yang dibeli oleh pria kaya bernama Sheikh Mansour. Tidak lama berselang, Nasser Al Khelaifi yang juga bukan orang sembarangan memutuskan untuk mengambil alih salah satu klub asal Prancis, Paris Saint Germain.

Dengan kekuatan finansial yang memadai, klub-klub tersebut sukses bersaing di level tertinggi sepakbola. Maka, bukan tak mungkin bila Newcastle yang telah dimiliki seseorang yang kekayaannya melebihi seluruh pemilik terkaya klub di dunia, akan menjadi tim yang akrab dengan gelar juara nantinya.

Di Indonesia sendiri, kita juga baru melihat pergerakan Raffi Ahmad yang memilih untuk membeli klub Cilegon United, untuk kemudian berganti nama menjadi Rans Cilegon. Belum lagi Atta Halilintar yang bersama Putra Siregar, mengakuisisi klub Liga 2 PSG Pati. Dikuasainya sejumlah klub Indonesia oleh orang terkaya lainnya juga dialami oleh Persikota Tangerang yang salah satu kursi manajemennya diisi oleh Gading Marten.

Jangan lupakan pula langkah Kaesang Pangarep sang putra Presiden Joko Widodo yang membeli klub kota kelahirannya, Persis Solo. Di klub tersebut, 20 persen saham diantaranya adalah milik Erick Thohir yang merupakan menteri BUMN sekaligus pendiri Mahaka Group.

Nama-nama tersebut, seperti diketahui, hanya menjadi segelintir saja dari banyaknya taipan Indonesia yang memang sudah lebih dulu terjun ke dalam bisnis klub sepakbola. Diantaranya Pieter Tanuri dari Multistrada dan Ayu Patricia Rachmat yang merupakan anak dari Theodore Permadi Rachmat pendiri Triputra Group. Masing-masing dari mereka menguasai setidaknya 21,8 persen dan 5,25 persen saham di klub Bali United.

Di klub raksasa lainnya, ada nama Glenn Timothy Sugita pendiri Northstar Group yang menguasai 42 persen saham di klub Persib Bandung. Kemudian ada Azrul Ananda dari Jawa Pos Group yang 70 persen sahamnya tertanam di klub Persebaya Surabaya.

Sementara itu, beralih ke Makassar, ada nama Aksa Mahmud yang memiliki sekitar 51 persen saham di klub PSM.

Kiprah Orang Terkaya di Indonesia Bersama Klub Asing

Orang-orang terkaya di Indonesia nyatanya tidak hanya bergerak di wilayah lokal saja, tidak sedikit pula dari mereka yang turut meramaikan khasanah persepakbolaan dunia.

Nama pertama yang tentu tidak asing di telinga adalah Djarum Group yang dikuasai oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang. Sejak April 2019 lalu, Djarum dikabarkan sudah menjalin kontak dengan klub asal Italia Como 1907. Setelah berbagai proses berhasil dilewati, melalui perusahaan SENT Entertainment, Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono resmi membeli Como 1907 yang waktu itu tengah berkompetisi di divisi ketiga Italia, dengan dana kurang dari 5 miliar rupiah.

Dana yang dikeluarkan memang tergolong kecil, pasalnya, Djarum Group masuk ketika klub tengah mengalami masalah finansial. Klub tersebut hampir bangkrut dengan tagihan sejumlah fasilitas belum terbayar.

Seperti yang dikatakan oleh Mirwan Suwarso, perwakilan Mola TV yang merupakan salah satu usaha milik Djarum, Como 1907 ketika itu berada diambang kehancuran. Kondisi mereka benar-benar tragis dan nyaris kehilangan segalanya bila tidak segera diperbaiki.

“Saat kita beli, klub ini memang benar-benar bermasalah. Dikelilingi mafia, pengaturan skor, hingga banyak tunggakan yang dibayar dari berbagai perusahaan Italia, listrik hingga air,” ucapnya. (via Liputan 6)

Setelah diambil alih Djarum Group, Como yang sempat mengalami banyak masalah, berhasil tampil meyakinkan hingga lolos ke kompetisi Serie B pada musim 2021/22.

Selain Como yang berada di bawah kekuasaan Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, masih ada lagi nama lain yang tidak boleh disingkirkan.

Bakrie Group, ada sosok tersohor lainnya yang memiliki sebuah klub asal Australia, Brisbane Roar. Pada 2011 lalu, mereka resmi mengakuisisi 70 persen saham klub tersebut. Dalam perjalanannya, Brisbane Roar bahkan sempat merekrut legenda Liverpool, Robbie Fowler, sebagai pelatih.

Selain Brisbane Roar, keluarga Bakrie juga sempat menguasai klub asal Belgia, CS Vise pada 2011. Namun hanya sekitar tiga tahun berselang, Bakrie kembali menjual saham kepemilikan klub usai terdesak masalah finansial.

Ketika itu, sejumlah pemain asal Indonesia seperti Alfin Tuasalamony, Syamsir Alam, Yericho Christiantoko, dan Yandi Sofyan pernah menimba ilmu disana.

Kemudian ada nama yang cukup beken lainnya, yakni Erick Thohir. Pada tahun 2013 silam, Thohir sempat mengakuisisi mayoritas saham klub kenamaan asal Italia, Inter Milan. Dia memegang sebesar 70 persen saham klub sebelum akhirnya melepas ke salah satu perusahaan Hongkong, Lion Rock, pada pertengahan 2019 lalu.

Dengan itu, sahamnya di Inter Milan sebesar 31 persen, dimana 39 persen sebelumnya telah dilepas ke Suning Group pada 2016 lalu pun, telah habis.

Sebelum Inter Milan, Erick Thohir sempat menaruh nama di klub MLS, DC United pada 2012 lalu, setelah dia bersama dengan rekannya Jason Levien, berhasil mengakuisisi saham klub sebesar 78 persen. Namun begitu, terhitung sejak Agustus 2018, semua sahamnya dipegang oleh Levien, dimana Erick Thohir kini hanya berstatus sebagai co-president bersama Stephen Kaplan.

Selain nama-nama besar tersebut, masih ada lagi orang terkaya Indonesia yang tak mau ketinggalan untuk melebarkan sayap ke dunia sepakbola Eropa. Dia adalah Yusuf Mansur, yang kita tahu memiliki saham sebesar 10 persen di klub Lechia Gdansk.

Dikabarkan, Yusuf Mansur yang memiliki perusahaan financial technology (fintech), Paytren, merogoh kocek hingga 2,5 juta euro atau setara lebih dari 40 miliar rupiah untuk membeli saham minoritas klub pada 2018 lalu.

Masih belum cukup sampai disitu, kita juga tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Santini Group, yang melalui nama Wandi, Lukito, dan Paulus Wanandi, resmi membeli saham klub yang kini berkompetisi di League Two, Tranmere Rovers pada 2019.

Lalu ada juga nama Imam Arif yang memiliki 20 persen saham klub Leicester City sejak 2011 lalu. Sayangnya, itu tidak bertahan lama setelah dia memilih untuk melepas seluruh saham kepada pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha.

Tak boleh ketinggalan, ada seorang tokoh sepakbola nasional bernama Sihar Sitorus yang membeli FC Verbroedering Dender, klub kasta ketiga di Liga Belgia. Kemudian yang masih segar dalam ingatan adalah Batavia Sports Group, yang berhasil mengakuisisi klub Spanyol, C.D. Polillas Ceuta.

Apa yang Sebenarnya Jadi Tujuan Para Milyarder Untuk Masuk ke Dunia Sepakbola?

Tidak bisa dipungkiri bila saat ini, sepakbola telah dijadikan sebagai ladang bisnis bagi orang-orang berkantong tebal. Ketertarikan masyarakat terhadap olahraga ini hingga nilai sejarah yang diberikan setiap klub itu sendiri, tak ubahnya menjadi alasan mengapa pada akhirnya banyak yang tertarik untuk mengucurkan dana demi meraup sebanyak-banyaknya keuntungan.

Selain itu, orang-orang kaya yang membeli klub sepakbola juga akan memiliki kesempatan untuk terhubung dengan calon rekan bisnis lainnya. Yang tak kalah penting, orang-orang tersebut tak ketinggalan untuk bisa mempromosikan komunitasnya ke jaringan yang lebih luas.

Alasan lain mengapa banyak orang-orang kaya di dunia masuk ke dalam bisnis sepakbola adalah karena ingin dikenal. Hal ini pernah diungkapkan oleh Roman Abramovich selaku bos klub Chelsea, dimana dia jelas-jelas ingin menjadi sosok yang lebih dikenal di seluruh dunia.

Sementara itu, bagi para pengusaha Timur Tengah, bisnis sepakbola banyak digunakan sebagai sarana bagi mereka untuk memperluas citra nya ke ratusan juta penikmat sepakbola.

Pos terkait