Basque dan Catalunya dalam Balutan Seragam Matador

  • Whatsapp
Basque dan Catalunya dalam Balutan Seragam Matador
Basque dan Catalunya dalam Balutan Seragam Matador

Nama Basque dan Catalunya tentu tidak asing di telinga kita semua. Ketika bicara tentang dua wilayah tersebut, maka Spanyol tak akan luput dari bahasan. Dua wilayah tersebut diketahui memiliki kesebelasan sepakbola masing-masing. Mereka bahkan sempat melakukan uji tanding dengan negara lain.

La Liga yang kita tahu merupakan kompetisi Spanyol, menjadi rumah dari banyaknya pemain yang memiliki darah Basque maupun Catalunya. Meski banyak sekali pemain asal Spanyol yang tampil di sana, nyatanya tidak semua ingin mengibarkan bendera yang sama. Basque, merupakan wilayah yang kerap dibela oleh pemain yang berasal dari Bilbao, Pamplona dan San Sebastian. Sementara di sisi lain ada Catalunya yang sudah tidak asing lagi dengan nama Barcelona, Tarragona, Girona dan Lleida.

Meski sudah memiliki kesebelasan sendiri dan sudah melakukan uji tanding dengan sejumlah negara, mengapa kemudian Basque dan Catalunya tidak segera terdaftar sebagai anggota FIFA maupun UEFA?

Beberapa Upaya Telah Dilakukan Namun Gagal

Dalam hal ini, mereka sejatinya sudah banyak melakukan banyak upaya untuk bisa terlepas dari Spanyol. Basque pada tahun 2010 lalu bahkan terang-terangan mendukung timnas Belanda ketimbang Spanyol di ajang Piala Dunia. Di sisi lain, Catalunya sudah sering menyuarakan kebencian mereka kepada Spanyol dalam beberapa pertandingan.

Pada tahun 2017 lalu, Catalunya bahkan sudah mendeklarasikan kemerdekaan mereka namun belum diakui oleh dunia Internasional. Deklarasi Catalunya dianggap sebagai deklarasi sepihak, atau dengan kata lain deklarasi kemerdekaan yang dikeluarkan Catalunya adalah tanpa izin entitas, negara atau bangsa yang ditinggalkannya.

Basque dan Catalunya sudah beberapa kali mengajukan proposal untuk bisa diakui. Namun seperti yang sudah diprediksi, FIFA sebagai badan tertinggi sepakbola dunia dan UEFA yang berkuasa di kawasan Eropa, menolak pengajuan dua wilayah tersebut.

Masalah utama jelas berkutat pada identitas mereka yang dianggap tidak jelas. FIFA dan UEFA mengatakan kalau baik Basque maupun Catalunya masih menjadi komunitas otonom ketimbang negara merdeka yang kita tahu kehadirannya sudah diterima oleh komunitas internasional.

Selain itu, birokrasi juga menjadi alasan terkuat mengapa suara mereka tak kunjung didengar. Semua komunikasi antara Basque dan Catalunya dengan pejabat dunia harus lebih dulu melalui federasi sepakbola Spanyol (RFEF). Padahal kita semua tahu bila RFEF tidak akan memberikan sedikit pun izin kepada Basque dan Catalunya untuk berlepas dari Spanyol.

Jadi, kedua wilayah tersebut sampai sekarang tidak bisa berbuat apa-apa.

Lantas apakah Catalunya dan Basque harus menjadi wilayah yang merdeka dan diakui dunia terlebih dahulu supaya bisa bergabung dengan FIFA? Nyatanya tidak. Kasus ini bisa mengambil contoh dari Palestina yang sudah bergabung dengan FIFA sejak tahun 1998 silam.

Padahal kita tahu bila Palestina sampai sekarang belum lepas dari penjajahan Israel.

Namun FIFA kemudian melunak dan mau menerima kehadiran Palestina setelah dibentuknya Otoritas Nasional Palestina, di mana pada tahun yang sama, Palestina langsung memainkan laga pertamanya melawan Lebanon dalam tajuk uji coba. Di pertandingan yang tentunya bersejarah itu, Palestina kalah dengan skor 1-3.

Selain itu, yang perlu dicatat, meski belum dinyatakan merdeka, Palestina juga sudah diakui sebagai negara oleh banyak negara termasuk Indonesia.

Bagaimana Nasib Catalunya dan Basque Nantinya?

Bila sudah seperti ini bagaimana nasib Basque dan Catalunya di kemudian hari?

Bila mereka memang berniat berpisah dan ingin membentuk kesebelasan yang direstui FIFA, maka ada banyak sekali hal yang harus dilakukan selain meminta persetujuan dari RFEF.

Mereka akan lebih dulu diminta untuk membentuk liga nya sendiri dimana itu bukan termasuk hal yang mudah. Pasalnya seperti diketahui, ada banyak tim hebat dari dua wilayah tersebut yang telah lama membawa nama La Liga. Diantaranya Athletic Bilbao, Real Sociedad, Alaves, hingga Barcelona dan Espanyol.

Bila RFEF sampai memberi izin atau kalah dalam pertempuran ini, maka yang akan sangat merugi tentunya timnas Spanyol. Betapa tidak, dalam tiga momen terbaik mereka di turnamen terbaik dunia, banyak sekali pemain Catalunya yang turut memberikan andil.

Spanyol Tanpa Catalunya dan Basque

Ya, Spanyol bisa menjadi juara di gelaran Piala Eropa 2008, turnamen Piala Dunia 2010, dan kembali berjaya di Eropa tahun 2012, adalah karena andil dari kebanyakan pemain yang berasal dari Catalunya.

Mereka adalah Victor Valdes yang masuk ke dalam turnamen Piala Dunia 2010 dan 2012. Di posisi bek ada Fernando Navarro (2008), Carles Puyol (2008, 2010), Joan Capdevila (2008, 2010), Gerard Pique (2010, 2012), dan Jordi Alba (2012).

Sementara itu di posisi gelandang ada Xavi Hernandez (2008, 2010, 2012), Cesc Fabregas (2008, 2010, 2012), dan Sergio Busquets (2010, 2012). Di posisi penyerang sendiri ada Sergio Garcia (2008).

Sisanya ada nama Xabi Alonso, Javi Martinez, dan Fernando Llorente, yang merupakan pemain asal Basque.

Pada gelaran Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012, Spanyol tercatat telah mendaftarkan sebanyak 34 pemain berbeda, dimana sepuluh diantaranya berasal dari Catalunya dan tiga lainnya dari Basque. Maka dari itu bisa dikatakan bila tanpa pemain Catalunya dan Basque, Spanyol akan memiliki peluang yang terbilang kecil untuk bisa memenangkan tiga turnamen akbar tersebut.

Namun sebaliknya, ketika Basque dan Catalunya terlepas dari Spanyol, wilayah tersebut masih sangat bisa bersaing di level tertinggi mengingat pemain yang berkontribusi memiliki kemampuan terbaik di level tertinggi.

Membayangkan Catalunya membentuk tim nasional nya sendiri, maka kita mungkin akan menjumpai Pep Guardiola sebagai pelatih. Di posisi penjaga gawang, ada nama Pau Lopez yang bisa diandalkan. Di posisi empat bek, mereka bisa menaruh nama Jordi Alba, Gerard Pique, Marc Bartra, dan Hector Bellerin.

Lalu di posisi gelandang, tiga nama yang bisa dimanfaatkan adalah Sergio Busquets, Cesc Fabregas, dan Sergi Roberto. Di lini depan, Gerard Deulofeu, Gerard Moreno, dan Keita Balde sudah cukup untuk membuat lawan kelabakan.

Beralih ke Basque, nama-nama hebat juga banyak yang bisa diandalkan. Ada Kepa Arrizabalaga yang bisa ditempatkan di posisi penjaga gawang. Odriozola, Laporte, Martinez, dan Berchiche akan sangat kuat bila ditempatkan di posisi belakang. Lalu, Illarramendi, Javi Martinez, dan Ander Herrera tampak cocok untuk mengisi pos gelandang.

Kemudian Inaki Williams, Raul Garcia, dan Oyarzabal sudah cukup untuk membuat lini serang mereka jadi menakutkan.

Sumber referensi: goal, tirto id

Pos terkait